Pesantren Ekologi Ath-Thaariq: Ruang Belajar dan Liburan Asyik di Garut, Jawa Barat

Memetik tomat di bagian belakang bangunan Rumah Seba (photo oleh: Budi)



Bulan April silam, bersama empat orang aktivis perempuan yang keren dan kece, aku meluncur dari Jakarta menuju suatu tempat keren, sebuah pesantren kece dan kekinian di kaki gunun berapi yang terkenal masih suka batuk-batuk. Ajaibnya, dalam perjalanan itu aku nggak mabuk karena kakak-kakak cantik yang bersamaku selalu membuat suasana gembira dengan cerita-cerita mereka. Mereka juga bukan perempuan biasa. Nama mereka biasa ditemukan dalam dokumen-dokumen penting di negeri ini. Dan berjalan bersama mereka dipenuhi makanan dan keceriaan. MERDEKA!

Bubur Ayam yang enak  di pinggiran Garut
Kami tiba di Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut malam hari. Sekitar selepas Isya. Kami akan menghadiri kegiatan Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air yang diselenggarakan atas kerjasama The Sajogyo Institute, Pesantren Ekologi Ath-Thaariq dan beberapa lembaga lain. Nah, karena pesantren ini berlokasi ditengah areal persawahan, kami harus melewati jalanan sempit dari rumah-rumah warga. Saat itu penerangan tidak terlalu bagus dan aku khawatir terjebur siring. Belum lagi ada dua ekor anjing jahil yang bisa saja tiba-tiba berlari mengejarku haha. Perjalanan sekitar 15 menit menembus kegelapan, akhirnya kami sampai di gerbang pesantren. "Wah, keren banget!" spontan aku berteriak begitu saat memasuki gerban pesantren yang diterangi obor. Hm, bagai kembali ke masa-masa silam, ke cerita-cerita dalam dongeng Wiro Sableng.

Saat kami tiba, puluhan perempuan sudah berkumpul di Rumah Seba, bagunan utama pesantren. Mereka sedang berkenalan satu sama lain, dan beberapa diantaranya masih menghabiskan makan malam. Setelah duduk dan merapikan bawaan kami masing-masing, kami pun diminta memperkenalkan diri. "Nama saya Ika. Selama dua hari kedepan saya akan menjadi relawan di acara Jambore. Kalau kakak-kakak sekalian memerlukan bantuan, silakan temui saya," ujarku memperkenalkan siapa diriku dan apa fungsiku di kegiatan jambore. Nggak mungkin dong aku numpang makan dan tidur doang. Karena statusku relawan yang akan membantu setiap urusan di acara jambore, maka aku dipersilakan sekamar dengan para santri putri, di Rumah Seba, di kamar putri pemilik pesantren. Ah, akhirnya aku terbebas dari dingin menggigit, karena para peserta mendapat tempat istirahat di tempat lain di pesantren selain Rumah Seba. 

Petani cantik dari Lampung hehe (photo oleh: Budi)
Kegiatan Jambore selama 3 hari sangat padat. Semua hal menjadi bahan pelajaran dan renungan berharga, bahkan kegiatan makan sekali pun. Acara diskusi sangat padat, sejak pukul 9 pagi hingga malam hari. Rasanya tidak cukup. Aku bahkan tak punya waktu untuk sekedar melakukan 'kepo' secara mendalam kepada setidaknya 1/3 dari jumlah peserta jambore karena aku dan peserta sama-sama sibuk. Sebagai relawan, aku bersedia melakukan banyak hal, ya biar merasa jadi tuan rumah gitu, dimulai dari mengurus urusan menyapu dan merapikan lokasi-lokasi kegiatan, memeriksa ketersediaan piring dan cangkir bersih sebelum waktu makan di mulai, memerikasa ketersediaan makanan dan camilan, mendokumentasikan kegiatan, membantu peserta jika ada yang membutuhkan pertolongan hingga membantu peserta menjaga lapak dagangan mereka hahaha. 

Hm, tulisan kali ini tidak akan membahas inti kegiatan di jambore karena aku akan membuatnya secara khusus dalam tulisan berseri. Dalam kegiatan jambore, ada tiga tema berat yang harus dipecah dengan baik agar dapat dikembangkan dalam tulisan yang sederhana, renyah dan ramah bagi pembaca sekalian. Karena berdasarkan pengalaman dan dokumentasi yang kukumpulkan selama kegiatan ini, aku bisa menghasilkan lebih dari 10 tulisan untuk berbagai media, termasuk blog ini. Dan tulisan kali ini akan membahas dua hal besar saja. Bahwa pesantren kece ini sangat cocok jadi tempat belajar dan liburan. 

Belajar Bersatu dengan Alam...
Mungkin selama ini kita mengira bahwa pengetahuan kita tentang Tuhan dan alam sudah cukup hanya dengan membaca Al-Qur'an setiap hari. Lantas kita merasa agamis dan merasa jaminan masuk surga Tuhan telah digenggaman. Kita seringkali malas melakukan kajian bahkan terhadap sebutir nasi yang kita makan setiap hari. Karena sebutir nasi yang hadir di piring kita bukan perkara sederhana, bukan benda yang Tuhan jatuhkan dari langit. Sebutir nasi bicara tentang alam yang kompleks, yang mengikat banyak hal mulai dari cacing, tanah, air, udara, burung-burung, gunung berapi, pestisida, hingga politik dagang. 

Aku di bagian loteng pesantren berlatar gunung Cikuray di kejauhan (photo oleh: Nursifa)
Luas pesantren ini tidak sampai 1 ha. Hanya sekitar 800m persegi. Tapi segala macam pangan di lokasi pesantren mampu menghidupi 20 anggota keluarga pesantren yang terdiri dari keluarga pemilik pesantren dan para santri selama setahun penuh, dan tidak pernah mengalami kekurangan. Bayangkan saja, saat membuka jendela di pagi hari, tomat-tomat ranum di kebun belakang bisa menjadi bahan sarapan yang segar dan sehat. Saat siang hari, kita bisa menggali Ganyong di pinggiran sawah. Ganyong kukus dengan tumis sawi mix daun mint kan enaknya unik dan segar. Kalau haus, bisa minum teh Kabocha yang sehat dan menyegarkan. Malam hari kita bisa makan dengan pisang kukus dan sambal belut yang ditangkap dari galengan sawah. Ohhhhh, surga dunia...

Bersama para peserta Jambore dari berbagai daerah di Indonesia (photo oleh: Budi)
Acara Jambore ini adalah satu dari ratusan kegiatan pembelajaran di pesantren. Sudah banyak kelompok orang, komunitas, lembaga dan media belajar disini. Liputan tentang pesantren ini juga sudah banyak dilakukan beberapa media. Uniknya hanya satu saja: jambore ini merupakah highlight dari kegiatan kuliah lapangan beberapa aktivis perempuan di beberapa pulau di Indonesia dalam merekam kegiatan para perempuan pejuang tanah air. Maka tak heran di kegiatan ini perempuan-perempuan keren dan tangguh dari berbagai kabupaten berkumpul. Selain untuk belajar tentang kedaulatan pangan ala pesantren, juga untuk saling menemu kenali benang merah perjuangan perempuan tanah air. Orang dari Sumatera belajar ke orang Jawa, orang dari NTT belajar ke orang Sumatera dan seterusnya. Kita tentu paham bahwa saat perempuan kuat, sebuah bangsa akan menjadi besar. Bayangkan jika perempuan-perempuan petani atau nelayan sebagai lapisan terbawah bangsa ini dalam konteks akses terhadap kekayaan dan kesempatan semakin cerdas, tangguh dan maju. Kedepan, Indonesia maju tahun 2030 bukan isapan jempol belaka, bukan? 

Aku bersama Abah Ibang, peserta jambore dan santri pesantren (photo oleh: Budi)
Belajar di pesantren ini tidak akan membosankan. Pertama, kita seperti belajar di rumah dan pekarangan sendiri. Kita belajar bukan untuk menjadi penguasa atas mahkluk lain di alam ini, tapi menjadi rendah hati karena kita adalah organisme besar yang membutuhkan bantuan makhluk lain bahkan jika makhluk itu tak bisa dilihat oleh mata telanjang, seperti mikroorganisme di dalam tanah, yang membantu bibit tanaman kita tumbuh dengan baik dan sehat. Kedua, kita belajar mencintai kekayaan alam di sekitar kita seperti aneka pangan dalam bentuk umbi, sayuran, buah, rempah, herbal, ikan dan hewan lainnya. Pembelajaran ini sangat penting untuk mengingatkan kita bahwa untuk memenuhi kebutuhan pangan, kita nggak harus mendatangkan pangan dari luar negeri. Bagaiamana pun juga, budaya makan kita ditentukan oleh ketersediaan pangan di tempat kita tinggal dan tumbuh. Misalnya gini, mengapa kita mati-matian harus makan apel yang diimpor dari Amerika kalau di kampung kita banyak aneka jenis jambu? Atau mengapa kita harus mati-matian makan ikan salmon dari Eropa kalau di kampung kita banyak belut dan mujair? Mengapa kita harus mati-matian makan almond yang diimpor entah dari mana kalau di kampung kita banyak aneka jenis kacang-kacangan? Percaya atau enggak, semakin kita menggunakan bahan pangan lokal, maka semakin rendah kontribusi kita pada perubahan iklim dan pemanasan global. Kenapa? Karena makanan yang diangkut dari wilayah lain melepaskan karbon dalam proses pengangkutan. Semakin jauh lokasi makanan itu berasal, maka semakin besar karbon yang terlepas ke udaha. 

Makan enak non MSG di pesantren. Sedapppppp. Ada bahan yang tidak biasa, misalnya tumis eceng gondok campur oncom dan kencur, ada daun pegagan yang dimakan dengan akarnya, ada urap aneka sayuran dan herbal. Semua non MSG dan dimasak oleh seorang teteh yang sangat baik hati.
Kalau dalam bahasa keren kaum akademisi dan aktivis mah, apa yang dilakukan di pesantren adalah tentang kedaulatan pangan. Proses belajar di pesantren sedang berusaha mengembalikan kesadaran dan kebanggaan kita tentang pangan lokal yang telah dikembangkan nenek moyang kita sejak dahulu kala. Kedaulatan pangan, jika ditanamkan dalam kelompok kecil bernama keluarga, maka akan membantu mengurangi masalah pangan dunia. Karena saat ini, jutaan manusia di belahan bumi yang lain mengalami kelangkaan pangan karena rusaknya alam mereka. 

Bersama ibu Melani, dosen dan aktivis cantik di lapak rombongan Sulawesi dan NTT. Kain tradisional yang kami pakai buat properti photo adalah tenun hasil kerja keras para perempuan Mollo, NTT (photo oleh: Budi)
Bagaiamana dengan Liburan?
Bayangkanlah saat malam tiba kita bisa tidur nyenyak dalam suasana hening bagai pelukan orang terkasih. Lalu pagi hari kita dibangunkan oleh cericit burung. Saat kita membuka jendela, aroma pagi mengecup diri kita dengan lembut. Tomat segar dan ranum siap dipetik untuk sarapan pagi, ikan berkecipak di kolam siap menjadi menu makan siang dan sekeranjang ubi hasil panen menjadi menu makan malam. Indah dan manis kan kalau menjalani hidup demikian? Nah, kalau mau merasakan hal demikian, liburan saja ke pesantren ekologi Ath-Thaariq, Garut. Tujuan liburan tapi minta izinnya buat belajar. Emang bisa? Ya bisa lah, karena liburan ke tempat indah ini nggak akan bisa dilewatkan dengan ongkang-ongkang kaki bagai kita liburan di pantai, berjemur sambil memandangi laut lepas. Kalau liburan kesini dengan otomatis otak kita akan membuat program bagi dirinya sendiri: belajar, tapi belajar yang asyik dan bahagia.  Saat pulang kita bisa bawa oleh-oleh berupa bibit aneka jenis bunga, rempah, kacang-kacangan dan sayuran khas pesantren untuk ditanam di pekarangan rumah sendiri.

Keindahan pesantren tergambar di beberapa video berikut ya: 
Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut (1
Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut (2) 
Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut (3)
Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut (4)
Nissa Kembangkan Konsep Green Pesantren
Pesantren Ekologi At-Thaariq, Pesantren Mandiri Pangan

Karena belajar di pesantren ini bukan duduk di kursi bagai di sekolah atau kampus atau pesantren modern lain, maka paket belajar dan liburan akan semakin menyenangkan. Terlebih pemandangan di sekitar pesantren tuh aduhai sekali. Sebuah lembah cantik dan subur yang dikelilingi pegunungan. Sangat cocok untuk siapapun yang kepalanya hampir meledak karena tuntutan pekerjaan yang mengejar tanpa henti dengan membabi buta. Dan lokasi pesantren ini sangat cocok untuk lokasi photo dengan latar belakang pegunungan, alam yang bersih dan kehidupan pedesaan yang damai. 

Awwww! Siapa ini yang motret aku saat ngemil ikan dan sambal yang super enak itu?
Oke, ceritanya sampai disini dulu ya. Besok-besok aku sambung dengan tulisan serius tapi ringan dan renyah tentang kegiatan jambore pejuang perempaun tanah air. Sebelum membuat tulisan, aku mau edit dulu photo2nya sesuai tema biar kece dan nggak bikin mata pembaca sakit trus nangis karena pingin langsung cusssss ke pesantren hehehe. Kegiatan jambore memiliki tiga tema besar diskusi yang masing-masing tema nggak cukup dijelaskan melalui satu tulisan ringan, tapi aku akan berusaha membuat satu tulisan untuk setiap tema. Lalu nanti ada juga tulisan khusus tentang kuliner yang disediakan pihak pesantren saat jambore dan apa makna dari setiap jenis makanan perjuangan perempuan tanah air. Hm, akan ada juga tulisan tentang tema besar berkaitan dengan gerakan membela tanah air yang akan kubuat rigan dan renyah. Juga tulisan tentang hal lain. Tunggu aku dengan hatimu yang penuh rasa penasaran ya....

Bersama para Akang tampan dan Teteh cantik pelestari musik Karinding (phoot oleh: Budi)
Kabar Gembira...
Pesantren ini hanya menampung santri maksimal 20 orang, usia SD-SMP. Hubungan antara pemilik pesantren dan santri dibuat bagai hubungan orangtua dengan anak-anaknya. Makanya tak heran jika aku kagum dengan suasana kekeluargaan di pesantren ini. Berhubung orang sepertiku nggak punya kualifikasi menjadi santri, aku bisa menjadi pengunjung saja. Nah, sebagai ruang belajar pesantren ini terbuka untuk umum. Siapa saja boleh datang dan belajar di pesantren ini tanpa dibedakan berdasarkan identitas suku, agama, ras atau status jomblo-tidak jomblo hahaha. Masuk ke pesantren ini nggak harus berpakaian muslim atau mengenakan hijab. Yang penting sopan saja seperti nggak memakai rok di atas lutut atau memakai bikini. Setiap orang akan diterima dengan senyum, selagi tidak membawa serta kebencian apalagi bom...

Alamat:

Pesantren Ekologi Ath-Thaariq Garut
Sukagalih RT/RW 04/12 Kelurahan Sukagalih 
Kecamatan Tarogong Kidul, kabupaten Garut, Jawa Barat
Facebook:  Nissa Wargaipura
Instagram: Nissa Wargadipura
Kontak: 081222302024 (Nissa Wargadipura)

Rute:
- Dari Jakarta menuju Tol Purbalarang - Tol Cileunyi
- Keluar dari Tol Cileunyi ke arah Tasikmalaya, di Nagrek belok kanan ke arah Garut
- Lalu lurus setelah melewati Kadungora dan Leles ke Alun Alun Tarogong 
- Dari Alun Alun Tarogong ke Jl.Otista menuju Simpang Lima
- Lalu masuk ke Jl.Pembangunan + 300 meter ke Kantor Bupati
- Lalu belok Kanan menuju Kantor DPRD Garut lurus 200 meter ke kampus STKIP
- Lalu berhenti didepan STKIP ada Toko Restu, masuk lewat jalan ke belakang

Ini musholla di pesantren. Tapi mirip gajebo ya? Musholla ini terbuat dari bambu, berbentuk panggung dan terdiri dari dua lantai. Lantai satu berfungsi sebagai musholla dan ruang belajar, sementara lantau dua merupakan kamar tidur bagi tamu yang berkunjung. Beneran deh suasananya bagai di gajebo di lokasi-lokasi wisata gitu. Trus kan bangunan bambu ini juga dirambati tanaman sayur yang berbunga kuning, dibawahnya sendiri kolam ikan. Dari lantai dua kita bisa menikmati pemandangan pesantren dengan bahagia.
Dukungan untuk Pesantren...
Oh ya, siapa pun terbuka memberikan dukungan finansial yang tidak mengikat pada pesantren. "Kemarin ada loh ada seorang sahabat ya mbak Ika, yang belum pernah main ke pesantren, tapi sering komunikasi di Facebook, yang kasih sumbangan. Itu sumbangannya kami bangunkan asrama putra. Salut saya, orang nggak kenal bisa dukung perjuangan kami," ujar teh Nissa, pemilik sekaligus pengasuh pesantren. Jadi, jika publik ingin memberikan sumbangish bagi perkembangan pesantren ini dalam bentuk finansial, bahan bangunan, komputer atau pelatihan, silakan langsung kontak teh Nissa Wargadipura ya...

Lampung, Nopember 2017

Wijatnika Ika

8 comments:

  1. seru bangeeet bersatu dengan alam gini, sudah lama saya nggak main ke alam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mmapir Uni. Iya, hayuk lah main di alam...

      Delete
  2. Replies
    1. Makasih sudah mampir izam. Hayuk mondok di pesantren keren...

      Delete
  3. keren banget ya pesantern ini , banyak manfaat yang mondok di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Tira. Iya, yuk berkunjung dan belajar di sana...

      Delete
  4. Keren pesantrennya. Konsepnya juga. Etapi aku galfok ke tumis eceng gondok, benar2 menu yang tidak biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Anggarani. Iya, konsepnya bagus, mengenalkan kita pada kearifan lokal yang berbeda-beda di setiap daerah...

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram