Nyeruit Bareng Muli Mekhanai Kampung Srimenanti, Way Kanan, Lampung



Sepanjang bulan Agustus tahun 2017 lalu aku tinggal di kampung Srimenanti, Kecamatan Negara Batin, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Srimenanti adalah sebuah kampung tua suku Lampung yang termasuk komunitas hunian tepi sungai karena memang tumbuh dengan bentuk paralel mengikuti panjang sungai di bantaran sungai Way Kanan, salah satu dari 5 sungai yang mengaliri kabupaten Way Kanan. Aku tinggal di rumah temanku untuk membantunya melakukan penelitian tentang kemitraan tebu antara perusahaan dan petani plasma. Selama itu aku mengikuti beberapa kegiatan bersama warga, termasuk kumpul-kumpul bareng Muli-Mekhanai (Gadis-Bujang). Yah, meski aku malu aku harus ikut acara tersebut secara aku kan belum menikah dan kalau aku nggak ikut maka tuan rumah tempat aku tinggal akan kena sanksi adat, kan merepotkan dan memalukan. Jadi ya sudah, meski merasa canggung karena harus bergabung dalam acara anak-anak muda yang usianya jauh dibawahku, aku gabung aja, biar mereka senang hehehe...

Para Muli dan Mekhanai bergotong royong di Balai Kampung
Kegiatan Muli-Mekhanai tempo hari ini merupakan kegiatan silaturahim antara Muli-Mekhanai kampung Srimenanti dengan Muli-Mekhanai dua kampung lain termasuk dengan para mahasiswa yang sedang KKN di kedua kampung. Untuk menjamu tamu dari kedua kampung, para Muli-Mekhanai masak-masak bersama di Balai Kampung dan menyiapkan ruangan Balai Kampung untuk mengadakan kegiatan tersebut. Biaya untuk membeli bahan pangan berasal dari iuran mereka bersama dan sebagian bahan pangan mungkin juga sumbangan dari warga yang menanam sayur mayur di kebun. 

Nah, hari itu suasana ramai sekali karena setiap orang sibuk. Ada yang memasak nasi, menggoreng ikan, menyapu lantai lalu menyiapkan karpet dan segala peralatan makan hingga menghidangkan makanan ala bancakan. Menunya sederhana dan nggak masuk kedalam kategori 'nyeruit' sih karena nggak ada durian sebagai bahan paling unik dalam menu 'seruit' khas Lampung. Hari itu mereka hanya memasak beberapa menu seperti nasi, ikan patin goreng, tumis tempe dan kacang panjang, terong goreng, aneka lalapan rebus dan lalapan mentah serta sambal terasi. Makanan ditaruh dalam ketas pembungkus nasi, berjajar sepanjang Balai Kampung dengan dua baris yang dapat memuat puluhan orang yang saling duduk berhadapan. Karenanya, satu set menu dapat dinikmati oleh dua orang sehingga keduanya bisa akrab dan bersahabat.
   
Kami siap makan enak bersama-sama dalam suka cita (foto oleh: Sahara)
Aku sih hanya bantu sedikit-sedikit saja seperti menyiapkan karpet dan menyapu karena banyak pekerjaan sudah dilakukan para Muli-Mekhanai di rumah ketua organisasi. Rombongan dari dua desa mulai akrab dengan tuan rumah dan mulai memilih tempat duduk yang nyaman untuk menikmati hidangan. Para Muli berbaris berhadapan dengan para Muli juga, sebaliknya juga dengan para Mekhanai. Sehingga terciptalah dua kelompok Muli dan Mekhanai yang seperti hendak lomba adu cepat menghabiskan makanan. Di bagian lain, ada kelompok 'elit' yang isinya para ketua Muli-Mekhanai masing-masing desa dan Ibu Kepala Kampung. Mereka juga mendapatkan menu sedikit berbeda dengan tambahan menu ayam bumbu kecap, dan semua makanan diwadahi piring khusus. Tetapi, semangatnya tetap sama kok yaitu semangat lapar dan semangat persaudaraan.  

Menunya enak dan sehat. Semua bahan berasal dari Kampung Srimenanti sendiri (foto oleh: Sahara)

Hari itu Bapak Kepala Kampung harusnya hadir. Tapi, karena beliau sedang ada tugas lain, maka yang hadir adalah istrinya dan menggantikan beliau memberikan semangat kepada para pemuda dari ketiga kampung. Pesan yang disampaikan sangat mendalam, bahwa anak-anak muda memiliki kewajiban menjaga tali persaudaraan dan semangat persatuan. Selain itu, tokoh adat yang hadir memberi pesan agar senantiasa menjaga adat istiadat dan budaya warisan leluhur karena semuanya memiliki nilai yang tinggi sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan baik secara perorangan maupun bermasyarakat. Salah satu pesannya adalah tentang kerjasama atau 'beguai jejama' yang tidak boleh dilepaskan dari berbagai kegiatan yang dilakukan seluruh warga kampung karena nilai itu merupakan bagian penting dari falsafah hidup orang Lampung.

Setelah acara makan-makan selesai, kami semua melanjutkan kebersamaan dengan mengikuti pertandingan persahabatan bola voli. Ya, karena aku mah nggak bisa olahraga jadinya cuma nimbrung bareng ibu-ibu dan bercanda dengan anak-anak kecil. Suasana kampung mendadak meriah oleh puluhan pemuda yang bersorak-sorai disekeliling lapangan, warga yang berjualan makanan dan para ibu yang berkumpul sembari mengasuh anak-anak bayi mereka. Keakraban antar warga sangat terasa dan  semakin syahdu dengan suasana kampung yang sejuk, alami dan jauh dari polusi. Nah, setelah selesai dengan acara pertandingan olahraga, para Muli-Mekhanai keliling kampung untuk bergembira ria, khususnya di bantaran sungai yang kering, sekedar untuk berfoto.

Bersama warga kampung Srimenanti (foto oleh: Sahara)
Asyik menyaksikan pertandingan bola voli antar kampung
Pengalaman ini memberiku kesadaran penting bahwa warga kampung adalah yang paling berhak dan berkewajiban menjaga stabilitas, kenyamanan, kemanan dan kemeriahan di tempat tinggal mereka. Termasuk mendorong anak-anak muda melakukan kegiatan positif yang membantu mereka tumbuh dan berkembang sebagai calon pemimpin masa depan. Kegiatan memasak bersama, makan bersama atau olahraga bersama merupakan kegiatan sangat sederhana jika dibandingkan dengan beragam kegiatan 'modern' yang banyak digandrungi anak-anak muda millenial. Tapi, kesederhanaan itulah yang menjadikan perjuangan mereka berarti, bahwa untuk menjadi pemuda yang produktif mereka hanya perlu melakukan hal-hal sederhana tapi memberi manfaat luar biasa bagi masyarakat luas dan kehidupan. 

Lampung, 23 Maret 2018

Wijatnikaika Official

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #