Serunya ke Sumatera Via Selat Sunda



Aku lupa kapan pertama kali menyeberang ke pulau Jawa menggunakan kapal laut. Namun, selama kurun waktu 10 tahun ini sudah tak terhitung lagi aku bolak-balik Lampung-Jadebotabek menggunakan kapal laut. Karena aku tipe orang yang enggan merepotkan diri dalam perjalanan, maka sebagian besar perjalanan Sumatera-Jawa-Sumatera ini kulakukan di malam hari. Yah, antara menggunakan Travel dan bis Damri. Biasanya berangkat pukul 9 malam, perjalanan nyaman dan aku tidur sepanjang perjalanan, trus tahu-tahu tiba di tujuan dengan selamat.

Ketika aku dalam keadaan sangat sehat, barang bawaan sedikit dan sedang ingin bertualang, maka aku melakukan perjalanan pada pagi hari. Dan aku tidak menggunakan Travel atau bis Damri, tapi 'ngeteng' alias naik-turun dari kendaraan satu ke kendaraan lain. Perjalanan model ini lebih sering kulakukan dari Jawa ke Sumatera daripada sebaliknya. Karena meski niatnya bertualang, kalau memasuki Jakarta pada siang hati tetap saja akan bikin bad mood. Ala-ala backpacker gitu lah hehe. Untuk perjalanan ini aku lupa naik bis apa namanya, tapi so pasti rutenya Jakarta-Merak. Aku menunggu bis ini di Pasar Rebo, soalnya males mau ke terminal Kampung Rambutan, kan akhirnya melewati Pasar Rebo juga. Sebenarnya nggak enak sih jadi warga negara yang nggak tertib begini. Tapi pihak Dinas Perhubungan sendiri tidak menindak tegas kegiatan di terminal bayangan yang justru jadi favorit para pejalan ini. Aku kan maunya perjalananku cepat, simpel dan murah.  


Setelah terjebak kemacetan sepanjang Jakarta-Cilegon, akhirnya tiba di pelabuhan Merak (Photo oleh: Pak Ojek)



Sepertinya hari itu aku terlalu siang berangkat dari Jakarta sehingga terjebak macet dan ya namanya juga bis hobinya mampir di banyak tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Alhasil aku tiba di pelabuhan Merak lumayan terlambat. Hm, tadinya mau ngambek karena kesal aja sebab ada janji ketemu orang di Lampung jam 2 siang dan alamat sangat terlambat. Tapi eh ngambek sama siapa? Aku sudah berusaha berangkat sepagi mungkin, tapi siap yang bisa menolak bala kemacetan khas Jadebotabek? Dannnn, sebagai hadiah keterlambatan dan segala rupa di perjalanan yang bikin aku kucel dan bau segala rupa entah berantah, aku mendapat kapal terbaik yaitu ASDP Portlink V yang lumayan tenar diantara para pejalan yang setia menggunakan jalur darat. Ini adalah kesekian kalinya aku menyeberang Selat Sunda menggunakan kapal ini. Kapalnya cantik, besar, bersih, ruang santainya GRATIS, dan toiletnya bagus. Terbaiks deh

Kami sudah di lautan, Selat Sunda yang fenomenal...
Asap hitam menukik ke langit, menari bersama angin

Karena aku sudah puas tidur di bis, jadi meski kapal ini menggoda sekali buat tidur di ruang VIP yang gratis, aku memilih keluyuran menikmati suasana kapal. Karena hujan dan suasana jadi begitu dingin, aku bergabung dengan tiga orang awak kapal berseragam yang sednag bercanda dan menikmati kopi. "Kopinya satu, bang." kataku pada seorang penjual kopi dekat meja kami mengobrol. Dari awak kapal yang mungkin sudah bosan bolak-balik Lampung-Banten selama belasan tahun bekerja, aku mendapat banyak cerita. Aku tidak tertarik tentang kapal ini karena informasinya dapat kupeorleh dari situs ASDP sendiri. Sembari ngopi dan ngobrol ngalor ngidul, aku lebih tertarik pada kehidupan para awak kapal.

Menunggu kapal sandar (photo oleh: Penumpang A)
"Mbak ini wartawan ya? kok mau ngobrol begini dengan kami?" tanya seorang bapak yang sudah bekerja selama 12 tahun di kapal tersebut. Kutaksir usianya menjelang 60, perokok berat, keras kepala dan dominan. "Bukan lah pak. Saya mah mau kerja penelitian pak di Lampung. Kan peneliti emang suka tanya ini itu, Pak, hehehe.." kataku sembari tersenyum. Si bapak dan seorang rekannya menilaiku sembari sesekali menghisap rokok, menyesap kopi, mengerutkan kening dan menyipitkan mata. "Mba ini pasti jomblo..." kata si bapak. "Wahh! Bapak tahu aja hehe..." dan obrolan kami beralih ke kisah si bapak berkenalan dengan seorang perempuan yang berhasil menerbangkan banyak orang menjadi TKI ke luar negeri. Ia juga mengisahkan bahwa ia dekat dengan perempuan itu dan mereka sering saling tolong menolong saat menghadapi kesulitan (Cieee si bapak curhat hahaha). Tak lama kopi kami habis dan para awak kapal kembali ke pos mereka masing-masing. Kami berpamitan dan aku melanjutkan misi keluyuran. Kapal yang besar ini minim penumpang, jadi suasananya lumayan lengang. Nyaman untuk menikmati suasana lautan.

Menjelang Sandar di pelabuhan Bakauheni, Lampung



Dan, meski sebenarnya perjalanan mengarungi Selat Sunda dapat ditempuh antara 2-3 jam dengan kondisi laut yang tenang dan ombak kecil, kita tak bisa memungkiri rintangan lain selama pelayaran. Hal yang paling tidak bisa dilawan adalah antri sandar. Meskipun pelabuhan Bakauheni memiliki banyak dermaga, tetap saja rasanya kurang karena lalu lintas kapal penumpang di Selat Sunda adalah yang terpadat di Indonesia. Jadinya ya, kami harus menunggu selama 2 jam saat kapal di depan kapal kami menurunkan dan menaikkan penumpang. Baru deh awak kapal bisa melempar jangkar dan kami siap menjejakkan kaki di tanah Sumatera yang kaya raya.

Kapal penumpang favorit milik BUMN yang besar, gagah, bersih dan fasilitasnya gratis


Biaya Perjalanan...
Angkot Depok-Pasar Rebo Rp.6.000
Bis Jakarta-Merak Rp. 25.000 
Ojek Terminal Merak ke Loket Rp. 15.000
Tiket kapal Rp. 13.500
Bis Bakauheni-Bandar Lampung Rp. 25.000
Angkot/bis Terminal Rajabasa-tujuan Rp.4.000
Makan minum selama perjalanan Rp. 50.000
Total= Rp. 138.500

Dermaga Eksekutif...
Ada kabar baik nih. Bahwa kelak pelabuhan Merak (Dermaga 6) dan Bakauheni (dermaga 7) akan dibangun sebagai pelabuhan terpadu dengan pembangunan Dermaga Eksekutif yang menelan dana hingga Rp. 450 miliar. Proyek ini dikerjakan oleh 3 BUMN yaitu PT. ASDP, Indonesia Ferry, PT. PP dan PT. Patra Jasa. Dermaga modern tersebut kabarnya bukan hanya berfungsi menjadi tempat singgah penumpang dari Sumatera ke Jawa dan sebaliknya, juga akan disiapkan sebagai tempat wisata. Selain ada hotel, sarana ibadah, taman, are akomersial dan lounge. Sistem juga akan semakin memudahkan calon penumpang karena keberangkatakn kapal akan terjadwal dan dapat dipantau, khususnya pagi pejalan dan pengguna kendaraan pribadi. Kabarnya dermaga tersebut akan beroperasi tahun 2018. Wah, aku jadi ingin mencoba pelayaran pertama kali...
 

Master Plan pembangunan Dermaga Eksekutif pelabuhan Merak dan Bakauheni (Sumber: Kompas)
Lampung, Oktober 2017

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram