Sunset Hunting di Karang Umpu, Way Kanan



Pada suatu hari yang gembira, aku diajak hunting si manis sunset oleh bang Rinto Macho dan Riyanda Chaikal. Keduanya sama-sama photografer, tapi beda jam terbang, beda usia, beda nasib dan beda segalanya deh kecuali mereka suka motret aja. Sebenarnya ada banyak spot untuk hunting sunset di seantero Way Kanan. Kondisi topografi yang cenderung flat alias datar memungkinkan kita bisa melihat sunset dimana saja. Nah, kalau biasanya aku diajak hunting di seputaran kompleks Perkantoran Pemda, Rest Area dan Tugu Ryacudu, kini diajak blusukan ke sudut Way Kanan yang sama sekali baru untukku. 

Setelah keluar dari jalan raya, kami masuk ke jalan desa yang kondisi jalannya masih jelek terus ke lembah ke tempat aku menemukan pemandangan lain tentang vegetasi, tanaman perkebunan, rumah-rumah dan belukar. Saat memasuki wilayah yang lebih rimbun yang merupakan kebun tua, bang Rinto bilang begini: "Ibu saya berasal dari kampung Karang Umpu ini. Beliau punya kebun kopi disini. Tapi sejak menikah dengan ayah saya dan pindah ke rumah di dekat stasiun, kebunnya tidak ada yang mengurus." Wah sayang sekali. 

Mendung euy. Sunsetnya begini doang hehehe (Photo oleh: Rinto Macho)
Kami melanjutkan perjalanan kembali, masuk lebih jauh ke kampung yang lebih rimbun oleh kanopi berbagai jenis pohon. Rasanya masuk ke masa lalu, sebuah kampung yang sejuk dan sejahtera. Kampung-kampung disini adalah tipikal kampung tua yang mengembangkan repong (kebun campuran) yang usianya sudah sangat tua. Repong biasanya isinya beraneka ragam yang terdiri dari tanaman komoditas utama seperti lada dan kopi, kemudian pohon buah seperti duku, durian, mangga dan sebagainya, serta tanaman dengan fungsi ganda seperti kemiri, kelapa dan sebagainya. Di kampung yang kami lewati ada banyak sekali pohon duku. Sayangnya sedang tidak musim buah nih.

Setelah melewati kampung yang menurutku gersang dan dalam kondisi miskin, kami sampai di bantaran sungai. "Kampung seperti ini merupakan target konsituen yang potensial saat pemilihan kepala daerah," ujar bang Rinto lagi. Sepertinya janji-janji manis calon anggota DPRD atau Bupati dapat meluluskan warga kampung. Kami juga sempat melewati area sebuah rumah yang habis terbakar. Seluruh rumah dan isinya sepertinya benar-benar habis karena tinggi api sampai menjilati pohon-pohon yang tinggi di sekitarnya. Menurut warga yang kami sapa, kejadian sudah dilaporkan kepada pihak berwenang agar korban segera mendapat bantuan dan memiliki rumah kembali.

Kendaraan kami melaju pelan. Sesekali kali melambaikan tangan kepada warga sembari tersenyum semanis mungkin. Tujuan kami adalah sebuah jembatan kayu yang pernah dipotret Chaikal dan dipostingnya di akun Facebook-nya. Wah, senang sekali dengan tantangan hari ini. Setelah melaju beberapa menit, bang Rinto memarkir mobil dan kami berjalan sekitar 10 meter ke arah sungai. Sungai Way Umpu namanya. Sungainya tenang dengan air keruh yang mencurigakan. Mungkinkah ada buaya sedang bersembunyi di dasar sungai? Ah, aku jadi ngelantur nih hehehe...


Jembatannya keren kan? (Photo oleh: Rinto Macho)
Posenya cocok dicontek buat yang mau photo Pre-Wedding nih (Phoot oleh: Rinto Macho)
Wah, Photo hasil jepretan Chaikal juga bagus (Photo oleh: Rinto Macho)
Wah, ada warga yang baru pulang dari kebun dan membawa akan ternak (Photo oleh: Rinto Macho)
Waktunya pulang (Photo oleh: Rinto Macho)
Santai kayak di pantai... (Photo oleh: Rinto Macho)


Setelah puas kami pun pulang. Tapi eh, diajak mampir ke rumahnya Chaikal dulu dong. Rumah sederhana dengan anggota keluarga lengkap dan bahagia. Kedua orang tua dan adik-adik Chaikal menyambut kami dengan ramah dan senyum sumringah. Tak lama kami disuguhi kopi dan mie kuah lengkap dengan telor dan irisan cabai hijau. "Wah, terima kasih adik cantik," ujarku pada gadis kecil adiknya Chaikal yang memang membawa semua panganan untuk kami mulai dari bergelas-gelas kopi, bermangkuk-mangkuk mie kuah dan beberapa tolpes camilan. Duh, menggemaskan deh. Jadinya kami mengobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal sambil menikmati paduan rasa enak di lidah dan perut yang kenyang. Alhamdulillah. Terima kasih keluarga adik kami Chaikal atas kebaikannya. Semoga Allah senantiasa merahmati dan melindungi kalian semua...

Lampung, Oktober 2017

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram