Katanya, Way Kanan Asyik...

Rest Area Way Kanan (Photo oleh: Rinto Macho)
Aku adalah manusia dengan DNA Jawa.Keluarga ibuku dari wilayah timur Jawa dan keluarga ayahku dari wilayah barat Jawa. Sungguh Jawa yang sempurna, bukan? Meski demikian, aku memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan Lampung karena provinsi yang yang berjuluk Sang Bumi Ruwa Jurai ini adalah tanah tumpah darahku. Tempat aku dilahirkan, tumbuh dan membangun mimpi-mimpiku sebelum aku merantau ke suatu wilayah jantung ekonomi dan pendidikan di Jawa. Karenanya aku selalu melihat Sumatera dan Lampung sebagai masa depan, meski aku belum begitu memiliki rencana sistematis soal keterlibatanku dalam membangun tanah ini. Jadi, ketika Lampung diproklamirkan sebagai "The Treasure of Sumatera" aku langsung tersenyum bangga. Rasanya senang sekali sampai-sampai aku tak mampu menahan air mataku. Aku tahu, Lampung dan Sumatera akan menjadi sesuatu yang besar dan membanggakan di masa depan. 

Dua tahun terakhir, Lampung sedang berbenah diri khususnya di bidang pariwisata. Sebagai provinsi yang memiliki banyak sekali potensi wisata alam dan budaya, Lampung memang harus mengejar ketertinggalan dari provinsi lain yang menjadi primadona di dunia senang-senang ini. Tapi ya, jangan lah kalau membandingkan dengan pulau Jawa yang memang sudah tenar dan memiliki modal sosial yang khas. Akan lebih baik jika Lampung berbenah diri untuk berkompetisi dengan wilayah lain di luar pula Jawa yang secara geografis maupun sosiologis memiliki tantangan sama keras dalam mengembangkan potensi wisata. 

Salah satu wilayah di Lampung yang tengah gencar mempromosikan potensi pariwisatanya adalah kabupaten Way Kanan. Wilayah yang secara dministratif baru berusia 18 tahun ini memiliki keunikan tersendiri karena dialiri lima sungai besar di Lampung yaitu Way Besay, Way Umpu, Way Tahmi, Way Giham dan Way Pisang. 'Way' adalah bahasa Lampung untuk sungai. Way Besay (kadang ditulis Way Besai) berhulu di Kabupaten Lampung Barat sehingga kondisi alam dan curah hujan di kabupaten itu sangat memberi pengaruh besar pada wilayah hilir di Way Kanan. Di masa lampau, Way Besay menjadi legenda karena merupakan jalur transportasi antar wilayah hunian tepi sungai dan jalur perdagangan hasil bumi seperti lada, kopi, karet dan sebagainya. Bukti yang menguatkan kehidupan masa lampau misalnya keberadaan kampung tua di Gedung Batin dan stasiun kereta api di Blambangan Umpu. Aku optimis bahwa di masa depan Way Besay akan kembali menjadi legenda karena berfungsi sebagai lokasi primadona wisata petualangan air.

Dalam upaya mengembangkan dan mempromosikan potensi wisata daerahnya, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Way Kanan memiliki tagline yang keren dan berbeda: Way Kanan Asyik! Hal ini dimaksudkan agar siapapun yang berkesempatan berwisata ke Way Kanan dapat menikmati segala potensi wisata dengan nyaman, aman dan gembira.
"Melalui kegiatan wisata, kita ingin mepromosikan Way Kanan ini sebagai kabupaten yang asyik. Kita punya wisata petualangan yang asyik, bamboo rafting dan river tubing Way Besay. Waktu pembukaan tempo hari (red: 22 April) Bapak Bupati dan Kapolres saja ikut bamboo rafting. Kedepan kita juga akan menghadirkan wisata fishing extreem Way Besay. Way Kanan juga punya potensi wisata air terjun seperti air terjun putri Malu, Gangsa dan Kinciran yang nggak kalah keren dengan air terjun di kabupaten lain. Kedepan akan ada juga fun bike. Kita sedang membuat persiapannya sekarang bersama komunitas wisata Way Kanan," ujar Pak Y, seorang PNS di Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Way Kanan dengan optimis.
Dan memang aku merasakan sendiri keasyikan saat mengunjungi beberapa objek wisata di kabupaten yang memiliki julukan "Bumi Ramik Ragom (Bhineka Tunggal Ika)" ini. Rasanya, aku akan ketagihan untuk mengulang satu petualangan air yaitu bamboo rafting Way Besay yang sangat nyaman, aman dan asyik itu sampai-sampai aku lupa bahwa aku nggak bisa berenang hahaha. 

KENANGAN DARI MASA LAMPAU
Aku juga tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai sejarah kampung tua Gedung Batin yang menurutku menyimpan misteri dahsyat dari masa lampau. Selain beberapa rumah panggung berusia sangat tua yang begitu menarik perhatian dalam konteks budaya, arsitektur dan ekologi di masa lampau. Aku juga tertarik pada remah-remah sejarah yang pesannya tersimpan kuat dalam beberapa pecahan keramik yang kutemukan saat aku berkunjung ke kampung itu. Seketika itu juga bertanyaan berhamburan di kepalaku, seperti:  bagaimana sih sesungguhnya kehidupan masa lampau kampung ini? Bangsa mana saja yang pernah singgah di kampung ini? Kerjasama perdagangan dan budaya dalam bentuk apa saja kah yang pernah berlangsung di kampung ini? 

Aku dan teman-teman bersama Bapak Bupati Way Kanan didepan rumah tua berusia 276 tahun (photo oleh: Rinto Macho)
Pecahan-pecahan keramik tua yang kutemukan di kampung Wisata Lestari Gedung Batin (Photo oleh: Rinto Macho)
Bahkan, di kampung ini ada sebuah makam sangat tua dari tahun 1305 dengan bentuk nisan yang unik. Di pernukaan nisan tersebut tertulis nama "Siti Fatimah" dalam bahasa Arab. Sungguh bentuk makam yang tidak biasa yang membuat aku dan teman-temanku merasa takjub sekaligus penasaran ingin mengetahui siapa seungguhnya perempuan yang dimakamkan disini. Juga pertanyaan tentang berapa benyak makam yang sudah tertimbun tanah dan dimamah akar pepohonan sehingga kami tak lagi mengenalinya? Bagiku, keberadaan makam tersebut menjadi satu faktor penarik agar aku berkunjung lagi ke kampung tersebut dan mungkin kembali belajar sejarah Lampung. 

Makam "Siti Fatimah" (1305) di kampung wisata lestari Gedung Batin (Photo oleh: Rinto Macho)
Hal asyik lain yang tak boleh dilewatkan di Way Kanan adalah wisata petualangan air di Way Besay. Ada bamboo rafting dan river tubing yang baru saja diresmikan dan mendapat sambutan hangat dari banyak pihat termasuk warga sekitar. Kegiatan wisata alam ini selain untuk memanfaatkan potensi alam pemberian Tuhan berupa Way Besay, juga untuk membangkitkan kesadaran warga bahwa kampung halaman mereka begitu berharga dan membanggakan. Bahwa kampung yang selama ini dipandang biasa-biasa aja ternyata bisa menjadi kampung yang asyik, yang mampu mendatangkan wisatawan dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Tentu saja hal tersebut akan sangat menguntungkan warga Way Kanan yang selama ini bergantung pada potensi perkebunan karet.

PETUALANGAN AIR DI WAY BESAY
Way Besay merupakan sungai yang 'ramah' dan 'aman' karena tidak begitu dalam. Aku jadi ingat sebuah peribahasa, "air beriak tanda tak dalam," dan memang Way Besay tidaklah dalam. Saat aku dan teman-temanku menyusuri sungai ini dengan speed boat karena kami tidak kebagian rakit bambu barulah aku tahu bahwa sungai ini memang tidak dalam. Ceritanya, kami parno karena perahu kami kemasukan air sehingga 'guide' kami harus menceburkan diri ke sungai agar dapat menarik perahu yang mesinnya tersangkut bebatuan. Nah! ternyata airnya tidak sampai dada orang dewasa padahal sungai ini baru mendapat kiriman dari Lampung Barat yang bebeapa hari sebelumnya diguyur hujan. Di beberapa bagian malah tinggi airnya hanya selutut! Jika pada musim pasang saja airnya hanya setinggi dada atau lutut, maka menjadi lebih dangkal lagi saat musim kemarau yaitu pada Agustus-Oktober. Wah, petualangan air di Way Besay akan benar-benar asyik!

Sepanjang perjalanan menyusuri Way Besay, kami disuguhi pemandangan tepian sungai yang sangat asri. Benar-benar hijau dan alami. Tidak pernah kutemukan wilayah-wilayah yang rusak oleh kegiatan perladangan atau penambangan. Rasanya, bagai memasuki sebuah kehidupan di masa lampau yang belum banyak dipengaruhi kegiatan manusia. Atau jangan-jangan kami memang sedang memasuki lorong waktu?

Aku dan teman-temanku saat menyusuri Way Besay (Photo oleh: Katerina)
Simak juga perjalanan kami menyusuri Way Besay di: Bamboo Rafting Way Kanan

BUMI RAMIK RAGOM
Hal lain yang membuat Way Kanan asyik adalah kondisi sosial masyarakatnya. Way Kanan adalah kabupaten yang mendapat julukan sebagai "Bumi Ramik Ragom" karena wilayah ini memang ditempati oleh warga dari beragam suku, budaya dan agama. Orang Lampung, Jawa, Sunda, Bali, Minang, Batak, Ogan Rebang dan sebagainya hidup berdampingan dengan damai. Bahkan orang Bali yang merupakan pengungsi letusan Gunung Agung tahun 1963 dapat mendirikan kampungnya yang khas di Way Kanan. Pengungsi yang awalnya hanya puluhan KK saja kini sudah beranak pinak hingga ribuan orang dan menempati 3 kampung bernama Bali Sadhar Utara, Bali Sadhar Tengah dan Bali Sadhar Selatan. Kampung ini benar-benar mirip dengan suasana di Bali yang dipenuhi pura sebagai tempat ibadah orang Hindu dengan suasana serupa pedesaan di Bali. Mereka hidup dengan aman dan damai tanpa mendapat gangguan dari warga lain dengan identitas berbeda.

Aku dan Pak I Ketut Puput, salah seorang pendiri Pura Tangkas Kori Agung di Kampung Bali Sadhar Utara, Way Kanan (Photo oleh: Rinto Macho)
Eksistensi kampung ini merupakan bukti bahwa sejak puluhan tahun silam warga Way Kanan hidup berdampingan dengan damai dan rukun. Kehidupan sehari-hari disini terasa begitu tenang, tanpa riak-riak apalagi gejolak yang dipicu sinisme kesukuan dan agama. Di Way Kanan, orang-orang lebih sibuk bekerja dan memikirkan bagaimana wilayah mereka menjadi destinasi wisata primadona di Lampung. Wajar jika kemudian siapa pun mengatakan bahwa Way Kanan asyik dan pengunjung dapat jatuh cinta pada pandangan pertama.

Poh midorgh haguk Way Kanan
Mari berkunjung ke Way Kanan

Way Kanan, 9 Mei 2017

Wijatnika Ika

6 comments:

  1. yang saya suka dari way kanan ini adalah konsistensi pemerintah daerahnya buat bangun dan promosi wisata.. dan memang way kanan itu asyikkk ya... duh kapan ya ekplore ke sana lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir Ira. Iya, semoaga kedepan pemerintahnya makin rajin ya mempromosikan wisata Way Kanan bersama warga...

      Delete
  2. keren mbak , lihat rumah tua itu, aku suak dg kearifan lokal dan sejarah, jadi mau ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir mba Tira, aku aku tunggu kedatanganmu...

      Delete
  3. Way Kanan bukan cuma asyik, tapi juga ngangenin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mampir mba Dian. Cie cie nampaknya maikin kepincut nih sama Way Kanan. Kesini atuh kalau masih kangen mah...

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram