DEDI TORO: Pemuda dibalik Republik Gemstone Way Kanan yang Mengguncang Dunia Perbatuan


Beberapa tahun silam, hm sekitar akhir 2013, publik nusantara dihebohkan oleh harga bebatuan yang melangit, hingga milyaran rupiah. Padahal hanya berbentuk batu cincin aja. Media sosial, artikel koran, berita di stasiun televisi hingga obrolan ringan di kafe dan warung kopi nyaris semua membahas soal bebatuan dengan gila-gilaan. Tiada hari tanpa batu. Para penjual batu banyak yang kaya mendadak, dan sebaliknya para penggila batu banyak yang jatuh miskin karena menjual harta benda demi sebuah batu. Alamak...

Seorang pemuda asal Way Kanan bernama Dedi Toro ternyata juga sempat menjadi penjual batu cincin pada masa itu. Dia mencari dan mengolah sendiri batu-batu yang dia peroleh di alam sehingga menjadi bentuk batu cincin yang cantik, halus dan mempesona mata calon pembeli. Tetapi kemudian, saat bisnis batu merosot tajam ia tak menemukan cara mempertahankan hidupnya selain terus bergerak di dunia bebatuan. Berbekal bebatuan yang masih mentah (raw), mesin dan uang Rp. 100.000 Dedi memulai usaha berbasis batu dengan cara berbeda. 
"Way Kanan itu alamnya kaya. Tapi batu berton-ton diangkut ke luar. Bongkahan batu dijarah dan dibawa entah ke mana. Batu kan nggak bisa diperbaharui. Jadi kalau dibiarkan terus dibongkar dan dibawa ke luar nanti tinggal cerita saja untuk anak cucu saya. Gimana, coba?" ujar Dedi penuh keprihatinan. Karena menurutnya batu-batu itu kelak menjadi bahan dasar membuat perhiasan dan harganya pasti sangat mahal. "Saya bertanya kepada diri saya sendiri, mengapa bukan warga Way Kanan yang mengelolanya menjadi perhiasan seperti gelang, cincin, kalung atau yang lain-lain? Selain bisa menjadi alternatif bagi anak-anak muda untuk berwirausaha, juga dapat membantu meningkatkan nilai jual kabupaten ini karena memiliki produk yang khas. Gitu, mbak," tambahnya sembari tersenyum.
Gelang dan kalung cantik karya tangan dingin Dedi di Republik Gemstone (Sumber: Dedi Toro)
Saat memulai usaha di bidang ini, Dedi yakin bahwa Way Kanan memiliki masa depan cerah. Ia melihatnya dari dua sudut pandang sederhana. Pertama, bahwa bahan bakunya tersedia melimpah di seantero Way Kanan. "Ketika alam masih memanjakan kita dengan bahan baku melimpah, ini satu keuntungan bagi kita untuk memulai sebuah usaha. Lha, bahannya gratis dikasih sama Tuhan. Kita tinggal mengolah saja. Biaya operasional pengadaan bahan baku jadi rendah. Kan untung toh?" selorohnya. Sebuah pandangan sederhana namun serius dan visioner. Kedua, usaha batu ini menurutnya berpotensi mendongkrak perekonomian Way Kanan, terlebih lagi ketika sektor pariwisata mulai mengalami kemajuan. "Ini akan jadi oleh-oleh unik khas Way Kanan lho. Belum ke Way Kanan kalau belum borong gelang batu saya hahahaha," lelaki berwajah manis dan kekanakkan itu tertawa renyah. Ya benar sekali, industri pariwisata yang mulai menggeliat di Way Kanan menjadi salah satu peluang bagi Dedi dan para pemuda lain untuk menggeluti bisnis kece ini. 

Bahan mentah yang telah dipotong. Cantik sekali... (Sumber: Dedi Toro)
Bengkel kerja Dedi Toro yang sederhana (Sumber: Dedi Toro)
Sebagai lajang yang masih tinggal bersama orangtua, Dedi pun berkantor selangkah dari tempat tinggalnya. Tepatnya di sebuah bengkel kerja mungil dan sederhana berukuran 2x1.5m yang menempel di tembok rumah orangtuanya. Di bengkel kerja tersebut banyak berserakan bahan-bahan mentah alias raw material, aneka mesin, tali temali aneka rupa dan warna, serta kalung dan gelang yang sudah siap dipasarkan. Usaha yang ia mulai sejak Februari 2017 ini masih dilakoninya sendirian.
"Saya ini nggak punya modal besar jadi nggak berani bayar orang. Makanya kadang kerja seharian dan bikin mesin panas. Takutnya rusak dan tidak bisa diperbaiki. Kan nanti saya nganggur gimana jadi beban negara toh? Malu saya mbak," ujarnya bercanda
Jujur, aku kagum dengan kerja keras dan dedikasinya dalam memajukan sektor usaha kecil  di Way Kanan. Karena seorang lelaki muda sepertinya tentulah memiliki kesempatan besar merantau ke kota demi bekerja di pabrik atau di tempat manapun demi mendapatkan penghasilan besar. "Yah, walau awalnya saya belajar mengasah batu di tukang batu, trus minjem mesin gerinda kakak saya sampai saya merakit mesin sendiri, alhamdulillah usaha saya jalan saja. Saya itu ingin sekali nama Way Kanan jadi terkenal gitu berkat batu-batu ini," tandas lelaki muda yang idealis ini sumringah.

"Bagaimana dengan peralatan? Apakah semua yang ada di bengkel ini memadai?" tanyaku penasaran. Ah, walaupun aku tidak mengerti mengenai dunia permesinan, setidaknya aku akan ikut senang kalau usaha Dedi Toro tidak tersendat karena persoalan minimnya perlengkapan usaha. "Semua alat saya rakit sendiri. Pakai gerinda duduk nggak bertahan lama karena mesin hidup siang dan malam. Cepat rusak. Tuh bangkainya banyak. Nah, itulah yang membuat saya akhirnya merakit sendiri segala peralatan saya agar mesin dapat bertahan lama dan saya nyaman bekerja," lalu ia menunjukkan kepadaku mesin-mesin yang ia rakit sendiri. Wah, sungguh kreatif sekali. Karena penasaran aku bertanya mengapa ia tak mengajukan semacam proposal ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Way kanan agar dibina dan difasilitasi alat yang canggih. "Wah, saya nggak tahu caranya kalau urusan sama pemerintah. Takut repot dan salah. Yah, kalau mbak mau bantu saya boleh-boleh saja," jawabnya dengan wajah sumringah seakan-akan aku seorang pesulap yang dalam waktu 5 menit akan menghadirkan mesin canggih entah dari mana. 

Dedi Toro bersama Kru Siger TV di bengkel kerjanya (Sumber: Dedi Toro)
Saat memulai usahanya, Dedi melakukan trial and error atas bentuk produknya. Ia menyerahkan kepada publik mana produk yang paling diminati makan produk tersebut akan dikembangkan terus. Sejauh ini yang paling banyak diminati adalah gelang dengan teknik tali tertentu dengan sebuah batu berbentuk persegi panjang atau lonjong ditengahnya. Produk yang cocok digunakan laki-laki maupun perempuan, sehingga pasarnya lebih luas. "Abang saya Rinto Macho bilang kalau yang batunya persegi itu unik dan kece. Bisa jadi khas Way Kanan. Maka saya menjual itu sebagai produk unggulan. Kalau bentuk yang lain ya dicoba juga biar nggak bosan hehe," jawanya sembari menunjukkan kepadaku produk-produknya yang memikat hati. Duh, alangkah indah dan cantiknya...

"Kabarnya gelangnya sudah sampai ke Bali ya?" pancingku. Dedi Toro hanya tersenyum manis. "Gelang dan kalung saya ini istimewa, mbak. Makanya kalau mbak sudah lama memakainya akan semakin terlihat aura cantiknya. Ya batu yang cantik membantu mbak makin cantik. Sensasi itulah yang dirasakan para pelanggan saya. Makanya jualan saya ya alhamdulillah laris manis. Sudah sampai Bali, Batam, Tangerang dan Jakarta, mba. Insya Allah Eropa dan Amerika menyusul hehe," ia kembali tersenyum sembari merapikan produknya yang makin menggunung di amben bambu sederhana. Ya, ya. Kuakui batu-batu yang pada awalnya teronggok di dasar sungai atau tanah, yang buruk rupa dan tidak bernilai, kini menjadi sangat mempesona setelah diolah dengan penuh cinta. 

Cantik ya? (Sumber: Dedi Toro)
Oh ya, sebagai 'wirausahawan muda zaman now', Dedi Toro jualan offline dan online juga dong. Selain giat menjual produknya dalam berbagai kegiatan di Way Kanan, ia juga menjualnya via akun media sosialnya seperti Facebook dan Instagram. Kedepan, ia ingin usahanya lebih maju dan menjadi pionir dalam usaha perbatuan dalam konteks wirausaha. Oleh karena ini, demi membesarkan bisnisnya ia bahkan tak segan menjadi sponsor acara anak-anak "Si Bolang" oleh Trans 7 saat syuting di Kampung Wisata Lestari Gedung Batin pada pertengahan Oktober silam. "Nah, ini dia salah satu cara keren mempromosikan betapa kecenya oleh-oleh khas Way Kanan! Masyarakat Se-Indonesia akan yang akan menonton. Gelang saya kan ikutan terkenal juga." Kami berdua tertawa karena harapan itu memang benar-benar melangit tapi masuk akal. Ya, mudah-mudahan saja usahnya semakin maju, terkenal dan membawa rezeki yang berkah dan banyak. 

Si Bolang Gedung Batin dan Gelang dari Republik Gemstone (Sumber: Dedi Toro)
Bagiku sendiri yang memang menyukai perhiasan baik kalung atau gelang berbahan batu alam, produk Dedi Toro memang khas dan indah. Bahan baku yang disebutkan pemuda penuh semangat tersebut memang sudah tersedia di alam dengan caranya yang indah. Batu-batu tersebut banyak ditemukan di sungai maupun didalam tanah sehingga harus digali. Mineral yang menyusun batuan tersebut (duh pusing ah kalau sudah bicara geologi) yang menjadikannya sebagai batu aneka rupa dan warna, walaupun dari luar nampak sebagaimana batu biasa. Sehingga betul pendapat Dedi Toro bahwa batuan tersebut tidak lagi diangkut ke luar Way Kanan, melainakn diolah di Way Kanan kemudian dipasarkan ke seluruh dunia. Sehingga apa yang disediakan alam dapat membantu meningkatkan kesejahteraan warga Way Kanan dan menurunkan angka pengangguran.

Katerina, blogger kece asal Tangerang, Banten dengan gelang Dedi Toro yang melingkar cantik di lengan kirinya saat ia menjadi peserta pada even Gedung Batin Bamboo Rfating Tournament pada 8 Oktober 2017. Nah, main di sungai aja bisa cantik begini sampe pamer gelang segala (Sumber: Katerina @travelerien)
Dian Radiata, blogger kalem, Penulis dan Engineer asal Batam ini tampak sedang memamerkan gelang karya Dedi Toro di lengan kanannya sembari berpose ala super model (Sumber: Dian Radiata @adventuroe)
Benda bersejarah dan aneka gelang kesukaanku. Tebak mana gelang Dedi Toro? (Photo oleh: Rinto Macho)
Nah, pemuda baik hati dan pekerja keras ini memiliki impian besar bagi masa depan para pemuda di Way Kanan.
"Kita punya potensi besar dan kaya. Ya batu ini salah satunya. Kalau bisa jangan merantau ke kota. Kita optimalkan kemampuan kita disini, bahu membahu membuat Way Kanan berdaya saing. Tanpa anak muda yang mau bekerja keras, berdikari dan berwirausaha, mustahil Way Kanan mampu bersaing dengan kabupaten lain di Lampung. Harapan saya, pemerintah juga mendukung kami-kami generasi muda ini dalam berkarya," tutupnya. Dapat kulihat harapan dan bahagia di sepasang matanya.
Bersatu kita teguh mendukung kerja dan karya anak muda Indonesia (Photo oleh: Rinto Macho)
Pakai Gelangnya, Nikmati Sensasinya...
Oh ya, demi mendukung karya anak bangsa, yuk lah borong gelang dan kalung buatan anak muda kece badai asal Way kanan ini. Boleh buat pacar, suami, istri, gebetan, rekan kerja, mama-papa, hadiah ulang tahun dan sebagainya. Kalau borong ada diskon menarik lho. Bagi yang rumahnya sekitar Way Kanan bisa langsung mampir ke rumah atau bengkel kerja Dedi Toro di: RT 01 RK 20 Desa Sidoarjo, Kecamatan Blambangan Umpu, Way Kanan, Lampung (tepat dibelakang Balai Desa Sidoarjo). Nah, kalau mau beli via online boleh kontak langsung beliau di akun Facebook dan Instagram atas nama DEDI TORO. Jangan lupa kode pembelian ya: Teteh Ika cantik

Lampung, Oktober 2017.

Wijatnika Ika

6 comments:

  1. Aku bangga pakai gelang Dedi Toro 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Katerina. Hayuk atuh sekalian pasarkan biar perempuan Indonesia makin bangga dengan kekayaan akamnya..

      Delete
  2. Waahh hebat ya. Salut untuk semangat yg terus konsisten untuk mengembangkan sumber daya alam tanah kelahiran. Dua kali ke Way Kanan, saya tidak sempat ketemu Dedi. Padahal pengen banget berkolaborasi dan membantu ikut mengembangkan design serta pasar perajin seperti Dedi ini. Mudah2an waktu dan semesta membawa kami bertemu suatu saat nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Annie. Nah, artinya harus ke Way Kanan lagi demi bebatuan yang indah tersebut...

      Delete
  3. Gelang Dedi Toro ini aku pake kemana-mana loh. Suka banget makenya.. Rencana mau beli lagi, tapi dari kemaren gelang yang kutaksir udah keduluan orang terus.. Belum jodoh hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir mba Dian. Bisikin Dedi Toro aja biar klo ada produksi baru nawarin dulu ke kita barangnya...

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram