Monster yang Kalian Sebut AYAH (2)


Aku ingin waktu berhenti saat ini juga agar sedih dan lelahkku tidak berkepanjangan, tidak menerkamku dan menghabisi kehidupanku. Aku merebahkan tubuh lelaku di ranjang yang dingin, merindukan Sola dan Luna. Aku ingin sekali menikmati sepasang mata bening kedua puteriku dan senyum manis mereka. Juga celoteh riang saat putri sulungku bercerita ini-itu seperti tentang mainannya yang rusak dan tokoh film kartun kesayangannya. Atau upaya keras putri bungsuku untuk bicara padaku melalui sepasang matanya yang bening tanpa dosa. Oh, aku rindu sekali kedua puteriku. Aku tak mampu menahan rindu ini sampai-sampai dadaku sesak dan membatu. Aku ingin memeluk mereka...

***
Mawar yang Kau Bawa
Tahun 2000 aku terdampar di sebuah kampus ternama di Jawa Barat. Aku memilih kampus ini bukan semata-mata karena aku ingin kuliah disini sebagaimana banyak lulusan SMA menginginkannya sebagai salah satu kampus favorit. Waktu itu, aku hanya seorang anak muda yang sedang patah hati. Gadis yang kucintai meninggalkanku dan memilih laki-laki lain sebagai tambatan hatinya. Padahal sebelumnya kukira bahwa romansa kami yang mirip kisah Rangga dan Cinta dalam film "Ada Apa Dengan Cinta" melalui puisi-puisi Chairil Anwar akan berlangsung lama dan berlabuh dalam pernikahan indah. Hubungan kami kritis dan saat aku melangkahkan kakiku untuk pergi, Cinta-ku tidak mencegahku pergi apalagi mengejar dan menciumku seperti yang dilakukan Cinta pada Rangga. Gadis itu benar-benar membiarkanku pergi. Jadi, cintanya padaku hanya sebatas itu? 

Terdampar sendirian di kampung orang dalam keadaan patah hati merupakan hal yang sangat menyiksa. Sendiri dan hancur. Belum lagi aku harus beradaptasi dengan ritme hidup yang berbeda dan jauh dari orangtua. Hidupku hanya berjalan sebagai rutinitas tanpa mimpi. Rasanya benar-benar kosong dan hampa. Karenanya aku lebih banyak menghabiskan waktu dibawah langit malam. Daripada membusuk di kamar kosan yang sempit, aku menyeret diriku untuk mengarungi malam, berusaha berbicara pada semesta dan pada Tuhan. Di pengujung malam biasanya aku mengunjungi sebuah bukit di mana diatasnya berdiri sebuah Masjid yang megah. Bangunan ikonik itu dinamai dengan nama seseorang filsuf Muslim dari Eropa. Kesana aku menuju menjelang fajar. Aku membersihkan diri, bersujud dan berdoa dengan khusyuk. Kepada Tuhan sang pemilik hati, aku memanjatkan sebuah doa khusus agar diberikan pengganti yang lebih baik, agar kesepian ini berakhir, agar kesedihan ini lenyap dan agar mampu mencintai kembali. 

Tiara. Seorang gadis cuek dan sederhana dengan kecerdasan luar biasa hadir dalam hidupku. Kami satu kelas dan satu angkatan. Tapi aku tak terlalu peduli padanya karena menurutku dia gadis yang sangat biasa. Aku hanya mengenalnya sebagai gadis cerdas yang diterima di dua jurusan berbeda di kampus yang sama sehingga ia sangat kesulitan mengatur jadwal kuliahnya. Akibatnya dia sering sekali terlambat masuk kelas. Bukan hanya 1 mata kuliah, tapi banyak sekali mata kuliah. Seringkali dengan santainya dia nyelonong masuk kelas saat dosen sedang sibuk menulis sesuai di papan tulis. Aku dan seisi kelas biasanya sibuk menahan tawa. Terkadang, aku tak bisa menahan diri untuk tersenyum kecil sembari menggelengkan kepala. Betapa nekat gadis itu. 

"Tiara itu anak Sumatera. Ayahnya kerja di perusahaan migas besar dan ternama. Levelnya multinasional. Keluarganya tinggal di perumahan eksklusif yang disediakan perusahaan itu untuk pekerja-pekerja terbaiknya. Dia kuliah dengan beasiswa dari perusahaan itu. Beruntung banget ya dia, bisa belajar dengan tekun tanpa perlu repot-repot memikirkan biaya kuliah," ujar temanku tentang Tiara. Saat itu hanya mengangguk-ngangguk saja. 

Aku dan Tiara mulai dekat di tahun kedua ketika dia menawarkan jasa pengiriman bunga mawar dalam program orientasi mahasiswa baru di fakultas lain yang baru saja dia masuki. Saat itu aku menyukai kakak tingkatku, jadi aku meminta Tiara mengirimkan bunga mawar untuknya. Dengan sikap professional, Tiara mengirimkan bunga itu sekaligus menyampaikan salamku pada perempuan pujaanku, sebut saja Diana. 
"Gimana respon Diana?" tanyaku pada Tiara. Aku deg-degan karena penasaran
"Ya, dia senyum-senyum gitu," ujar Tiara. 
"Terus?" aku tambah penasaran
"Terus katanya salam balik," jawab Tiara. Dan hatiku berbunga-bunga. Rasanya hari itu kedua mataku melihat langit memuntahkan hujan mawar warna-warni sebagai restu atas cintaku yang baru. Sebagai kurir bunga, Tiara hanya tersenyum tipis. 

Setelah hari itu aku dan Tiara semakin dekat. Rasanya setiap hari ada sepasang mata yang memperhatikanku. Di ruang kelas, di kantin, di kosan dan dimana-mana. Bahkan sepertinya sepasang mata itu punya cara untuk memperhatikanku sepanjang 24 jam dari langit bagai CCTV semesta. Rupanya sejak momen bunga mawar itu, Tiara selalu memperhatikanku. Perempuan itu seakan-akan tak ingin ketinggalan momen untuk mengetahui hal-hal kecil dalam keseharianku. Katanya, dia bahkan selalu berusaha duduk berlama-lama di sebuah kedai jus dekat kosanku demi melihat aktivitasku sehari-hari. Kedai jus dan kosanku memang tidak jauh. Karena jaraknya yang dekat,Tiara bahkan dapat melihat ruang kamarku dengan jelas meski dipisahkan areal pesawahan. 

Pertemanan kami rasanya berbeda dan ketertarikan khusus Tiara padaku memberiku keyakinan untuk memulai kehidupan percintaan yang baru dan memiliki masa depan. Rasa yang tumbuh dalam hati kami berdua memang tidak dimulai dari cinta pada pandangan pertama, melainkan kenyamanan sebagai teman. Meski dalam percintaan ini Tiara yang mendekatiku, namun pada akhirnya sebagai seorang laki-laki aku harus mengucapkan kalimat ajaib, "Maukah kamu jadi pacarku?" Dan aku mengatakan itu padanya tepat didepan sebuah fosil T-Rex tiruan di sebuah museum dua lantai di jantung kota Bandung. Hm, karena jadian di bioskop atau taman bunga sudah begitu biasa, maka kenorakan ini kulakukan demi memulai kisah cinta yang beda. Dan kamipun pacaran.
Bersama Tiara aku seperti mendapatkan energi baru. Semakin aku mengenalnya semakin aku merasa menemukan pasangan yang pas dan memahami kondisiku. Sejak saat itu kami tak terpisahkan dan menjadi pasangan fenomenal. Dunia rasanya milik kami berdua. Kami duduk berdampingan di setiap perkuliahan. Kehadiran Tiara disampingku seringkali membuat perkuliahan yang membosankan jadi begitu menyenankan. Bahkan, kami seringkali menjadi semacam 'partner in crime' terutama ketika Tiara 'nitip absen' karena jadwal kuliah yang berbenturan atau kadangkala aku harus mengerjakan makalah untuknya yang materinya kuambil dari makalahku sendiri. Saat ujian, kami bahkan selalu bertukar kunci jawaban agar nilai kami sama-sama tinggi. Kami juga berkompetisi untuk menjadi yang terbaik di setiap mata kuliah. Tiara yang cerdas berhasil membuat nilai-nilaiku melambung tinggi dari kehancuran di tahun pertama. Gadis sederhana itu menjadi semangat baru bagiku. Kehadiran Tiara membuat pengalaman putus cinta dan patah hati bukan lagi perkara yang mesti kuratapi. Aku menemukan bidadariku, tambatan hatiku, masa depanku. Aku sungguh bahagia.
Suasana kampus kami yang asri dan sejuk, dengan dua gunung di kejauhan sebagai pemadangan indah membuat hari-hari kami berdua bagai dalam film India.Selepas kuliah biasanya aku dan Tiara berjalan kami menuju kosan kami. Meski harus menempuh jarak sekitar 1 km dengan jalanan menurun, kami melakukannya dengan senang dan hati berbunga-bunga. Saat berjalan berdua dengan mesra seperti itu seringkali kami beberapa teman memergoki kami. "Bima! Banyak cewek patah hati loh!" teriak Reni, Dina dan Vera yang melongokkan kepalanya dari jendela mobil. Waktu itu mereka mendapati aku dan Tiara sedang berjalan bergandengan tangan sehingga mereka menghentikan laju kendaraan hanya untuk menggodaku. Saat itu aku hanya tersenyum kecil sementara Tiara memonyongkan bibirnya karena merasa tidak nyaman dengan celoteh teman-teman kami. 

Sebagai laki-laki jelas aku menyukai kecantikan dan gadis cantik. Tapi berdasarkan pengalamanku sebelumnya, kecantikan bukan inti dari rasa cinta. Meski aku tengah didekati oleh dua gadis lain ketika Tiara mendekatiku, aku memilih Tiara. Meski berasal dari keluarga kaya, Tiara adalah gadis sederhana dan cerdas. Tiara juga tipe perempuan setia. Kriteria itu cocok denganku yang tidak ingin bermain-main dalam berhubungan dengan perempuan. Aku memang idealis soal asmara. Jika aku merasa cocok dengan seseorang, maka aku ingin menjalani hidupku dengannya selamanya. Bersama Tiara aku bisa melihat masa depanku dan kami dapat menjalani hubungan yang serius. Tiara seakan-akan merupakan jawaban Tuhan atas doa-doa yang kupanjatkan selama setahun di Masjid di bukit itu. 

Nyaris setiap hari kami menghabiskan waktu bersama baik kuliah, mengerjakan tugas, jalan-jalan di pusat keramaian kota atau berdiskusi mengenai satu topik serius di kosanku. Tak jarang diskusi kami mengarah pada topik serius di masa depan seperti soal pernikahan dan anak-anak. Aku dan Tiara sama-sama nyaman membicarakannya. Pembicaraan semacam itu biasanya berlangsung sangat seru dan membuat kami lupa waktu. Bahkan membicarakan hal-hal serius dan tentang masa depan dengan Tiara semakin asyik jika dilakukan dibawah langit malam dengan bintang-bintang sebagai hiasannya. 

Sebagai sepasang kekasih dengan darah muda yang bergejolak, kisah asmara kami juga panas. Seringkali rasa rindu di hati kami sama-sama membuncah begitu hebatnya.Setelah berdiskusi panjang lebar, kami kepalaran. Kami biasa makan malam di satu warung tenda yang menjual indomie dan roti bakar. Setelah menikmati makan malam sederhana, aku mengantarnya pulang ke kosannya melalui sebuah jalan pintas tak jauh dari warung itu. Kami berjalan bergandengan tangan dengan mesranya. Nah, di jalan pintas yang berupa lorong itu aku dan Tiara biasanya melakukan kenakalan kami.
Di lorong gelap itu, saat berjalan bergandengan dengan mesranya, tiba tiba kami saling berpelukan dan berciuman. Kami saling menarik tubuh masing masing. Tanganku memegang pinggangnya sementara tangannya membelai lembut leherku. Waktu terasa berhenti saat itu. Seakan-akan semesta tengah memeluk kami. Itu bukam ciuman pertama kami, tapi di tempat itu terasa berbeda. Kami bisa saling merasakan detak jantung satu sama lain, yang berdetak sama cepat. Ada perasaan tegang, mendebarkan, dan tentu saja hasrat yang sulit dijelaskan. Kami saling mencium lama sekali seperti enggan saling melepaskan.Seringkali kami baru berhenti saat mendengar ada langkah kaki di ujung lorong.
Lorong gelap dan panjang itu jadi saksi bagaimana aku dan Tiara menggenapi kerinduan diantara kami, rindu yang selalu menggebu dan membakar gairah. Sebenarnya warung indomie tersebut hanya alibi agar teman-teman kami tidak mengetahui apa yang sebenarnya ingin kami lakukan. "Makan indomie yuk!" adalah kode antara kami berdua agar kami dapat menikmati kemesraan kami tanpa dicurigai teman-teman kami. Biarlah mereka menganggap bahwa kami berdua tergila-gila pada sebuah warung indomie sederhana. Karena sangat tidak asyik jika mereka mengganggu rencana kami untuk memiliki waktu berdua saja.

Kemesraan kami seringkali berakhir karena suara langkah kaki di ujung lorong dan gandengan tangan terlepas ketika kaki kami sampai di ujung lorong, di mana Tiara akan segera sampai di kosannya. Aku selalu mengantarnya sampai ke gerbang kosan lalu kami saling melambaikan tangan dengan berat. Ah, berat rasanya berpisah saat hasrat dalam diri kami masih bergejolak bagai gelombang di laut lepas. Aku melepasnya dengan melambaikan tangan dan tersenyum nakal untuk momen indah yang hanya kami berdua yang tahu. Dan saat melangkahkan kaki untuk kembali ke kosanku, aku mulai memikirkan untuk melangkah ke tahap yang lebih serius. Aku ingin menikahi Tiara dan menghabiskan sisa hidupku dengannya.      

***
CINTA YANG SERIUS
Cintaku pada Tiara adalah cinta yang serius dan aku ingin membangun masa depan dengannya. Karena itu, aku mulai mempelajari banyak hal tentang keluarga Tiara sebagai persiapan untuk memperkenalkan diriku pada keluarganya. Saat ke kosan Tiara, aku mulai memperhatikan photo-photo anggota keluarganya yang ia pajang dalam bingkai-bingkai di meja belajarnya atau di dinding. Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan siapa mereka karena sibuk dengan kemesraan yang kami lakukan. Melalui photo-photo itu Tiara menjelaskan siapa saja anggota keluarganya. Termasuk kakak lelakinya yang menjadi anak emas di keluarganya karena satu-satunya anak laki-laki dari 6 bersaudara. Pengkhususan itu agak asing bagiku sebagai orang Jawa yang tumbuh di Jakarta. Tiara tumbuh dalam keluarga yang memegang teguh nilai-nilai adat Sumatera dan keIslaman yang kental dan cenderung konvensional. Sementara aku tumbuh dalam lingkungan sosial perkotaan dengan pandangan keIslaman yang moderat. 

Bagi keluarga Tiara, kedudukan anak laki-laki sangat penting. "Di keluarga kami posisi anak laki-laki itu penting dan memang terhormat. Anak laki-laki biasanya memikul tanggungjawab atas adik-adiknya sehingga memang sejak awal diperlakukan istimewa oleh adik-adiknya dan pasangan mereka," ujar Tiara saat aku bertanya tentang hal tersebut. Aku tahu bahwa Tiara tidaklah dekat dengan kakak laki-lakinya dan mereka jarang sekali bertemu padahal mereka tinggal satu kota. Saat itu, kakak lelaki Tiara kuliah di kampus milik sebuah perusahaan telekomunikasi nasional. 

Melalui photo-photo itu aku juga memperhatikan kemiripan fisik antara Tiara dan sudara-saudara perempuannya. Tiara dan keempat saudarinya sama-sama memiliki rahang yang tegas khas orang Sumatera, mata sipit, kulit putih dan rambut ikal cenderung keriting. Tubuh mereka juga sama-sama padat berisi. Satu-satunya hal yang membedakan antara Tiara dan keempat saudarinya adalah aura dirinya yang memancar kuat. Sifat ramah dan cerita terpancar jelas di wajahnya. 

Tiara adalah jenis gadis yang tidak terlalu terbuka membicarakan perihal keluarganya, selain ibunya. Gadis itu bahkan tak banyak bicara tentang sosok ayah yang seringkali sosoknya hanya kupandangi lewat sebuah photo berpigura dengan ukuran lumayan besar.  Belakangan aku tahu bahwa ayahnya adalah sosok dengan otoritas luar biasa besar, semacam sosok yang tidak boleh di debat di mana setiap kata-katanya adalah hukum dalam keluarga. Dan saat itu aku mulai berpikir apakah bisa aku masuk dan diterima dengan baik oleh keluarga Tiara? Apakah jalan yang kulalui menuju sebuah niat baik akan berbatu dan terjal? Aku agak mulai berkecil hati melihat keadaanku yang berasal dari keluarga biasa. Namun, ketika melihat wajah Tiara aku mulai bersemangat kembali. Cintaku padanya tumbuh begitu kuat. Jika aku melepaskan Tiara karena ketakutan yang belum kubuktikan, rasanya akan sulit untuk move on dan mencari pengganti yang sepadan.

Satu waktu saat aku datang ke kosan Tiara, kuperhatikan photo ayah Tiara dengan seksama. Selain kulihat garis rahang yang tegas dan sorot mata tajam yang mungkin diperhalus dengan baik oleh sedikit senyum gugup karena berhadapan dengan kamera, teringat jelas di ingataanku ada satu aura yang terpancar dari foto itu yang membuatku berpikir bahwa hal buruk akan terjadi. Apa itu firasat? Sesuatu yang aku anggap remeh saat ayah ibuku menceritakan hal-hal seperti itu saat mereka di kampung dulu. Bahkan hingga hari ini aku agak sulit untuk menerimanya.

Selama 16 tahun lamanya aku berusaha meyakinkan diriku bahwa firasatku hanya sebuah ketakutan tak berdasar dan segala sesuatunya akan baik-baik saja. Aku tahu, bahwa sesuatu akan terjadi dan aku berusaha sekuat mungkin menghindarinya. Aku hanya tidak ingin mengikuti ketakutanku dan percaya bahwa Allah melindungiku. Mungkin semacam ujian yang biasanya datang kepada mereka yang memiliki niat baik untuk menikah. 
Firasat itu terus menghantuiku meski jalan kepada pernikahan berjalan baik-baik saja sampai kami resmi menikah dan memiliki dua orang putri. Aku berusaha menjadi suami dan ayah yang baik, berusaha hidup mandiri dan bertanggungjawab, dan membina rumah tangga kami jauh dari intervensi kedua keluarga besar. Aku dan Tiara mencoba percaya diri membangun rumah tangga yang kami mimpikan sejak kami masih pacaran selama 10 tahun. Aku berusaha sekuat tenaga menjaga dan melindungi keluarga kecilku dari pengaruh buruk yang bisa datang dari delapan penjuru mata angin. Meski pada akhirnya ketakutan yang terus membayangiku selama itu menjadi kenyataan. Cinta yang kami rajut mengalami ujian dan rumah tangga yang kami bangun dengan cinta harus berakhir di meja hijau. Sedihnya, bukan hanya karena aku dan Tiara menjadi dua hati yang patah. Tapi karena dua gadis kecil kami Sola dan Luna yang turut menanggung akibatnya. Kepada dua malaikat kecil itu, tak ada kata yang sanggup kuucapkan sebagai permintaan maaf seorang ayah. Sebab rasanya tak ada maaf yang pantas kudapatkan olehku dan Tiara sebagai orangtua yang gagal menciptakan rumah dan keluarga yang hangat bagi mereka. Ah, puteriku apa yang harus ayahmu ini lakukan? 

Bersambung...


Way Kanan, 8 Mei 2017
Sumber gambar: 
http://alam.uniknya.com/2011/10/21/5-warna-bunga-mawar-dan-artinya/ 
 

Ditulis oleh: Bima (nama pena)
Disunting oleh: Wijatnika Ika
 

Wijatnika Ika

10 comments:

  1. Replies
    1. Makasih udah mampir Hadi. Wah Hadi sedang patah hati ya? Kalau patah hati obati dengan minum kopi saja...

      Delete
  2. Ceritanya bagus sis. Menunggu kelanjutan hubungan Bima dan Tiara ini, hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir Ms. Uber Fashion. Mohon ditunggu ya kelanjutan ceritanya dan jangan lupa bawa serial pertamanya ya...

      Delete
  3. Dari yang bab pertama saya ngikuti. Mengaduk2 perasaan. Tunggu lanjutannya, mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir Nur. Waduh sampai mampu mengaduk-ngaduk perasaan ya? Tapi jangan sampe nangis berminggu-minggu ya nanti mata bengkak hehe

      Delete
  4. Seru bacanya, nggak terasa udah bersambung hehe ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir Syuna Mom. Mohon ditunggu ya kelanjutan kisahnya...

      Delete
  5. Replies
    1. Makasih sudah mampir mba Yulia. Cerbung based on true story mba...

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram