Memuja Ibu: Tentang Emakku Bukan Kartini

Peluncuran buku Emakku Bukan Kartini di Gramedia Matraman

Siang hari yang garang pada Sabtu, 11 Maret lalu aku menghadiri acara kopi darat dan peluncuran buku berjudul "Emakku Bukan Kartini" karya Hasanuddin Abdurakhman. Kang Hasan, biasa ia disapa adalah seorang Doktor bidang Fisika lulusan Tohoku University, Jepang yang kini bekerja di PT. Toray Indonesia, sebuah perusahaan teknologi terkemuka asal negeri sakura. Selain bekerja sebagai General Manager, ia juga merupakan 'influencer' di media sosial khususnya Facebook dan Blog. Tulisan-tulisannya tidak hanya dibaca dan dibagi ribuan orang, tapi juga menciptakan ruang bagi orang-orang untuk melakukan diskusi hangat dan membangun. Banyak yang mengaku pikirannya jadi terbuka dan terinspirasi untuk melakukan perubahan demi kehidupan yang lebih baik. Meski tak sedikit yang merasa terganggu hingga mencaci. Topik dan gaya tulisannya anti mainstream,  cenderung blak-blakan dan sangat kritis. Banyak politisi yang ia kritisi, termasuk teman masa kuliahnya sendiri. Oh ya, kang Hasan juga sangat pandai memasak. Laki-laki yang cerdas, berpendidikan tinggi lulusan kampus menterang dalam dan luar negeri, punya posisi bagus di perusahaan, berpenghasilan lebih dari cukup, memiliki jaringan dan pergaulan yang luas, tapi pandai masak dan suka memasak untuk keluarganya itu sungguh macho!

Saat aku tiba di Gramedia, ruangan tempat diselenggarakannya acara telah penuh sesak oleh teman dan pengikut kang Hasan di Facebook. Ada yang sedang asyik membaca buku "Emakku Bukan Kartini", ada beberapa orang ibu yang sedang menyusui bayinya, ada sekelompok orang sedang membicarakan isi buku, ada yang sedang sibuk membeli buku, ada yang selfie dengan buku dan mengunggahnya ke media sosial, dan semacamnya. Bahkan banyak peserta yang harus berdiri atau duduk lesehan karena tak kebagian kursi. Setiap orang sedang tidak sabar menunggu kang Hasan. Kupikir, jika kegiatan ini dilakukan di tempat yang lebih terbuka, maka pengunjung Gramedia akan merapat ke acara ini alih-alih berkeliling mencari buku.

Tak lama kemudian acara dimulai dengan suguhan sebuah tarian yang dibawakan lima orang gadis kecil dengan pakaian mereka yang unik dan cantik. Lalu dilanjutkan dengan lantunan lagu "Ibu" Iwan Fals yang dibawakan oleh Sarah dan tiga orang temannya. Sarah adalah putri pertama kang Hasan yang sangat sering ia ceritakan di Facebook. Sampai disini kukira seluruh pengunjung terkesima dan kepalanya mengingat ibu mereka masing-masing. Kepalaku juga dipenuhi ibuku, meski samar. Tidak semua orang memiliki ibu dengan sejarah hebat hingga bisa diceritakan dalam sebuah memoar. Bagi orang sepertiku misalnya, kata-kata menjadi beku saat harus berkisah tentang ibu. 

Bersama teman dari Lampung, mba Kartika
Bukan Kartini, Bukan Emak Biasa
Di dunia ini hanya ada seorang saja Kartini, yang berani menggugat dengan menulis soal pendidikan dan kesetaraan. Sebagai putri keluarga bangsawan Kartini jelas punya kesempatan belajar dan bertemu orang asing lebih banyak dari perempuan dari keluarga biasa dan miskin. Meski bukunya "Habis Gelap Terbitah Terang" banyak menginspirasi kaum perempuan dan laki-laki untuk memperjuangkan pendidikan yang setara, tapi masih banyak kok perempuan yang lebur dalam 'kodrat' yang diciptakan dunia laki-laki dan tunduk dibawah pengaruh laki-laki. Padahal kodrat perempuan hanya 3 hal saja: mengandung, melahirkan dan menyusui. Sisanya, hidup perempuan sama saja dengan laki-laki: harus makan-minum, harus sehat, harus terdidik, harus berteman, harus bekerja, harus berlibur, harus berpolitik, harus berkarya dan mati menjadi tanah. 

Jika seorang perempuan yang lahir dari keluarga miskin dan buta huruf di suatu kampung nun jauh disana mampu mendidik anak-anaknya dengan cara para perempuan terpelajar mendidik anak mereka, pastilah perempuan itu luar biasa. Perempuan yang bukan Kartini ini berasal dari Olak-Alik Kubu, sebuah kampung di tepi aliran sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Perempuan yang tidak sekolah dan buta huruf ini menikah dengan lelaki muda dari Kampung Padang Tikar, pesisir selatan Kalimantan Barat. Setelah menikah dan memiliki beberapa orang anak keduanya pindah untuk memulai hidup baru ke Kampung Teluk Nibung untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka pindah karena sang perempuan tak betah hidup tanpa ladang dan kebun, tak suka hidup tergantung dari upah. Rupanya, ia sedang membaca masa depan, a big picture of her children's future. Ia ingin membangun kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya, terutama anak-anaknya.
"Kalau mau tercapai mimpi, sekolah sampai tinggi, tak boleh menjadi pemalas. Sekolah dengan kerja itu sama seiring. Tak mungkin ada orang pemalas kerja yang jadi perajin di sekolah. Pintar-pintar di sekolah pun tak ada makna kalau dia pemalas. Jadi, kerja keras itu ada dua makna. Pertama, untuk memastikan kita punya cukup uang untuk biaya sekolah kalian. Kedua, untuk memastikan kalian tak jadi sampah setelah lulus kuliah." (hal 44)
Sebagai perempuan ia melakukan peran segala rupa. Selain mengurus suami, rumah dan anak-anak, ia juga mengurus pekerjaan di ladang bahkan sejak proses menebas lahan agar dapat dijadikan kebun hingga mengolah hasil panen. Tak cukup sampai disitu, karena kebutuhan akan uang terus meningkat demi menyekolahkan anak-anaknya, ia pun memiliki pekerjaan lain seperti berdagang aneka kebutuhan, menjadi perias pengantin hingga memandikan jenzah. Perempuan itu melakukan banyak hal seakan-akan tenanganya tak pernah habis. Ia bahkan sempat membuat sebuah kebun kecil dekat rumah yang ditanaminya sayur-mayur sebagai bahan pangan sehari-hari keluarganya. Ia seperti perempuan dengan seribu tangan sehingga bisa melakukan apa saja.

Perempuan yang tenaganya seperti tak pernah habis ini bukan tak pernah tumbang. Ia hanya manusia biasa yang tubuhnya bisa dimamah usia. Ini diceritakan kang Hasan dengan sangat sedih ketika sang Ibu sakit keras dan harus menjalani perawatan berbulan-bulan di sebuah Rumah Sakit di Pontianak. Perempuan batu karang itu tumbang dan menjadi pesakitan, lemas tubuhnya dan tak bisa melakukan apa-apa. Ia berbaring tanpa daya.
"...tapi Emak tak segera pulang. Kata Bang Long Emak masih perlu beristirahat  dulu di rumah beberapa hari sebelum pulang ke kampong. Tapi seminggu kemudian Emak tak juga pulang. Rupanya ia jatuh sakit lagi, dan harus masuk rumah sakit pula. Sebulan lebih Emak harus dirawat..." (hal.191)
Dan saat sang Ibu sakit inilah kang Hasan kecil belajar melakukan banyak hal sendiri seperti memanen dan menggiling kopi, memasak untuk memberi makan perutnya sendiri, mengurus rumah hingga mempersiapkan ujian kelulusan SD. Meski ia merasa begitu kesepian, tapi ia berusaha menjalankan amanat untuk mengurus biji kopi dengan baik agar bisa dijual dan menghasilkan uang. Sang Ibu memang giat mencari uang. Bukan karena ia perempuan mata duitan, tapi karena ia butuh lebih banyak uang untuk biaya sekolah anak-anaknya. Saat sakit pun yang dipikirkannya kebun dan sekolah anak-anaknya. luar biasa, bukan?

Ibu dan Ruang Mimpi
Bagian ini membuatku ingat sebuah folk song berjudul "Donna-Donna" yang ditulis dan dinyanyikan pada masa pembantaian Yahudi di Jerman oleh Nazi. "...stop complaining said the farmer / who told you a cow to be / Why don't you have wings to fly with / like a swallow so proud and free..." Sang ibu menciptakan ruang mimpi bagi anak-anaknya agar terbebas dari kebodohan dan kemiskinan. Sekaligus membebaskan dirinya dari keadaan miskin pikiran dan menjadi perempuan dengan 'pergerakan' paling berbeda di kampungnya.

Cerita kang Hasan tentang sang Ibu memberiku gambaran bahwa sosok ibu merupakan 'orbit' kehidupan di keluarga kecil mereka. Ibu selalu memiliki ide cemerlang dan menjemput segala peluang dengan mengerahkan seluruh pikiran, waktu dan tenaga. Salah satu pergerakan yang paling kuingat dari cerita ini adalah ketika sang Ibu mulai berdagang dan membawa mode baru ke kampungnya yang dibawanya dari Pontianak mulai dari seragam Pramuka, jas, peci haji, baju pengantin dan sebagainya. Sebuah cerita tentang mereka yang gagal setelah sekolah misalnya memberikan perbedaan antara sang Ibu dengan perempuan lain di kampung.
"Apa yang membedakan semua ini? Pola Pikir! waktu mengirim kami ke sekolah, Emak tak pernah mengajarkan bahwa sekolah akan mengubah segalanya. "Bukan sekolah yang akan mengubah kau, tapi tanganmu!" itu pesan Emak selalu. Artinya, sekolah hanya tempat belajar. Tapi hanya orang yang memang siap belajar yang akan dapat belajar..." (hal.249)
Mimpi, adalah sebuah ruangan maha luas yang memiliki pintu dan kunci-kuncinya sendiri. Dengan mengirim anak-anaknya sekolah, sang ibu telah membuka pintu-pintu mimpi dan memberikan kunci kepada masing-masing anak.
"Pelajaran penting dari Emak, sekolah itu penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah menyiapkan atau membangun pola pikir. Pola pikir itu akan menentukan tingkah laku. Ia akan menentukan gagal atau sukses hidupmu.." (hal.250) 
Photo bersama Kang Hasang dong
Memilih Suami, Memilih Masa Depan
Perempuan ini tahu cara menghadapi masalah mendasarnya tentang pendidikan. Meski ayahnya melarangnya membaca dan menulis, ia menikah dengan lelaki dengan kemampuan diatas dirinya. Dari lelaki yang menjadi suaminya itu lah perempuan ini belajar membaca dan menulis, juga berbagi mimpi tentang sekolah bagi anak-anaknya dan anak-anak lain di kampung. Istimewanya, lelaki itu adalah imam di kampung dan punya kedudukan sosial cukup terpandang. 

Bagi sang Ibu, suaminya adalah "support system" dalam menggenapi mimpi-mimpinya membebaskan keluarganya dari kebodohan dan kemiskinan. Hal ini tergambar ketika sang Ibu resah karena anak-anaknya harus masuk SD sementara tak mungkin terus menitipkan anak pada kerabat. Keresahan itu berbuah upaya membangun sekolah di kampung yang dilakukan dengan cara bergotong royong. Alhasil, anak-anaknya dan anak-anak kampung pun bisa sekolah. Dukungan sang suami juga terlihat ketika sang Ibu sudah merasa bosan menitipkan anak-anaknya di rumah orang di Pontianak sehingga membuat sepasang suami istri itu bekerja lebih keras agar dapat membangun rumah kecil di kota. Tujuannya hanya satu: agar anak-anaknya yang kelak sekolah di kota dapat tinggal di rumah sendiri, tidak lagi menumpang di rumah kerabat. Dan mimpi ini tercapai dengan baik. Jadi, pelajaran terbaik dari 'Emak' dalam berumah tangga adalah bahwa memilih suami yang dapat mendukung mimpi-mimpi itu sangat penting.  

Melepas Emak
Bagian yang cukup menyayat hati misalnya ketika kang Hasan sudah kuliah di UGM, lalu bekerja di sebuah kilang minyak di Sumatera, lalu mendapat bekerja sebagai Dosen, lalu sekoah lagi ke Jepang. Tergambar jelas bagaimana rasa 'kehilangan' seorang ibu saat melepaskan anak-anaknya dari sisinya agar mereka mengepakkan sayap untuk menggapai mimpi. Sangat terasa sedih dan ngilu ketika berkali-kali sang Ibu meminta agar Kang Hasan tidak perlu melanjutkan sekolah apalagi sampai ke negeri jauh. Tapi rupanya, perempuan yang telah renta itu menyadari bahwa karena ulahnya di masa muda lah yang membuat anak-anaknya harus terbnag jauh meninggalkan dirinya untuk sekolah tinggi dan lebih tinggi lagi. Sampai kemudian perempuan ini menyerah, merasakan masa tuanya hanya dengan kenangan dengan anak-anak di masa kecilnya. 

Ada percakapann-percakapan yang menyayat hati ketika sang Ibu harus melepaskan mimpinya melewati hari tuanya dengan anak-anaknya di sisinya. "Jangan kau pergi sekolah lagi, Nak. Kau sudah sekolah tinggi sampai jadi sarjana. Sudah cukuplah." Begitu pinta perempuan itu saat Kang Hasan sibuk mengurus pendaftaran beasiswa untuk sekolah S2. Dalam suasana lain diceritakan bahwa sang Ibu heran mengapa anaknya tak cukup sekolah sampai S-1, sehingga harus ambil S-2 dan bahkan S-3. "Lama benar kau sekolah? Bila tamatnya?" dan Kang Hasan menulis bahwa ia hanya menjawab pertanyaan itu dengan pelukan hangat untuk sang Ibu. Saat itu Kang Hasan akan melanjutkan studi S-3. Dan dua orang kakaknya yang lain juga terbang ke Amerika dan Semarang untuk sama-sama sekolah. Sekolah sampai tinggi seperti pucuk tertinggi pohon kelapa. 
"Tak apa. Emak memang merasa sepi. Tapi Emak juga bangga, punya anak-anak pintar yang sanggup sekolah sampai tinggi," (hal. 293) kata sang Ibu menghibur dirinya sendiri.  Mungkin, dulu, ketika ia mengirim anak-anaknya untuk sekolah, tak terpikir bahwa sekolah itu bisa begitu lama dan begitu jauh.
Dan pada suatu hari, ketika perjuangan itu belum selesai dan kehidupan baru yang lain sedang mulai mekar, Emak pergi selama-lamanya. Perempuan itu memang belum sempat melihat bagaimana anak-anaknya tumbuh menjadi bunga-bunga mekar bagi kehidupan yang lebih luas. Karena memang ia tak lagi melihat di alam fana yang sepi sendiri. Mungkin setelah itu ia tersenyum menyaksikan anak-anaknya tumbuh sebagaimana mimpinya di masa muda: terbebas dari kebodohan dan kemiskinan. Mungkin ia juga tersenyum saat Hasan si Haji Kecil sudah menjadi Haji sesungguhnya dan bahkan mampu berkisah pada dunia tentang bagaimana putra bungsunya begitu memujanya.

Penutup
Ada orang yang dipuja karena penampilan fisiknya yang teramat cantik atau tampan sehingga membuat klepek-klepek dan hati jumpalitan. Ada orang yang dipuja karena pemikiran dan karyanya yang cemerlang sehingga berguna bagi kehidupan. Ada orang yang dipuja karena sikap dan karakternya yang sehalus bayi tanpa dosa. Apapun keadaan kita, dipuja atau tidak oleh orang lain, tetaplah jadilah pribadi yang baik karena setiap orang bertugas untuk sampai pada jalan yang telah Tuhan siapkan sejak lahir ke dunia.
"Tuhan sudah membentangkan jalan untuk setiap manusia dalam menggapai mimpinya. Dalam perjalanan itu kita bertemu banyak orang yang membantu kita sampai kepada mimpi kita. Jadi, jangan rendahkan diri sendiri karena ketidakmampuan dan kekurangan yang kita miliki. Optimalkan potensi dan bukalah ruang-ruang mimpi. Apapun yang ada di hadapan kita harus dikerjakan, maka kerjakan," begitulah kira-kira nasehat pamungkas kang Hasan pada kami semua. Kami bertepuk tangan dengan meriah dan aku bersyukur bahwa hari ini ada untukku, jenis kesempatan belajar yang sangat langka.  
Hari itu aku menahan tangisku. Oke, baiklah. Aku memang tidak dalam pengasuhan ibuku sepenuhnya, tapi aku mengakui bahwa ibuku mewariskan hal-hal baik kepadaku. Pada dasarnya, ibuku adalah perempuan pekerja keras dan cerdas. Hanya karena ia hanya lulus SD dan tak mampu membaca peluang dengan benar, ia tak mampu sukses sebagaimana perempuan lain. Ia bercerai pula. Mungkin, segala warisan kecerdasan, sifat pantang menyerah dan mental baja, semangat yang kuat dan lain-lain yang ia wariskan kepadaku akan memberinya kebanggaan. Setidaknya, putrinya bisa mengurus dirinya sendiri dan tidak menjadi sumber masalah dalam kehidupan dunia ini. 

Selanjutnya, buku ini akan kuhadiahkan kepada adikku semata wayang. Aku ingin adikku yang sudah menjadi seorang ibu muda dapat belajar dari kisah ini bagaimana cara seorang perempuan menjalankan perannya sebagai ibu yang tangguh seperti batu karang, yang kasih sayangnya lembut bagai cahaya rembulan dan yang mimpinya begitu visioner. Aku ingin kelak adikku yang pernah meninggalkan mimpinya di tengah jalan dapat membuka ruang-ruang mimpi bagi keluarga kecilnya dan menjadi ibu yang keren.  

Depok, 16 April 2017

Wijatnika Ika

7 comments:

  1. Suka bgt reportasemu mbak. Beda benar dengan reportase blogger2 lain. Isinya tentang buku & penulisnya secara utuh, inti acaranya tersebut, bukan cemilannya :)). Btw, blog kang Hasan apa ya? Penasaran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Lusi, makasih udah mampir. Dan terima kasih atas apresiasnya. Saya hanya mencoba menulis dengan cara berbeda saja hehe. Blog kang Hasan bisa di cek di akun Facebook kang Hasan karena beliau sering membagi tulisan di Blognya ke Facebook. Selamat blogwalking...

      Delete
  2. ini buku inceranku eh uda direview sama mba jd makin penasaran bacanya lagi 😁
    aku jg mau be ke kang Hasannya 😁👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Herva, makasih udah baca artikel sederhana ini. Bukunya keren banget loh

      Delete
  3. wah saya seneng nih kalo udah bahas buku, sama kaya postingan saya yang terkhir,

    mba wijat buaagus banget pembawaannya, karya kang hasan ya,, jadi pengin punya ih, tapi belum tentu dibaca, buku di kamar udah bayak yg melambai lambai minta dibaca,,,

    jadi mulai kepoin bang hasan nih,,

    makasih, salam kenal Nufus m. zaki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Nufus, makasih udah mampir. Jangan sampai kelewat deh baca buku ini dijamin semalam selesai karena bahasanya ringan. Ada banyak pelajaran bagus didalamnya buat memandu kita dalam menjalani hidup.

      Delete
    2. Saya baru dengar nama penulis satu ini. Keren ya n cerdas 😃

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram