Senja Haru Biru Kampung Srimenanti



Selama bulan Agustus, aku liburan di kampung Srimenanti, kecamatan Negara Batin, Way Kanan, Lampung. Demi apa coba? Demi menikmati suasana kampung tua dengan udaranya yang bersih dan kehidupannya yang sederhana. Sebenarnya kerja sih, tapi porsi bekerjanya lebih sedikit dibandingkan dengan senang-senangnya. Selama di kampung ini aku melakukan jenis kegiatan yang membahagiakan ini: photo-photo sebanyak mungkin, makan makanan buatan rumah yang enak setiap hari, membaca tuntas tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer dan satu buku lainnya (total 5 novel selama 28 hari! ini rekor terbaikku dalam membaca buku haha) dan keliling berbagai lokasi di 4 kecamatan yang semuanya kampung tradisional masyarakat Lampung. Fantastis banget kan? (boleh dong dibilang Traveller level kampung hahaha)

Dari sekian banyak cerita, kali ini aku mau cerita khusus tentang kegiatan pada suatu senja. Jadi, seorang gadis muda bernama Sahara yang rumahnya bersebelahan dengan rumah sahabatku tempat aku tinggal, mengajakku main ke pantai (Hm, maksudnya pantai di sungai). Saat itu langit biru cantik sekali dan siapa sih 'anak zaman now' nggak tertarik buat cekrak-cekrek mengabadikan setiap jejak langkah? "Teteh, sini aku yang photoin," katanya sumringah. Maka, jadilah aku model Sahara dengan ponsel pintar Oppo yang bikin jerawatku menghilang seketika haha. Nah, berkat HP Oppo dan teknik memotret Sahara yang unik, aku punya banyak photo cantik yang dapat membuat dunia terbius dan ingin langsung liburan ke kampung di wilayah utara provinsi Lampung ini. 

Mau jual pasir ah buat biaya jalan-jalan ke Moskow (Photo oleh: Sahara)
Lokasi pemotretan kami adalah tepian sungai yang kering karena pada musim kemarau debit air berkurang. Bagi warga kampung Srimenanti yang merupakan komunitas hunian tepi sungai, momen ini dijadikan sebagai ajang rekreasi. Anak-anak kecil dengan bebasnya bermain pasir, berenang, melompat-lompat ke air bahkan berkejaran layaknya sedang lomba lari. Kami para perempuan yang sudah ketagihan ponsel jelas menyibukkan diri dengan memotret diri sendiri. Lucu dan menggemaskan. Seakan hiburan sederhana ini mampu menumbangkan segunung masalah manusia dewasa yang sebelumnya mencengkeram begitu kuat. Hm, bahkan mungkin mampu menghibur hati yang patah dan berdarah-darah.

Aku dan sahabatku (Photo oleh: Sahara)


Ah lupa, Kampung Srimenanti merupakan kampung tua masyarakat Lampung. Terletak di ujung utara provinsi Lampung dan kehidupan masyarakatnya masih tradisional. Nyaris seluruh rumah di kampung ini adalah rumah panggung dari kayu yang berusia sangat tua, melampaui 3 generasi. Kampung ini biasanya mengalami panen ikan saat musim penghujan tiba akibat banjir yang merendam seluruh kampung. Berkah ikan saat musim banjir memunculkan satu jenis penganan unik, yaitu bekasam atau fermentasi ikan. Aku belum pernah sih makan bekasam dan penasaran bagaimana rasanya tinggal di kampung ini saat musim banjir pada Februari. Dan uniknya, warga Srimenanti tidak menganggap banjir sebagai masalah karena toh rumah mereka panggung. Banjir juga memberi berkah bagi kebun-kebun sehingga tidak perlu dipupuk.


Belajar terbangggggggg (Photo oleh: Sahara)
Balik lagi ke soal tamasya sore kami. Jadi, daratan di sungai ini luas sekali sehingga kita dapat melakukan kegiatan apa saja sesuka hati. Anak-anak kecil berlarian dengan bebasnya, bertelanjang kaki, merasa aman dari ancaman jenis apapun yang dapat melukai tubuh mereka. Sebagian asyik berenang bagai ikan yang kekurangan air di musim kemarau. Di sisi lain, beberapa warga mandi sore (Hm, walaupun sudah banyak sumur bor buatan pemerintah dan setiap rumah tangga memiliki kamar mandi, tetap saja sebagian warga lebih suka mandi di sungai walaupun airnya keruh)


Main pasir (Photo oleh: Sahara)
Saat matahari rebah di barat, kami pulang (Photo: Wijatnika Ika)
Sekian dulu ya ceritaku tentang kegiatan sederhana menjelang senja di kampung Srimenanti, salah satu kampung tua di Lampung. Katanya sih ada lokasi yang lebih indah dimasa pasirnya lebih bersih dan lebih luas, bagai pasir timbul di tengah lautan. Sayangnya aku nggak sempat main ke sana dan ya nggak bisa jalan kaki juga, harus menyeberang menggunakan perahu mesin. Hm, mungkin lain kali aku akan berpuas-puas main disana saat aku berkesempatan berkunjung ke kampung ini.

Lampung, Oktober 2017

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram