Blogger: Sosial Media Buzzer dan Newsmaker

Ilustrasi (Sumber: growlowgo)


Hari Blogger Nasional sudah lewat. Tapi nggak papa dong aku bikin tulisan soal blogger. Bicara soal blogger aku jadi mengingat masa-masa awal aku mengenal blog dan berlatih secara mandiri. Saat itu aku masih menggunakan PC dan harus ke warnet jika hendak memposting tulisanku. Tentu saja draftnya sudah kusiapkan terlebih dahulu. Saat sudah berlaptop ria dan dapat mengakses internet via modem aku makin rajin menulis. Meski ya tulisanku pada masa itu sangat jelek dan kalau aku membacanya lagi sekarang pasti aku malu dan menertawakan diriku sendiri sampai sakit perut. "Nggak papa kok, Ika. Kamu jadi menikmati proses dalam menulis. Kamu juga bisa menilai kemajuanmu," hibur seorang teman yang merupakan salah satu pembaca setiaku. Karena memang konsisten dalam menulis itu nggak mudah. Selain butuh disiplin, juga harus tekun belajar meningkatkan pengetahuan dan teknik menulis yang baik. Semangat 45 deh!

Beberapa hari silam aku membaca sebuah postingan di Facebook yang lumayan viral dan menghentak. Dengan bahasa yang lumayan 'kasar' menurutku si penulis mengatakan bahwa seorang blogger lokal telah merekomendasikan sebuah penginapan yang tidak sesuai promosinya, yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman dan merasa malu didepan tamu-tamu asing yang dia bawa untuk mengunjungi suatu destinasi wisata level nasional yang sangat terkenal. Itulah yang membuatnya tidak mempercayai informasi dari para blogger, karena seringkali ulasan mereka tentang sesuatu tidak objektif. Alhasil, makiannya yang tertuju pada si blogger ditanggapi lain oleh pembaca dan lumayan mendapat respon dari sang kepala daerah. Hal ini membuatku dan beberapa teman blogger jadi melakukan introspeksi diri, bahwa  tulisan kita yang membagus-baguskan sebuah tempat dan produk bisa jadi membawa kekacauan pada pihak lain. Euh eh eh...

Sosial Media Buzzer...
Orang biasa, yang tinggal di kampung sekalipun bisa loh menjadi Sosial Media Buzzer. Karena syarat menjadi Buzzer itu sederhana: memiliki akun media sosial, perangkat seperti smartphone dan pengikut dalam jumlah ribuan atau jutaan orang. Pengaruh seorang Buzzer akan berdampak hebat pada dinamika sosial jika postingannya baik berupa tulisan, gambar atau video disukai, dikomentari dan dibagikan begitu banyak orang. Orang-orang dengan pengaruh hebat terhadap publik ini biasa juga disebut sebagai micro influencer atau key opnion leader. Para buzzer ini biasa dipakai politisi, selebriti, pengusaha hingga pemerintah guna mempengaruhi opini publik dengan bahasa yang khas yang tidak akan ditemukan dalam jenis iklan apapun, dan mengundang diskusi hingga perdebatan hebat di dunia maya. Selain berdampak sangat kuat dan lincah menembus dunia yang tidka terlipat ini hanya oleh ketukan jari, juga berbiaya murah.

Ria Ricis bersama para Youtubers Emas Indonesia (Sumber: viva.co.id)

Di level dunia, yang paling terkenal adalah Kim Kardashian dan keluarganya. Awalnya mereka bukan siapa-siapa, hanya orang kaya biasa. Tapi mereka pandai menangkap peluang dari sikap manusia yang suka 'kepo' alias serba ingin tahu kehidupan orag lain. Postingan-postingan di media sosialnya melahirkan sebuah program yang gegap gempita 'The Kardashians' yang bukan hanya membuat mereka semakin terkenal dan kaya raya, juga mampu mempengaruhi publik dunia tentang gaya hidup, kecantikan, dan sebagainya. Kalau level Indonesia sebut saja remaja centil dan unik Ria Ricis, adik bungsu selebriti Oki Setiana Dewi. Kerjaan isengnya sebagai remaja dalam membuat video-video unik berbuah ketenaran dan limpahan rezeki. Setelah puas menjadi selebram kaya raya karena menerima endors dari berbagai usaha, ia dan teman-temannya juga mampu membangun bisnis fesyen dengan gaya khas Ricis. Bahan baru-baru ini Ricis juga menjadi perempuan youtubers pertama yang mendapatkan pernghargaan Gold Play Button dari Youtube karena salurannya dipenuhi konten positif bagi anak-anak dan remaja. Konten positif yang ia sebarkan jelas saja akan sangat berpengaruh pada 1.4 juta penggemarnya (baca DISINI).

Buzzer Baik vs Buzzer Jahat
Dunia ini berwajah ganda. Segala hal berpasangan sebagai bentuk keseimbangan alam. Pun dengan keberadaan Sosial Media Buzzer. Ada yang yang menggunakan media sosial untuk kepentingan baik, dan sebaliknya menghancurkan suatu tatanan sosial. Hal yang paling kita ingat adalah dinamika menjelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu silam yang heboh, menggemaskan, menggemparkan hingga mampu menciptakan aksi lapangan berjilid-jilid. Kasus ini memecah konsentrasi warga negara Indonesia untuk berpusat ke Jakarta meski persoalan di daerah menjelang Pilkada sama peliknya. Semua itu hanya dipicu oleh sebuah video yang disebarluaskan melalui media sosial Facebook. Dampaknya bukan saja soal sentimen SARA, perubahan arus politik, kebijakan daerah dan investasi, juga ke ranah hukum. Sumpah, mengerikan sekali...

Ilustrasi (Sumber: www.makeuseof.com)

Seorang teman blogger pernah mengaku demikian padaku, "beberapa tahun lalu aku dibayar seorang yang punya kuasa lah untuk membuat tulisan yang nyaris seluruh isinya hanya mengkritisi kekurangan dan kesalahan sebuah even di satu daerah. Setelah aku tahu bahwa aku dimanfaatkan untuk kepentingannya sendiri, aku menyesal pernah nulis begitu." Lalu dia melanjutkan curhatnya, "aku juga pernah diminta mentransfer sejumlah uang pada seseorang agar orang itu mau mengerjakan perintahnya dalam menjatuhkan 'seseorang' yang dia anggap berbahaya bagi karirnya. Yah, uangku dia ganti sih setelah itu. Tapi rasanya aku telah menjadi bagian dari sebuah kejahatan, Ka." Temanku itu menyesal karena pernah terlibat dalam permainan seorang 'master mind' yang tidak segan-segan menjatuhkan atau meninggikan nama seseorang, asalkan itu demi kepentinganya. "Aku nggak sadar kalau aku digunakan untuk kepentingan orang lain," pungkas temanku sedih seakan-akan menanggung beban seberat gunung Tambora. 

Media Buzzer tidak hanya berlaku pada blogger saja. Juga di kanal Facebook dan Instagram, terlebih lagi di Twitter yang nyari seperti perang mulut hahaha. Di Facebook lebih ramai lagi karena ini sosial media semua kalangan mulai dari Presiden hingga petani di pegununan entah berantah. "Ada orang yang saking desperatenya, dia membuatkan akun twitter untuk istri dan anak-anaknya. Akun-akun tersebut sebenarnya untuk dia kelola sendiri untuk mengangkat sebuah isu yang sedang dia mainkan. Sampai segitunya lo permainan dia sebagai media buzzer. Karena memang ada uangnya. Pemilik akun setidaknya bisa mendapatkan penghasilan paling sedikit Rp. 500.000 setiap bulannya. Kalau satu keluarga ikut main semua berapa coba penghasilanya?" kata temanku. Duh, aku jadi ingat kasus tertangkapnya gerombolan Saracen yang bekerja untuk menyebarkan fitnah di dunia maya. Apakah memang nyaman hidup dari dari menghancurkan kehidupan orang lain?

Blogger sebagai apa? 
Ada yang mengatakan bahwa blogger tidak masuk dalam kategori sosial media buzzer, melainkan newsmaker. Perbedaan mencoloknya adalah bahwa buzzer itu dibayar, bekerja secara sistematis bahkan berkontrak dengan pemberi pekerjaan. Sementara newsmaker ya membuat berita secara sukarela sebagaimana citizen journalism atau jurnalisme warga. Namun, perkembangan media sosial seringkali membuat perubahan sangat cepat dan definisi atas segala sesuatu menjadi kabur. Zaman now, blogger sering dikontak berbagai pihak yang berkepentingan untuk mempromosikan produk atau kegiatan mereka. Misalnya perusahaan yang bergerak di bidang tour & travel, pemerintah daerah yang akan mengadakan even wisata, hotel baru yang membutuhkan promosi, klinik kecantikan atau kafe yang baru opening dan banyak lagi. Karena memang biasanya konten dalam blog lebih banyak memberikan informasi yang tidak akan ditemukan dalam media jenis lain, dan dapat menyebar dalam kecepatan cahaya hanya melalui ketukan jari. Terlebih lagi, para blogger zaman now sudah bergabung dengan berbagai komunitas blogger dan komunitas kepenulisan lain, sehingga sebaran iklan dari mulut ke mulut pun berjalan dengan indah

Tulisan seorang blogger di majalah Sriwijaya milik maskapai Sriwijaya Air (Sumber: Katerina @travelerien)
Saat ini seorang blogger tidak hanya menulis. Juga membuat video dan gambar, bahkan infografis untuk membuat informasi yang dibuatnya sampai kepada publik sebanyak mungkin melalui berbagai saluran. Sebuah kegiatan yang diikuti seorang blogger kreatif biasanya menghasilkan banyak karya seperti artikel blog, video untuk youtube dan instagram, hingga tulisan berkelas yang dipublikasikan di majalah-majalah ternama seperti majalah khusus untuk maskapai penerbangan. Blogger jenis ini ini biasanya memiliki jumlah pengikut ribuan di sosial media mereka. Karena para pengguna jasa blogger seringkali memberi syarat kerjasama berupa jumlah follower tertentu (biasanya diatas 1000 follower) di sosial media seorang blogger. Semakin banyak followernya, maka semakin luas cakupan audiens iklan produk mereka dan tentu saja imbalan atas jasa yang diberikan para blogger jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan jika mereka menggunakan jasa Production House (PH) untuk membuat iklan untuk televisi atau radio. Oleh karena itu nggak heran dong kalau para blogger saat ini sangat sibuk, sampai-sampai ada yang betul-betul menekuni pekerjaannya sebagai blogger professional karena memang menghasilkan rupiah.  

Nah, para blogger professional ini biasanya juga sangat perhatian dengan grafik kunjungan pembaca ke blog mereka. Sehingga tak heran mereka memiliki portofolio yang bagus dengan hasil bacaan Google Analytics yang mengesankan. Para calon pengguna jasa blogger cukup mempelajari Portofolio tersebut untuk melihat apakah seorang blogger cocok menjadi media buzzer mereka atau tidak. Blogger jenis ini biasanya sudah memiliki jam terbang tinggi dan terkenal diantara para blogger, follower akun sosial media mereka berjumlah ribuan dan mereka aktif 'memaksa' publik membaca karya mereka...

Jujur, aku suka ngiler seember kalau lihat tawaran review sebuah produk atau apalah. Ngiler sama hadiahnya gitu. Lumayan kan buat beli kuota. Tapi, kalau bukan pemakai produk dan harus beli produk dulu demi bikin review rasanya aduh kumaha atuh ya, ngeri-ngeri sedap gitu euy. Pernah beberapa kali ada yang menawari langsung via email, dari perusahaan tour&travel bonafit gitu. Cuma kontennya mereka yang membuat dan kita hanya memodifikasi aja. Udah bayaran kecil, konten  'ditentukan' dan aku nggak punya pengalaman pula, nambah bikin sakit kepala. Akhirnya ditolak aja lah daripada ngenes lihat blog sendiri tapi isinya konten perusahaan mahal, bakalan perih hatiku. Karena sejak awal ngeblog, niatnya menulis untuk membebaskan diri. Terbebas dari aturan tulis-menulis baku seperti kalau kita menulis untuk koran atau majalah, apalagi jurnal hehe. Kalau sudah bikin artikel yang keren buat ikutan lomba dan nggak menang juga, ya udah bukan rezeki

Pengalaman Menjadi Viral...
Sebagai blogger biasa aku pernah sih merasakan pencapaian lumayan dari tulisanku. Sama sekali bukan soal uang. Ini soal jumlah pembaca tulisanku. Saat itu sedang terjadi kontroversi tentang selebriti bernama Oki Setiana Dewi (OSD) sampai-sampai ada sekelompok orang menuntut MUI mencabut gelar 'Ustadzah' atasnya melalui situs change.org. Karena aku orangnya kepo maka kulakukan penelusuran dan tidak kutemukan artikel yang secara original membahas 'ada apa sih sebenarnya tentang Oki Setiana Dewi' dan aku lebih banyak menemukan artikel COPY PASTE. Sungguh menyebalkan!

Karena ingin melihat sebuah tulisan yang objektif dan tak menemukannya, maka aku menulisnya. Tulisanku saat itu (Juli 2016) sama sekali tidak menyudutkan atau menjelekkan OSD sebagai seorang manusia. Tetapi melihat kasusnya sebagai fenomena sosial yang dikaitkan dengan kecenderungan kaum Muslim yang semakin konsumtif, yang sangat erat kaitannya dengan munculnya OSD sebagai desainer baru pakaian Muslim yang harganya sangat mahal yang tidak sesuai dengan konten dalam ceramah-ceramahnya tentang hidup sederhana. Hanya dengan menyebarkan link tulisanku di media sosial milikku sendiri dan di komunitas blogger yang kuikuti, aku mendapat ganjaran sebanyak 80.000an pembaca. Tulisan tersebut juga membuatku dapat berkomunikasi dengan pembacaku melalui kolom komentar. Dan, karena tulisan tersebut sama sekali tidak mengandung unsur kebencian dan pencemaran nama baik, maka OSD sendiri nampaknya tidak terganggu. Tidak ada pihak OSD yang menghubungiku untuk menghapus postingan tersebut. Tulisan baik, aman damai dan pastinya aku berterima kasih kepada teman-temanku yang menggunakan akun media sosial mereka khususnya Facebook untuk menjadi media buzzer tulisanku tanpa dibayar.

Tulisanku yang paling viral selama aku menjadi seorang blogger
Pengalaman ini memberiku beberapa pelajaran berharga. Pertama, menulislah untuk tujuan yang baik dengan sudut pandang objektif dan jujur. Jangan pernah menjatuhkan siapapun dan apapun melalui tulisan yang kita buat. Perasaan benci dan dendam tidak akan melahirkan apapun kecuali kematian jiwa dan pikiran sendiri. Kedua, banggalah dengan karya sendiri dan jangan menyalin tulisan orang lain karena menulis merupakan sebuah upaya sama seperti professi lain seperti sebagai Presiden, Dokter, Polisi sampai Petani. Ketiga, jika memang serius menjadi blogger dan ingin tulisan menjadi viral, maka menulislah dengan serius, bukan asal-asalan. Tulislah tema yang sesuai dengan minat dan pengetahuan kita, tangkap dan gunakan momen dengan baik, dan sebarkan tulisan dengan cara yang elegan. Jangan pernah memaksa publik untuk membaca. Keempat, menulislah untuk bahagia. Karena seorang penulis yang bahagia dalam berkarya dapat memberikan pengaruh besar kepada pembacanya. 

Do and Don't...
Dalam menulis aku menetapkan aturan bagi diriku sendiri. Setidaknya, setelah 10 tahun berproses menjadi blogger dan terus menerus memperbaharui kualitas tulisan, aku masih memegang teguh aturan yang kutetapkan sendiri. Pertama, menulis karena keinginan sendiri alias tanpa paksaan dari pihak manapun. Sebagai manusia aku merdeka dalam berpendapat dan tak seorang pun dapat memberikan perintah kepadaku untuk membuat tulisan sesuai keinginannya. Aku tuan bagi diriku sendiri. Aku pena bagi tulisanku sendiri. Kedua, aku tidak membuat tulisan bohong guna mempromosikan produk yang tidak kugunakan. Sebagai blogger aku tergoda sih untuk menulis review sebuah produk atau mengikuti sayembara menulis tentang sebuah produk. Hadiahnya biasanya menggiurkan dan bikin ngiler seember. Tapi, kalau aku bukan pengguna produk tersebut, untuk apa apa membuat reviewnya? 

agustinuswibowo.com salah satu blog favoritku
Keempat, aku terus belajar kepada para blogger kawakan yang tulisannya aduhai begitu indah. Jujur saja, aku pembaca setia beberapa blog. Aku membaca tulisan mereka karena memang tulisan mereka bagus walaupun aku belum pernah bertemu dengan orangnya. Contoh: penulis dan blogger Agustinus Wibowo (agustinuswibowo.com). Tulisan-tulisannya original, bernas, memiliki misi kemanusiaan dan kebangsaan, padat informasi, objektif dan tentunya sarat petualangan ke tempat-tempat yang tidak biasa. Keempat, jujur dalam menulis. Dalam blog ini ada tulisan beberapa sahabatku dan dengan jujur aku menyebutkan nama penulisnya dan posisi mereka sebagai penulis tamu. Karena bagaimana pun juga pembaca akan menilai  apakah tulisan yang terbit di blog ini tulisanku atau bukan. Pembaca setiaku pasti mengenal tulisanku karena memiliki karakteristik khusus eaaa eaaa eaaa.

Kelima, memaksa diri agar tidak terjebak keinginan menjadi blogger sombong. Aku suka dapat cerita tentang blogger sombong yang punya anak buah para blogger anak bawang. Para blogger sombong meminta pekerjaan mereview sebuah produk ke perusahaan dengan memaksa seakan-akan mereka raja. Lha, piye tho? Selain karena para blogger akan ketiban citra buruk, para blogger anak bawang akan mendapatkan pembelajaran yang keliru tentang menjadi blogger. Padahal, blogger kelas dunia saja nggak segitunya saat meminta pekerjaan. Para blogger mahal kelas dunia biasanya berperilaku seperti 'external consultant' yang memiliki posisi tawar jika sebuah perusahaan hendak menggunakan jasa mereka. Karena hasil bidikan mata dan perasaan sang blogger umpama laporan hasil 'Monitoring dan Evaluasi' sebuah program. Kalau laporan dibagus-bagusin tapi kenyataan di lapangan lain, namanya bikin nama perusahaan makin busuk. Gitu.

Jadi...
Hm, kita nggak bisa memastikan ada berapa banyak jumlah orang yang menjadi sosial media buzzer yang baik atau yang buruk. Banyak penggiat sosial media yang menyebutkan dirinya sebagai 'Buzzer', dan menurutku lebih banyak lagi yang menyembunyikan identitasnya. Saat gerombolan Saracen tertangkap, kita tahu bahwa bisnis ini sungguh menggiurkan dan bikin gelap mata. Tapi di sisi lain buzzer juga sangat dibutuhkan untuk memviralkan tokoh dan program-program yang baik sehingga makin dikenal masyarakat. Dan hal ini tentu saja sangat politis. Sepertinya jarang sekali kulihat seorang blogger mengkampanyekan hal-hal politis dalam blognya. Yang lazim biasanya di sosial media seperti Twitter, Instagram dan Facebook.  

"Ada tuh orang tiba-tiba jadi blogger dan langsung melejit. Ngalah-ngalahin blogger yang udah jungkir balik belajar nulis dan belajar banyak hal selama bertahun-tahun. Padahal aku tahu yang nulis bukan dia. Orang kan tahu karakteristik bahasa yang kita gunakan, jadi gampang ditebak kalau tulisan kita orisinil atau enggak," ujar temanku lagi. Uhh, aku paling males dengan blogger model begitu. Sama malesnya dengan blogger yang baru punya satu tulisan eh tulisan keduanya di dimenangkan dalam sebuah lomba. Arghhh jadi pingin garuk-garuk tembok deh! Blogger-blogger semacam ini bukannya jadi sosial media buzzer dan newsmaker, tapi merusak citra para blogger yang selama ini sudah bikin kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala demi menghasilkan tulisan yang bagus dan bermanfaat bagi publik. 

Jadi, untuk para blogger, tetap semangat meningkatkan kualitas tulisan meski ada jenis blogger kacangan yang menjegal jalan kita untuk tetap jujur dan elegan dalam menulis. Setiap blogger berbeda dan memiliki karakteristik yang khas, sehingga setiap orang pula dapat mendaki tempat yang jumawa dalam dunia daring. Intinya jangan mencontek, jangan menjadi blogger palsu alias blog dikerjakan orang lain dan jadilah blogger yang kreatif. Tulisan yang baik akan berbuah manis. Kualitas tulisan, kejujuran dan disiplin dalam menulis akan bicara dengan sendirinya kepada dunia tentang siapa kita, si blogger...

Terima kasih telah membaca tulisan sederhana ini...
Semoga harimu menyenangkan...

Lampung, Nopember 2017

Wijatnika Ika

39 comments:

  1. Masing-masing blogger berproses. Salah satu "keisenganku" itu saat blog walking ke blogger seleb, aku cari tulisan dia yang awal-awal. Dan jelaslah bahwa blogger seleb ini pun melewati banyak fase. Dari tulisannya yang biasa banget, sampe yang bagus dan udah jadi ciri khas dan penggemar.

    Sebagai pembaca, kita juga harus jeli. Keliatan kok mana tulisan sponsor yang ditulis dengan berlebihan atau umum.

    Jam terbang untuk mengulas satu produk (misalnya penginapan) juga pengaruh. Ya namanya juga orang belajar. Aku sendiri kalo nyari info produk A, ketemu tulisan blogger B, ya gak mudah percaya. Cari alternatif penilaian lain.

    Macam di tripadvisor, misalnya cek hotel A, skornya 9,7, tapi yang mengulas hanya 5 orang. Aku mending pilih hotel B, yang skornya 8,2 tapi yang mengulas puluhan orang. Kita sebagai pembaca, pencari info, mesti jeli.

    Jika kondisi gak sesuai dengan apa yang direkomendasikan ya gak mesti misuh-misuh juga. Keadaan berubah. Cek kapan si blogger nulis. Blogger nulis Januari 2017 dan kita datang di Agustus 2017 keadaannya aja bisa berubah, mungkin hotel tsb berganti manajemen, pegawai rajin yang biasa bersih-bersih udah resign dan digantikan pegawai yang malas dsb. Banyak sekali kemungkinan.

    Sebagaimana mengulas satu produk dengan jujur butuh jam terbang, mengomentari dan bereaksi terhadap ulasan tersebut juga butuh jam terbang dan... kedewasaan.

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir bang Haryadi. Kalau aku berproses sampe jungkir balik deh. Dan sempa malu saat salah satu pembaca setia mengaku membaca smeua tulisan di blog ini. Padahal tulisan-tulisan zaman baheula bikin ketawa sakit perut saking anehnya. Tapi btw, targetku adalah ikut sayembara nulis yang hadiahnya ke Jepang. Nggak pernah jebol hahahaha

      Delete
    2. Nah.. Pemikiranmu sama persis ama aku, Yan.. Banyak faktor yang bisa membuat apa yang dirasakan A beda dengan pengalaman B waktu menginap di suatu penginapan atau berkunjung ke suatu tempat.

      Bisa jadi kondisi penginapan waktu si A dulu dateng beda dg kondisi waktu si B dateng.

      Bisa jg karena memang pandangan mereka dalam melihat sesuatu itu beda. Bagus buat si A belum tentu bagus buat si B.

      Bisa jg karena emang ekspektasi si B yg terlalu tinggi. Sehingga waktu keadaannya gak sesuai ekspektasi, jadinya kecewa dan menyalahkan si A yg ekspektadinya ya menurut dia itu bagus..

      Delete
    3. Hai mba Dian, kalau aku suka ragu ikutan review produk tuh karena sepertinya nggak punya kesempatan nulis hal-hal objektif. Namanya juga iklan jadi harus menampilkan yang baik-baik aja demi kebaikan pemberi jasa. Aku lebih suka ikut sayembara menulis bertema 'harapan' karena bisa nulis sesukanya, tapi belum pernah menang hahaha

      Delete
    4. Lomba Jepang? jangan-jangan kita ikutan lomba yang sama, dimana aku juga kalah hahaha.

      Mbak Dee, bener mbak. Espektasi orang beda-beda. Bisa jadi Hotel bintang A bagi si Fulan udah bagus, tapi bagi si Mawar hotelnya masih standar. Makanya, berkomentar (baca : protes) juga mesti dengan bijak.

      omnduut.com

      Delete
    5. Nah bisa jadi bang Haryadi. Gimana sih caranya biar memenangkan sayembara menulis berhadiah ke Jepang? Perasaan tulisanku sudah bagus dan penuh perasaan...

      Delete
  2. Sukaaa sama tulisan mba Ika, kalau boleh kasih saran barangkalibpilihan menjadi buzzer lebih kepada tuntutan ekonomi dalam hal ini perut, namun sebagai blogger baru akupun masih merangkak belajar banyak hal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Yurmawita. Kalau soal itu sih aku nggak tahu ya. Aku hanya bercerita pengalamanku yang ngiler seember tapi nggak jadi hehehe

      Delete
  3. nice point of view, bahan renungan buat blogger2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Rina. Iya, renungan untukku juga agar makin rajin membuat tulisan berkualitas...

      Delete
  4. Buzzer jaman now, tak sedikit yang nyebar hoax karena duit.. miris

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Spesial Tips (sungguh spesial sekali). Iya, sedih ya huhuhu

      Delete
  5. Saya pernah menjadi buzzer untuk kepentingan politik
    Waktu itu bertepatan dgn pemimu presiden
    Syaratnya saya hrus membuat akun fake sbnyak mgkin
    Tp setelah itu si sadar, tidak ada gunanya, walaupun dpt bayaran tp hidup terasa tidak tenang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Adi. Iya, pada akhirnya kita harus berpikir logis, uang yang sedikit seringkali membutakan mata dan membuat hati kita lelah sendiri.

      Delete
  6. Kerennn mba, makasih tipsnya ya, saya juga gasuka tulisan kebencia karena akan mematikan jiwa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Sandra. Yups, kita nulis yang bikin happy aja...

      Delete
  7. Ahh keren mbak wijatnikaika, Baru pertama kali saya baca tulisannya mbak. tapi langsung terkesima. Jujur saya pernah juga ditawari menjadi buzzer, meskipun saya nggak pernah nyoba produknya tapi fee nya memang bikin ngiler seember., jadi yah apa boleh buat. Tapi kedepan itu menjadi pelajaran untuk lebih bijak memilih kerjaan apalagi menjadi buzzer..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Anjar. Selamat datang di blog sederhana ini, silakan jalan-jalan dan semoga mendapat pengalaman menyenangkan...

      Delete
  8. *copas aja ah dari fb*

    TAMPARAN BUAT BUZZER DAN BLOGGER MOTOINPOIS

    Aku sih blogger suka-suka, nulis juga suka-suka. Diundang plesiran suka nolak. Diajakin kerjasama nulis review sering menampik. Paling enak memang pake harta sendiri, nulis pun jujur dan objektif sesuai pengalaman pribadi.

    Dan jika aku memutuskan untuk menerima tawaran kerjasama pun sudah melalui tapa brata di gua hantu selama tujuh hari tujuh malam. Poso muteh klo perlu kwkwkwkw.

    Aku gak mau jadi blogger dan buzzer yang bahlul. Buzzer itu harus cerdas. Aku menulis ketika aku sudah pernah memakai barang tersebut. Atau karena aku memang menguasai topik tersebut. Hayo siapa di sini yang pernah tak tolak tawarannya hayooooo???

    Nyinyiranku terakhir tentang buzzer "itu nonton film kok ngajak satu sekolahan, filmnya ratingnya apa?" dijawab aman untuk ditonton usia anak SMP. Bajindul tenan. Aku nonton trailernya aja banyak dialog-dialog yang membutuhkan bimbingan orang tua. Dan gugling sebentar ratingnya untuk penonton 17+


    KAMI MAKAN MENGANDALKAN INPOIS? HIH DASAR MOTOINPOIS KABEH.

    JANGAN HANYA DEMI INPOIS KALIAN LUPAKAN TANGGUNG JAWAB UNTUK MENDIDIK NETIJEN. LAGIAN INPOIS KALIAN JUGA DIBAYARNYA TELAT KAAAAAAAAAAAAN. YEEEEEEKAAAAAAAAAN???

    SEKIAN DARI PESOHOR

    #PesonaInpois
    #PesonaBuzzerBahlul
    #PesonaBloggerMOtoInpois

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sidah mmapir bang Alid. Ajarin aku jadi pesohor sih biar terkenal gituh...

      Delete
  9. Hi mbak, salam kenal..tulisannya panjang tapi aku nggak bosen bacanya, sarat informasi buat aku si blogger amatir. memang iya ya mbak nge-blog itu butuh perjuangan yang tidak mudah. kaki jadi kepala, kepala jadi kaki.. bikin tulisan itu nggak gampang dan harus selalu belajar setiap saat.

    Keep writing ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Katadita. Iya, perjuangan sekali karena konten blog itu penting makanya harus orisinil tulisan sendiri.

      Delete
  10. Banyak yg berlindung pada status sbg blogger hanya untuk memperhalus pekerjaan utamanya yaitu menjadi buzzer yg sikat semua job, nggak peduli muatan kontennya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Lusi. Iya betul mba. Dan jangan sampai lah kita seperti itu. Ngeri...

      Delete
  11. Buzzer buzzer buzzer
    Entahlah, kalau beberapa tahun dulu aku masih memaklumi. Tapi setahun ke belakang kok enek rasanya. Selama ini kita harus bisa menyampaikan suyatu pesan tanpa dengan memujinya setinggi langit. Memuji itu wajar, kalau terlalu berlebihan juga tidak baik.

    Tinggal kita sekarang yang harus pandai menyeleksi mana yang tepat menurut kita, dna mana yang tidak tepat walau itu menggiurkan secara materi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir bang Nasirullah. Haha iya, makanya meski saya ngiler seember untuk review produk, urung karena kasihan sama blog sendiri hehehe

      Delete
  12. Mampir baca baca di sini gara-gara statusnya alid. Hohoho...

    Sukses ya mbakque..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Ndop. Sama-sama sukses...

      Delete
  13. wew
    entah blogger zaman now itu jadi ribet banget ya
    nggak kayak dulu yang ngeblognya suantaaaaaaai banget
    nulis untuk mengekspresikan diri, menceritakan apa yang dirasa, dibaca, dilihat, dan didengar. Real banget gitu
    beda sama sekarang yang ah begitu lah

    aku pun kalau ada tulisan berbayar, ya sebisa mungkin aku harus menenggelamkan tulisan itu. Jadinya orang-orang datang ke home blogku itu, yang dilihat bukan tulisan bersponsor, melainkan tulisan murni, curhatan asli, kali-kali aja dibaca sama calon suami yang belum tampak batang hidungnya

    ah elah jadi keceplosan promo diri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Rhoshandayani. Iya. Tujuan menulis adalah memerdekanan isi pikiran dan membuar orang banyak membaca ide orisinil. Itulah meski saya ngiler seember urung juga ikut review ini-itu

      Delete
  14. Thread yang ramai.. seperti thread yang pernah ku tulis tentang rumitnya jadi seleb media sosial saat ini dan tips memenangkan lomba.

    Sampai saat ini aku masih pertahankan objektifitas saat review produk. Semua kekurangan dan kelebihan dijelaskan, namun kadang ada juga yang langsung bertanya.

    Tiap orang bisa jadi buzzer tapi tidak semua orang bisa jadi influencer.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir bang Deddy. Kalau review tapi objektif sih nggak papa karena demi kebaikan si produk juga. Semoga para buzzer baik semakin berjaya...

      Delete
  15. Nampaknya pilihan artikel ku cukup tidak populer, jadi jarang mendapat job review. haha
    Ya, saya sampai sekarang masih menulis apa yang saya pahami aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Andika. Bisa jadi sih hahaha..

      Delete
  16. Itulah sebabnya saya suka milih2 jg mbak.Jd sebelum menerima pekerjaan saya kenali dulu produknya. Utamanya obat atau maknan saya tanyakan dulu ada BPOM-nya apa gak dll.

    BBrp kali menolak tawaran jg krn saya rasa kurang sesuai, meskipun risikonya diblacklist dll, saya yakin ada aja deh rezeki lain.

    Tdk mau kejadian "menjerumuskan org" gtu, moga2 ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba April. Kalau saya sih suka mengurungkan niat mau ikutan nulis review. Nggak nyaman aja entah kenapa hehe

      Delete
  17. intinya dari semua ini jujur pada diri sendiri, ngeblog untuk apa? untuk dangdutan biar dapat banyak saweran... nah itu pilihan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mmapir Danan. Betul, menulislah untuk bahagia dan menyebarkan kebaikan...

      Delete
  18. Wih tulisannya kece banget mbk. Saya belajar banyak nih sebagai Blogger anak bawang hehehhe. Kl aku tanya-tanya jangan bosen ya.
    Ups salam kenal mbak nama kita sama ada ika nya.

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram