Kerumunan Terakhir dan Hasrat yang Menjebak


Novel ini adalah hidangan bernutrisi sekaligus penuh tantangan, membuatku panas dingin. Saat membacanya, aku seperti dibawa mendaki gunung tinggi dan kadang tercebur ke laut dalam dan aku megap-megap karena tak mampu berenang. Dari halaman pertama hingga akhir sungguh mempesona, membuatku seperti seorang kelaparan yang bahkan sampai menjilati sisa-sisa makanan di piring hahaha. Sungguh!

Ini kisah tentang Jayanegara, pemuda yang mengalami kehidupan dramatis dan penuh lika-liku dalam dunianya yang nyata dan yang maya. Jaya, adalah anak sulung dari lelaki berpendidikan dan ibu yang polos. Ia dibesarkan dengan dua tangan yang berbeda. Tangan pertama adalah Ayah dengan karir yang sukses dan tangan Ibu sebagai perempuan biasa. Ayah, adalah lelaki dengan kehendak bebas termasuk membebaskan dirinya dalam petualangan seksualnya dengan banyak perempuan. Semetara Ibu adalah perempuan biasa yang berpegang teguh pada janji pernikahan dan kehormatan perempuan yang telah bersuami. Dua dunia dengan kehendak berbenturan menentukan kehidupan Jaya dan kedua adiknya. Terutama ketika kebiasaan berselingkuh sang Ayah membuat sang Ibu meninggalkan rumah: melepaskan segala-galanya seperti kemapanan,anak-anak dan titel sebagai istri lelaki sukses di dunia pendidikan. 

Sayangnya, meski Jaya benci setengah mati pada kelakuan buruk Ayahnya ia justru ketiban semacam 'kutukan kebejatan yang diwariskan' Ayah dan Kakeknya setelah melakukan hubungan seksual pertama kali dengan seorang pekerja seks komersil (PSK). Ia kecanduan. Jaya kini seorang sex addicted. Parahnya, ia melakukannya dengan para pelacur di kotanya yang sangat gampang ia temui dan berharga murah. Selain itu, untuk memuaskan hasrat seksualnya, Jaya juga berselancar di internet demi menikmati gambar atau video porno. Akibatnya, kuliahnya berantakan dan kehidupannya tidak jelas.

Jaya, pemuda yang secara keuangan masih bergantung kepada Ayahnya yang jabatannya di kampus terus meningkat ini jatuh cinta pada Maera, gadis dengan ambisi yang meluap-luap. Maera adalah gadis yang cerdas, tertib, disiplin, pekerja keras dan memiliki mimpi untuk bekerja di Jakarta, di gedung bertingkat yang sangat modern. Baginya, Jakarta begitu menjanjikan dan ia melihat masa depannya ada disana. Karenanya, ia begitu rajin belajar agar segera lulus dan hijrah ke Jakarta. Bahkan, saat Jaya mengajaknya ke tempat sepi demi bersenang-senang, Maera memilih mimpinya. Gadis itu tidak ingin jalan kepada mimpi yang dibangunnya hancur hanya karena melakukan kesalahan yang tidak perlu.

Ya, Maera lulus dengan niai memuaskan dan langsung hijrah ke Jakarta, menjadi wartawan. Sedangkan Jaya terpasung dalam dunia yang berputar di situ-situ saja: pelacuran, pornografi, masalah keluarga yang tidak pernah selesai dan kuliahnya yang berantakan. Ia seolah tak peduli pada masa depan, pada mimpi, pada kehidupan canggih yang sedang disambut dunia dengan gegap gempita.Orang-orang berlomba-lomba menuju masa depan yang lebih baik dengan mengejar ini-itu. Jaya diam di tempat, seperti terpasung waktu.

Demi cinta, Jaya menyusul Maera ke Jakarta. Ia tinggal menumpang di kosan gadis itu. Sebagai pemalas sehari-hari ia menghabiskan waktunya dengan menelusuri kota Jakarta demi tidur dengan pelacur atau main Facebook. Sementara Maera harus bekerja keras, pergi pagi-pulang malam dengan wajah kelelahan dan beban pekerjaan esok hari yang menggunung. Maera harus bekerja demi mimpinya dan demi membuat perut mereka berdua kenyang. Sementara Jaya masih saja tidak tahu malu menjadi benalu yang sangat culas bagi kekasihnya sendiri. Dan meski mendapati Maera bekerja begitu keras untuk mereka berdua, Jaya tetap saja tidak berubah. Bahkan, ketika sebagai sepasang kekasih yang tinggal bersama dia bisa bahagia dengan Maera, pemuda itu masih saja kecanduan melakukan hubungan seksual dengan pelacur dan menikmati gambar dan video porno.

"Menjelang tengah hari, sebagaimana yang telah kulakukan selama tiga bulan ini, aku bergegas menuju rumah-rumah pelacuran. Aku selalu datang ke tempat ini siang hari, waktu yang tak lazim bagi siapa pun untuk bercinta, apalagi dengan pelacur. Tapi inilah waktu terbaik yang kumiliki. Jma-jam seperti ini Maera dengan sibuk bekerja dan aku bebas melakukan apa saja. Kebutuhanku pada pelacuran seperti orang yang selalu merindukan makan roti walaupun setiap hari tetap membutuhkan makan nasi. Bagiku, nasi adalah Maera. Aku membutuhkannya setiap hari. Tak akan kudapatkan rasa kenyang yang memuaskan dari tempat lain kecuali dari tubuh kekasihku sendiri. Tapi aku tetap butuh roti, mi, atau kadang sebutir gula-gula yang memberi rasa lin di mulutku, yang membuat hidupku terasa lebih bervariasi..." (hal. 91)
Jaya memiliki dunia yang begitu berbeda dengan Maera dan sibuk dengan kerumunan-kerumunan yang tidak nyata tapi seakan nyata. Pemuda itu mencandui kehidupan mayanya yang menurutnya menyenangkan, heroik dan serba ada. Ah, hidupnya sungguh tanpa beban, bukan? Sementara Maera bersusah payah hidup untuk masa depan yang entah bagaimana bentuknya. Jaya bahkan tumbuh menjadi pembual yang sangat mahir di dunia barunya. Ia mengarang cerita yang bukan-bukan, yang tidak pernah terjadi demi mendapatkan tepuk gemuruh tangan atau memancing pujian dan diskusi. Kesibukannya di dunia maya mempertemukannya dengan Kara, gadis dengan masalahnya sendiri. Mereka bahkan kopi darat di seputaran Jakarta untuk sekedar berdiskusi dan melakukan hal-hal konyol. Maera tidak tahu siapa Kara.

Okky Madasari (sumber: alchetron.com)
Akhirnya, pada suatu hari Maera menyerah dan mengaku kalah. Masa depan yang dikejarnya semakin berlari menjauh. Meski masih saja ia meminta Jaya mencari pekerjaan demi menghidupi mereka berdua dan Jaya tak pernah sekalipun mengirimkan surat lamaran pekerjaan, gadis itu mulai kepincut dunia baru yang sedang digilai Jaya: Facebook. Maera mulai menulis tentang dirinya dan hidupnya, bahkan ia menulis tentang topik yang berani: hasrat. Jaya sengaja tak berteman dengan Maera di dunia maya yang hiruk pikuk itu, tapi ia selalu menjadi pembaca pertama cerita-cerita kekasihnya. Maera menulis tentang kisah hidupnya sendiri secara gamblang, tanpa rasa malu dan canggung. Tentang hasratnya sebagai perempuan dan hal-hal semacam itu yang biasanya tabu diceritakan. Jaya membaca itu semua sebagai sebuah ancaman, tapi Maera melihatnya sebagai kebebasan tanpa batas. Bahwa dunia maya adalah masa depan di mana setiap orang berhak mengendalikan hidupnya sendiri. Maera telah menjadi semacam 'influencer' di dunia maya mengenai topik yang selama ini tabu diceritakan dengan gamblang, seterang matahari pagi.

Sampai pada suatu hari, Jaya dan Maera mengalami tragedi tak terbayangkan. Jaya ditangkap polisi karena ulahnya yang sangat konyol bersama Kara. Jaya mempermalukan Ayahnya sendiri di dunia maya, lelaki yang membuat Ibunya pergi dari rumah karena kerakusannya pada tubuh perempuan. Ia kemudian dijemput Ayahnya yang dibencinya sendiri agar pulang kampung dan menjalani hidup normal. Meski malu toh Jaya menurut saja karena ia memang pengangguran yang menggantungkan hidupnya pada Ayahnya atau Maera. Nah, saat Jaya sedang berusaha menata hidupnya di kampung, Maera ketiban sial gara-gara keberaniannya melakukan kopi darat dengan salah seorang pembual seperti Jaya bernama Akardewa. Maera dijebak. Photo-photonya yang tidak senonoh tersebar dengan cepat di dunia Maya sampai-sampai gadis itu tak berani keluar kamar kos. Kehidupan sekaligus masa depan Maera hancur berantakan. Tak berbekas, bagai dedu yang tertiup angin. Di dunia maya, Maera telah terekam sebagai perempuan kotor lagi memalukan. Ia tak lagi memiliki wajah. 

Terkaman Dunia Maya 
Melalui novel ini, Okky Madasari menceritakan keresahan sosial dengan cara sederhana dan memikat. Tentang bagaimana manusia menghadapi zaman dan segala perubahannya, termasuk teknologi. Dunia yang tidak pernah terpikirkan oleh kakek-nenek kita akan eksis dan membuat kita terjerat masuk ke dalamnya, ke dunia tanpa batas, dunia yang dilipat. Aku dan milyaran manusia lain di generasi ini adalah mereka yang berhadapan dengan arus perkembangan teknologi yang begitu cepat, menggoda dan melenakan. Bahkan, mungkin hanya di zaman ini manusia bisa bicara blak-blakan melebihi kemampuannya menunjukkan dirinya di dunia nyata. Dunia maya memiliki keasyikan dan aturannya sendiri, di mana manusia yang berkerumun di dalamnya dapat memiliki dua wajah berbeda dengan dirinya di dunia nyata. Dunia yang menerkam...

Bagaimana dunia maya bisa begitu menerkam digambarkan oleh kesenangan Jaya dalam membual dan mengarang cerita. Ia bahkan membuat identitas baru, yaitu Matajaya agar bebas membual dalam kerumunan maya yang melenakan. Dunia maya memberinya jati diri dan kesempatan berbicara, bahkan menjatuhkan nama baik Ayahnya sendiri. Tak lama, Maera pun bergabung dan gagap dengan dunia tanpa batas ini. Maera memang tak sungkan menggunakan identitas aslinya dan menikmati petualangan intelektual yang membebaskan sampai-sampai ia sanggup mengumbar hubungannya dengan Jaya secara gamblang. Maera merasa mendapatkan kebebasan dalam menulis dan berekspresi dibanding di dunia nyata, dalam pekerjaannya sebagai pewarta berita. Baik Jaya maupun Maera telah terjebak, sebagaimana anggota kerumunan lain yang terjebak.
 
Okky misalnya membongkar perasaan banyak pasangan yang tinggal bersama tanpa menikah melalui pengakuan Maera di Facebook. Di Mana Maera bukan saja menceritakan perasaannya sebagai perempuan saat tinggal dengan Jaya tanpa menikah, tapi juga pandangannya sebagai perempuan yang sempat menghindari melakukan hubungan seksual sebelum menikah karena khawatir menghancurkan hidupnya. Bagian ini kukira mewakili banyak isi hati dan kecemasan gadis-gadis muda yang sudah 'waktunya' memenuhi kebutuhan biologis tapi masih dihantui kebimbangan untuk menikah dan berumah tangga.
"Sudah lebih dari dua tahun aku hidup bersama pacarku.Tak ada orang yang tahu, tentu saja, apalagi orangtuaku di kampung sana...Bagaimana rasanya hidup bersama tanpa menikah, tanpa punya anak dan tanpa ada orang yang tahu? Aaah...tentu campur aduk rasanya! Rasa deg-degan dan antusias selalu campur aduk setiap harinya..." (hal. 227)
Dalam konteks ini, Okky juga berhasil menggambarkan kebimbangan kaum perempuan saat berhadapan dengan cinta dan masa depan. Terutama ketika di zaman ini cinta antara sepasang manusia sudah begitu mudah dilekatkan dengan keintiman secara seksual. Lagi-lagi ini diceritakan melalui pengakuan Maera dalam ceritanya di Facebook.
"Kami sudah pacaran bertahun-tahun, sejak aku baru semester awal kuliah. Beragam cara telah ia lakukan untuk emmbuatku luluh, dengan sukarela membiarkannya memasukiku.Tentu saja, aku tidak bodoh! Atau justru saat itu aku masih sangat bodoh? Aku takut hamil, aku takut karena kesalahan sedikit saja hancur masa depanku dan seluruh hidupku...Sering aku lihat banyak perempuan, termasuk teman-teman sekolahku harus berhenti sekolah sekaligus menghentikan smeua harapan dan mimpinya hanya karena mereka hamil...Tidak, aku tidak mau hal seperti itu terjadi padaku! Maka setiap hari aku harus melawan kehendak tubuh dan pikiranku...Pada suatu malam, di sebuah losmen murahan, ketika semuanya sudah begitu sangat dekat, aku menangis. Tak ada yang tahu, termasuk pacarku, bahwa sesungguhnya aku menangis karena sedang menahan ngilu yang sudah tak tertahankan lagi." (hal. 228)
Dan jika kita mau jujur, kisah terjebaknya Jaya dan Maera dan tokoh lain tak beda dengan nasib mereka yang terjebak di dunia maya di kehidupan sebenarnya. Ada banyak sekali orang yang terjebak karena tulisannya, dan beberapa diantaranya bahkan ditangkap polisi karena melanggar hukum. Dunia maya bahkan bagi sebagian orang digunakan untuk menjual diri. Kanal seperti Facebook, Twitter dan Instagram banyak digunakan sebagai lokalikasi dunia maya di mana orang-orang menjual dirinya dan 'layanan seksual' kepada publik dengan terang-terangan. Berita kematian seorang PSK di Jakarta yang meninggal karena dibunuh 'klien'nya sendiri yang sempat heboh beberapa tahun silam membuatku melakukan penelusuran dan cukup ngeri dengan fakta yang kutemukan bahwa kanal seperti Twitter misalnya menjadi tempat yang begitu terbuka bagi praktek prostitusi. Bahkan, sempat ada yang mencoba melebarkan sayap 'marketingnya' ke Linkedin yang langsung dibombardir habis-habisan oleh para anggota kanal professional tersebut.  

Bahkan, kini di Instagram menjamur akun 18+ yang terang-terangan mempromosikan pilihan seks bebas dengan alasan seni dan kebebasan berekspresi. Itu belum ditambah akun-akun 18+ yang memang dibuat sebagai alat untuk menjual layanan seks. Dan biasanya, akun-akun tersebut sangat digemari anak-anak muda. Tak jarang, para pengikut akun-akun tersebut menunjukkan kegemaran mereka pada sketsa-sketsa yang dibuat pemilik akun. Meskipun memang banyak juga akun 18+ yang isinya justru menangkis prostitusi online dengan melakukan pendidikan seks dan reproduksi. Ada satu akun yang dimiliki oleh seorang perempuan di mana ia mencoba menangkis pandangan seksis tentang tubuh dan perempuan dengan mempromosikan seni sebagai alat meditasi dan mencintai pasangan. Akun ini selalu menghadirkan sketsa-sketsa manis tentang manusia dan cinta, dimana diskusi antara pemilik akun dan pengikutnya begitu hidup dan dinamis. Sketsa-sketsa dalam akun itu seolah berkata, "Tubuhku bukan untuk dipandang murahan, bukan untuk dipermainkan apalagi menjadi barang dagangan, melainkan untuk dicintai dan disayangi."

Cinta dan Rasa
Apa sih yang disebut cinta? Okky sepertinya sengaja tidak membuat cinta menjadi sesuatu yang hitam-putih antara Jaya dan Maera. Misalnya begini, Jaya adalah lelaki yang tumbuh dengan kebencian yang begitu kuat pada ayahnya yang bejat sehingga membuat ibunya pergi dari rumah. Ya, Jaya membenci ayahnya sendiri yang menggunakan kekuasaan dan uang untuk memikat banyak perempuan demi memuaskan hasrat seksual. Tapi, meski demikian Jaya melakukan hal yang sama pada Maera. Pemuda itu menggilai Maera sebagai kekasih dan perempuan yang paling dia cintai, tapi dia tidak bisa berhenti menikmati tubuh para pelacur. Hal itu bahkan terus terjadi ketika ia menumpang hidup dari keringat Maera di Jakarta. Malam hari dia menikmati Maera sebagai kekasih, dan siang hari dia menikmati para pelacur. Dan ketika menyadari bahwa dirinya begitu brengsek karena menjadi lelaki yang tak pantas bagi Maera, Jaya masih saja tidak berhenti. Uhh ngeriiii....

Dan Maera, karena cintanya yang begitu besar pada Jaya, bahkan tak terlalu mempermasalahkan keadaan Jaya yang hidup tanpa visi, yang hidupnya bergantung dari kerja kerasnya, yang bahkan tidur dengan perempuan lain selain dirinya. Bahkan, ketika Jaya dipenjara, Maera datang membawakan makanan untuk Jaya.
"Maera datang malam harinya membawakanku nasi. Aku bingung, kok dia masih mau datang kesini, menengok dan membawakanku nasi...kami sudah semakin dewasa. Sudah semakin paham bahwa manusia tak akan pernah bahagia hanya dengan cinta. Ini bukan soal uang dan harta. Ini jauh lebih penting daripada itu semua: kepuasan, kebanggaan, rasa bermakna, rasa telah utuh menjadi manusia dan tak menjalani hidup dengan sia-sia. Semuanya tak bisa ditakar dan tak bisa ditentukan oleh ukuran-ukuran. Semua hanya bisa dinilai oleh rasa." (hal. 312)
Tapi, meski demikian pada akhirnya Jaya menetapkan hatinya untuk Maera. Ia mencintai Maera dan ingin melanjutkan hidupnya bersama Maera. Pemuda yang pengangguran dan tidak punya gelar sarjana itu, yang urakan dan bejat, yang tidak punya visi dan mimpi tentang hidup mampu menjadi pegangan bagi Maera ketika gadis itu hancur sehancur-hancurnya karena ulahnya sendiri. Mereka berdua telah terjebak di dunia maya, dunia entah berantah yang menghancurkan dunia nyata mereka. Karenanya Jaya, yang mungkin sudah mulai dewasa dan bertanggung jawab memilih menggandeng tangan Maera, melupakan dunia tidak nyata tapi kejam itu, berjalan bersama ke dunia yang sebenarnya, dunia yang dapat dirasakan kehangatannya. 

Pada akhirnya, tragedi yang membuat cinta dan rasa antara Jaya dan Maera bersatu kembali. Dan mungkin ini pula yang menjadi pelajaran penting bagi Jaya bahwa cinta dan rasa itu tidak sedangkal kehendak memuaskan hasrat seksual pada tubuh yang tidak ada hak atasnya. Dan bagi Maera, bahwa pesona kata-kata bisa membutakan dirinya dari kesetiaan pada Jaya dengan melakukan hubungan tak senonoh dengan pembual yang hanya ia temui ribuan kali di dunia maya dan sekali di dunia nyata. Ternyata, apa yang kita baca bisa begitu menjebak dan menjadi racun, dan hasrat yang menggelegak bisa sangat berbahaya jika tak dikelola dengan baik. Hanya cinta dan rasa yang murni dan sakral lah yang akan menjadi muara dua jiwa. 

Jaya dan Maera menikah dengan sederhana. 

Depok, 16 April 2017
 

Wijatnika Ika

4 comments:

  1. Keren mba ulasannya, alurnya membuat seakan-akan kita ikut mengalaminya ya mba.
    Dunia maya itu, bisa menjadi teman sebaik2 teman, dan bisa menjadi musuh sejahat2 musuh, tergantung bagaimana kita menggunakannya ya mbk :D

    Salam,
    Sarah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Sarah, makasih udah mampir. Coba baca novelnya deh mba, sangat menghentak kesadaran dan menampar-nampar deh...

      Delete
  2. Suka mbak, keren bgt review nya, serasa baca npvelnya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Wahyu, makasih udah mampir. Nah, lebih bagus kalau sekalian baca novelnya mba, seru banget...

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram