Kopi Lampung? Tetap Terbaik...



Hm, siapa yang nggak suka kopi? Kalau dipikir-pikir manusia itu aneh ya. Biji suatu pohon dijemur, disangrai, ditumbuk lalu diseduh dan asapnya mengepul yang wangi bisa bikin hati tenang. Dan masyarakat seluruh dunia kok kecanduan ya sama terhadap minuman pahit ini. Benar kata Pramoedya Ananta Toer, bahwa manusia adalah makhluk yang sulit dimengerti. Sebab kopi yang difermentasi dalam perut hewan saja dihargai gila-gilaan hehehe

Kopi bahkan bisa membuat manusia membuat penghormatan khusus melalui Hari Kopi Internasional yang diselenggarakan setiap tanggal 1 Oktober. Berhubung di negara Indonesia bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, mungkin minum kopi di dua hari besar nasional dan internasional bisa membuat kita sakti. Bukan sakti mandraguna agar kebal terhadap senjata apalagi pelet dari mantan, tapi membuat pikiran sakti dalam menyaring berita, informasi dan fitnah yang dapat menghancurkan peradaban Indonesia. 

Karpet biru Hari Kopi Internasional (Photo oleh: Ketjeh)
Di Lampung, peringatan Hari Kopi Internasional diselenggarakan di Hotel Novotel. Kegiatan dilakukan di luar ruangan dengan pemandangan Teluk Lampung yang aduhai dengan hembusan angin yang syahdu membiru. Nggak rame bagai festival rakyat sih karena memang diadakan di hotel bintang 4 dimana rakyat jelata lebih banyak berkegiatan di tempat tidak berbintang. Tapi, lumayan lah aku dan teman-temanku bisa icip-icip kopi gratis sampai perut berontak. Bukan berontak karena kalah dalam perlombaan mium kopi. Tapi kebanyak icip kopi jenis ini-itu. Habisnya semua stand kopi menyajikan kopi gratis dan kami semua terpesona saja melihat cara kopi diseduh,  seperti cara unik yang dilakukan oleh peserta dari Sulawesi Selatan. "Sini aku cobain bikin kopinya dong. Photoin aku ya," ujar temanku, Fey dengan sangat antusias bagai anak kecil yang menemukan permainan baru di pasar malam. Senangnya hati...

Bicara kopi adalah bicara petani kopi, pengusaha kopi, peracik kopi dan tentu saja penggila kopi. Di acara ini, bahkan disediakan spot khusus bagi komunitas pecinta kopi. Mereka tergabung dalam Komunitas Penikmat Kopi (KPK) di Lampung. Yang istimewa dari komunitas ini selain anggotanya adalah para ganteng dan cantik dan tentu saja muda, juga karena cara unik dalam memaknai secangkir kopi. Misalnya ada satu kedai kopi, namanya "Kedai Kopi Lanang" yang menyatakan bahwa kedai kopi mereka adalah "Tempat Ngopi Anak Berbakti". Kan unyu-unyu gimana gitu hahaha. 

Tempat ngopi anak berbakti (Photo oleh: Ketjeh)
Ada banyak rangkaian kegiatan seperti workshop tentang kopi, pemilihan Duta Kopi Lampung dan sebagainya. Peminatnya ramai sekali layaknya semua orang tumpah ruah di satu tempat demi kopi. Tapi aku dan teman-temanku lebih tertarik pada kegiatan tambahan yang tidak memeras otak dan membuat kami banyak tertawa.

Ketjeh squad (Photo oleh: seorang pengunjung tampan)


Mau Kopi Unik dari Lampung?
Aneka jenis kopi dijual di berbagai stand mulai dari kelompok petani kopi, asosiasi pengusaha kopi hingga perusahaan seperti Nescafe. Beberapa jenis kopi yang bahannya dicampur dengan bahan lain seperti pinang, durian dan lain-lain cukup memikat pengunjung untuk membeli. Kopi durian sudah tidak asing lagi dan banyak dijual di pasaran dan rasanya memang enak. Tapi bagaimana dengan kopi pinnag muda, kopi biji hijau dan kopi lanang? Kopi dari biji kopi hijau katanya berkhasiat untuk mengempeskan perut buncit. Wah, mantap sekali untuk diet ya? "Kopi lanang ini khusus untuk cowok. Biar perkasa," kata seorang temanku yang biasa membelikan adik laki-lakinya kopi jenis ini agar membantunya segera memiliki keturunan. Ada-ada saja ya jenis kopi zaman now hehehe

Kopi asli dari Krui, Lampung bisa dipesan melalui situs www.kopiluwaklampung.com
Dan Lampung masih terkenal dengan Kopi Luwaknya yang sempat bikin geger dunia karena harganya yang aduhai mahal sekali. Bagi petani kopi di Lampung sesungguhnya kopi jenis ini tidaklah asing karena binatang Luwak memang sering main ke kebun dan makan buah kopi yang merah karena rasa kulitnya manis. Dahulu, kopi hasil fermerntasi luwak ini dibiarkan berceceran begitu saja di lantai kebun karena belum menjadi komoditas yang menggiurkan. Baru saat kopi ini naik daun, para petani kopi mulai menangkar Luwak dan si Luwak boleh makan buah kopi merah sebanyak mereka suka dan sudah disediakan oleh petani. Tapi jadinya bukan Luwak di alam liar tapi Luwak dalam sangkar agar produksi kopi mudah dikontrol, terlebih saat permintaan kopi jenis ini di pasaran mulai meningkat.

Kopi Luwak masih dalam bentuk biji/raw

Kopi Luwak siap seduh...

Kopi ala Kedai Anak Lanang

Kopi dari Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung

By the way, para penikmat kopi tahu kan pohon kopi bentuknya bagaimana? Jangan sampai ya kita menggilai kopi dan paham segala seluk beluk tentang kopi tapi nggak tahu bagaimana bentuk pohon kopi dan nggak pernah main ke kebun kopi. Karena salah satu kenikmatan pengetahuan tentang kopi adalah saat bisa menghirup aroma bunga kopi yang wanginya mengalahkan farfum terbaik dari Perancis si negeri wewangian internasional.

Minum kopi sembari menikmati pemandangan Teluk Lampung adalah surga
Oh ya, karena kopi terbaik ditanam di dataran tinggi, biasanya berpotensi merusak wilayah hutan bahkan sejenis Taman Nasional. Bagaimanapun permintaan kopi yang semakin bertambah untuk segala jenis keperluan hingga produk perawatan kulit dan kosmetik, membuat petani kopi terus membuka lahan baru. Pembukaan lahan baru perkebunan kopi di wilayah hutan seperti Hutan Lindung dan Hutan Konservasi sangat berpengaruh pada perubahan iklim dunia karena perubahan bentang alam dan menurunnya daya serap karbon. Sehingga para pecinta kopi juga harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan dimana kopi dikembangkan agar permintaan pasar akan kopi demi kebutuhan lidah kita tidak merusak lingkungan dan menyebababkan berbagai bencana alam yang mengerikan.

Bibit kopi siap tanam (Photo oleh: Ketjeh)
Jadi, melalui momen internasional ini aku masih meyakini bahwa kopi Lampung masih menjadi tuan di tanahnya sendiri. Meski dalam konteks Kopi Sumatera, ada jenis kopi yang tak kalah populer seperti kopi Gayo dari Aceh dan kopi Sidikalang dari Sumatera Utara. Kopi Lampung yang dikembangkan di wilayah Barat yang merupakan wilayah dataran tinggi tetap memiliki kekhasan yang membuat lidah penikmatnya kembali lagi lagi dan lagi. 

Kopi itu candu, tuan... 

Lampung, Oktober 2017 

Mikirin kopi dan kamu... (Photo oleh: Ketjeh)

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Sebagai penikmat kopi, sayangnya saya belum pernah menyesap kopi Lampung langsung di daerah asalnya...
    Terima kasih ceritanya Mbak..
    Saya selalu memilih menyeduh beragam kopi Nusantara di rumah daripada kopi instant yang rasanya nggak karuan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Dian. Hayuk atuh mba main ke Lampung. Lebih baik pada musim panen kopi agar lebih seru...

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram