Main ke Taman Nasional Way Kambas



Yeayyyyy! Akhirnya pada bulan Mei kemarin kesampaian main ke Taman Nasional Way Kambas (TNWK), sebuah taman nasional yang keren sekaligus sebagai pusat pelatihan Gajah Sumatera di Kabupaten Lampung Timur. TNWK merupakan satu dari dua Taman Nasional di Lampung yang membuat Tanoh Lada menjadi begitu istimewa. Hewan endemik dan nyaris punah ini memiliki rumah khusus dan diupayakan menjadi jinak, bahkan pada musim panen dapat membantu warga kampung di sekitar TNWK mengusir gajah liar yang sering merampok tanaman dan terlibat konflik dengan manusia. Keistimewaan hewan baik hati tapi raksasa ini adalah karena harga gadingnya yang sangat mahal dimata para pemburu liar sehingga ia harus dilindungi dari ancaman perburuan dan kepunahan. Perjalanan kali ini aku ditemani bang Rinto Macho dan mba Sari Marlina dari komunitas Gading Gajah Art (GGA) sekaligus photografer handal Lampung Timur. Jalan-jalan dengan photografer itu berbonus photo-photo bagus hahaha

Beli satu sisir pisang Rp. 10.000 untuk kasih makan gajah (Photo oleh: Sari Marlina)
Nah, saat tiba di gerbang TNWK, sebaiknya kita membeli pisang sebanyak yang kita mau untuk memberi makan gajah (sekarung juga boleh banget haha). Satu sisir pisang harganya Rp.10.000. Lumayan kan membantu perekonomian warga sekitar khususnya yang memiliki kebun pisang (ehem, mulai bersiul soal pemberdayaan masyarakat nih heheh). Sayangnya, kami ternyata kekurangan pisang karena pisang yang kami beli habis diperjalanan demi memberi makan ratusan kera yang menghadang kami. Kera-kera imut dan super lincah tersebut sangat suka mengintip dari balik semak-semak, lalu melompat ke arah kendaraan dan menunggu kami melempar pisang. Agar semua kera kebagian, kami membagi pisang kedalam dua bagian baru melemparkannya. Tapi nggak mungkin kebagian semua juga sih kan perbandingan antara jumlah kera dan buah pisang jauh banget hehe. 

Wah, kami semakin dekat pada gajah (Photo oleh: Sari Marlina)
Sepanjang perjalanan menuju jantung TNWK, aku terkagum-kagum pada keanekaragaman hayati yang dipamerkan oleh alam dengan jumawa. Di depan gerbang kedua, kami sempat berhenti karena para photografer sangat berminat memotret kupu-kupu aneka jenis dan warna yang bebas berterbangan layaknya di nirwana. Aduhai, seindah apakah nirwana itu jika di sekolah gajah aja banyak binatang indah begini? "Diam. Diam dulu biar dia nggak terbang..."ujar bang Rinto tegas agar aku tak mengusik para kupu-kupu. Hm, sebenarnya ini adalah momen hide and seek dengan puluhan kupu-kupu cantik yang terbang secepat kilat saat kamera di tangan mba Sari siap memotret. "Yah terbang lagi..." Mba Sari pun sedih. Meski sedih, kami melanjutkan perjalanan dengan antusias.

Photo terbaik. Tapi kok aku sepotong sih? (Photo oleh: Sari Marlina)
Saat tiba di jantung Way Kambas aku langsung terpikat pada seekor gajah muda yang sedang bermain dengan pawangnya. Sang pawang adalah laki-laki muda berpostur sedang yang usianya kutaksir sekitar 30an. Mereka berdua bermain bersama. Eh, tak lama kemudian sang pawang mengikatkan rantai ke kaki depan sang gajah, lalu pergi ke suatu tempat. Mungkin kebelet pipis. Dalam keadaan kaki depan dirantai begitu, si gajah hanya bisa berjalan pelan sembari sesekali merumput. Karena terpikat, aku mendekat dengan pelan, mengajaknya berkenalan. "Wah, dia jalan kesini!" teriakku histeris. Mbak Sari Marlina bersiap dengan kameranya, memotret kami dari 'angle' yang pas. Aku harap-harap cemas saat sang gajah berjalan kearahku dengan lambat. Aku memandang matanya yang syahdu dan basah, yang kekanakan dan minta disayangi. Sungguh pandangan mata yang menghanyutkan. Jantungku berdebar kencang karena inilah pertama kalinya berani menyentuh seekor gajah, binatang besar yang menurutku cantik, indah dan baik hati. Aku menghulurkan tangan kananku waswas, hendak menyentuh kepalanya, ingin membelainya biar akrab gitu. Aku agak takut dan pada situasi tertentu refleks menyentuh bagian punggungnya. "Noooooo!" aku lari karena si gajah berontak dan hendak memukulku dengan belalainya yang menurutku dapat meremukkan tulang belulangku jadi seorang ika penyet.

Gajah remaja yang manis (photo oleh: Sari Marlina)

"Itulah, kalau menghadapi binatang itu jangan dari belakang, sontak dia melihat bahaya. Hadapi dari depan," kata bang Rinto Macho yang paham seluk beluk dunia hewan karena beliau memang dokter hewan hehehe. Deg-degan aja sih takut si gajah jahilin aku trus aku dilemparnya ke kubangan tempat dia mandi. Setelah itu aku dan si gajah malah saling mendiamkan diri. Tak lama, sang pawang perlahan berjalan ke arahnya. Si gajah menanti pawangnya dengan pandangan berkaca-kaca bagai seorang anak yang hendak melepas rindu pada ayahnya. Setelah menepuk-nepuk kening si gajah, sang pawang melepaskan rantai di kakinya, menepuk punggungnya, naik ke pundaknya dan mereka berlari kencang ke arah padang luas. Wah, keakraban antara gajah dan pawangnya keren sekali ya. Bikin aku terpesona nanana.

Seekor gajah yang sedang diarahkan pawangnya menuju kolam pemandian (photo oleh: Sari Marlina)

Lalu kami berkeliling area padang rumput tempat gajah-gajah bermain bersama pawangnya masing-masing. Beberapa gajah sedang dibiarkan merumput, lainnya sedang diarahkan menuju suatu kolam pemandian khusus gajah di mana banyak orang sedang memancing. Kami tidak masuk jauh ke dalam hutan TNWK yang lebat karena khawatir dikepung hujan. Jadi hanya berkeliling di area aman dan tidak becek. Tujuannya mencari spot photo untuk menghadapi libur lebaran. Dan kami menemukannya walaupun tidak sesuai ekspektasi. Pingginya kan photo dengan latar belakang sepasang gajah yang sedang pacaran dibawah rindang pohon yang sangat besar, biar mirip dunia ajaib gitu hahaha. 

Kupu-kupu cantik hasil jepretan mba Sari Marlina di tengah-tengah Way Kambas
Dalam perjalan ini pula dua photografer lebih banyak membicarakan teknik photografi. Aku sih cuma jadi kambing congek saja. Aku ngertinya diphoto cantik hehehe. Di sebuah jalanan becek yang berpotensi merusak kecantikan sepatu, kami bertemu banyak kupu-kupu cantik yang mungkin sedang bermain petak umpet. Alhasil Mba Sari dan bang Rinto langsung mempraktekkan jurus jitu memotret para kupu-kupu yang sedang beterbangan bebas. Tekniknya apa aku sih nggak ngerti tetapi intinya berkaitan dengan kecepatan kamera menangkap benda bergerak dalam sepersekian detik sehingga menghasilkan gambar onjek yang diam dan cantik, semacam ketika hendak memotret air terjun menjadi seputih susu. Dan yeayyyyy hasilnya bagus. Juga beberapa photo buah mungil yang pas dipotong gambarnya seakan-akan menampilkan buah tertentu yang besar. Photografi kadang kala memang menipu pandangan mata dan fakta.

Buah apa ya? (photo oleh: Rinto Macho)
Aku sih belum puas dengan perjalanan hari itu. Aku ingin akrab dengan gajah-gajah dan ngobrol ringan dengan para pawang yang hebat karena mampu berkomunikasi dengan gajah. Tetapi kami ada janji dengan anak-anak komunitas Gading Gajah Art (GGA) yang akan melakukan persiapan menjelang acara ngabuburit bersama di suatu lapangan. Jadi kami nggak bisa berlama-lama dan belajar lebih dalam lagi tentang ekosistem TNWK. Ah ya mungkin lain kali, saat waktunya luang...

Wah, kayaknya asyik klo bisa main disini setiap hari (Photo oleh: Sari Marlina)

Suaka Rhino Sumatera
Oh ya, TNWK semakin keren setelah ditetapkan sebagai Taman Warisan ASEAN  atau ASEAN Heritage Park ke-4 di Indonesia dan ke-36 di Asia Tenggara pada Juli 2016. Penghargaan ini diberikan tentu saja karena TNWK memiliki fungsi penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ekologi kawasan hutan daratan rendah sampai pantai di wilayah Timur Lampung. Yang hebat lagi, di TNWK ada Suaka Rhino Sumatera (SRS) sebagai satu-satunya tempat pengembangbiakan Badak Sumatera secara semi alami di Asia dan dunia. Dan kelahiran bayi badak bercula dua yang diberi nama Andatu merupakan kesuksekan SRS dalam upaya menjaga keberlangsungan hidup hewan yang hampir punah tersebut. Wah keren banget ya. Semoga TNWK tetap lestari dan hewan-hewan didalamnya dapat hidup aman, nyaman, tenang dan berkembang biak dengan gembira

Andatu, bayi badak warga baru SRS Way Kambas (Sumber: National Geographic)
Nah, segala hal keren tentang TNWK harus dijaga bersama oleh seluruh warga Lampung dan Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan terus mempromosikan segala upaya perlindungan para hewan unik tersebut beserta habitatnya dari perusakan dan perburuan satwa liar alias animal poaching dan wildlife trafficking. Kan seram sekali...

Tips ke Way Kambas
Aku tipe orang yang menyukai segala sesuatu yang alami, hening dan liar. Jadi menurutku sangat pas jika ke Way Kambas ketika musim panen tiba. Biasanya pas musim kemarau, antara Mei-Juli. Pasalnya pada musim ini gajah-gajah liar menampakkan dirinya secara berkelompok dan menghampiri kebun-kebun warga yang siap panen demi mencari makanan dan menggemukkan diri mereka semakin gemuk dan semakin gemuk. Sewalah kendaraan pribadi, bawa kamera atau smartphone dengan kamera keren, kain tenun khas Lampung dan tentu saja camilan. Sepertinya menikmati suasana alam liar pada saat itu akan sangat mengesankan dan kenangan yang ditinggalkan tiada bandingan...

BONUS:
Oh ya, kalau penasaran dengan pesona Way Kambas dan ingin segera ke Lampung dalam waktu dekat, catet dong tanggalnya even besar ini. Festival Way Kambas 2017. 

Wijatnika Ika

16 comments:

  1. Wiiih, anak gajah dan badaknya lucu bangeeet! :D
    Semoga bisa terus berkembang biak ya, biar tidak cepat punah. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Agung. Iya gajahnya imut dan lucu...

      Delete
  2. baru kai ini aku baca postingan tentang lampung bahas way kambas
    biasanya kan bahas pantai pahawang
    aku kepo banget ini soalnya sering tak ajarkan ke anak2
    "Ayo anak-anak, apa nama penangkaran gajah di Lampung?"


    iya asyik kalo bisa maen terus sama anak2 gajah

    keren, aku suka benget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Ikrom. Hayuk geh main ke Way Kambas dan tempat keren lain di Lampung. Jangan batasi diri dalam bertualang. Ikuti kemana angin membawa kakimu melangkah...

      Delete
  3. Huaaah keren. Aku Desember rencananya mau ke lampung dan pengen banget ke TNWK. Ah sayangnya gak bisa dateng ke festival way kambas bulan November krn belum libur kerja.. Hikz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Puspita. Kapanpun asyik kok main ke Lampung. Jelajahi Lampung dengan senang dan gembira. Insya Allah makin bahagia...

      Delete
  4. Replies
    1. Makasih sudah mampir maba Tira. Haha iya. Happy bisa main sama gajah

      Delete
  5. Seru mbak bisa lihat gajah sedekat itu. Pengen ke festival way kambas tapi blm ada biaya huhu, semoga tahun dpn bisa dtg ke festivalnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Andi. Kapanpun sepanjang tahun bisa main ke Way Kambas kok.

      Delete
  6. Dua kali ke Waykambas, nggak sempat main sama anak-anak gajah, hik..hik..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Rinda. Nah, tahun ini maih geh ke Way Kambas biar bisa ketemu gajah...

      Delete
  7. Ooo jadi sebaiknya kalau mendekati binatang tu dari depan ya? Selama ini mlah takut2 kalau keliatan pdhl hehe, entah anjing, kucing, dll :D
    Alamnya indah, pengen megang gajah jg hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir April. Kata yang dokter hewan sih gitu. Jadi harus berhadapan dengan binatangnya dan melakukan kontak mata sebagai perkenalan.

      Delete
  8. banyak berubah ya way kambas... ke sini mungkin sudah 20 tahun lalu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Danan. Iya, dan semoga Way Kambas semakin bagus kulitasnya sebagai Taman Nasional ya

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram