Sunrise Hunting di Purajaya, Lampung Barat

Pada suatu hati ketika pulang kampung, aku menemani adikku belanja ke pasar Minggu. Rencananya hari itu kami akan masak sesuatu yang istimewa sehingga harus belanja sedikit lebih banyak. Nah, lokasi pasar Minggu itu terletak di kecamatan lain. Maklumlah kalau di kampungkan pasarnya nggak setiap hari alias nomaden alias pindah-pindah. Meski udara sangat dingin bagai es dan inginnya meringkuk dibawah selimut sampai matahari terbit, aku dan adikku berangkat juga. Cukup bermodal jaket tebal kami berangkat menyusuri jalanan desa yang masih sepi. Hanya ada beberapa orang warga yang baru pulang dari Masjid. 

Kabupaten Lampung Barat yang topografinya perbukitan memang sangat indah saat pagi hari. Saat itu kabut tebal masih melingkupi bumi sehingga seringkali disebut sebagai 'negeri si atas awan' karena seakan-akan warganya tinggal di satu wilayah di atas awan. Oh, alangkah indahnya. Dan perjalanan kami menembus kabut menuju perkampungan diatas bukit berbentuk cekung seperti piring memang disuguhi pemandangan pagi yang indah. Hm, seperti memasuki dunia lain yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Pada posisi tertentu yang menurut kami terbaik, adikku menghentikan laju sepeda motornya dan kami sibuk saling memotret satu sama lain. 

Aku dan kabut (photo oleh: Mela)

Adikku yang manis bersama senyum matahari pagi
Jujur, lokasi yang kami lewati benar-benar indah. Sepanjang perjalanan indah. Gambar alam berupa perbukitan, pepohonan, perdu, rerumputan, sawah, kolam, siring, baru, jalanan dan lalu lintasnya berpadu dalam pelukan kabut. Aku sampai merinding dibuatnya dan ingin punya rumah dan sawah di kampung ini, agar menjadi tempat tetirah yang membahagiakan. Tapi memang sih udaranya yang terlampau dingin tidak cocok untuk kesehatanku hehehe. 

Desaku dari jalan menuju Purajaya berlatar gunung Remas/Pakuwan yang fenomenal
Oh ya, karena suatu dan lain hal, photo-photo kami yang bagus selama perjalanan ini terhapus. Satu folder terhapus oleh ketukan jariku sendiri karena kurang teliti. Nangis bombay deh karena kenangan kami berdua hilang begitu saja. 

Adikku belanja dengan gembira

Seorang pedagang yang nampak bahagia

Belanja tape singkong pada seorang kakek

"Ayam, Mang..." kata adikku. Kami akan masak menu Ayam Bumbu Bali
Oh ya, karena saat itu aku dan adikku tidak memiliki waktu berlama-lama di pasar atau untuk melakukan sightseeing di kampung orang Lampung ini, kami tidak memiliki banyak photo tentang suasana kampung. Padahal, dari sudut pandang pariwisata, kampung ini sangat potensial menjadi lokasi wisata berbasis desa. Pertama, kampung ini merupakan pengembangan dari kampung tradisional khas suku Lampung yang ditandai oleh rumah-rumah warga yang aduhai cantiknya, yang pastinya akan memikat wisatawan. Kedua, wilayah ini berbentuk cekung seperti piring dan berada di ketinggian tertentu dan memiliki lokasi wisata situs megalitik Baru Berak. Jika wisatawan keliling kampung, khususnya pada musim panen padi, kopi atau lada niscaya mereka akan sangat senang sekali. Oke, mungkin lain waktu aku akan kembali bersama seorang photografer handal yang mampu mendokumentasikan kampung ini dengan cara yang indah agar memikat wisatawan.

Kerangjang belanja kami penuh. Waktunya pulang (Photo oleh: Mela)
Itulah cerita sederhanaku tentang photo matahari terbenam yang hilang itu huhuhu sedih sekali sebenarnya, dan tentang kegiatan belanja di pasar. Oh ya, aku adalah tipe orang yang sangat suka belanja di pasar tradisional. Selain karena harganya murah dan produk pangannya segar, juga karena biasanya aku menemukan sayuran, jamur atau ikan tertentu yang tidak pernah kutemukan di pasar tradisional di kota besar. Dan aku biasanya suka sekali memasak hasil belanjaanku seakan tak ada hari esok. Pokoknya masak enak hehe

Lampung, Oktober 2017

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram