Ngopi Pagi di Rumah Berumur 200 Tahun

Sebagai generasi zaman now yang tumbuh dengan dikelilingi hal serba modern dan minimalis, berpengalaman menginap di rumah berusia sekitar 200 tahun begitu mendebarkan. Meskipun aku lahir dan tumbuh di Lampung, inilah untuk pertama kalinya aku mulai tertarik dengan segala sesuatu tentang kebudayaan masyarakat Lampung. Kehendak itu bersambut baik saat aku menerima undangan dari seorang sahabat agar ikut serta dalam perjalanan ke salah satu kampung tua di Way Kanan. Bersama tiga orang lain dari Jakarta dan Batam, perjalanan darat sejauh 6 jam kami lalui dari Bandara Radin Inten II. Untunglah perjalanan tersebut menyenangkan dna cenderung kocak karena sepanjang perjalanan aku, mba Dian (Batam), Katerina (BSD), dan Annie (Jakarta) tidak berhenti bercanda seakan-akan kami sudah kenal selama satu abad lamanya.

Kami tiba sekitar pukul 7 malam saat langit diatas kami sangat pekat dengan taburan bintang yang indah bagai permata. "Wah, kemping disini asyik ya..." kataku jenaka sembari membayangkan tidur terlentang beratapkan langit yang indah. Terlebih lagi, hanya 10 meter dari rumah tempatku menginap suara aliran air Way Besay yang melegenda itu terdengar syahdu bagai nyanyi Nina Bobo. "Wah, rumahnya keren!" aku terpesona saat menaiki tangga menuju rumah keluarga Rajamin. Tuan rumah menyambut kami di beranda dengan wajah sumringah dan pancaran mata penuh kebahagiaan. Kami yang lelah, bau apek dan wajah mulai berminyak diperilakan duduk, bebas saja mau di kursi atau ngemper di lantai papan beralas tikar pandan. Hm, aku sih memilih duduk di tikar agar punya alasan untuk meluruskan kaki. Dan kopi pun datang, aromanya membuat jiwaku terpesona...

Setelah masing-masing kami saling berkenalan dan mengobrol tentang banyak hal, kami dipersilakan masuk kedalam rumah. Tuan rumah perempuan alias istri pak Rajamin yang kemudian mengurus kami, sementara anggota keluarga dan tamu laki-laki tetap asyik ngopi dan mengobrol di beranda. "Maaf ya mba, rumahnya jelek..." ujar Ibu Rajamin dengan senyum manis karena senang ada empat orang tamu perempuan menginap di rumahnya. 

Rumah tempatku menginap adalah jenis rumah Lampung yang arsitektur dan interiornya berbeda dengan rumah keluargaku di masa lampau. Hanya terdiri dari beranda, dua kamar tidur, satu gudang, ruang tengah yang luas dan dapur yang sempit. Bentuk utamanya adalah bujur sangkar. Saat kami masuk, Ibu Rajamin sudah menggelar dua buah kasur di ruang tengah, lengkap dengan seprai, bantal dan kain batik untuk selimut. "Kamarnya kecil dan ranjangnya tua. Takutnya saya ranjangnya ambruk. Jadi tidurnya disini saja ya. Nggak apa-apa kan mbak?" Ibu Rajamin khawatir kami tak nyaman dengan pelayanannya selaku tuan rumah. Hm, kalau aku sih oke-oke saja. Masa iya seorang calon backpacker manja hehe. Lalu kamipun tidur bersama ibu Rajamin di ruang tamu, bagai 6 bidadari dari kahyangan yang terlalu lelah menunggu adik bungsunya kembali dari sungai yang masih sibuk mencari selendang yang hanyut...

Ah, rasanya baru saja memejamkan mata saat telingaku menangkap suara Ibu Rajamin yang sedang berbincang dengan suara keras entah dengan siapa. Suara beliau cempreng dan enteng, sekaligus nyaring hingga mungkin bisa terdengar hingga ke rumah tetangga. Sayangnya, aku nggak bisa kepo materi apa yang beliau bicarakan karena bicara dalam bahasa Lampung. Bicaranya seperti berteriak-teriak. Mau tak mau aku bangun, shalat subuh dan mandi. Nggak mungkin kan malas-malasan di rumah orang. Lalu membantu ibu Rajamin menyiapkan sarapan pagi.

Sarapan pagi ditemani adik bapak Rajamin (Photo oleh: Dian Radiata @adventourose
Setelah selesai sarapan, kami ngobrol di beranda sembari menunggu tim dari Komunitas Wisata Way Kanan (K@wan) menjemput kami menuju lokasi Peluncuran Bamboo Rafting di desa Banjarmasin. Kami berbincang tentang banyak hal sembari menikmati kopi khas Way Kanan dengan asap mengepul yang wangi. Tak lupa photo-photo sih untuk mengabadikan momen pagi kami yang indah. Sesekali pak Rajamin dan adiknya bicara dalam bahasa Lampung yang sama sekali tidak kupahami. "Pak, sepertinya asyik kalau bapak berdua ngobrol dalam bahasa Lampung. Santai aja kayak tadi. Saya videokan ya buat kenang-kenangan," ujar mba Katerina dengan antusias. Dengan senyum sumringan, bapak Rajamin dan adiknya mengobrol dalam bahasa Lampung seakan-akan sedang mendiskusikan suatu masalah dengan serius. "Oke, terima kasih," lanjut mba Katerina lalu menunjukkan video dalam ponselnya kepada kedua lelaki tersebut. Mereka tersenyum. 

Kesibukan pagi di beranda. Ada yang ngobrol, ngopi dan photo-photo. Pagi yang syahdu
Ornamen Siger di atas pintu masuk rumah dan ukiran di dinding yang sangat cantik
Ngopi pagi di beranda rumah Pak Rajamin bagiku rasanya sangat istimewa. Selain dapat menikmati suasana pagi di rumah orang Lampung. Aku juga bisa menikmati berbagai kekhasan rumah mulai dari engsel pintu dan jendela, ukiran yang menghiasi didnding beranda, ornamen Siger di atas daun pintu, dan sebagainya. Rumah tua ini rasanya hangat. Dan dari sisi lain beranda, aku dapat menikmati pemandangan yang segar di halaman rumah dan kebun yang mengarah ke Way Besay. "Photo aku sedang ngobrol dengan pak Rajamin ya," pinta mba Annie kepada mba Dian. Lalu mereka berdua seakan-akan sedang mengobrol di pojokan beranda. Setelah itu, mba Dian dan Katerina meminta diphoto di beranda dengan tubuh dan pandangan menghadap ke halaman dan jalanan seakan-akan mereka seorang gadis muda yang tengah menunggu kekasihnya datang. 

Mba Dian Radiata dan Katerina sedang menunggu pangeran mereka masing-masing
Rumah panggung pak Rajamin yang dalam bahasa Lampung biasa disebut sebagai Nuwa Tuha (rumah tua) atau Nuwa anggal (rumah panggung) menurutku sudah doyong ke arah tertentu. Mungkin pergerakan tanah membuat posisi tiang yang menyangga rumah mengalami pergeseran. Selain itu, kayu dan papan di beberapa bagian rumah sudah lapuk. Bahkan dinding antara ruang tengah dan dapur sudah diganti dengan papan baru yang mungkin kualitasnya tak sebaik bahan asli rumah tersebut. Dinding di beranda juga bolong, mungkin patah karena kejahilan anak-anak saat bermain. Meski demikian, di mataku rumah tersebut tetaplah indah, saksi kekayaan seni arsitektur dari masa lampau. 

Bagi orang Lampung, rumah semacam ini biasanya adalah rumah yang diwariskan secara turun temurun. Yang berhak mendapatkan warisan rumah adalah anak laki-laki pertama, baik statusnya anak sulung atau bungsu. Saat orangtua meninggal dan si anak mewarisi rumah beserta isinya, ia dan keluarganya bertanggungjawab terhadap berbagai kegiatan keluarga seperti hajatan. Anak tertua sekaligus menjadi semacam tempat meminta nasehat atas permasalahan keluarga dan rumah warisan yang dijaganya menjadi tempat berkumpul keluarga besar. Hm, sistem ini secara sempit mengikat si anak sulung atau anak laki-laki tertua untuk tidak pergi kemana-mana alias beraktivitas di sekitar kampung saja. Sementara adik-adiknya boleh mengejar kesempatan di tempat manapun mereka mau.

Wefie dulu kita di tangga rumah pak Rajamin by HPnya mba Katerina @travelerien


Namun, disisi lain, sistem ini membuat rumah warisan leluhur terjaga sepanjang waktu sehingga terhindar dari kerusakan akibat kurangnya pemeliharaan, hujan, angin atau ulah jahil binatang pengerat. Rumah-rumah yang dihuni biasanya lebih awet dan terpelihara dibandingkan rumah-rumah yang jarang dihuni atau sama sekali ditinggalkan pemiliknya. Menurut sahabatku, Rinto Macho, dulunya kampung Gedung Batin merupakan salah satu kampung yang ramai sebagaimana kampung-kampung lain yang merupakan komunitas hunian tepi sungai. Seiring waktu dan perubahan zaman, kampung-kampung ditinggalkan penduduknya yang pindah ke kota dengan berbagai tujuan. Alhasil, rumah-rumah tua berbahan kayu tersebut rusak dan akhirnya hancur.

Rumah Pak Rajamin dan tetangganya. Berdua menyaksikan zaman melibas banyak hal
Menyaksikan rumah panggung tua keluarga Pak Rajamin dan tetangganya membuat jantungku berdebar. Meski tua dan menuju lapuk, kedua rumah tersebut indah dan hangat. Lantas kepalaku dipenuhi pertanyaan. "Kehidupan macam apa yang berlangsung disini selama 200an tahun yang lalu? Siapa arsitektur dan pekerja yang membuat rumah? Siapa yang membuat ukirannya? Drai hutan mana kayunya diambill?" dan banyak lagi. Ingin rasanya tinggal lebih lama demi meresapi keseharian dan berkomunikasi dengan kedua rumah tersebut. Tapi ada dayaku, waktunya pulang....

Bonus cerita:
Sebenarnya, yang mendebarkan bukan tidur apalagi ngopi di rumah berusia 200 tahun yang bagi sebagian orang dianggap berhantu. Tapi mandi gitu loh. Rumah-rumah di kampung Gedung Batin kan MCKnya masih di luar rumah dan hanya dilindungi dinding dari potongan bambu, mirip pagar rumah tapi lebih rapat. Kalau aku sebagai puteri dari kahyangan mungkin sih asyik-asyik aja mandi disitu. Tapi kan aku pakai hijab, gimana coba mandi disitu? Orang mandi kan nggak mungkin pake hijab. Jadi, demi mengatasi kegalauan dan khawatir ada cowok lewat atau sengaja lewat biar menang banyak, kami mandinya malam hari atau sebelum subuh. Tujuannya satu: biar kami mandi dalam keadaan gelap dan merasa sedikit aman. Mandinya berdua biar ada teman yang memperhatikan keadaan sekeliling dan harus pakai kain panjang sebagai basahan. Airnya nimba dulu dan mandinya dibawah langit penuh bintang. "Ika, jagain aku ya," kata mba Katerina pada suatu subuh saat kami mandi dan berharap para cowok belum bangun atau kebelet pipis. "Ika, temenin aku mandi, aku takut," rengek mba Annie saat kami baru kembali dari kegiatan dan harus mandi meski hari sudah malam. Atau, "Ika, temenin aku pipis ya. Jagain aku pokoknya," rengek mba Annie di lain waktu. Duh, ini para travel blogger kok penakut sih, Mandi malam ditengah cahaya bintang kan keindahan yang nggak akan pernah ditemui di Jakarta. Rare and expensive gitu loh pengalamannya.

Lampung, Oktober 2017

Wijatnika Ika

12 comments:

  1. Pengalaman tak terlupakan bermalam di rumah pak Rajamin. Berinteraksi lebih dekat, mendengar mereka berbicara dalam bahasa yang asing bagiku, dan makan masakan tuan rumah. Pengalaman hidup yg bermakna. Senang membaca tulisanmu Ka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Katerina. Kapan ya kita menginap lagi disana...

      Delete
  2. Aku selalu suka suasana Gedung Batin. Apalagi bisa menginap di sini. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Pengen rasanya bisa nginep lebih lama di sini. Menikmati kopi setiap pagi dan sore di teras rumahnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Dian. Asyik ya ngopi saban hari,siangnya cari ikan di sungai...

      Delete
    2. Yuk kapan geh kita ngopi bareng lagiii? Btw, aku gak termasuk yg penakut looh.. Malem2 keluar pipis sendirian pun berani ����

      Delete
    3. Hayuk lah. Tapi enaknya kemping aja kitah biar bisa menikmati langit malam yang indah di Gedung Batin...

      Delete
  3. wow menakjubkan ya, dan aku suka melihat rumah2 tua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Tira. Hayuk main ke Way Kanan. Banyak rumah panggung disana. Bisa jadi homestay juga...

      Delete
  4. liat rumah panggung begitu jadi kangen pengen pulang kampung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir Adi. Ya pulkam atuh biar bernostalgia...

      Delete
  5. Ini rumahnya mirip ama rumah nenekku di sorkam, tapanuli :). Rumah panggung dr kayu begini. Dan kalo ada tamu, pasti gelar kasur di ruangan depan yg biasanya paling luas :) . Yg aku suka dr rumah model begini, wangi kayunya yg khas mba. Trs ntah kenapa g panas. Ttp sejuk..

    Tapi bener, utk mandi dll nya mencekam wkwkwkwk... Kalo di rumah nenekku msh harus nimba air di sumur :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Fanny. Iya suasana mandinya mencekam karena kami berhiba. Klo enggak nggak masalah sih. Malahan indah kalau pas malam langtnya banyak bintang. Mandi malam berasa jaid puteri hahaha

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram