Spot Photo Instagramable di Way Kanan


Kampung Banjar Sari, kec. Baradatu (Photo oleh: Rinto Macho)
Di zaman 'Internet of Things' photo bukan hanya berperan sebagai cara mengenang sebuah peristiwa atau seseorang atau suatu tempat. Photo kini menjadi cara 'show off' seseorang pada publik. Dengan bantuan media sosial seperti Facebook, Instagram, Pinterest dan lainnya seseorang dapat 'memperkenalkan' dirinya sendiri kepada publik sesuai keinginannya dalam kurun waktu 24 jam setiap harinya. Photo adalah sarana 'branding' diri seseorang, misalnya 'aku yang cantik' atau 'aku yang stylist' atau 'aku yang sedang bahagia' atau 'aku yang bertamasya' atau 'aku yang punya pasangan' atau 'aku yang berkarya' dan sebagainya. Dengan memamerkan diri, aktifitas dan karyanya, seseorang kini dapat membentuk dirinya menjadi seorang selebritis di dunia maya, seperti selebgram. Para selegram biasanya kebajiran tawaran pekerjaan untuk menjadi 'pengiklan' berbagai produk melaui media sosialnya. Banyak dari selebgram yang kemudian menggunakan ketenarannya sebagai kesempatan untuk mempertebal dompetnya. Sederhananya, perkawinan antara photo dan media sosial terbukti telah membuat manusia biasa yang sebelumnya tidak dikenal menjadi buah bibir dan kebanjiran tawaran kerja ala dunia maya, bahkan kaya raya dalam sekejap. Alhasil, dunia menjadi semakin semarak dan berwarna. 

Nah, selama sebulan di Way Kanan, Lampung untuk urusan pekerjaan, aku pun nggak mau dong kehilangan kesempatan memiliki photo-photo keren. Kebetulan selama di Way Kanan ini aku berkesempatan menjadi model dadakan bagi photografer kawakan Rinto Macho. Jadi, setiap kami melakukan perjalanan urusan pekerjaan ke beberapa tempat tak lupa selalu ada sesi 'potrat-potret' dengan tujuan mendokumentasikan lokasi-lokasi keren dan eksotis di Way Kanan yang sangat potensial menjadi destinasi wisata. Dalam memotret bang Rinto Macho menggunakan kamera Nikon D5300 dengan lensa Sigma 17-70.f2.8 C dan hasilnya itu loh bikin bulu kuduk langsung merinding saking kerennya. Setiap kali selesai dipotret aku jadi merasa 5 tahun lebih muda haha (asa melayang! melayang tinggi!)

Way Kanan itu di mana sih? Buat yang nggak hobi mantengin peta dan mengikuti perkembangan dunia terbaru mengenai kabupaten-kabupaten muda se-Indonesia, kuberi tahu sedikit informasi ya. Way Kanan  merupakan nama sebuah Kabupaten di provinsi Lampung, sebuah wilayah yang memekarkan diri dari Kabupaten Lampung Utara pada tahun 1999. Nah, bagian utara Way Kanan berbatasan langsung dengan Sumatera Selatan loh. Salah satu keunikan Way Kanan yang biasanya diingat publik dengan baik adalah slogan "Bumi Ramik Ragom" yaitu sebuah wilayah yang Bhineka Tunggal Ika. Sejak dulu Way Kanan memang menjadi rumah bagi beragam suku dan budaya seperti Lampung, Semendo, Ogan, Sunda, Jawa, Batak, Bali dan Minang. 

Saat ini, Way Kanan sedang berupaya melakukan berbagai pembenahan di sektor pariwisata. Bukan saja dalam rangka menunjukkan kepada dunia bahwa wilayah ini memiliki berbagai potensi alam, seni dan budaya yang tak kalah kaya dan menarik dari kabupaten lain di Lampung. Juga untuk membantu menumbuhkan dan meningkatkan perekonomian warga dari sektor pariwisata. Karena itulah, sebagai pengunjung yang baik aku turut membantu mempromosikan wisata Way Kanan melalui tulisan ini, dan tentu saja dengan tambahan photo-photo keren.
"Geser ke kanan dikit, Teh," atau "Kaki kanan di belakang..." atau "Senyum..." atau "Jalan pelan, pelan yup..." atau "coba duduk disitu..." atau "bentar saya cari angle yang pas dulu..." atau "wah lima menit lagi warna langitnya cantik, ayo duduk manis disitu..." adalah beberapa jenis 'perintah' bang Rinto Macho kepadaku selaku model dadakan selama satu bulan ini. Euh, ternyata jadi model rempong juga ya. Tapi hm, lumayan lah jadi punya photo yang bagus.
Jadi, berikut adalah spot photo instagramable di Way Kanan: 

REST AREA 
Wilayan ini terletak tepat di pintu gerbang kabupaten Way Kanan yang berbatasan langsung dengan kabupaten Lampung Utara. Lokasinya sangat strategis karena berada di Lintas Tengah Trans Sumatera yang merupakan jalur lalu lintas yang sangai ramai dan non-stop selama 24 jam. Rest Area merupakan lokasi yang tepat pagi pengendara yang hendak beristirahat sejenak setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan. Nah, jika kebetulan udara sedang cerah bisa juga sekalian 'potrat-potret' untuk mengabadikan perjalanan. Bagi penyuka kabut pagi bisa loh hunting photo pagi hari sekitar pukul 05.30-06.00 WIB ketika kabut sedang naik ke langit menjelang matahari merekah di timur. Sedangkan bagi penyuka sunset dapat hunting photo pada pukul 17.30-18.12 WIB.

Mengantar kabut pagi naik ke langit. Rest Area Way Kanan (Photo oleh: Rinto Macho)
WAY BESAY (BAMBOO RAFTING)
Pada 22 April 2017 silam adalah pertama kalinya aku menjajal atraksi wisata 'Bamboo Rafting Way Besay' di kampung Banjar Masin, kecamatan Baradatu. Hm, awalnya sih ngeri-ngeri sedap gitu karena harus melalui perjalanan sejauh 12 km dari kampung Banjar Masih ke kampung Banjar Sari diatas air Way Besay yang berwarna cokelat karena hujan di wilayah hulu, di Lampung Barat. Pasalnya aku kan nggak bisa berenang, kalau tenggelam gimana? Tapi eh sepanjang perjalanan malah ketawa-ketiwi mulu karena ternyata petualangan yang kujalani memang menyenangkan dan seru. Bahkan, selama perjalanan aku dan grupku sempat mengabadikan momen perjalanan kami dengan berphoto ceria bahkan membuat video. Jadi sangat pantas jika berphoto sepanjang perjalanan Bamboo Rafting sangat kurekomendasikan dilakukan.
Bamboo Rafting Way Besay, Banjar Masin-Banjar Sari (Photo oleh: Katerina S)
GEDUNG BATIN
Kampung tua berusia ratusan tahun di tepian Way Besay ini bagai harta karun yang unik, eksotis dan kaya akan warisan seni budaya. Ketika kakiku melangkah memasuki kampung ini untuk pertama kalinya, aku merasa sedang memasuki kehidupan masa silam yang penuh rahasia. Selain terdapat 8 unit rumah tua berusia lebih dari 200 tahun, di kampung yang ditetapkan sebagai 'kampung wisata lestari' ini bahkan terdapat makan kuno dari tahun 1305. Makam yang nisannya masih awet sampai sekarang tersebut seakan menjadi pertanda bahwa ada pesan darii masa lampau yang sebaiknya digali sebagai bahan pembelajaran generasi saat ini. Saat melihatnya dengan mata kepalaku sendiri aku sungguh merasa merinding. Betapa luar biasa warisan kekayaan sejarah di kampung tersebut.

Bergaya agak sedikit alay di depan rumah tua berusia ratusan tahun di Gedung Batin, kec. Blambangan Umpu (Photo oleh: Rinto Macho)
Warga kampung cilik, Gedung Batin, kec. Blambangan Umpu (photo oleh: Rinto Macho)
Bagiku, kampung ini sungguh luar biasa berharga. Karenanya aku berniat untuk terus belajar tentang kampung ini seperti tentang sejarah terbentuknya kampung ini, karena berkaitan erat dengan jalur perdagangan dan pembentukan peradaban hunian tepi sungai. Hal yang menarik untuk diteliti misalnya (dan jadi objek photo tentunya!) misalnya pecahan-pecahan guci/keramik yang dapat ditemukan di permukaan tanah yang dengan jelas menunjukkan keberadaan bangsa asing. Juga arsitektur rumah yang dengan jelas menunjukkan adanya campur tangan budaya lain. Segala sudut dan segala hal di kampung ini sungguh menjadi objek yang tepatuntuk menyalurkan kegemaran potrat-potret. Dijamin deh hasil potrat-potret di kampung ini instagramable

TUGU RYACUDU
Hm, ini sih ikon modern yang berusia relatif baru. Sebenarnya Tugu Ryacudui ini merupakan bundaran yang menjadi jalur jalan ke empat lokasi berbeda sehingga merupakan lokasi yang tepat sebagai ruang pertemuan publik. Lokasi ini biasanya ramai pada sore hari menjelang matahari terbenam sejak pukul 16.00-18.15 WIB. Saat hari cerah, pemandangan langit akan sangat indah terutama saat matahari tenggelam. Ada perpaduan warna yang begitu unik dan menarik di langit yang biasanya menggoda warga untuk mengabadikannya melalui kamera atau ponsel mereka.

Aku dan seikat bunga di Tugu Ryacudu, kec. Blambangan Umpu (photo oleh: Rinto Macho)


Matahari Tenggelam di Tugu Ryacudu, kec. Blambangan Umpu (Photo oleh: Rinto Macho)
BALI SADHAR
Kampung ini dibangun oleh komunitas Bali pada tahun 1963. Penduduknya merupakan keturunan dari pengungsi/transmigran asal pulau Bali pasca letusan Gunung Agung. Setelah puluhan tahun dibangun secara bersama-sama, kampung ini kini telah memekarkan diri menjadi 3 kampung yaitu Bali Sadhar Utara, Bali Sadhar Tengah dan Bali Sadhar Selatan. Kampung yang cantik bagai replika pedesaan di pulau Bali yang dipindahkan ke Lampung dalam semalam.

Bali Sadhar Tengah (Photo oleh: Rinto Macho)
Kampung Bali Sadhar Utara adalah kampung yang 100 dihuni oleh orang Bali, sementara dua kampung lainnya juga diisi warga dengan identitas suku dan agama lain seperti Muslim dan Jawa. Kampung ini memiliki ciri khas Bali dimana terdapat pura dimana-mana baik yang berukuran kecil hingga yang besar, dari yang berwarna semen hingga yang berwarna-warni dengan relief yang sangat cantik. Seluruh tempat di kampung ini sangat cocok sebagai lokasi potrat-potret, terlebih ketika diselenggarakan kegiatan adat dan keagamaan. Setiap sudutnya indah, artistik dan eksotik. Sungguh sangat memikat mata dan instagramable

Selain bangunan pura yang memang indah dan eksotis, ada juga loh tempat lain yang cocok buat menyalurkan hobi potrat-potret. Tempatnya lumayan tersembunyi dari pandangan mata biasa karena memang tidak dekat dengan jalan umum. Perlu sedikit upaya untuk mencapai lokasi tersebut karena terletak di areal persawahan yang terletak di bagian belakang kampung. Lokasi tersebut sangat pas untuk menangkap pemandangan indah berupa areal persawahan, suasana pagi berkabut, pegunungan, horizon hingga matahari tenggelam. Bagi penggemar sunset, bisa hunting ke lokasi ini pada pukul 17.00-18.12 WIB. Oh, alangkah syahdunya suasana sore disana ketika langit menampilkan warna-warni yang begitu indah. 

TAMAN MALINI
Di kecamatan Blambangan Umpu, tak jauh dari kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Way Kanan terdapat sebuah taman yang sedang dalam proses pembangunan. Taman Malini namanya. Taman tersebut milik satu keluarga yang kabarnya sangat mencintai keindahan alam sehingga membuka taman milik keluarga mereka untuk publik. Taman ini terbuka untuk umum dan siapa saja boleh menikmatinya, seperti melakukan hobi potrat-potret. Di taman ini terdapat berbagai jenis pohon, tanaman perdu, bunga dan rerumputan. Juga terdapat beberapa kolam kecil berisi ikan yang dalam jarak dekat akan terlihat sangat indah dengan suara airnya yang mengalir. Kolam-kolam itu dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat begitu eksotis dan indah.

Waktu yang paling tepat untuk memotret di Taman Malini antara pukul 17.20-17.45 WIB yang merupakan 'Golden hours' dimana tidak ada bayangan dan langit cenderung berwarna kuning keemasan. Pada saat ini cahaya langit sore membuat warna bunga-bunga semakin mencolok sehingga akan sangat indah ketika tertangkap lensa kamera. Saat aku dipotret di salah satu spot terbaik di Taman Malini, duh rasanya aku menjadi seorang putri hehehe

Taman Malini, surga kecil di Blambangan Umpu (Photo oleh: Rinto Macho)

"CANOPY BRIDGE" TIGA SERANGKAI
Jembatan ini menjadi salah satu lokasi yang direkomendasikan untuk belajar potrat-potret karena selain unik, juga merupakan simbol kebersamaan. Keunikan jembatan ini adalah selain karena lantainya terbuat dari anyaman bambu, juga karena ia melintasi cabang pohon yang tua dan besar. Jadi, saat mellintasi jembatan ini kita tengah melintasi sungai Way Besai dari pohon ke pohon. Jembatan sepanjang 40 m dan lebar 1.2 m ini lantainya terbuat dari anyaman bambu yang dikerjakan secara bergotong royong oleh warga kampung. Senang sekali rasanya ketika aku memiliki pengalaman dipotret di jembatan unik ini. Nah, bagi yang ingin memotret di jembatan ini sebaiknya 16.30-17.00 WIB. Pada jam ini sangat cocok untuk pengambilan gambar karena banyak pohon sehingga seasananya gelap. Kalau pemotretan dilakukan diatas pukul 17.00 maka kualitas gambar akan mengecewakan dan banyak nyamuk yang siap merongrong kulit hehehe.

"Canopy bridge" Dusun  Tiga Serangkai, Kampung Gunung Katun, kec. Baradatu (Photo oleh: Rinto Macho)
AIR TERJUN
Air terjun merupakan satu jenis objek wisata yang familiar dan terdapat di mana-mana, tak terkecuali di Way Kanan. Nah, terdapat beberapa objek wisata air terjun di kabupaten yang baru berusia 18 ini seperti air terjun Putri Malu di Jukuh Batu, Banjit; air terjun Kinciran di Bengkulu Tengah, Gunung Kabuhan; air terjun Gangsa di Kota Way, Kasui; air terjun Anggal di Suka Negeri, Gunung Labuhan. Aku sih baru ke air terjun Putri Malu dan Kinciran. Sayangnya (nangis bombay nih!) waktu itu bang Rinto Macho tidak memotretku secara khusus padahal perjalanan kesana harus menempuh jarak 7 km yang sangat menantang.

Air terjun Kinciran, Gunung Kabuhan (Photo oleh: Rinto Macho)
Meski agak kecewa karena nggak punya photo keren di air terjun Putri Malu yang cantik dan fenomenal itu, aku lumayan terhibur karena sempat berphoto di air terjun Kinciran. Saat itu aku dan rombongan dari Dinas Pariwisata Pemkab Way kanan dan Komunitas Wisata Way Kanan baru menyelesaikan kegiatan tentang kepariwisataan bersama sekelompok pemuda desa. Kami mampir ke objek wisata hits di kampung tersebut. Meski lelah luar biasa akhirnya bisa juga punya photo dengan senyum tipis bercampur nyengir haha. 

Air terjun ini sebenarnya berasal dari sungai kecil yang tenang di wilayah hulu, Tapi pas ke hilir semakin keren karena bertemu dengan tumpukan bebatuan super besar yang membentuk jurang sehingga air yang terjun ke kolam batu di bawahnya sangat deras, kencang dan bergemuruh. Aku membayangkan ketika musim penghujan tiba maka air terjun ini akan sangat keren. Dan jika area sekitar air terjun ini dikelola dengan baik, maka kedepan wilayah ini akan sangat ramai dikunjungi wisatawan. Nah, jika berkaitan dengan potrat-potret, waktu terbaik dan sangat direkomendasikan adalah pada pukul  16.00-17.00 WIB yaitu pada momen "golden hours"

BACA JUGA: Pemula Way Kanan dan Gagasan Cemerlang Pendidikan Lingkungan

DIMANA ADA BUNGA, JEPRET SAJA...
Sederhana sekali sebenarnya ide ini, karena terdapat banyak sekali rumpun bunga di pekarangan dan pinggir jalan se-antero Way Kanan. Pokoknya kalau ada bunga, dipastikan itu photo instagramable bingits. Jadi, jepret aja. Karena sangat lumayan menghibur hati yang pilu, seperti karena susah move on atau sedang bokek hehehe

Kampung Banjar Sari, kec. Baradatu (Photo oleh: Rinto Macho)

Kampung Gedung Batin, kec. Blambangan Umpu (Photo oleh: Rinto Macho)

Sebenarnya, ada banyak spot photo instagramable se-antero Way Kanan. Hanya saja, karena aku belum berkeliling ke seluruh pelosok Way Kanan jadi koleksi photoku baru sedikit. Dalam konteks lokasi dan momen sebenarnya sih tergantung pada kepandaian photografer dalam membidik objek photo. Karena photografi bukan sekedar 'mendokumentasikan' sesuatu atau peristiwa. Melainkan bagaimana sudut pandang atas 'sesuatu' atau 'peristiwa' yang menjadi objek photo. Apalagi kalau photografernya cerdas dan kreatif turut membekali dirinya dengan kamera yang canggih dan pengetahuan mumpuni mengenai sudut/angle pengambilan photo. 

Jadi, memiliki photo yang keren dan instagramable bukanlah misteri Ilahi. Hanya diperlukan kerjasama dan koordinasi yang baik antara otak kanan dan otak kiri dalam memerintah mata untuk menangkap momen dan keindahan yang tepat pada saat yang tepat...

Way Kanan, 23 Mei 2017

Wijatnika Ika

6 comments:

  1. wah rumah tua itu eksotis ya, pasti dari kayu ulin ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Tira. Mari berkunjung ke rumah tua di kampung wisata lestari Gedung Batin, Way Kanan, Lampung

      Delete
  2. Halaman depan rumah bang Rinto Macho gak masuk dalam daftar? Itu salah satu spot foto yang keceh dan instagramable looh.. Trus stasiun Blambangan Umpu juga :D

    Duh jadi pengen balik ke Way Kanan euy..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Dian. Ah, soal spot photo jangan dishare semua. Beberapa adalah spot rahasia hehe...

      Delete
  3. Gaya alay nya itu lho bikin ketawa

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram