Rina Nose dan Fenomena Melepas Hijab

Rina Nose (Sumber: tribunnews.com)
Whoa! Publik Indonesia Raya dikejutkan dengan penampilan artis kocak Rina Nose yang melepas hijabnya. Ada yang sedih, marah, kecewa, nyinyir hingga mendoakan Rina kembali mendapat hidayah. Beberapa netizen bahkan menyatakan kenyinyirannya dengan menyamakan Rina Nose dengan Marshanda yang juga melakukan hal yang sama jauh sebelumnya. Tapi eh, fenomena pasang-bongkar hijab bukan sesuatu yang baru. Ini terjadi setiap waktu, di banyak tempat, di banyak kelompok masyarakat dan bisa jadi di lingkungan keluarga kita sendiri. So, mari kita lihat secara seksama fenomena ini dengan bijak, bukan penghakiman membabi buta...

Saat Memutuskan Berhijab...
Setiap perempuan Muslim pasti memiliki sejarah yang berbeda antara satu dan lainnya ketika memutuskan untuk berhijab. Ada yang memang sejak kecil sudah terbiasa berhijab mengikuti kebiasaan dalam keluarga, ada yang jadi terbiasa setelah 'dipaksa' mengikuti aturan di sekolah atau pesantren, beberapa berhijab karena 'dipaksa' aturan tempat bekerja, hingga yang benar-benar berdasarkan keinginan sendiri. Bagaiamana pun juga pengalaman hidup dan pengalaman spiritual setiap orang berbeda, juga kondisi lingkungan di mana seseorang tumbuh, berkarya dan bekerja. 

Flashback ke 17 tahun lalu saat aku memutuskan untuk berhijab. Saat itu aku baru lulus SMP dan siap melanjutkan ke SMA, baru beberapa bulan mengalami haid dan ingin berhijab seperti teman-temanku. Lantas aku mengutarakan niatku pada Babeh. "Jadi orang baik aja, nggak perlu pake jilbab. Tuh banyak orang tetangga kita yang pasang-bongkar jilbab. Pikirkan lagi daripada kamu kayak mereka. Malu-maluin..." ujar Babeh. Memang sih, di lingkungan tempat tinggalku hanya sedikit orang yang konsisten berhijab dan biasanya mereka termasuk ke dalam golongan manusia yang keras kepala dan seakan-akan surga sudah berjarak 1 meter di depan hidung mereka. Sebagian besarnya adalah jenis yang suka pasang-bongkar hijab, bahkan para remaja yang belajar di pesantren sekali pun. Tapi akku nggak peduli dan tekadku sudah bulat dan aku berhijab saat hari pertama masuk SMA hingga sekarang, alhamdulillah...

Hei, aku masih bertahan hingga tahun ke 17, alhamdulillah, meski banyak yang nyinyir karena memang hijabku tidak memenuhi standar berdasarkan Al-Qur'an. Tapi aku menghargai diriku sendiri yang berproses dengan tenang ditengah gejolak kehidupan yang menampar-nampar dengan keras (Photo oleh: Rinto Macho)
Pengalaman berhijab memberiku banyak pelajaran berharga. Termasuk ketika aku mulai intens mempelajari isu tentang kekerasan seksual pada anak dan perempuan. Berdasarkan pengalaman dan cerita banyak orang, perempuan berhijab sama sekali tidak terhindar dari kemungkinan menjadi korban kekerasan seksual. Dan aku hampir mengalaminya sendiri sampai-sampai aku harus mengubah style berhijabku karena merasa bingung. Dalam Al-Qur'an, Allah berjanji akan melindungi para perempuan berhijab dari kejahilan kaun lelaki yang otaknya kotor, tapi di lapangan aku nyaris menjadi korban. Ini sungguh paradoks. Setelah mempelajari banyak hal tentang fenomena ini aku menjadi mengerti bahwa kejahatan yang pertama-tama diramu dalam otak manusia nggak ada hubungannya dengan antribut atau simbol fisik seperti pakaian. Semua tergantung pada isi kepala. Karena kepala kita adalah 'tuan' yang menentuka setiap tindakan kita, baik atau buruk. 

Hijab dan Tuntutan menjadi 'Perempuan Sempurna'
"Selamat ya atas hidayahnya! Semoga istiqamah," adalah pernyataan singkat yang biasa kita dengar saat seorang perempuan Muslim baru berhijab. Setelah itu? Sabodo amat! Sebagian kita hanya peduli bahwa perempuan lain mulai menggunakan simbol yang menunjukkan bahwa dia sedang berjalan ke arah kesempurnaan sebagai perempuan Muslim, si calon bidadari surga. Basa-basi demikian memudar demikian cepat dan setelahnya orang nggak peduli pada seperti apa jungkir balik kita dalam menjalani hidup, perjuangan menguras air mata dalam menghadapi gejolak dalam jiwa hingga bagaimana kita mengambil keputusan tentang banyak hal. Kehidupan kita dipatok dengan kain yang melekat dalam tubuh kita: jika sudah berhijab, insya Allah hidup kita sempurna, calon penghuni surga dan hidup kita bakal indah layaknya dongeng. Padahal, No! Hidup adalah hidup, yang memerlukan perjuangan yang konsisten dan disiplin. 

Ilustrasi. Saat perempuan Muslim memutuskan mulai berhijab, publik dengan semangat membangun ekspektasi berlebihan. Seakan-akan dengan berhijab seorang perempuan Muslim menjadi sempurna tanpa noda dan dosa, tanpa gejolak jiwa dan bersih bagai bidadari surga. Padahal tak ada yang final dalam hidup ini, selagi segala seuatunya merupakan proses yang dinamis (sumber: pinterest)
"Wah, kalau berjilbab gini mah dijamin calon istri solehah," adalah pernyataan lain yang biasanya terlontar dari bibir manis para pemburu calon menantu soleha, calon istri rumahan dan nggak suka neko-neko, calon ibu yang baik dan penurut pada suami juga mertua. Seakan-akan dengan berhijab, segala kekurangan kita yang berkaitan dengan kualitas diri menjadi hilang, jadi kenangan. Tiba-tiba kita menjelma menjadi perempuan Mahadewi yang cantik, serba bisa, mengesankan, dan luar biasa mampu menyelesaikan segala persoalan hidup dengan jentikan jari. Haduh! Ekspektasi berlebihan atas keputusan seorang perempuan berhijab sesungguhnya menjadi beban yang sangat hebat. Sebagai manusia yang individu kita tak lagi bebas beropini, berkarya bahkan bergerak. Segala sesuatu diukur oleh kain yang menutupi sekujur tubuh kita. Seakan-akan, dengan berhijab kita tak boleh menunjukkan kekurangan, kelemahan dan kebutuhan akan pengertian orang lain atas hidup kita.

Melepas Hijab? 
Saat ini, artis Rina Nose sepertinya sedang mengalami gejolak yang pernah dirasakan artis Marshanda dan banyak perempuan lain yang memutuskan untuk menepas hijab mereka. Terlebih karena Rina dan Marshanda adalah figur publik yang kehidupannya diamati selama 24 jam melalui sosial media. Sedikit saja terjadi perubahan yang kurang menyenangkan bagi publik, maka sosok mereka menjadi medan perang bagi publik yang berpendapat ini-itu tanpa tahu duduk perkara. Mereka ribut di dunia maya kayak nggak punya kerjaan.

Pengakuan Rina Nose saat mengumumkan melepas hijabnya (sumber: brilio.net)
Menurutku, terjadi pergolakan batin yang hebat dalam diri Rina Nose. Hal ini juga terjadi pada beberapa sosok perempuan berpengaruh seperti Aulia Halimatussadiah atau yang kerap disapa Ollie Salsabeela. Perempuan yang bergerak di bidang kepenulisan dan teknologi ini bahkan perlu memposting ulang tulisannya tentang alasannya melepas hijab karena orang-orang masih aja 'kepo' tentang mengapa seorang influencer seperti Ollie melepas hijab. Dalam blog pribadinya di www.salsabeela.com, Ollie menulis bahwa ada banyak sekali respon yang ia peroleh setelah melepas hijab dan ia mengapresiasi semua respon tersebut karena toh segala hal dalam hidup ini bukan sebuah keputusan final, melainkan proses yang dinamis dan cenderung berubah tergantung pengalaman, pilihan dan kebutuhan setiap individu dalam menjalani hidup. 

Reaksi publik setelah Ollie melepas hijabnya (sumber: www.salsabeela.com)
Sebenarnya, fenomena pasang-bongkar hijab bukan hal baru. Aku seringkali membaca kisah para gadis-gadis Arab yang melepas hijab mereka di didalam pesawat saat mereka hendak pergi ke luar negeri seperti Eropa atau Amerika. Oke, karena aku belum punya bukti aku belum percaya. Tapi saat aku melihat dengan mataku sendiri kejadian pasang-bongkar hijab ini aku jadi percaya bahwa tidak ada yang mutlak dalam dunia perhijaban. Pada Oktober 2012 aku mendapat Short Course ke negara bagian Arkansas, Amerika. Saat itu aku sekelas dengan banyak orang Arab baik laki-laki maupun perempuan. Banyak diantara temanku itu yang bercadar sampai aku tak mengenali wajah mereka saat menyapaku di toilet ketika mereka sedang merapikan hijabnya. Lalu pada suatu siang dua orang temanku berbeda kelas berkunjung ke apartemenku dan bertemu dengan seorang gadis dari China, sebut saja Hui. Kamarku bersebelahan dengan kamar Hui. Saat aku hendak ke dapur kudengar suara seseorang memanggilku. "Hai Ika, apa kabar?" tanya seorang gadis tinggi, bohay, berkulit cokelat, barambut panjang dan menggunakan gaya yang trendi. "Baik, kataku. Tapi, maaf, hm, apakah aku kenal kamu?" karena aku hanya mengenal dua dari 3 orang yang ada di kamar Hui. "Aku Lily, teman sekelas kami di kelas 'Reading' itu lho..." ujarnya. Mau tak mau ingatanku mengembara pada kenangan demi kenangan kegiatan kelas kami, pada sosok Lily yang bercadar, yang selalu berabaya warna abu-abu dengan jilbab senada, yang sering duduk tak jauh dariku. Ya, sehar-hari saat ke kampus Lilly bercadar dan menggunakan abaya atau gamis. Tapi saat main, dia melepas hijabnya dan tampil 180 derajat berbeda dari penampilannya sehari hari saat sekolah. Rambutnya tergerai bebas dan ia menggunakan pakaian ketat. Nah, kan, everyone is special case. 

Sekitar setengah tahun silam aku juga mendapat kabar tentang kenalan baruku yang melepas hijab. Karena banyaknya pertanyaan yang ditujukan padanya dan terlebih lagi dia merupakan janda beranak satu yang sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki asing, sampai-sampai dia harus membuat sebuah penjelasan panjang lebar yang dia posting di akun sosial medianya dan membagi tulisan tersebut lewan aplikasi WA pada teman-temannya. Intinya ia mengatakan bahwa keputusannya melepas hijab adalah urusan pribadinya setelah melakukan perenungan tentang konsekuensinya dan apa yang akan terjadi dalam hidupnya, dan keputusannya sama sekali tidak memiliki kaitan dengan siapa pun termasuk pacar bulenya jika semua orang mengira bahwa laki-laki asing itu membawa pengaruh buruk baginya sampai ia harus melepas hijab. Sekarang, perempuan itu nampaknya hidup bahagia dan berkarya sebagaimana biasanya. 

Hijab dan Tekanan Sosial... 
Di sekitar kita, banyak sekali perempuan yang pasang-bongkar hijab dan kita cenderung bersikap biasa aja. Misalnya nih, ada gadis cantik yang belum lama berhijab tapi posting video tanpa hijab di akun Youtubenya, atau perempuan lain entah mengapa selalu memposting dirinya dalam keadaan tidak berhijab hanya di akun sosial media miliknya padahal sehari-hari ia berhijab. Atau ada juga perempuan berhijab yang ke mana-mana berhijab tapi di lingkungan ketatanggaan tidak berhijab. Ah, mungkin karena mereka bukan figur publik yang memiliki pengaruh cukup besar dalam kehidupan banyak orang. Tapi kalau kita mau bersikap adil, kita nggak berhak menghakimi siapa pun yang mau melepas hijabnya. Toh, melepas hijab bukan tindakan yang membahayakan kepentingan publik seperti aksi terorisme, korupsi, penyebaran ujaran kebencian dan hoax. Melepas hijab juga nggak berarti seseorang keluar dari Islam, karena hijab bukan penjami bahwa iman seorang perempuan menjadi lebih baik. Harus diakui bahwa banyak perempuan berhijab yang kelakuannya buruk dan banyak dosa, dan banyak perempuan tidak berhijab yang justru memiliki perangai baik dan manis. 

"Kok kamu doang sih yang nggak berhijab..." adalah jenis pernyataan yang merupakan tekanan sosial dalam masyarakat dewasa ini. Sering sekali kudengar penyataan ini di mana seorang perempuan melakukan tekanan sosial pada perempuan lain hanya karena perempuan itu memilih tidak berhijab. Oke, kita kaum Muslim paham bahwa hijab adalah kewajiban. Tapi beragama bukan hanya soal hijab. Ada segudang pekerjaan rumah kaum Muslim yang belum selesai dan sangat krusial karena merupakan masalah peradaban yang sangat akut. Salah satu contohnya misalnya ketimpangan ekonomi antara Muslim kelas bawah dan Muslim kelas menengah. Kelompok Muslim kelas bawah dengan penghasilan pas-pasan biasanya hidup miskin hingga dibawah garis kemiskinan sehingga memerlukan santunan bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dari kelompok Muslim kelas menengah, yang harga hijabnya saja bisa mencapai Rp. 1 juta rupiah. Nah, kelompok kelas Menengah adalah yang menjalani kehidupan Muslim ideal dimana mereka mendapat segala kemudahan dalam menjalankan ajaran agama, yang saat wara-wiri di sosial media nggak lagi membahas soal permasalahan umat, tapi pamer fesyen terbaru yang pastinya branded dan mahal dan nggak terjangkau sama seklai oleh golongan Muslim kelas bawah. 

Ulasanku tentang ini dapat dibaca di artikel ini: Merindukan Oki Setiana Dewi yang Dulu

Kalau kita mau sejenak meluangkan waktu mempejari tren fesyen Muslim, kita akan tercengan betapa hijab bukan lagi tentang kesantunan dan kesederhanaan dalam berpakaian. Hijab sudah bergeser menjadi komoditas fesyen. Ingat ya, fesyen. Kalau sudah bicara fesyen maka mau tak mau kita akan bicara soal harga. Semakin berkualitas dan artistik maka semakin mahal harganya. Karena perkembangan fesyen inilah, berhijab berubah menjadi tekanan sosial. Tak percaya? Lihatlah di sekitar kita kaum perempuan yang tergila-gila pada gaun syar'i yang biasa digunakan saat ke pesta atau pengajian, tapi dalam lingkungan ketetanggaan melepas hijab syar'i tersebut dan menjalani hidup seperti biasa. Atau kegemaran baru para perempuan Muslim dalam menampilkan diri sebagai musliman berpenampilan syar'i tapi sama seklai nggak peduli dengan status lingkungan hidup di mana mereka tinggal, bahkan nggak peduli soal sampah yang tergeletak beberapa sentimeter dari mata mereka. Yang paling parah, banyak juga para perempuan berhijab syar'i yang tidak berpikiran terbuka, mudah terpancing ujaran kebencian dan hoax, menggunjing dan kepo atas kehidupan orang lain, hingga tidak taat peraturan lalu lintas.

Melepas Hijab Level Internasional...
Nah, ihwal melepas hijab bukan perkara di Indonesia doang kok. Para perempuan Iran sedang gencar-gencarnya melakukan protes sosial dengan memposting photo mereka yang membuang hijabnya di akun sosial media mereka, juga tidak menggunakan hijab saat mengendarai mobil mereka. Juga menantang kebijakan negara secara terang-terangan dengan tidak menggunakan hijab saat mengemudikan kendaraan mereka. Sebuah artikel di the Guardian yang berjudul "Iranian Women Spark Debate by Defying Hijab Rule in Cars" menggambarkan bahwa para perempuan di Iran 'ogah' urusan pribadinya soal hijab diurus negara dan polisi. Pada tahun 1979 melalui Revolusi Islam Iran, negara mewajibkan seluruh perempuan negara indah itu untuk berhijab saat keluar rumah mereka. Meski para perempuan melawan dan melakukan perlawanan, perempuan tetap dipaksa berhijab. Padahal kita tahu para perempuan Iran sama seperti perempuan Turki yang sangat suka memamerkan rambut indah mereka. Gara-gara tindakan nekat tersebut, pada 2016 sebanyak 3.6 juta perempuan Iran sempat diberi peringatan hukum dan dibawa ke kantor polisi. Menggemaskan sekali ya gerakan nekat mereka (baca DISINI).

Masih Alinejad dengan dua wajahnya yang berhijab dan tanpa hijab di aku Facebooknya "My Stealthy Freedom" yang langsung menjadi tenah se Iran dan diikuti banyak perempuan. Gerakan ini menciptakan guncangan sosial tersendiri di negara yang sangat patriarkis tersebut. Gerakan ini sudah memiliki sekitar 820.000 pengikut yang melakukan gerakan protes atas hukum berhijab secara diam-dia (sumber: boredpanda)
Adalah aktivis bernama Masih Alinejad yang memulai gerakan memposting gambar dirinya tanpa hijab di akun sosial media. "As a kid, my borther as a symbol of freedom that I did't have. How he was free to run in a green lovely farm," ujarnya. Ketimpangan kebebasan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Islam di Timur Tengah memang mencolok dan cerita ini bukan barang baru. Perempuan bagai burung dalam sangkar yang bukan saja tidak bebas menikmati keindahan alam, tetapi juga terlarang ke Masjid. Rasanya seluruh tubuh perempuan adalah dosa, meski kehidupan berasal dari dalam tubuhnya.  Para perempuan ini sebenarnya bukan nggak suka berhijab lho. Mareka suka berhijab dan sadar bahwa hijab itu aturan agama. Tapi mereka nggak suka jika hijab diwajibkan oleh negara dan menjadi salah satu alat tekanan sosial kepada kaum perempuan (baca DISINI). 

Aku percaya pada hijab, tapi membenci paksaan berhijab (sumber: bopredpanda)
Jadi, nampaknya fenomena melepas hijab ini akan terus menjadi perbincangan yang tak pernah usai sampai hari kiamat sebagaimana topik tentang cinta. Tulisanku kucukupkan sampai disini ya. Kesimpulannya adalah jangan pernah nyinyir dan menghakimi keputusan perempuan manapun yang melepas hijab, sebab kita nggak hidup sebagai mereka. Kita sama seklai nggak tahu apa yang bergejolak dalam kepala dan jiwa mereka. Kita hanya melihat kehidupan luar mereka sebagaimana orang lain hanya melihat kehidupan luar kita. Mari hormati hak setiap orang selagi hak itu tidak mengancam keselamatan hidup masyarakat luas serta persatuan dan kesatuan bangsa...

Jika ingin berhijab, maka kenakanlah dengan bahagia...
Jika tidak ingin berhijab, maka tak seorang pun berhak memaksa...

Lampung, Nopember 2017

Wijatnika Ika

34 comments:

  1. Sedang berusaha ke banyak proses, mb Ika. Kadang panjang, kadang pendek. Kalopun aku gak setuju dgn cara orang lain, ya menahan diri utk komen atau nyinyir, bagaimanapun proses masing2 orang kan gak sama. Complete view 👍 Salam kenal ☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Esthy dan salam kenal juga. Iya, betul. Hidup adalah proses dan setiap proses berbeda bagi setiap orang

      Delete
  2. Tulisan yg bagus sekali mba Ika

    Rata rata perempuan copot hijab mungkin seperti yg mba bilang tekanan sosial sehingga batinnya tersiksa.

    Apalagi proses menjadi taqwa seseorang juga ngga mudah seperti dalam uraian esai mba ika ini

    Jilbab sekarang lebih cenderung trend bukan karna melihat sisi apa yg diperintahkan syariat scra murni sehingga dampaknya seperti pada fenomena dewasa ini

    Sekali lgi esai ini sangt bagus buatku pribadi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Mukhofas. Iya, dan alangkah anehnya manusia-manusia yang mau menghabiskan waktu hanya untuk menekan hidup orang lain

      Delete
  3. saya juga menyayangkan sih mba, artis yang bongkar pasang hijab. Tapi saya nggak nyampe ikut2an komentar di akun mereka. Karena saya sadar, dulu saya juga berhijab portable gitu. Buka-tutup. Memang butuh proses dan waktu sampai saya bisa istiqomah nggak buka tutup.

    Hanya doa yang bisa kita berikan kepada orang-prang terdekat kita yang melepas hijabnya, karena hidayah mutlak dari Allah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Dudukpalingdepan. Ya, doa adalah dukungan terbaik

      Delete
  4. terimakasih artikelnya mbak.
    mencerahkan, karena kalau melihat komentar2 di medsos, itu cenderung sepihak.
    jadi tidak bisa melihat secara objektif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Jakup. Terima kasih sudah mengapresiasi tulisan sederhana ini

      Delete
  5. Kalau kita berjilbab karena mengutamakan bahwa itu sebagai sebuah kewajiban insya Allah nggak bakal lepas lagi jilbabnya. Sejak SMP kelas satu, ayah sudah menyuruh menggunakan jilbab. Tetapi saya tolak mentah-mentah. Saat smp dan sma saya ogah berjilbab. Saat itu saya juga berpikir jilbabkanlah hati baru kepala. Untuk apa sih berjilbab segala, panas-panas malah tambah panas. Muehehe..
    Tapi akhirnya orangtua saya pelan2 mengajarkan bahwa perempuan mesti tutup aurat sehingga saya Alhamdulillah berjilbab justru saat saya kuliah tingkat akhir. Sampai saat ini, saya tidak 100 persen mengenakan jilbab, ketika pergi keluar rumah saja. Saya belum menggunakan jilbab syar'i, tetapi lebih sering menggunakan jilbab kecil sebatas menutupi leher. Jika di dalam rumah dan pergi ke rumah nenek saya tidak pernah berjilbab. Hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Firsty. Iya, setiap orang berproses. Makanya kita nggak berhak memaksa orang lain mengikuti proses yang kita jalani karena setiap orang berbeda.

      Delete
  6. Tulisannya keren. Ga ada ngejudge mbak Rina. Ga da ngejudge orang-orang yang ngejudge mbak Rina.
    Bener, jilbab itu bukan paksaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Dian. Haha iya saya mah nggak sanggup menjudge orang lain. Da aku mah apa tuh hehehe

      Delete
  7. Percaya pada hijab, namun benci paksaan berhijab. Ini ada yang ganjil nih 😅 Kalau mengimani perintah berhijab kenapa harus benci? Jika benci, berarti kita mengingkari syariat. Hati2 lho.... Kalau di Iran pada melepas hijab, ya silakan jika mereka bukan muslim. Syiah pun bukan Islam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Windy. Jika kita menilik sejarah hijab hingga masa Arab pasca kematian Nabi Muhammad, lebih banyak politisnya daripada berkaitan dengan agama Islam. Negara atau kerajaan memaksakan hijab bagi perempuan katanya demi keselamatan, tapi disatu sisi menolak memberikan perempuan ruang untuk belajar dna berkembang. Ingat, fondasi Islam bukan hijab, tapi proses belajar (igra)

      Delete
  8. Suka tulisannya mbak, saya agak berat mau komen karna saya bukan muslim, tp saya memang melihat tekanan pada wanita2, komentar2 di socmed utk yg belum berhijab pun juga ngeri bacanya, terutama buat saya yg ga suka diusilin, jd ikutan gemes

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Rina. Itulah sebabnya saya sedih melihat fenomena ini seakan-akan para pembulyy itu adalah manusia suci dari dosa.

      Delete
  9. Kalau soal bongkar pasang sih, tetangga saya banyak banget. Umumnya karena belum paham.
    Tapi, ada juga yang melepas hijab karena menentang, menganggap kebebasan.
    Jujur, kalau mbak Ollie saya sempat shock.
    Kadang2 saya mikir kalau mereka sahabat saya, rasanya pengen saya peluk aja. Mungkin saya yang kurang peduli, kurang peka dengan persahabatan.
    Saya juga agree. Karena belum final hidup, ya mari saling mendoakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Lidha. Setiap orang memiliki cerita hidup yang berbeda dan kita nggak bisa menjudge berdasarkan pengalaman hidup kita. Itulah mengapa kita harus memahami bahwa hidup ini proses dan setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup belum final.

      Delete
  10. Hmm...semoga yg lepas jilbab segera pasang jilbab lagi, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Zefy. Iya, semoga kembali berhijab ya

      Delete
  11. menarik tulisan ini, meliaht dr sudut pandang yang tak menyalahkan, nice

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir dan mengapresiasi tulisan sederhana ini mba Tira.

      Delete
  12. Kita butuh lebih banyak org seperti kamu di negara ini :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Zacharias. Kita butuh lebih banyak orang baik yang mau bergerak untuk perubahan. Mari bergerak bersama...

      Delete
  13. biasa aja sih mbak. banyak muslimah berjilbab di sekolah/tempat kerja, di lingkungan rumahnya enggak. pergi kondangan, arisan pake jilbab. habis tu ngobrol ma tetangga di teras rumah ga pake. yg paling lucu itu yg sehari-hari mmg ga pake jilbab tp pas mau ngelayat orang meninggal malah pake. lhaaa... banyak contohnya.

    yg jelas kl ada guru yg jilbaban separo2 gitu saya ga akan rekomendasikan untuk ngajar anak saya. guru yg kyk gitu ada? adaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Damarojat. Soal guru saya kira banyak prasayaratnya, bukan soal hijab saja. Karena ada guru berhijab yang perilakukanya tidak baik. Saat ini, hijab bukan ukuran baik buruknya seseorang. Ada banyak variabel untuk mengukur kebaikan seseorang...

      Delete
  14. Agree, bukan paksaan tapi memakai dgn bahagia....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Adi. Iya, kalau berhijab harus ikhlas agar bahagia...

      Delete
  15. Jd keinget awal2 berhijab saat SMA saya pun msh bongkar pasang mbak. Trus lama-kelamaan muncul perasaan "kayak telanjang" kalau enggak pakai kerudung menutup kepala. Jd kerudung udah ky baju aja skrng.
    Soal Rina N yg lepas hijab ya dan dia dihujat banyak org, mungkin salah satu konsekuensi krn dia artis dan idola banyak org. Memang berpakaian itu hak org, meski saya tetep mandang kalau lepas hijab itu gk baik. Cuma ya gak ada untungnya jg ikut mencaci di medsos. Lbh baik mendoakan, plus perbaiki diri sendiri hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir April. Iya, lebih baik saling mendoakan ya biar masuk surga sama-sama...

      Delete
  16. Halo mbak Ika, baru pertama mampir nih dan langsung suka tulisannya. Kayak baca kolom di surat kabar. Menambah wawasan dan membuka pikiran 😊

    Hijab yang portable 😜 juga ada kejadian di beberapa orang di sekelilingku mbak. Judgement ya pasti ada sedikit-banyak, tapi aku belajar buat menghargai usahanya 😊 Seenggaknya ada iktikad baik hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Nindy dan atas apresiasnya untuk tulisan ini. Semoga kedepan saya bisa menulis lebih baik lagi. Amin...

      Delete
  17. Hai mbak Ika salam kenal.Saya sangat mengapresiasi tulisan mbak. Fenomena melepas jilbab di Iran saya baru tahu mbak, sedangkan fenomena artis yang sering buka dan pasang hijab kita doakan semoga kembali dapat hidayah mbak. Kita tidak berhak menghakimi seseorang setiap manusia itu berproses, Di era yang benar-benar bebas seperti sekarang ini semoga kita semua istiqomah mbak. Saya setuju dengan pendapat mbak yang terpenting itu iqra (membaca) diharapkan melalaui hal ini kepribadian dan keimanan kita bisa meningkat. Karena Islam bukan lahir dari pemikiran-pemikiran tetapi ajaran Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw untuk disampaikan kepada manusia sebagai rahmatin lil alamin. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang selalu ingin belajar mbak :)) dan dapat hidayah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Rahma. Ya, setiap orang sedang berproses, jadi sebaiknya kita slaing mendukung untuk menjaid lebih baik...

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram