Jejak Tumbai di Lampung

Pada suatu siang yang cerah dengan langit biru yang bersih aku naik ke sebuah rumah panggung nan cantik di Langkapura, Bandar Lampung demi mengikuti diskusi terbuka sebuah buku tentang masa lalu Tanah Lada. Saat aku masuk, tampak beberapa wajah yang kukenal sedang berbincang. Salah satunya adalah jurnalis dan satrawan asal Lampung Barat, Udo Z Karzi yang tengah berbincang dengan Ibu Frieda Amran sang penulis buku. Tampak juga Bapak Nasir Tamara dari Satupena. Dan Bapak Heri Wardoyo, Bupati Tulang Bawang yang dulu kukenal sebagai jurnalis lampung Post serta Ibu Pipit, dosen Antropologi FISIP Universitas Lampung. Serta beberapa wajah yang tak asing tapi aku lupa nama mereka (maafkan akuh hehehe).

Ah sungguh indah hari itu. Bukan hanya karena aku berkesempatan menghadiri sebuah peluncuran dan diskusi buku yang sangat penting bagi proses pengenalan sejarah Lampung. Juga karena suasana rumah panggung khas Lampung yang jadi tempat berlangsungnya kegiatan membuatku terpesona. Rumah panggung dari kayu dengan empat jendela besar yang dihiasi ukiran khas tangan dingin seniman ukir Lampung Bapak Agus Suprayoga membuat suasana begitu hangat. Belum lagi dengan hiasan dinding yang sebagian besarnya adalah benda-benda dari masa lalu, yang indah, hangat dan menyihir. 

JEJAK TUMBAI...
Frieda Amran sesungguhnya tidak memiliki garis keturunan Lampung pun lahir di Lampung. Namun Antropolog asal Sumatera Selatan itu memiliki ketertarikan khusus pada budaya dan peradaban Lampung. Buku "Mencari Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler dan VJ Veth-LampungTumbai" (Pustaka Labrak, 2017) adalah buku terbarunya setelah "Mencari Jejak Masa Lalu Lampung: Lampung Tumbai" (Pustaka Labrak, 2012). Tulisan-tulisannya pernah menghiasi rubrik "Lampung Tumbai" yang diasuhnya di harian umum Lampung Post dan kini kisah tentang masa lalu Lampung dapat dinikmati dalam rubrik "Lappung Beni" di harian umum Fajar Sumatera.

Suasana diskusi yang hangat dan ceria (Photo oleh: Agus Suprayoga)

Buku tersebut secara umum menjelaskan bahwa pada abad XIX, ada tiga orang tentara Belanda yang ditugaskan atasannya melakukan penelitian seputar lingkungan di Lampung. Tujuannya jelas untuk memahami pola hidup dan kebiasaan masyarakat Lampung kala itu sebelum dilakukan perdagangan, perjanjian atau kolonisasi. Dalam catatan berbahasa Belanda ketiga orang tersebut terdapat banyak sekali informasi tentang masyarakat Lampung yang mungkin asing bagi orang Lampung modern. Dan dari catatan tersebut penulis akhirnya paham bahwa di masa lalunya, Lampung merupakan sebuah wilayah yang kaya dimana masyarakatnya bahkan hidup dengan makmur sentosa. Sampai kemudian letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883 melibas banyak hal, ditambah lagi oleh praktek kolonisasi oleh Belanda hingga program Transmigrasi besar-besaran oleh pemerintah Indonesia. Lampung yang kita saksikan hari ini adalah sebuah wilayah dan masyarakat yang sama sekali berbeda. Wah, seru sekali, membuatku tergelitik untuk tahu lebih jauh tentang budaya dan masyarakat Lampung. 

Pose cantik mempesona dulu dong (photo oleh: Rinto Macho)
By the way, orang dan budaya Lampung itu eksklusif sehingga. Eksklusifitas ini membuat budaya Lampung sulit diakses orang luar untuk dipelajari dan mendapat perhatian para budayawan, seniman dan terlebih lagi pemuda zaman now. Meskipun disatu sisi eksklusifitas yang menunjukkan kebanggaan tersendiri atas budaya dan masyarakatnya, orang Lampung mau menjaga dan melestarikan warisan leluhurnya sebagai salah satu khazanah budaya nusantara. Diakui oleh penulis bahwa bukunya tidak menjawab banyak tantangan tentang kehidupan masyarakat Lampung di masa lampau. Karena itu, ibu Frieda Amran menantang penulis, sastrawan, seniman dan budayawan Lampung untuk menjawab segala kekurangan dalam bukunya dengan tulisan atau buku. Karena menurutnya diskusi tak terraha dan celoteh ala media sosial tak akan pernah menjawab tantangan ini.

Pencitraan dulu dong sama si buku dan pasukannya (Photo oleh: Rinto Macho)
KAIN 100 TAHUN...
Salah satu peserta diskusi bernama Zulfa dari Gunung Sugih, Lampung Tengah membawa sebuah kain dengan hiasan perak asli berusia 100 tahun milik keluarganya. "Ini kain biasanya digunakan untuk tutup kepala pengantin perempuan," ujarnya sembari membuka lipatan kain berwarna merah muda dengan hiasan perak. WOW! Aku sungguh terpana. Itu kain beneran bersulam bunga-bunga dari perak. Wah, kaya banget nih keluarga yang memiliki kain tersebut di masa lampau. Sikap terpanaku sampai membuat Zulfa tertawa kegeeran karena ternyata ada seorang seorang perempuan muda jomblo yang berharap segera dipinang oleh pangeran tampan dari negeri entah berantah setelah menyentuh kain tua itu hehehe. 

Bicara soal kain, di rumah panggung ini ada banyak kain khas Lampung dari masa Lampau, Baik berbentuk tapis (kain tenun dengan embroidery benang emas atau benang perak) dan kain tenun yang indah. Di sebuah lemari kayu dua pintu kain-kain itu ditumpuk begitu saja. Mungkin jumlahnya mencapai ratusan helai. Bahkan beberapa diantaranya sudah robek disana-sini, menandakan bahwa kain itu berusia tua dan kurang perawatan. Melihatnya membuatku sontak histeris (maaf yah kalau aku lebayyyyy) dan minta dipotret. Dalam kepalaku sudah tertulis sebuah niat yang indah: bahwa pada suatu hari aku akan seharian mengekplorasi rumah ini agar mendapatkan informasi lengkap. Terima kasih Bapak Agus Suprayoga karena telah menginzinkanku mengabadikan koleksi kain-kain indah itu. 

Kiri: Photo dengan kain tenun khas Lampung koleksi keluarga Bapak Agus Suprayoga yang diperkirakan berusia antara 100-200 tahun. Jumlahnya lumayan banyak dan ditumpuk di dalam lemari. Kanan: Kain tudung kepala pengantin perempuan Lampung milik keluarga Zulfa dari Gunung Sugih, Lampung Tengah yang berusia 100 tahun. Kain tersebut bermotif bunga dari perak asli. Penasaran kan bagaimana membuat sulaman dari perak asli? (Photo oleh: Rinto Macho)
Di rumah ini ada banyak kain khas Lampung, baik yang ditempel di dinding sebagai hiasan maupun yang disimpan didalam lemari dalam keadaan terlipat. Hm, mungkin rumah ini kurang luas sehingga ruang pamer untuk peninggalan budaya yang indah itu tak punya tempat. Yang membuatku penasaran adalah bagaimana bisa kain-kain tenun yang cantik itu kini mulai langka dan tidak familiar dibandingkan dengan Tapis. Hm, sepertinya aku harus kembali ke rumah tersebut dengan membawa teman-temanku yang memiliki minat khusus terkait tenun tradisional...

Kainnya cantik kan? (Photo oleh: Rinto Macho dan Agus Suprayoga)
Nah, sampai disini dulu ya ceritanya. Kalau mau beli bukunya silakan kontak Ibu Yulidawati Ummu Fathur (0813-6900-1112). Atau kalau mau beli banyak sembari photo-photo di rumah Lampung keluarga Bapak Agus Suprayoga, silakan datang langsung ke Pusat Dokumentasi Lampung di Jl. Imam Bonjol No. 38A Langkapura, Bandar Lampung (samping RM. Suwarti). Rumah panggung khas Lampung yang indah dan mempesona.
Terima kasih sudah membaca tulisan sederhana di blog ini. 
Semoga terinspirasi dan harimu menyenangkan...

Lampung, Oktober 2017

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. kain tenunya indah ya, kapan aku bisa ke lampung ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Tira. Iya kainnya indah. Hayuk atuh main ke Lampung

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram