#MemesonaItu Melukis untuk Mendorong dan Mempromosikan Keadilan Sosial


Aku merasa #memesona saat mampu menyelesaikan sebuah lukisan. Oh, rasanya senang bercampur takjub! Kadang-kadang saat lukisanku selesai aku melompat-lompat gembira di kamarku sembari berteriak lantang "Merdeka! Merdeka!" Setelah itu aku mengunggah photo lukisanku ke media sosial seperti Facebook dan Instagram. Bukan bermaksud pamer, tapi berbagi kebahagiaan dengan teman-teman di dunia maya. Apresiasi yang diberikan teman-temanku selalu menjadi bahan bakar untuk membuat karya baru. 

Bagiku, melukis bukan saja tentang mengembangkan bakat yang merupakan anugerah dari Tuhan. Melainkan tentang sebuah cara untuk melatih kesabaran, konsentrasi, ketenangan dan disiplin. Saat mulai melukis aku harus bersabar karena biasanya tangan dan leherku pegal sekali, terutama karena teknik melukis yang kugunakan mengharuskanku mengeluarkan banyak energi. Selain itu aku juga harus berkonsentrasi dan tenang, fokus hanya pada lukisanku dan mengabaikan hal-hal lain seperti polusi suara dari luar ruangan. Soal disiplin adalah hal lain karena meski melukis adalah hobi, aku harus disiplin menjadwal kapan aku melukis dan kapan tidak agar aku produktif menghasilkan lukisan tanpa mengganggu aktivitas utamaku yaitu bekerja dan sebagai blogger. 

Karena aku melukis secara otodidak dan masih amatir, aku belum mampu bersanding dengan pelukis-pelukis kenamaan tanah air. Meski demikian, aku sudah dua kali menjadi pelukis tamu untuk pameran seorang pelukis bernama Andreas Iswinarto yang dijuluki "Master of the Dark Art" oleh the Jakarta Post. Pertama, aku aku menjadi perupa tamu Andreas di Pameran bertajuk "Batu Karang Luka: Keteguhan Perjuangan di Jalan Sunyi" pada Desember 2015 di Jakarta. Saat itu aku memamerkan 6 lukisanku untuk mengkampanyekan gerakan #wesavemoromoro. Gerakan #wesavemoromoro merupakan gerakan yang kubuat bersama 4 orang rekanku melalui penggalangan dana publik via www.kitabisa.com untuk membantu 400 anak di Mesuji, Lampung mengakses pendidikan dasar. Kedua,aku menjadi pelukis tamu di pameran lukian Andreas bertajuk "Perayaan Warna" pada Oktober 2016 di Jakarta. Pada pameran itu aku mendapat cukup apreasiasi karena teknik melukisku yang berbeda. Bahkan salah satu puisi untuk sebuah lukisan berjudul "Bersama Perempuan" dibacakan oleh Mike, vokalis band Marjinal. 

Mama Aleta Fund
Pada 11 Maret 2017, aku memberanikan diri untuk berkontribusi lebih pada isu gerakan sosial melalui kegiatan "Soft Launch Mama AletaFund" yang diselenggarakan atas kerjasama beberapa organisasi masyarakat sipil seperti JATAM, WALHI, the Samdhana Institute, OAT, Kehati, AMAN dan sebagainya. Mama Aleta Fund (MAF) merupakan inisiatif Mama Aleta, seorang aktivis asal Mollo, Nusa Tenggara Timur yang menerima Goldman Environmental Award 2013 atas dedikasinya sebagai pemimpin komunitasnya dalam menyelamatkan lingkungan dari aktivitas penambangan kawasan karst. MAF sendiri akan digunakan untuk  khusus untuk mendukung pendanaan dan pengetahuan bagi perempuan pejuang tanah air serta mempromosikan kepemimpinan perempuan. 

Sebagai perempuan yang memiliki kepedulian akan isu lingkungan dan gerkan sosial, aku mendukung MAF. Oleh karena itu aku memboyong tiga lukisanku yang bertema "Aku Perempuan" untuk di lelang dalam acara ini. Alhamdulillah, dalam waktu kurang dari 30 menit ketiga lukisanku berhasil terjual dengan harga yang sangat baik. Maka kudedikasikan seluruh hasil penjualan untuk MAF. Kepada para peserta kegiatan aku memberikan sambutan demikian:
"Selamat siang, nama saya Ika. Saya adalah pelukis ketiga lukisan yang akan dilelang pada siang hari ini. Ketiga lukisan ini bertema "Aku Perempuan". Lukisan pertama berjudul "Setengah Aku" yang bermakna bahwa setiap perempuan adalah dirinya sendiri yang berhak melakukan apa saja untuk membantunya berkembang, di mana tidak seorang pun berhak melarangnya. Lukisan kedua berjudul "Aku Perempuan", seorang perempuan dengan mahkota dari daun. Lukisan ini berlatar masa kecil saya sebagai anak seorang petani kopi yang sering bermain dan membuat mahkota dari dedaunan termasuk daun kopi. Ini menggambarkan bahwa perempuan dan alam adalah tak terpisahkan. Lukisan ketiga berjudul "Bersama Perempuan" yang bermakna bahwa sehebat apapun perempuan sebagai dirinya, perempuan tetap membutuhkan sahabatnya yaitu laki-laki. Karena itu laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama dan harus bekerjasama dalam memelihara bumi.Terima kasih."
Saya bersama Mama Aleta dan para pemenang lelang lukisan saya (CNN Indonesia)
Seni untuk Keadilan Sosial
Bagiku, seni tidak hanya menjadi dirinya sendiri yaitu sebagai produk untuk menyenangkan pikiran dan perasaan. Tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong dan mempromosikan keadilan sosial. Salah satu contohnya adalah ketika sebanyak 86 seniman dan aktivis berkolaborasi dalam proyek bertajuk "Guttfreund Cornett Art" pada Desember 2016 silam di Amerika untuk membuat publik sadar bahwa dunia sedang kritis karena berbagai pelanggaran atas Hak Asasi Manusia (HAM) dan keadilan sosial; merebaknya kriminalitas, serta perang yang menyebabkan menjamurnya imigran di berbagai negara. Salah satu pernyataan yang begitu menggetarkan dari pameran tersebut adalah bahwa seni dapat membantu publik untuk berhenti sejenak dari aktivitas, melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi pada dunia, bahwa seni bisa menjadi alat untuk melakukan sebuah perubahan sosial.
"There is much that is needed to be said, to make people stop, look and listen, to confront social injustice issues. Art can often say what words cannot. We want to bring powerful artwork to the general public that reflects on these issues and encourages change." 
Dan itulah yang ingin kulakukan, bahwa #memesona publik dengan seni dapat membantu kita mendorong dan mempromosikan keadilan sosial dalam masyarakat. Gagasanku tentang keadilan sosial tentunya tak berbeda dengan yang diperjuangkan Mama Aleta dan komunitasnya di NTT. Sebagai pemimpin di komunitasnya, Mama Aleta memiliki pesan yang sangat kuat. "Kami tak akan jual yang tidak bisa kami buat," ujar Mama Aleta. Itu adalah pernyataan untuk membuktikan perjuangan orang Mollo yang menolak beroperasi tambang marmer di wilayah mereka selama 13 tahun lamanya. Masyarakat Mollo berikrar bahwa mereka tidak akan pernah mengizinkan terjadinya kerusakan alam atas nama pembangunan ekonomi. 
"Orang Mollo percaya, alam bagai tubuh manusia. Batu seperti tulang, air seperti darah, tanah seperti daging sedangkan kulit dan rambut seperti hutan. Jika kita merusak alam sebenarnya kita merusak tubuh sendiri," ujar Mama Aleta.
Setelah mendengar langsung apa yang Mama Aleta nyatakan, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa akan menjadikan seni sebagai cara untuk mendorong dan mempromosikan keadilan sosial. Bahwa bakat yang Tuhan anugerahkan kepadaku tidak diberikan secara percuma hanya sekadar untuk bersenang-senang semata, melainkan untuk menjadi sarana merubah cara pandang manusia agar hidup lebih baik berdampingan dengan alam dan manusia membangun tanpa merusak alam, karena alam dan manusia tak bisa dipisahkan. Jadi #memesonaitu mudah, bukan? 

Tulisan ini kubuat untuk dikutserakan dalam Blog Competition bertajuk #MemesonaItu yang diselengarakan oleh www.pancarkanpesonamu.com. Jika ingin mengikuti kompetisi menulis ini dan menceritakan makna #MemesonaItu silakan kunjungi www.pancarkanpesonamu.com 

Depok, 10 April 2017 




Wijatnika Ika

8 comments:

  1. sama mbak, saya juga lumayan aktif share karya lewat medsos dan apresiasi dari temen-temen medsos inilah yg sering bikin tambah semangat lagi buat bikin karya yg lebih keren dan (semoga) bermanfaat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Wisnu Tri, makasih udah mampir. Haha iya biar makin semangat berkarya...

      Delete
  2. Wah, mbak Ika bisa melukis juga ya. Anak sulungku (perempuan, 15 th) juga seneng melukis. Tapi belum ketahuan sukanya aliran apa, hehe. sudah punya 3 lukisan juga.
    Lukisannya memesona deh, mbak Ika

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Ika (enah namanya sama ;)), makasih udah mampir. Aku sih hobi aja mba sekalian buat yoga fikiran hehehe.

      Delete
  3. Mbak Ika, kayaknya saya pernah ingat (sedikit) mbaknya pernah ngajak untuk project art bareng di suatu situs. Bener gak ya? Waktu itu saya pengen cari tahu lebih banyak, tapi masih ada prioritas yang lain akhirnya gak jadi. Sukses untuk mbaknya
    Salam tuk Mama Aleta, udah bertahun2 saya tertaritarik dengan karst tapi belum pernah kesampaian ke lokasinya (di pulau saya sendiri maksudnya) makanya kalau ada penambangan ini gatel rasanya jadi pengen ngambil cangkul (kemudian menanam jagung)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Lidha, makasih udah mampir. Haha iya tuh di inspiasi.co tapi mandeg nggak jelas hahaha. Mudah-mudahan akan terlaksana lain kali ya.

      Delete
  4. Semoga Allah berikan yang terbaik. Terima Kasih Inspirasinya Mbak Ika

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Rio, makasih udah mampir. Terima kasih kepada kamu juga sudah baca tulisan sederhana ini.

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram