RUMAH



Bagiku, rumah bukan semata-mata bangunan yang berbuat dari apa saja, tempat pemiliknya berteduh dari panas dan hujan. Rumah, adalah hati seseorang sebagai tempatku pulang. Aku ingin bertemu orang itu dan membangun rumah bersamanya: kehidupan yang sederhana, namun penuh cinta, kehangatan dan petualangan. Di dalam rumah itu, kelak aku akan disebut sebagai ‘Kekasih’, ‘Ratu’, dan ‘Ibu’

Aku ingin menikah dengan lelaki baik hati yang menerima diriku apa adanya, yang melihatku bukan sebagai perempuan yang harus sempurna dalam semua hal. Lelaki yang menerima semua kebaikan dan keunggulan diriku, juga kekurangan dan ketidakmampuanku. Lelaki yang tidak saja menjadikanku kekasihnya, tapi juga sahabat dalam mempelajari hal-hal baru. Lelaki yang mendukung mimpi dan bakatku, yang percaya bahwa aku bisa bahkan lebih dari aku mempercayai kemampuanku sendiri. Lelaki yang merasa bangga karena kehadiranku dalam hidupnya dan besyukur karena di dunia ada perempuan seperti aku. Lelaki yang mampu menahan dirinya dari godaan perempuan paling cantik dan panas demi menjaga kesetiaan dan cintanya padaku. Lelaki yang menjaga kehormatanku sebagai kehormatannya. Lelaki yang menggandeng tanganku untuk pulang ke Surga. 

Kepada lelaki itu, akan kuberikan bakti dan hormatku, hatiku dan diriku, kepercayaan dan kesetiaanku, waktuku dan kemampuanku. Akan kuahiasi hari-harinya dengan senyum bahagiaku karena telah memilikinya. Akan kulahirkan untuknya anak-anak yang manis, baik hati dan penyayang. Akan kujaga rumah, harta, keluarga dan kehormatannya dengan nyawaku. Akan kuciptakan untuknya surga dunia. Akan kusuapi ia dengan makanan-minuman yang baik dan sehat yang kuolah dengan tanganku sendiri. Akan kupakaikan ia pakaian yang kucuci dan kurapikan dengan tanganku sendiri. Akan kupeluk dan kucium dia setiap hari, sebanyak-banyaknya. Dan akan kuhormati keluarganya sebagai keluargaku sendiri. Dunianya akan menjadi duniaku.Urusannya menjadi urusanku. Mimpinya menjadi mimpiku. Dan, tentu saja aku akan mendukungnya mencapai mimpinya. Aku akan menjadi perempuan dibalik kesuksesannya, seperti Ainun bagi Habibie.

Di dalam rumah itu, akan selalu ada aroma makanan yang menyatukan seluruh anggota keluarga untuk saling bercengkrama dan bersenda gurau; akan ada musik yang diputar agar semua dapat menari dengan gembira; akan ada lukisan yang kubuat dengan tanganku sendiri di ruang tamu, ruang utama, di mana-mana; akan ada ruangan bebas dari barang-barang tempat anak-anak dengan ramainya menciptakan dunia mereka sendiri; akan ada ruang kerja dan studio lukis tempatku menempa diri, dan tentu saja akan ada banyak buku disana tempat aku mempelajari banyak hal agar dapat menjadi guru yang baik bagi anak-anakku; dan akan ada banyak photo kenangan keluarga yang memenuhi sebuah dinding dengan penuh. 

Di halaman rumah itu, akan kutanam aneka jenis bunga warna-warni, juga sayuran dan rempah. Akan kurawat mereka dengan senang hati. Akan kupetik dari sana bahan-bahan masakan yang baik untuk keluargaku, mungkin juga sesekali untuk para tetangga. Akan kubuatkan suamiku teh dari kuncup mawar atau rimpang jahe dan sereh atau dari daun mint dan jeruk nipis; akan kukenalkan kepada anak-anakku aneka jenis tanaman yang daun, umbi atau bunganya masuk ke perut mereka sebagai makanan agar mereka paham bahwa mereka adalah bagian dari bumi dan bumi adalah bagian dari diri mereka. Akan kuajari mereka cara memasak sebagai cara bertahan hidup manusia paling dasar; akan kuajari mereka bagaiamana menikmati matahari pagi, bermain-main dengan bunga putri malu, memetik tomat atau cabai yang ranum, memilih pucuk daun bayam terbaik dan cara menghormati bunga mawar; dan mungkin memelihara beberapa ekor kelinci. Akan kuajari mereka cara melukis dan menulis. Dan akan kuajari mereka cara menjadi anak yang baik, yang sopan, dermawan dan murah hati sekaligus berani dan kuat. 

Kepada lelaki yang menjadi suamiku, aku akan mencintainya setiap hari. Aku akan selalu menyiapkan sarapan saat dia hendak bekerja, dan menyambutnya dengan pelukan saat dia tiba di rumah. Aku akan bercerita tentang banyak hal saat memijat pudaknya yang pegal. Kami akan tertawa bersama untuk merayakan hal-hal lucu, dan membungkus semua kesedihan dan duka untuk menjadi masa lalu. Nanti, saat anak-anak sudah besar dan mereka memiliki keinginan sendiri, mungkin aku dan lelaki yang menjadi suamiku itu akan minta dibelikan sebuah syal hangat dari Tibet atau Irlandia sebagai kenang-kenangan, dan membebaskan mereka keliling dunia sampai mereka menemukan rumah mereka sendiri, hati manusia yang paling mereka kasihi dan cintai. Dan jika lelaki yang menjadi suamiku harus mati di masa tuanya karena sudah waktunya bertemu Tuhan, maka aku ingin mati bersamamnya. 

***

Aku merasa telah menemukan dia, lelaki itu. Setelah lama menunggu, akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang membuatku memiliki keinginan menikah. Seseorang yang membuatku tersenyum, yang membuat hatiku yang dingin mencair, terus mencair dan menganak sungai dan tak bisa dihentikan. Tapi dia ada di dunia berbeda dengan duniaku. Dia menyukai dunia itu dan tidak ingin meninggalkannya. Dia bilang itulah dunianya dan aku tidak mampu membuatnya meninggalkan dunia itu. Belasan tahun lamanya dia menikmati dunia yang menurutnya membuatnya puas, bebas, merdeka dan bahagia. Dan aku hanya perempuan biasa yang tidak memiliki apa-apa. Aku hanya memiliki cinta yang jujur, kasih sayang, kesetiaan dan kemampuan untuk memaafkan masa lalu, seburuk apapun itu. 

Apa yang harus kulakukan pada lelaki ini? Haruskah aku membuatnya hilang ingatan tentang dunianya agar kami dapat berlari sejauh mungkin dan menemukan dunia baru, sekosong kertas putih?

Depok, 7 Maret 2017

Sumber gambar:
http://viaimmobiler.com/cute-home-illustration


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram