Tugas Mulia dan Terhormat Seorang Blogger

Bersama dua blogger cantik Katerina dan Annie Nugraha, serta tim K@WAN di Kampung Wisata Lestari Gedung Batin, Way Kanan (Photo Oleh: Rinto Macho)

Pada suatu hari yang panas dan lembab, seseorang menulis komentar pedas-panas membara di salah satu pos di media sosialku. Dia mempertanyakan mengapa aku seakan-akan 'istimewa' dibanding dirinya dan teman-temannya yang lokal karena aku diundang menghadiri sebuah even besar sebagai blogger. Miris, katanya. Lho, memangnya aku bukan orang lokal tah? Dia nggak tahu apa aku ini dibikin-dilahirkan-disekolahkan-dibesarkan di Lampung sebelum memberanikan diri menjalankan teori survival ala Pramuka di sekitaran Jadebotabek yang keras itu? Tapi ya sudah lah, jangan pasang urat untuk hal-hal yang nggak perlu. Mending nulis aja... 

MENULIS 
Untuk apa sih menulis? kalau aku sih karena aku memang suka membaca dan menulis. Aku memahami bahwa menulis adalah bagian dari diri dan kehidupanku. Dan aku menulis bukan untuk menyenangkan orang lain, tapi memaksa orang lain masuk kedalam pikiranku (ihhh kok maksa sih? becanda kok haha). Jadi, kalau ada orang bilang tulisanku jelek ya diterima aja, karena berarti tulisan dia lebih bagus dan aku harus belajar padanya. Dan kalau ada yang bilang tulisanku bagus, ya ucapkanlah alhamdulillah karena berarti orang itu merasa terpesona oleh tulisanku yang bukan siapa-siapa ini hahahaha.Terpesona kok sama penulis kacangan sih? Nggak salah ya? Tapi ya sudahlah, disyukuri saja. Mungkin dia sedang khilaf, ups!

Menulis adalah tugas peradaban. Buktinya, Tuhan memerintahkan manusia untuk membaca. Manusia loh, bukan makhluk lain yang jenisnya sangat banyak itu. Dengan menulis, manusia membuat rekam jejak tentang perjalanan spesiesnya, di mana kegiatan ini tidak dilakukan spesies lain. Mereka yang menulis di masa lampau, yang secara sukarela atau pun sebagai tugas memberi kita gambaran sederhana bahwa 'rekam jejak' dalam bentuk tulisan itu penting. Melalui tulisan juga manusia mempelajari ilmu pengetahuan dan membangun peradaban. Kita manusia abad 21, adalah generasi kesekian yang menikmati kerja keras para penulis di masa lampau, yang semua karya mereka belum sanggup untuk kita baca seluruhnya karena terlampau banyak. 

Blogger adalah kelompok penulis sukarela yang lahir karena kecanggihan teknologi, di mana blog menjadi kanal bagi penulis-penulis yang tidak mungkin ditampung di media mainstream. Karena itu, seorang blogger bisa menulis apa saja sesuai kehendaknya, bahkan tanpa harus mengikuti pakem baku teknik menulis yang sudah diajarkan sejak SD. Istimewanya, seorang Blogger dapat mengelola-mengkritik tulisannya sendiri dan membuat tulisannya sampai kepada pembaca sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya. Bahkan, sebuah tulisan yang dibuat secara sukarela itu dapat mempengaruhi publik seluas-luasnya melebihi tulisan media mainstream yang bahkan ditulis oleh seorang penulis terkenal dengan jam terbang tinggi. 

PENULIS KECE 
Jumat, 21 April lalu aku bertemu tiga orang blogger cantik Mba Katerina, Annie Nugraha dan Dian Radiata untuk pertama kalinya. Kami diundang oleh Pemerintah Kabupaten Way Kanan, khususnya Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga untuk mendokumentasikan acara peluncuran Bamboo Rafting Way Besay Tournament. Mereka bertiga adalah blogger dan penulis dengan jam terbang tinggi yang sudah sering diundang berbagai pihak untuk membantu mempromosikan destinasi wisata. Pada kesempatan inilah aku memahami satu dari beberapa tujuanku ke Lampung: belajar menulis lagi, belajar menjadi blogger 'berguna' lagi, dan belajar menjadi manusia yang rendah hati. Belajar, belajar dan belajar.
"Katerina itu tulisannya berkarakter. Sangat kuat sekali. Saya suka cara dia menulis. Makanya saya undang dia di even ini. Kita kan perlu blogger-blogger yang dapat mempromosikan wisata Way Kanan ini ke luar, agar orang yakin bahwa Way Kanan ini asyik," ujar bang Rinto Macho yang kemudian kami sebut sebagai kapten perang pengembangan pariwisata kabupaten yang bergelar Bumi Ramik Ragom ini.
Kami berempat menghabiskan waktu bersama selama 3 hari penuh. Selain kami menginap di rumah yang sama dan melakukan kegiatan bersama, juga banyak mendiskusikan hal-hal yang sama ada dalam benak kami: menjadi seorang blogger yang produktif dan rendah hati. Karena tanpa kedua sikap itu, seorang blogger telah menyalahi fungsinya dalam menulis. Bagi seorang blogger, menulis adalah misi mengembangkan diri dan berbagi. Sehingga sangat tidak layak jika harus menempatkan diri di atas singgasana nan tinggi seakan-akan lebih mulia dari blogger lain, terutama mereka yang memiliki jam terbang tinggi. Blogger atau penulis itu sama rata sama rasa dalam menulis dan berbagi inspirasi. Jadi, kalau ada blogger yang merasa lebih hebat dari satu dan lainnya, apalagi ingin disanjung hanya karena dia 'seorang blogger' mari koreksi diri lagi apa tujuan menjadi seorang blogger. Kita hanya perlu mengingat satu hal: blogger itu menulis secara sukarela.

Berdiskusi dengan Bupati Way Kanan, Bapak Raden Adipati Surya mengenai arah dan kebijakan pengembangan pariwisata Way Kanan (Photo oleh: Rinto Macho)

Dalam salah satu momen ketika kami melakukan eksplorasi di kampung wisata lestari Gedung Batin, kami sempat berdiskusi dengan Bupati Way Kanan, Bapak Raden Adipati Surya. Selain kami berempat, ada juga komunitas Sekolah Lapangan dan beberapa orang photografer. Kami berdiskusi mengenai  impian Pamkab Way Kanan dalam mengembangan pariwisata, termasuk bagaimana strategi meningkatkan partisipasi warga. Dalam sesi itu, aku belajar bagaimana cara mba Katerina dan Annie Nugraha menggali informasi mendalam mengenai kebijakan pengembangan wisata sehingga kedepan dapat menarik minat publik seluas-luasnya. Informasi itulah yang menjadi satu dari bahan dasar untuk membuat tulisan yang mempromosikan pariwisata Way Kanan  agar mendunia.
"Nah, kalau mba Annie itu karena kita butuh masukan beliau dalam konteks pengembangan wisata Way Kanan. Beliau itu konsultan bidang pariwisata. Sudah banyak melakukan kerja-kerja untuk pengembangan tempat wisata. Kami orang Way Kanan ini butuh orang seperti dia, makanya beliau kita undang juga," begitulah keterangan bang Rinto Macho padaku tentang mengapa si A, B, C menjadi tamunya di even ini. Dan rekam jejak mba Annie terbaca jelas saat kami berdiskusi dengan seorang tokoh perempuan kecamatan Banjit ketika kami berdiskusi mengenai rencana pengembangan wilayah Jukuh Batu sebagai lokasi wisata, sebagai pintu masuk ke air terjun Putri Malu yang melegenda itu. 
Hm, sebagai anak bawang aku kini mengerti mengapa aku ada diantara ketiganya. Suatu malam ketika kami berdiskusi sembari menikmati kopi, Mba Katerina memberikan satu nasehat penting kepadaku. "Ika, aku kasih tahu kamu ya. Kalau kamu travelling ke mana pun, belilah kain lokal dan jadikan itu properti photo kamu. Selain membuat photo kamu keren dan berbeda, juga membantu mempromosikan karya anak bangsa," ujarnya. Blogger kece satu ini memang hobi berpose bersama kain-kain khas daerah yang ia kunjungi. Alhasil, sebagai travel blogger photo-photonya sangat menjual dan memikat mata. Dan, bagiku ini nasehat yang sangat berharga karena selama ini aku nggak pernah kepikiran untuk melakukan hal sederhana tersebut haha. 

Salam asyik dari Way Kanan Asyik (Photo Oleh: Rinto Macho)

Kesimpulannya, menulis itu harus dengan hati, sehingga tidak menimbulkan keinginan untuk membanggakan diri apalagi merasa lebih baik dari penulis lain, terlebih mereka yang tidak menulis. Menulis, hanya satu dari kemampuan manusia yang Tuhan anugerahkan untuk menjadi bagian dari berbagai kemampuan lain agar manusia saling memudahkan kelompoknya dalam menjalani kehidupan.Penulis yang baik adalah yang duduk sama rendah tertawa sama bahagia dengan penulis lain dalam meramaikan dunia literasi tanah air dan dunia. Yakinkah, jika kita menulis dengan sepenuh hati dan untuk tujuan mulia, maka dengan sendirinya dunia akan memberi tempat terhormat untuk kita.

Way Kanan, 2 Mei 2017

Wijatnika Ika

14 comments:

  1. Jujur dan rendah hati, tetap kritis namun disampaikan dengan santun tidak menggurui, apalagi memaki. Memberu kami kesempatan u mengoreksi diri bukan dibunuh mati...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir Rinto Macho, rendah hati belajar dari air terjun Putri malu yang melegenda itu lho....

      Delete
  2. Menulis dengan hati :)

    Terima kasih Ika sudah mengingatkan.

    Senang sekali ke Way Kanan kali ini. Kenal Ika dengan keahlian yang baru saya tahu dari Bang Yazed. Ika memang tepat sekali diikutsertakan. Saya pun bangga mengenal Ika. Terus menulis dan berbagi ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir mba Katerina yang cantik dan seru. Aku sih nulis buat mengingatkan diri sendiri hehehe. Senang banget bisa kenal dan berbagi kekonyolan dengan mba Katerina haha

      Delete
  3. Senang ya mbak, dikasih kesempatan buat mempromosikan pesona wisata Indonesia terutama di Lampung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir Mba Ivonie. Haha iya senang sekali...

      Delete
  4. Pertama kali nih aku mampir ke sini, salam kenal mbak Ika :)

    Suka tulisannya. Dan aku juga mengikuti perjalanan di Way Kanannya melalui sosmed. Semoga sukses selalu :)

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir Mas Haryadi dan dalam kenal juga. Dan tentu saja terima kasih banyak untuk apresiasinya atas tulisan sederhana ini.

      Delete
  5. Salam kenal dari Jogja mba, semoga tulisannya bisa memberi manfaat utk yg membaca ya. Yes bener, menulislah sepenuh hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Prima dan salam balik dari Lampung The Treasure of Sumatra. Alhamdulillah, semoga bermanfaat terutama bagi saya sebagai penulisnye hehe

      Delete
  6. Salam kenal mba ika, beneran kece idenya mba rien memperkenalkan kain nusantara lewat foto ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir Dewi. Haha iya sekece orangnya ya...

      Delete
  7. Salam Kenal Mba....Tulisan dan fotonya keren-keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir mba Siti dan atas apresiasinya untuk tulisan sederhana ini...

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram