Banjarmasin dan Masa Depan Wisata Desa



Setiap kampung punya cerita karena terbentuk dengan cara berbeda. Baik buruknya sebuah kampung adalah tanggungjawab warga yang tinggal didalamnya. Warga memiliki hak penuh mau menjadikan kampung mereka seindah surga atau menakutkan bagai neraka. Namun, karena sebuah kampung memiliki hubungan sosial dengan kehidupan lain di sekitarnya, maka tak elok jika sebuah kampung memiliki dampak buruk bagi kehidupan komunitas yang lebih luas. Itulah yang dikehendaki Pak Idrus, kepala kampung Banjarmasin, kecamatan Baradatu, Way Kanan, Lampung. 

Setelah sukses menjadi tuan rumah momen Peluncuran "Bamboo Rafting" pada bulan April silam, rupanya pak Idrus sadar bahwa kampungnya yang tua begitu berharga bagi dunia luar. Hari itu, ribuan orang memadati kampungnya demi menjajal sensasi menyusuri Way Besay sejauh 12,5 km dari kampung Banjarmasin ke Banjarsari dengan menggunakan rakit bambu. Bayangkan, alat transportasi jadul yang sudah banyak ditinggalkan dalam kehidupan modern bisa dijadikan atraksi wisata. Pak Idrus dan warga tentu saja terkesan. Rupanya dunia memiliki cara pandang berbeda terhadap kampung mereka. 

Saat aku menjadi peserta Bamboo Rafting pada April 2017 (Wefie by HP Katerina @travelerien)
Ide Segar Pengembangan Wisata Desa...
Bagaimana sebuah desa dengan penampilan apa adanya dapat menarik wisatawan dan meningkatkan perekonomian warganya? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan retorika, melainkan dengan kerja bersama. Oleh karena itu, pada Mei 2017 aku diajak serta melihat-lihat potensi wisata desa di Kampung Banjarmasin. Harapannya, segala potensi yang ada dapat dikembangkan dan membantu warga mendapatkan penghasilan dari jenis pekerjaan yang sama sekali berbeda dari yang biasa mereka lakukan, misalnya sebagai petani. 

Hari itu, aku bersama bang Rinto Macho, seorang bapak dari BNPB Way Kanan, dan dua orang jurnalis berkumpul di rumah pak Idrus. Kami membicarakan banyak hal sembari menikmati kopi khas Way Kanan dan pemandangan serba hijau menyejukkan di kejauhan. "Saya sih berharap kampung ini bisa berubah dengan adanya wisata mbak," ujar Pak Idrus dengan penuh semangat. Ya, aku tahu bahwa sebagai seorang kepala pemerintahan di kampungnya, beliau memiliki tanggungjawab dalam memajukan kampungnya. Namun, keterbatasan pengetahuan dan jaringan kepada orang-orang yang ahli di bidangnya membuat impian beliau mandeg hanya didalam kepala. 

Pak kepala kampung dan orang BNPB lagi ngomongin apa ya? (Photo oleh: Rinto Macho)
Lalu siang itu, kami bersama-sama melakukan jelajah desa demi melihat sebuah air terjun kecil yang menurut beliau layak dijadikan salah satu destinais wisata di Banjarmaisn. Dengan senang hati aku mengikuti beliau dan berharap bahwa aku mampu membantu dengan ide dan pengetahuan yang kumiliki. Kami menerabas kebun dan membuat jalan baru, melalui kebun singkong, sawit, hingga repong tua, sampai kami tiba di sebuah lembah dimana air terjun kecil jatuh. Lokasinya memang belum dibuka sehingga aku sempat terpeleset karena bebatuan yang licin plus salah pakai sepatu. 

Itulah air terjun Putri Salju yang hendak dijadikan destinasi wisata desa Banjarmasin (Photo oleh: Rinto Macho)
Seger.... (Photo oleh: Rinto Macho)
Dalam konteks wisata alam air terjun ini memang terkesan kalah saing dengan beberapa air terjun di Way Kanan yang sudah terkenal dan beberapa kali masuk kedalam acara bertema 'petualangan' dari sebuah stasiun TV. Tapi, kalau mengingat mimpi pak Idrus aku jadi terharu. Potensinya memang tidak sebesar air terjun yang lain yang lebih indah. Namun, jika warga kampung mampu mengemasnya menjadi destinasi wisata yang pasarnya adalah warga sekitar Way Kanan ditambah dengan paket kemping dan lain-lain di sekitar air terjun, destinasi ini bisa menjual. Karena kita tidak boleh menampik berbagai kemungkinan dan selera pasar. Air terjun kecil ini merupakan rangkaian air terjun yang bagian hulu yang lokasinya tak jauh dari rumah pak Idrus. Dengan demikian, untuk mencapai pasar maka warga desa harus bahu-membahu menjadikan rangkaian air terjun ini menarik.

Setelah berpuas-puas menikmati air terjun ini dan berphoto-photo ria, kami melanjutkan perjalanan ke rute lain, melalui kebun warga. Kami smepat beritirahat di lokasi yang menurut Pak Idrus layak dijadikan tempat kemping. "Bagus ya kalau kemping disini?" katanya. Padahal menurutku kurang cocok karena lokasinya ada ditengah kebun dan agak jauh dari sumber air. Plus berpotensi merusak tanaman milik warga. 

Lelah, haus dan lapar euy. Lupa bawa sembako hehehe (Photo oleh: Rinto Macho)
Setelah istirahat dan mengobrol, kami melanjutkan perjalanan. Dan bertemulah aku dengan seorang lelaki yang sedang membersihkan kebunnya. "Saya ini orang Bukit Kemuning (red: Llampung Utara) tapi kebun saya disini," ujarnya saat kami membuka obrolan. Llau beliau berkisah bahwa kebun yang dikelolanya ini dapat membantunya membiayai anak-anaknya sakolah hingga ke perguruan tinggi. Beliau juga bercerita bahwa salah seorang anaknya masih berstatus sebagai 'honorarium' dan belum mendapat kepastian kapan akan menjadi seorang PNS. Karena bagi sebagian orang, menjadi PNS dan bekerja dengan seragam adalah sebuah kehormatan. Ah, semoga sang bapak segera mendapatkan kebahagiaannya

Lumayan lah bisa bikin seorang bapak tertawa bahagia (Photo oleh: Rinto Macho)
Setelah puas mengobrol kami melanjutkan perjalanan ke arah lain kampung. Ternyata di bagian hulu ada lokasi yang menurutku cocok dijadikan 'camping ground'. Selain karena lokasi dekat ke jalan raya, sumber makanan dan sumber air, juga aman karena dekat dengan rumah kepala kampung. Lokasi dengan luas sekitar 1 hektar tersebut jika dikembangkan akan menjadi sangat cantik dan membuat siapapun berminat mampir. Tidak perlu muluk-muluk, hanya perlu dirapikan dan ditanami berbagai jenis tanaman bunga, buah-buahan dan rempah. Sebuah perubahan yang menurutku tidak memerlukan biaya, melainkan gotong royong warga desa. 

Air terjun di bagian hulu kampung. Dengan teknik memotret yang benar, air terjun kecil dan sederhana bisa jadi indah begini ya bagaikan photo-photo menakjubkan yang sering kita lihat dalam kalender. Sayang sekali, sosokku tidak menjadi pemanis photo ini hehehe (Photo oleh: Rinto Macho)
Di dekat air terjun ini ada sebuah kolam ikan, sungai kecil yang mengalir menuju air terjun Putri Salju, beberapa kolam ikan dan dataran yang cocok dijadikan lokasi kemping untuk anak-anak Pramuka maupun pecinta alam. Lokasinya aman karena dekat dengan rumah kepala kampung dan jalan raya Lintas Tengah Sumatera, juga sebuah rumah makan lumayan besar. Menurutku, wilayah ini hanya memerlukan sentuhan warga kampung secara bersama-sama untuk menjadi potensial bagia pasar. Karena sungguh, aku jungan sudah tak sabar memiliki kesempatan kemping di kampung ini. Terlebih, destinasi ini dapat menjadi penunjang atraksi Bamboo Rafting yang menjadi atraksi utama wisata desa di kampung Banjarmasin. Semoga warga segera bergotong royong menyulap desa mereka...

Potensi lain: pohon penghasil madu (Photo oleh: Rinto Macho)
Sesungguhnya, kampung Banjarmasin memiliki banyak potensi wisata desa. Hanya saja, diperlukan kerjasama seluruh warga agar seluruh potensi tersebut tergali dengan baik. Tiada pihak manapun yang paling mengerti potensi sebuah desa selain warganya. Karena itu, aku berharap sumbangsihku dalam bentuk ide dan pengetahuan dapat membantu mendorong warga desa untuk meningkatkan kepekaan terhadap potensi yang sangat berharga di kampungnya. Saat warga desa menghargai dan mencintai kampungnya, mereka akan tahu cara bagaimana membuat kampungnya indah dan menjual bagi wisatawan.

Contoh sederhana: jika kita menilik kalender musim, maka kegiatan seperti panen madu, lada, kopi dan karet saja dapat menjadi atraksi wisata. Di lokasi lain di kampung ini, warga bahkan dapat menarik minat wisatawan hanya dengan menjadikan kampung mereka sebagai kamung tua dengan warna-warni bunga di halaman rumah-rumah panggung warisan leluhur mereka, atau lokasi lain yang dapat menjadi danau kecil plus pemancingan. Ah, sungguh, hanya merubah cara pandang terhadap desa, kampung tua di Way Kanan ini dapat menyulap dirinya menjadi sangat cantik dan menggemaskan pengunjung baik di wilayah Way Kanan atau Lampung secara umum.

Lampung, Oktober 2017

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram