Gua Pandan: Pesona Wisata Desa Girimulyo

Bocah Petualang mencari wahyu di Gua Pandang, Giri Mulyo, Lampung Timur (photo oleh: Rinto Macho)


Katanya tidak cukup setahun untuk keliling Indonesia yang alamnya indah dan kaya raya bagai sepotong surga yang terlempar ke bumi. Keindahan ada di seluruh Indonesia, termasuk sudut-sudut kampung yang tidak terkenal sekali pun. Keindahan yang tak tergambarkan dan hanya dapat dirasakan dengan perasaan yang bersih dan jernih. Sayangnya aku bukan seorang traveller penuh waktu sehingga di usiaku yang sekarang aku belum keliling bahkan seperempat wilayah Indonesia. Aku travelling kalau lagi pingin aja. Selain karena gampang lelah, nggak suka keramaian dan aku nggak suka jalan-jalan dalam keadaan bokek. Juga karena alergiku mudah sekali kambuh. Terpapar sinar matahari selama beberapa jam saja kulitku bisa memerah dan gatal-gatal. Gimana coba mau menjadi ratu pantai atau ratu gunung atau mencoba segala jenis kuliner dari yang lazim sampai yang aneh. Sungguh, aku rentan sekali, sebagaimana hatiku yang rapuh jika disakiti eaaa

Berhubung kali ini perjalanan gratis dan berkelompok, aku jadi mencicipi pengalaman blusukan eh travelling ke Gua Pandan di desa Girimulyo, kecamatan Marga Sekampung, kabupaten Lampung TImur. Kami yang terdiri dari aku, mba Katerina (Tangerang), Dian Radiata (Batam), Annie Nugraha (Jakarta), Atanasia Riant (Jogjakarta) dan Rinto Macho (Way Kanan) berangkat dari Way Kanan pada 9 Oktober, tepat sehari setelah kegiatan Gedung Batin Bamboo Rafting Tournament yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata kabupaten Way Kanan usai. Perjalanan kali ini sangat seru karena kami para perempuan begitu cerewet sehingga bang Rinto yang merasa terhibur meski lelah nyetir sendirian, kemudian mentraktir kami makan siang di RM Yangti di Bandar Jaya, Lampung Tengah. "Wah terima kasih sekali bang Rinto Macho yang sangat Macho atas makan siangnya," begitu kira-kira pujian kami semua terhadap kebaikan beliau yang bikin photografer kawakan Way Kanan ini tersenyum ke-geer-an hahaha. Perjalanan juga menjadi hangat karena kami begitu ceria seakan-akan remaja yang baru lulus SMA punya kesempatan escape dari rumah buat jalan-jalan hahahaha. 

Kami tiba di Sukadana, ibukota Lampung Timur sore hari setelah melalui perjalanan 6 jam dari Way Kanan. Kami langsung silaturahim ke rumah sahabatku, mba Sari Marlina seorang photografer kawakan di Lampung Timur dan 'emaknya' komunitas Gading Gajah Art (GGA) di Labuhan Ratu. Setelah puas ngobrol, ngopi, dan berphoto dengan latar serumpun bunga kemuning yang tengah berbunga sangat lebat dan wangi, kami diantar ke Rumah Dinas Sekda Lampung Timur yang sekaligus merupakan Guest House. Saat kami datang, penjaga Guest House langsung menyambut kami dan mempersilakan kami menempati sebuah ruangan besar dengan dua ranjang ukurang 'king' yang sangat empuk. Ah, surga ini! Sementara bang Rinto ditempatkan di kamar lain yang lebih kecil. "Kalau sudah siap, silakan ke ruang makan, kami siapkan makan malam," ujar Bapak Penjaga seteah menunjukkan kamar kami (aku lupa menanyakan nama beliau). Alhasil, malam itu kami makan malam dengan menu sup sayuran, ikan mas goreng, sambal terasi, lalapan dan kerupuk. Lucunya, para peserta makan malam yang kelaparan itu pada rebutan ceker ayam.

Ngopi dulu ah... (photo oleh: Katerina @ravelerien)

Setelah makan malam kami mengobrol di sebuah gazebo yang bersih dan nyaman karena ada kolam ikan disampingnya. Gemericik air dan kecipak ikan membuat suasana begitu syahdu, pas buat bikin puisi. Tak lama kopi dan teh kami diantar, bersama hujan yang semakin deras. Sungguh komposisi malam yang indah. Sembari ngopi dan ngeteh, kami berdiskusi tentang rencana perjalanan kami. "Coba mba Sari Marlina yang cantik dan baik hati, ceritakan ke kami besok itu kita mau jalan ke mana saja?" ujar bang Rinto Macho yang memulai diskusi hangat malam itu. Tak lupa, para travel blogger kawakan disekitarku update status mereka di sosial media masing-masing. Pamer kalau kami sedang bahagia di Lampung Timur hahaha. Kebahagiaan kami malam itu semakin terang benderang saat dua anak muda ganteng mengantarkan kaos dari Yay Lampung untuk kami pakai saat jalan-jalan. Ah, sempurna! Terima kasih Lampung Timur!

Selamat Pagi Lampung Timur
Ayam berkokok, membangunkan kami. Meski berat sekali bangkit dari ranjang empuk di rumah dinas milik negara, aku bangun. Setelah bergantian mandi dan berdandan rapi, kami sarapan dengan menu nasi dan ayam goreng. Pagi itu, kami harus punya tenaga lebih karena akan melakukan eksplorasi macam Dora di Explorer. Bedanya kami adalah the Cantik Explorer (halah ngaku-ngaku). Rencananya kami akan main ke Gua Pandan, lalu ke hutan mangrove dan malamnya bertemu dengan Ibu Bupati yang cantik jelita se-Lampung.

Pagi manis bersama traveller cantik dan Sekda Lampung Timur (photo oleh: Rinto Macho)
Setelah sarapan pagi, kami bertemu dengan Pak Sekda, yang hendak berangkat menuju sebuah rapat penting. Ya sudah, kami ngobrol sebentar. Hari itu beliau sepertinya sangat sibuk sebab jadwalnya dipenuhi dengan rapat, salah satunya tentang persiapan Festival Way Kambas yang akan diselenggarakan pada 11-13 Nopember 2017. "Silakan jalan-jalan di Lampung Timur mbak-mbak sekalian. Maaf saya tidak bisa menemani karena hari ini ada beberapa agenda rapat," ujar pak Sekda yang sudah rapi dan siap diantar sopirnya menuju lokasi rapat pertama. "Iya Pak. Terima kasih. Semoga agenda hari ini lancar, Pak," sambut kami senang. Lalu kami mohon izin mengeksplorasi wilayah Lampung Timur  dan memberi dukungan kecil agar pekerjaan beliau berjalan lancar. Oh ya, perjalanan kami hari itu juga istimewa karena kami memakai seragam keren dong. Kaos bergambar gajah imut produksi komunitas Yay Lampung. Bahannya dingin, pas di badan dan membuat kami makin kece.
Yeayyyyyy, kami siap bergembira bersama kaos dari Yay Lampung yang kece (photo oleh: Rinto Macho)
Pukul 8 pagi, setelah photo-photo dengan bapak Sekda, kami langsung menuju lokasi Gua Pandan. Karena ini perjalanan pertamanku ke lokasi wisata desa tersebut, aku lupa jalan dan desa apa saja yang kulalui. Aku terlalu asyik menikmati pemandangan sampai lupa merekamnya melalui ponselku. Yang kurasakan hanya warna-warni kehidupan masyarakat desa yang sederhana yang mengepung kami di mana-mana, dan sesekali kampung-kampung yang sepertinya berisi warga super pemalas yang entah mengapa aluran air penuh sampah dan rumput aja tidak dibenahi. Lantas aku bertanya pada diriku sendiri: sudah hilang ya sifat gotong royong warga negara Indonesia? Ataukah rakyat terlampau bergantung pada program pemerintah bahkan untuk memberikan sampah yang menyumbat saluran air di kampung mereka sendiri? Kok rasanya ironis ya...

Semakin jauh perjalanan kami, semesta menyuguhkan pemandangan khas desa yang membuatku terpana. Desa-desa yang dibangun perlahan-lahan dengan semangat memperbaiki kehidupan pada pendatang dari pulau Jawa. Suasana yang membuatku ingat pada kampung halaman sendiri dan membuatku semakin penasaran dengan apa yang akan kami temukan di akhir perjalanan. Dan setelah sempat agak kebingungan menentukan jalan, seorang bapak dengan postur tinggi, berkulit cokelat, berkumis dan berusia sekitar 50-60 tahun memandu kami dengan motornya. Beliau ternyata petugas Babinkamtibnas yang hari itu sengaja mendampingi kami jalan-jalan ke Gua Pandan. Setelah melewai jalanan desa yang tidak mulus dan mobil kami melonjak-lonjak, kami tiba di sebuah rumah besar yang nampaknya baru beberapa tahun berdiri. Catnya masih bersih. 

Akhirnya...
Tuan rumah, Pak Tri Joto dan beberapa orang lain menyambut kami. Juga Pak Asmawik sang kepala desa, Pak Petrus ketua Pokdarwis dan beberapa orang pemuda dari Pokdarwis desa Girimulyo. Karena kami kelelahan dan kepanasan, tuan rumah menyuguhkan kami teh manis, kopi dan camilan berupa rempeyek kacang tanah. Juga kipas angin yang menari-nari gembira. "Silakan diminum mbak. Katanya haus dan capek," ujar tuan rumah dengan ramah. Saat lelah dan haus begitu memangnya siapa yang mau menolak tawaran menggiurkan semacam itu? Kopi! Siapa yang berani menolak kopi? Sembari menikmati kopi dan camilan, kami ngobrol dengan asyik. Lebih banyak ke informasi soal apa keinginan Pak Kades dalam konteks pengembangan wisata desa dan membuat warga desa sadar wisata. Kami terlibat diskusi lumayan serius karena tujuan kami datang kemari bukan hanya untuk main-main.   

Pasukan kece siap bertualang nih (photo oleh: Sari Marlina)
Selagi para ibu memasak makanan untuk makan siang, kami meluncur ke Gua Pandan. Sebelumnya, kami diminta menggunakan sepatu boot (sepatu baru yang kami pakai semua lho). Wah, perpaduan kaos dari Lampung Yay dan sepatu bot itu bikin aku merasa super kece dan gagah hehehe. Setelah persiapan selesai dan berphoto bersama, aku membonceng motor bapak dari Babinkamtibnas, biar kayak presenter Jejak Petualang gitu buahaha. Meski perjalanan melintasi jalan kampung yang kasar dan berbatu tidak menyurutkan semangatku. Pemandangan di desa Girimulyo membuatku nyaman dan senang. Suasananya alami, udaranya bersih, sesekali mataku dimanjakan oleh rumpun mawar yang sedang mekar di beberapa rumah, juga anak-anak yang melambaikan tangan gembira, aroma gula merah yang sedang dalam tahap produksi entah di rumah siapa, pohon-pohon besar, kebun pepaya dan langit biru. Semuanya sederhana dan memikat. 

Bergaya dulu dong bersama Bapak Kepala Desa
Sekitar 45 menit aku tiba di lokasi Gua Pandan. Pertama-tama aku disuguhi pemandangan unik berupa hamparan luas lahan berbatu yang difungsikan sebagai kebun lada. Jangan bayangkan suatu kebun yang rimbun. Ini batu semua. Untung itu tanaman bisa nyempil bertahan hidup diantara bebatuan. Hm, apakah lokasi ini dekat dengan suatu gunung sehingga penuh bebatuan begini? Otakku mulai curiga. Selain itu, batu-batunya nampak seperti batu karang yang sudah lama terlempar ke daratan dan berlumut. 

Parkir motor disini. Lahannya luas. Bisa buat kemping juga 
Setelah beristirahat sejenak dan ngobrol dengan Pak Asmawik, kami dipandu beliau menuju Gua Pandan. Di sekitar gua ada banyak penjual makanan dan minuman ringan, yang menanti kami mampir. Oh ya, gua ini tidak terletak di perut sebuah gunung atau bukit, tapi turun masuk kedalam bumi. Di mulut gua terdapat serumpun pandan jenis besar. Katanya dulu lebih besar dan rindang. Itulah mengapa gua ini diberi nama Gua Pandan. Sepintas, di lokasi ini sama sekali tidak menunjukkan keberadaan gua. Topografinya yang datar dan berbatu lebih mirip dengan lahan kebun biasa. Misterius dan penuh tanda tanya. 

Nah, kami sudah siap menjelalah Gua Pandan (photo oleh: Sari Marlina)
Berdasarkan keterangan dari Pak Asmawik yang jadi pemandu kami, gua ini masih menyimpan misteri. Belum ada yang tahu berapa luas sebenarnya berapa kilometer. Warga yang telah melakukan penjelajahan memperkirakan gua ini luasnya sekitar 5 km dan memiliki beberapa mulut gua yaitu Gua Pandan, Gua Kelelawar dan Gua Sumur. Namun, baru 400 meter saja lokasi di dalam gua ya berhasil dijajaki. Sisanya masih misterius. 

Bersama Bapak Asmawik, Kepala Desa Girimulyo yang menjadi pemandu wisata saat aku dan teman-teman travel blogger main ke Gua Pandan. Aku merasa tersanjung saat Kepala Desa mau berjalan bersama kami dan ikutan haha-hihi. Kepala Desa yang kece badaiiiiii (phoot oleh: Sari Marlina)
Karena gua ini masih dikelola secara sederhana, suasananya masih alami alias apa adanya. Gelap gulita. Diperlukan cahaya dari senter agar kami bisa berjalan. Beberapa bagian gua sempit dan rendah sehingga kami harus berjongkok agar punggung dan kepala kami tidak terkena ujung bebatuan yang tajam. Sialnya, punggungku sempat terkena satu ujung batu karena aku kurang rendah menunduk. "Teteh coba naik ke atas," bang Rinto Macho mengajakku melakukan ekplorasi ke lantasi dua gua. Agak ngeri sih karena suasananya gelap. Untung tanahnya kering dan tidak berbau kotoran kelelawar. Dari lantai dua yang sempit umpama lubang pengintaian sniper, aku mengintip ke lantai tiga yang lebih sempit. "Wah, harus merangkak ini mah. Nggak berani ah," kataku pada bang Rinto yang kemudian berteriak kepada para photografer untuk memotretku dari lantai dasar gua. Diperlukan cahaya dari arah belakangku dan bagian lantai dasar gua agar photografer dapat menangkap sosokku. Ahhhh, petualangan yang menyenangkan sekali. 

Aku di lantai dua Gua Pandan, yang cemas karena memang takut ketinggian. Demi photo ini, bang Rinto rela menjadi penata lampu dengan menyalakan senter agar komposisi cahaya pas dengan cahaya yang datang dari senter di bagian bawah gua. Dan hasilnya indah sekali (photo oleh: Katerina @travelerien)
Gelap dan sunyi. Bau tanah begitu kuat menusuk cuping hidungku. Tak ada suara air atau binatang (menurut catatan dari journalnusantara.co.id ternyata di gua ini ada binatang seperti kelelawar, biawak dan ular). Senyap bagai hati yang kesepian. Lembab dan dingin bagai tubuh yang kehilangan ruhnya. Aku terus berjalan sembari sesekali memegang tas orang di depanku agar aku tidak terjatuh. Karena senter yang kami bawa kurang banyak, kami tidak dapat menikmati detail bebatuan didalam gua. Meski demikian, kami terhibur oleh satu spot photo yang indah dan magis. Dari atap gua yang bolong, seberkas cahaya masuk, menusuk langsung ke sebuah batu besar di tengah gua. "Photo aku disini dong," pinta mba Katerina. "Aku juga dong," pinta yang lain. Semua sibuk mau diphoto hahaha. "Lebih bagus lagi pas jam 12 siang, berkas cahanya lebih keren," ujar seseorang entah siapa. Tapi tak apa lah, apa yang kami dapati hari itu sudah sangat indah. Dan saat aku naik, aku gagal photo sendirian karena mentor super cerewetku ikutan naik. "Kita photo couple geh biar banyak pasangan yang niru photo disini. Strategi memikat calon wisatawan, terutama yang lagi pada pacaran," canda bang Rinto. Ini strategi memasarkan kaos Yay Lampung juga dong. Karena perpaduan kaos bergambar gajah lucu ini dengan suasana didalam gua membuat photo semakin dramatis. Inilah hasilnya...

Aku dan mentorku mencari wahyu illahi di Gua Pandan. Keren kan? (phoot oleh: Atanasia Riant)

Setelah puas berphoto di tempat-tempat unik, kami menuju jalan ke luar gua. Ah, lega rasanya saat tercebur ke dalam cahaya yang benderang. Kegelapan didalam gua membuat mba Katerina cemas, bingung dan ketakutan. Meski sudah dihibur dan tangannya digandeng agar ketakutannya berkurang, eh malah makin sedih. Demi membuat mbak Katerina tersenyum kembali, kami melakukan banyak kegiatan lucu sepanjang perjalanan. Dan menurutku perjalanan ini lumayan kurang sempurna karena kebun pepaya yang kami lewati hanya memelototi kami dengan buahnya yang masih muda. "Andai musim panen," ujarku yang mengkhayal dapat menikmati pepaya matang, manis dan segar sembari duduk kece di salah satu bebatuan bersama seluruh rombongan

Sesi pemotretan di kebun pepaya. Kece banget, kan? Dian Sastro aja pelum pernah (photo oleh: Sari Marlina)
Serba Pepaya... 
Petualangan kami di Gua Pandan selesai untuk kali ini. Kami kembali ke rumah Pak Tri Joto untuk istirahat dan makan siang. Apa menu makan siangnya? Pokoknya serba pepaya deh. Ada tumis buah pepaya mengkal dan petai yang rasanya manis-gurih-wangi gimana gitu; ada tumis daun, batang dan bunga pepaya dicampur teri yang sedap sekali; ada dadar telur dan tempe goreng sebagai protein tingkat tinggi, dan es teh yang segarrrrrrrr yang membuat dahaga kami bubar! Perut yang kelaparan jelas saja meminta sepasang mata untuk membelalak gembira dan lidah berkecap-kecap tak sabar ingin segera melibas itu makanan. Tapi minum es teh dulu, biar segarrrr. "Wah lezat sekali.." puji mba Katerina kemudian mengambil ponselnya dan memotret suasana makan siang kami. "Baru kali ini ada tumis buah pepaya pakai petai. Enak tapinya..." kataku sembari memenuhi piringku dengan tumisan lezat menggoda tersebut. Ya Tuhan! Makan siang saat itu enak sekali.

Makan siang enak dengan menu serba pepaya. Merdeka! (photo oleh: Katerina @travelerien)
"Aku masih mau tumis daun pepayanya..." mba Annie merengek manja karena perutnya sudah penuh sementara lidahnya sudah kecanduan tumis bunga-batang-daun pepaya. Sementara bang Rinto yang sudah makan siang menu pecel di sekitar area Gua Pandan hanya mampu ngiler di pojokan rumah karena nggak bisa lagi menjejalkan menu sedap mantap itu ke lambungnya. Aku? Hm, karena tahu diri bahwa lambungku kecil maka aku makan nasi sedikit saja demi bisa menikmati tumis pepaya dalam jumlah banyak hahaha. Ah, tuan rumah baik sekali karena memberi kami makan menu yang spesial, yang menunjukkan bahwa kampung ini swasembada pepaya dan merupakan salah satu produsen pepaya dari Lampung untuk memenuhi pasar Jakarta. Keren sekali desa Girimulyo! Menu ini sangat aku rekomendasikan dijual kepada para wisatawan yang berkunjung ke desa penghasil pepaya California ini. Menu ini khas, bernuasa lokal dan dapat menumbuhkan semangat petani dalam berkebun pepaya...

Pepaya California yang sedang naik daun ini merupakan nama beken dari pepaya Calina atau California IPB 9 yang diproduksi PT. Bogor Life Science and Technology (BLST) sebagai hasil dari penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB). Pepaya jenis ini sangat cocok ditanam di wilayah dengan ketinggain 100-700 meter diatas permukaan laut. Bobot pepaya calina atau california ini bisa mencapai 800-1000 gram per buah dan dapat dipanen 7-8 bulan setelah ditanam.  Jika dipelihara dengan baik yang ditunjang dengan unsur hara dalam tanah yang kaya, petani pepaya dapat memanen sekitar 2-4 ton per panen dengan asumsi seluruh buah tumbuh dengan baik, sehat dan besar. Meski dapat dipanen setiap minggu atau 4 kali per bulan, pepaya ini hanya berusia 4 tahun saja sehingga diperlukan peremajaan sebelum batang pepata tua bersiap almarhum. 

Rekomendasi...
Saat menikmati suguhan alam di desa Girimulyo, aku mencoba melebarkan sudut pandang. Gua Pandan memang menarik, tetapi lokasinya melesak jauh didalam bumi. Sementara di atas  dan di sekitar gua ada banyak potensi pertanian seperti lada dan pepaya. Nah, pepaya lebih populer di desa Girimulyo. Alhasil, sebuah ide lahir dan berkeliaran di kepalaku. Bagaimana kalau mengawinkan potensi pertanian dan wisata desa? Menurutku, dengan potensi yang ada saat ini desa Girimulyo dapat dikembangkan sebagai lokasi Wisata Desa, di mana orang-orang akan berkunjung untuk menikmati suasana desa yang alami dan apa adanya. Orang-orang berwisata ke desa karena ingin menikmati suasana desa yang masih alami tanpa disiapkan sebagai sebuah lokasi Desa Wisata. Produk yang bisa dikawinkan jelas saja si kebun pepaya dan gua pandan. Jika selama ini kebun pepaya hanya menjadi basis ekonomi di sektor pertanian, ke depan bisa ditambahkan juga sebagai sektor wisata pertanian. 

Surga pepaya California (sumber photo: m.harian88.com)

Misalnya, ada sebuah paket wisata pada waktu-waktu tertentu di mana pengunjung dapat bersama-sama petani melakukan penanaman bibit pepaya, pemeliharaan kebun pepaya, panen pepaya, hingga melakukan sebuah penelitian bersama untuk membuat produk baru berbahan dasar pepaya yang bernilai jual tinggi di pasar bahkan bisa diekspor. Jika selama ini pepaya produksi desa Girimulyo memenuhi area pasar bandar Lampung dan Jakarta. Mungkin kedepan tema 'pepaya' dapat memenuhi mimpi setiap orang. Dengan menjadikannya objek wisata desa, kebun-kebun pepaya ini akan sangat berguna bagi para pelajar dan mahasiswa untuk belajar mengenal dunia dan mencintai pertanian. Juga bagi para penggila lingkungan pedesaan, alias orang-orang kota yang penat dengan kehidupan super cepat dan digital. Istilah kerennya, life like a local...hidup sebagaimana orang lokal.

Lampung, Nopember 2017

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Petualangan tak terlupakan dan kuliner serba pepaya yang enaknya bikin ketagihaaaaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Katerina. Iya nih kangen tumis serba pepaya...

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram