Main ke Kampung Halaman Keluarga Ryacudu

Keberuntungan generasi zaman sekarang adalah kesempatan menyaksikan dan menikmati karya peradaban masa lampau. Saat aku lahir, dunia ini ibarat halaman maha luas yang penuh pernak-pernik menyilaukan mata. Sudah tersedia banyak hal sebagai sarana belajar, rekreasi hingga melakukan berbagai percobaan sains. Para nenek moyang banyak peradaban telah mewariskan karya-karya mereka yang membuat takjub generasi zaman ini. Salah satunya, yang usianya muda tapi tetap mengagumkan adalah kampung tradisional keluarga Ryacudu di Mesirilir, Bahuga, Way Kanan, Lampung. 

Ceritanya, bulan Agustus lalu aku membantu temanku melakukan riset lapangan untuk Disertasinya. Karena penelitian dilakukan di 4 kecamatan maka kami berkeliling kampung mencari responden yang sesuai kriteria penelitian untuk kami wawancarai. Nah, sampailah kami di Mesirilir, Bahuga yang ternyata kampungnya Pur. Jenderal Ryamizard Ryacudu yang merupakan bapak Menteri Pertahanan dalam kabinet kerja Jokowi-JK. "Bangga kami orang Mesirilir ini. Ada jenderal yang sekarang jadi Menteri Pertahanan, asalnya dari kampung ini," ujar salah seorang warga saat kami berkunjung untuk bertanya tentang situasi desa.

Kampung-kampung masyarakat Lampung biasanya dibangun mengikuti aliran sungai. Terbentuk secara berkelompok sehingga biasa juga disebut komunitas hunian tepi sungai. Rumah-rumahnya berbentuk panggung yang terbuat dari kayu-kayu berkualitas terbaik pada zamannya yang tidak lagi bisa ditemui zaman sekarang. Tidak seluruh rumah berbentuk sama, tetapi seluruh rumah memiliki bagian-bagian yang serupa, yaitu beranda, ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, dapur, gudang, dan kamar mandi di bagian belakang. Rumah-rumah tersebut berbentuk panggung katanya sebagai cara menangkal gangguan binatang buas seperti harimau, babi dan sebagainya di masa lampau. Dan ya, saat musim hujan yang menyebabkan banjir rumah-rumah tersebut selamat dari genangan air dan warga tetap dapat melanjutkan hidupnya dengan aman dan nyaman. 

Tiang yang menyangga rumah panggung keluarga Ryacudu (Photo oleh: Asnani)
Di kampung Mesirilir, rumah keluarga Ryacudu merupakan rumah yang paling besar dan berpagar besi. Juga ada sebuah pendopo kecil yang dahulunya merupakan tempat tamu melapor sebelum dipersilakan menemui tuan rumah. Katanya di masa lampau, rumah ini paling megah dan memang merupakan rumah keluarga dengan posisi adat yang tinggi. Hal ini bahkan dapat dilihat dari bentuk tertentu pada tiang yang menandakan bahwa pemilik rumah adalah keluarga yang terhormat. 

Tiang rumah keluarga Ryacudu
Tak lama kemudian, kami disambut seorang perempuan paruh baya yang menjaga rumah tersebut. "Silakan masuk..." katanya ramah sembari tersenyum gembira sembari menyambut kami yang masih berdiri canggung di tangga. Setelah melepaskan sepatu aku dan teman-temanku masuk ke rumah dengan perasaan terpesona. Bukan karena rumah tersebut milik seorang pembesar dan namanya berkibar di langit. Melainkan karena kami memasuki rumah tua yang tebruat dari kayu yang mungkin jenis kayunya sudah punah. Rumah yang bertahan dalam panas dan hujan, yang berdiri tegak menantang zaman demi menjadi pelajaran berharga bagi generasi sekarang. "Boleh kami ambil photo, Bu?" tanyaku, khawatir ada larangan memotret di rumah tersebut. "Silakan mba nggak papa," ujarnya ramah sembari membawaku ke arah sebuah photo besar berpigura. Itulah photo Bapak Musannif Ryacudu yang sangat terkenal di Way Kanan. Seorang lelaki Lampung anggota TNI AD dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.  Oh ya, aku pernah berkunjung ke beberapa rumah di desa lain di Way Kanan yang memajang photo almarhum Bapak Musannif Ryacudu lebih besar dari photo Presiden dan Wakil Presiden hehehe (lupa ambil photonya nih). 

Pemandangan ruang tamu di sisi kanan rumah
Ruang tamu berbentuk panjang dengan dua set kursi model tua di bagian kanan dan kiri, dan dengan beberapa perabotan dari masa lampau sebagai perhiasan. Diantara keduanya ada pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang tengah atau ruang keluarga. Didalam ruang tengah yang ukurannya sangat besar terdapat lebih banyak barang peninggalan masa lalu. Ada satu set sofa bermotif bunga yang lembut, sebuah lemari tua tempat menimpan barang-barang, tombak dan pedang, gong, guci, tempayan dan sebagainya. Juga ada sebuah photo Bapak Musanif Ryacudu pada masa mudanya.

Ruang tengah dengan aneka perabotan dari berbagai zaman

"Jadi, keluarga bapak Ryacudu ini sekarang tinggal di mana Bu?" tanyaku sembari melihat-lihat photo bebringkai ukuran 4R yang digantung di dinding dekat satu set meja makan diletakkan. Ada photo bapak Musannif Ryacudu dan Istri beliau, serta sembilan putra-putrinya. "Oh, mereka semua nggak tinggal disini lagi, mbak. Ada yang tinggal di Jakarta dan Bandar Lampung. Kesini kalau ada acara keluarga saja," ujar sang ibu. Bapak Musannif Ryacudu memiliki sembilan orang anak. Dan publik tentu kenal dengan dua anaknya yang memiliki posisi penting dalam percaturan politik. Yaitu Bapak Ryamizard Ryacudu, seorang Jenderal TNI AD yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan di Kabiner Kerja Jokowi-JK sejak 2014 dan Bapak Syamsurya Syacudu yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Lampung, mendampingi Gubernur Sjachroedin ZP (2004-2008) dan Gubernur Lampung pada (2008-2009). Rumah tersebut kini sepi, menunggu anak-anaknya pulang pada masa-masa tertentu. Hm, kalau aku diminta tinggal di rumah sedemikain besar dan peninggalan zaman lampau pasti aku menolak karena sepi yang menggigit sedemikian rupa. 

Keluarga
Aku berkeliling lagi, melihat-lihat koleksi perabotan yang bahkan berasal dari luar Lampung seperti guci yang sepertinya berasal dari Tiongkok. Karena rumah tersebut memang bukan museum, jadi tidak ada ketarangan tertulis mengenai benda-benda yang ada didalamnya. Sebagai pengunjung aku merasa bingung karena sang penjaga rumah tidak mengetahui informasinya secara lengkap. Beberapa perabotan rumah merupakan benda modern yang datang lebih anyar dibandingkan usia rumah dan perabotan lain. Seperti televisi, permadani, kulkas, kompor gas dan sebagainya yang digunakan keluarga yang menjaga rumah tersebut. Saat aku menengok bagian dapur ternyata tungku kayu masih digunakan. "Suami saya nggak suka saya masak pakai Magic Com, katanya lebih enak kalau masaknya pakai kayu," ujar sang ibu. Ya, memang sih di beberapa rumah Lampung yang sempat kusinggahi tungku kayu seperti ini masih dipertahankan meski mereka juga menggunakan kompor gas. Termasuk juga benda-benda tempat menyimpan bahan makanan yang terbuat dari rotan atau bambu yang masih terjaga dengan baik di gudang. 

Tungku tradisional
Gudang
Setelah puas keliling kampung, saatnya panen jambu air. Segarrrrr (Photo oleh: Asnani)

Nah, demikianlah cerita sederhanaku tentang rumah keluarga Ryacudu di Mesirilir, Bahuga, Way Kanan, Lampung. Kampung ini lumayan sepi sih jika dibandingkan pada zaman dahulu saat transportasi sungai masih berjaya. Yah, namanya juga hidup. Zaman terus bergerak dan manusia-manusia baru hidup berdasarkan apa yang zaman baru bahwa sehingga semakin banyak warga dari Mesirilir yang turut pindah ke kota demi sekolah dan bekerja. Tak apa, mungkin suatu saat nanti kampung ini akan ramai kembali dengan caranya sendiri.

Lampung, Oktober 2017

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram