Monster yang Kalian Sebut AYAH



Kepalaku memutar ulang kenangan tahun lalu. Saat itu sekitar pukul 2 siang, 21 Nopember 2016 aku duduk di ruang sidang dengan perasaan tidak karuan. Lantai, dinding, tiang, meja, kursi, orang-orang dan segala hal di ruangan itu terlihat bergelombang. Aku merasa seperti nelayan malang yang terombang-ambing dalam badai ganas di tengah lautan. Kedua mataku panas karena menahan air mata, dadaku sesak karena emosi yang membatu dan sekujur tubuhku rasanya ditusuk ribuan jarum beracun. 

Disampingku duduk Tiara, perempuan yang kucintai selama 16 tahuni ini, yang telah memberiku dua putri cantik Sola dan Luna. Ekor mataku menangkap bayangannya saat menenangkan dua puteri kami, karena aku tak sanggup lagi walau sekedar menatap sepasang mata indahnya. Perempuan ini telah mengisi hidupku sepanjang 5.840 hari dengan kenangan luar biasa indah. Aku mencintainya lahir dan batin. Aku ingin jatuh cinta padanya setiap hari, sepanjang hidupku sampai waktu mengubahku menjadi lelaki tua dan ia perempuan tua, saat kami disebut kakek dan nenek dengan tubuh bungkuk dan rambut memutih. 

***

Hati yang Menangis 
Aku gugup sekali menghadapi sidang ini. Tiara menggugat cerai. Meski rasanya aku selalu limbung dan berharap semua ini mimpi buruk belaka, aku telah menjalani 6 bulan proses persidangan yang melelahkan. Waktu, tenaga, uang, pikiran, dan emosi habis tercurah untuk urusan nista ini. Aku ingin Tiara hilang ingatan dan dia kembali padaku sebagai perempuan yang cinta mati terhadapku. Aku ingin pulang ke rumah dan memeluk kedua gadis kecilku selama-lamanya. Aku ingin malaikat mencabut rumah kami dan membawanya terbang ke angkasa menuju dunia lain yang berbeda, agar aku bisa menjaga keluargaku dari pengaruh mereka yang tidak menghargai cinta dan kesetiaan. Aku ingin membesarkan Sola dan Luna bersama istriku yang percaya bahwa aku bisa menjadi suami dan ayah yang bertanggungjawab. Karena aku tahu, hampir semua perceraian hanya melahirkan penderitaan baru terutama bagi anak-anak. Tiara, Tiara, Tiara pandanglah kedua mataku sayangku, jangan tinggalkan aku, jangan jadikan aku bajingan, kembalilah padaku dan ingatlah janji suci kita pada Allah, aku bergumam pada diriku sendiri.

Tidak mudah mengikuti proses persidangan. Aku harus datang secara rutin ke pengadilan. Aku benci datang ke tempat ini karena merasa sedang membunuh diriku sendiri bukan atas kemauanku. Sekelompok orang sedang membunuhku dengan sadis, menghancurkan karakterku, merubahku menjadi bajingan sekaligus manusia gagal. Aku berusaha jujur dalam menyampaikan pembelaanku meski aku bisa menyuap para Hakim atau Jaksa untuk memenangkan kasusku. Gedung ini dipenuhi mafia yang mereguk sejumlah rupiah dengan menjual ayat-ayat dari Kitab Sudi dan Agama demi memenangkan kasus perceraian tertentu. Seakan-akan berbisnis dengan manusia jauh lebih berharga dari berupaya menjaga firman Tuhan tentang cinta kasih, pernikahan, hubungan baik, dan keluarga. 

Saat menunggu sidang dengan hati pedih dan membayangkan keajaiban, aku mengobrol dengan seorang lelaki yang begitu penuh semangat menceraikan istrinya. Lelaki ini mengaku bekerja di perusahaan manufaktur yang sudah 3 bulan mempercayakan kasus gugatan cerai pada istrinya kepada seorang pengacara. "Saya kenal pengacara ini dari staf pengadilan," katanya. Oh, aku hanya bisa mengangguk. Selama itu ia telah mengeluarkan setidaknya Rp. 8 juta untuk membayar pengacara dan jutaan lain untuk membayar tiga orang tetangganya sebagai saksi. Meski ia hanya seorang buruh pabrik, ia rela mengeluarkan dana sedemikian besar hanya untuk melepaskan diri dari istrinya. Absurd.

Kutanya, "apa para tetangga tau permasalahan rumah tangga kalian?" Dia berdehem dan tersenyum simpul. "Itu bisa diatur," jawabnya ringan. Oh Gosh! Begitu murahnya kesaksian palsu diberikan bahkan dibawah naungan kitab suci. Sumpah atas nama Tuhan dihabisi di pengadilan ini, di mana ayat-ayat dinistakan hanya demi sejumlah rupiah.

Lelaki itu melanjutkan, "sudah 1 bulan saya menantikan kabar dari pengacara saya tapi tak kunjung ada." Ia menarik nafas panjang, lalu membuangnya kasar. "Semua dokumen penting ada sama dia, termasuk buku nikah. Hari ini jadwal untuk pengajuan bukti dan saksi. Tapi dia tidak datang. Ditelepon selalu diputus. Kalo kayak gini gimana bisa selesai prosesnya? Mending urus sendiri dari awal?" Ia nampak kesal karena percaya kepada pengacara yang sengaja memperlambat kasusnya untuk meminta bayaran lebih banyak.
 
Predator. Begitu aku menyimpulkan pengacara jenis demikian. Aku baru menyadari bahwa para pekerja di pengadilan agama adalah serupa rantai makanan dan setiap orang dapat menjadi predator yang mengerikan. Kasus perceraian adalah bisnis dan mungkin sebagian dari mereka berbangga hati karena memenangkan banyak kasus gugatan perceraian. Ah, ternyata nilai-nilai agama mati disini. Aku hanya mencium aroma ego, keserakahan, nafsu, kemarahan, kelicikan dan setan. Ya, mungkin gedung ini penuh sesak dengan sekumpulan setan yang berpesta pora karena berhasil memutuskan ikatan suci ribuan pasang kekasih.

Sejenak aku memikirkan kegilaan lelaki ini. Mengapa dia begitu senang menjalani segala jenis kerepotan, kesulitan dan membiayai proses persidangan hanya untuk meninggalkan istri dan anak-anaknya?  Sembari bersandar pada udara yang membatu, aku teringat istri dan kedua anakku. Aku sungguh rindu memeluk mereka saat kami tidur bersama sembari menikmati acara di TV, atau saat menyuapi Sola yang kelaparan, atau saat menimang Luna yang kesulitan tidur karena sedang tumbuh gigi, atau saat aku dan Tiara saling memeluk dalam diam karena terhanyut oleh perasaan cinta di dada kami masing-masing. Ah, sepasang mataku jadi panas dan aku ingin sekali menangis. Sekujur tubuhnya sakit sekali, seakan-akan Tiara sedang mengulitiku. Tiara, sayangku, peluk aku, aku kangen kamu, rintihku begitu perih. Seakan-akan pengadilan ini adalah perut monster jelek yang menelanku dan bersiap memamahku menjadi daging cincang. 

***
Aku merasa bodoh karena tak kuasa membuat Tiara, istriku terkasih membatalkan gugatan. Namun, jika aku tak datang dan menjalani proses menyebalkan ini, Tiara akan mengamuk. Aku juga benci mental para petugas di pengadilan yang bobrok dan berpihak pada keputusan yang paling dibenci Allah, perceraian. Setiap kali aku melangkahkan kaki ke ruang sidang, aku merasa yakin bahwa pembelaanku yang jujur akan menang. Aku optimis dapat menyelamatkan rumah tanggaku. Bismillah, bismillah, bismillah...

Namun, kebobrokan di ruang sidang membuatku seketika kehilangan kata-kata. Tanganku berkeringat dingin, sekujur tubuhku menggigil dan tenggorokanku tersumbat saat mendengar putusan hakim. Lelaki dengan panggilan Yang Mulia tersebut menyatakan bahwa jika aku tak mampu meyakinkan Tiara untuk rujuk kembali saat proses persidangan berlangsung, maka Tiara akan memenangkan gugatan. Refleks aku memandang Tiara, sementara dia menundukkan wajahnya entah karena malu atau bagaimana. Sekonyol inikah pengadilan dalam sidang perceraian? Mengapa para hakim yang terhormat tidak menentukan dikabulkan atau tidaknya sebuah gugatan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan dan membandingkannya dengan pasal-pasal yang ada? Mengapa para hakim harus terburu-buru dan tidak memiliki waktu mempelajari setiap kasus dengan cermat? Apakah karena mereka harus kejar setoran atas 100 perkara yang disidangkan di tiga ruangan dengan 3 majelis hakim setiap harinya sehingga tega mengabaikan konten pembelaan tergugat sepertiku?  Ya ampun! malang sekali nasibku.

Aku merasa kepalaku mau pecah saat mendengarkan hakim ketua menceritakan sinopsis persidangan kami selama 6 bulan ini. Bahkan, saat mendengar hakim membaca inti putusan, aku seperti terbakar dan hendak meledak. Aku ingin melesak masuk ke dalam bumi, membawa Tiara dan kedua puteriku, ke dunia lain. Oh Allah, sakit sekali hambaMu ini...

"Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan baik melalui isi gugatan Penggugat, jawaban Tergugat, Replik Penggugat, Duplik Tergugat, berbagai alat bukti, maupun kesaksian dua orang dari pihak Penggugat, kami majelis hakim merasa cukup untuk menentukan hasil keputusan. Gugatan yang diajukan oleh Penggugat terhadap Tergugat pada intinya berisi 3 poin yakni pertama pihak Tergugat tidak memberikan nafkah kepada Penggugat, lalu kedua pertengkaran yang terjadi secara terus menerus yang disebabkan karena poin 1, dan terakhir pihak Tergugat berhutang atas nama Penggugat untuk keperluan pribadi. Menimbang dengan segala aspek hukum yang ada, maka dengan ini kami putuskan bahwa gugatan Penggugat diterima. Tergugat juga diwajibkan untuk memberikan nafkah kepada kedua anak Tergugat dan penggugat. Sementara hak asuh kedua anak Penggugat dan Tergugat yang masih di bawah 12 tahum sesuai dengan pasal 105 (a) Kompilasi Hukum Islam jatuh ke tangan Ibunya yang dalam hal ini adalah Penggugat."

Aku tertegun. Bangun, Bim, Bangun! Ini cuma mimpi, Bim, cuma mimpi! kepalaku berteriak! Aku memandang Tiara yang pucat, tanpa ekspresi. Ia menunduk saja saat mendengarkan putusan hakim. Aku tahu, perempuan itu sedang menangis, tapi ia berpura-pura tegar. 

Aku merasa konyol karena hakim sepertinya tidak pernah membaca seluruh poin pembelaanku. Dengan jujur aku melampirkan bukti transfer guna mematahkan argumen Tiara bahwa aku tidak pernah menafkahinya, aku juga melampirkan bukti SMS guna membuktikan fakta keadaan rumah tangga kami dari Well's Fargo Bank. Apakah Tiara sengaja membuatku kehilangan alat bukti dan memberangus semua cek yang kusimpan di rumah? Nafkah kurang? Ah, siapa aku yang buka konglomerat! Aku ini hanya pekerja biasa yang berusaha menafkahi keluargaku dengan uang halal meski belum mampu semua keinginan Tiara. Bukankah hal ini sudah diatur berdasarkan UU pernikahan (pasal 34 ayat 1) dan hukum agama (qs. Al-Baqarah:233) bahwa nafkah disesuaikan dengan kemampuan suami? Dan kapan cukup dianggap cukup? Dan apabila aku tidak sanggup menafkahi selama pernikahan, logiskah pengadilan membebankanku dengan kewajiban menafkahi anak-anakku disaat perceraian diputuskan sepihak oleh Tiara? Oh, Tiara! Mengapa kamu berubah jadi sekejam ini, sayangku? 

Lalu bagaimana mungkin poin mengenai pertengkaran yang terjadi terus menerus dijadikan pertimbangan sementara berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 1981 disebutkan bahwa justru penyebab perselisihan yang dalam hal ini Tiara tidak mungkin dapat meminta cerai? Pun begitu, andaipun ini masih tetap dipaksakan, semua bukti yang dikatakan majelis hakim mendukung justru tidak berdasar. Keterangan para saksi saling berlawanan satu sama lain. Bahkan keduanya mengakui mendapatkan informasi dari pihak lain yaitu orangtua Tiara, yang selama pernikahan kami tinggal di Sumatra dan baru hadir tak lama saat proses persidangan berlangsung. Sebuah kebetulan yang luar biasa, bukan? Dapatkah informasi para saksi digunakan untuk mendukung poin gugatan sementara mereka tidak mengetahui langsung permasalahan rumah tangga kami? Saat itu aku langsung teringat pria yang membayar tetangganya untuk dijadikan saksi. Ya, tetanggaku sendiri sanggup menjadi saksi palsu. Sungguh tak bisa dipercaya.

Oh, soal hutang. Tiara membebankan hutang keluarga kami seluruhnya ke pundakku dan menuduhku mengajukannya tanpa sepengetahuannya dan untuk keperluanku seorang? Mungkinkah semua hutang-hutang itu bisa disetujui tanpa dia mengetahuinya? Aku merasa menjadi kambing hitam saat semuanya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Penghasilanku yang tidak menentu dijadikan alasan untuk menyerangku. Lalu tuduhan bahwa aku menggunakan semua hutang itu untuk keperluam pribadi padahal seluruh waktuku kuhabiskan bersama anak-anak? Dan saat aku pergi meninggalkan rumah itupun hanya pakaian yang kubawa. Bagaimana mungkin ia bisa berkata seperti itu? Tiara, Tiara, kamu sedang berubah menjadi apa bagi lelaki yang kamu cintai selama 16 tahun?!

Putusan ini luar biasa menyakitkan. Aku kehilangan istri, rumah, hak asuh Sola dan Luna. Aku kehilangan duniaku, kebahagiaanku. Demi kedua puteriku yang akan menjadi korban, aku bahkan telah mencantumkan poin perwalian Subsidair dalam pembelaanku. Mengapa hakim tidak memprtimbangkan fakta bahwa selama 6 bulan Tiara menahan anak-anak agar tidak berjumpa denganku, ayahnya? Sola dan Luna hanya dua gadis kecil yang tidak tahu apa-apa soal masalah kedua orangtuanya? 6 bulan, oh itu bukan waktu yang singkat! Ah ya, majelis hakim hanya mempertimbangkan satu pasal saja bahwa hak pengasuhan mempertimbangkan kepentingan terbaik sang anak sesuai dengan Pasal 3 Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi Tentang Hak-hak Anak? Lha, siapa yang selama ini mengurus anak-anak? Aku!

Siapa yang tahu apa yang terbaik bagi anak? Ayah atau ibu? Aku bertanya pada dunia, apakah menahan anak selama 6 bulan untuk tidak bertemu denganku demi melancarkan proses persidangan adalah demi memenuhi hak anak dan tindakan terbaik bagi anak? Bukakah itu justru manipulasi terhadap hak anak atas ayah kandungnya? Lalu bagaimana dengan hak anak untuk diasuh oleh orangtua kandungnya karena selama 6 bulan ini Tiara mempercayakan pengasukan Sola dan Luna pada pekerja rumah tangga sementara ia bekerja? Mengapa Tiara enggan mempercayakan kedua anak kami pada kedua orangtuaku sementara toh kedua orangtuanya menolak mengasuhnya?

*** 
Aku ingat pada suatu sore saat sinar mentari jatuh memantul diatas aliran sungai yang tenang dan memberi kesan kehangatan. Banyak orang bersenda gurau di sana. Aku ingat anak-anakku. Pada jam ini biasanya kami sedang di luar rumah, entah jalan-jalan atau sekedar duduk-duduk manis memandangi sawah sambil saling becanda. Melihat Luna menguyah roti coklatnya yang isinya belepotan menghiasi pipi tembemnya sambil memandang heran Ayahnya yang sedang menahan tawa melihat polah tingkah anaknya. Sementara Sola, ia sibuk memainkan mobil die cast mini yang selalu ia bawa keluar di kantongnya. Kadang Suzuki Escudo, kadang Ford Escape, atau kadang Porsche 911. Sola masih 5 tahun tapi hapal semua merk dan tipe mobil miliknya. Tentu dengan logatnya sendiri. "Posye! Pord!" Katanya bangga sambil menunjukkan mainannya padaku.


Monster. Begitulah sosokku di mata Tiara selama 6 bulan ini. Dia begitu membenciku dan bersemangat untuk melepaskan diri dariku, padahal aku tahu ia begitu lelah dengan pekerjaannya. Bagaimana mungkin dia sanggup menjadi ibu tunggal? Ah, aku ingat sepasang mata Sola yang berkaca-kaca sambil tersendat-sendat menyampaikan isi hatinya pada kami berdua. "Ayah sama Ibuuu ah..hm...Ayah...Ayah jangan pergiiii. Ayah disini aja ya. Sola sayang sama Ayah!" gadis kecilku itu memelukku lalu duduk di pangkuanku. Aku bisa merasakan kesedihan hatinya dari suhu tubuhnya yang tinggi. Solaku demam.

Ah, aku juga masih ingat saat Tiara begitu antusias mengungah photo kami sekeluarga di akun media sosialnya, seakan memamerkan kepada dunia betapa bahagianya keluarga kecil kami. Tiara tersenyum lebar dan sangat cantik. Wajah itu menyimpan guratan kenangan kisah cinta kami. Mungkinkah dia akan menghapus seluruh photo kenangan kami di ponselnya? Mungkinkah dia tidak menangis mengingat momen-momen yang kami potret bersama? 16 tahun bukan waktu yang singkat untuk memperjuangkan cinta, bukan? Saat Tiara mengajukan gugatan cerai, aku sedang berusaha memperbaiki kondisi keluarga kami yang menurutnya berantakan, bahwa aku suami dan ayah yang bertanggungjawab, kepala keluarga yang bekerja demi rezeki halal. Aku mengeluarkan kartu nama dari dompetku. Di sana namaku tertera beserta jabatanku di kantor. Tertulis 'supervisor' disitu, sebuah posisi yang mungkin cukup membanggakan dulu tapi tak berarti lagi sekarang.  

"Aku bisa banding! Aku bisa ajukan banding!" pikirku spontan soal putusan sidang yang merugikanku. Ya, demi anak-anak! Aku akan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama di mana argumenku akan lebih didengar, di mana para hakim akan mempelajari kasusku dengan lebih cermat, di mana hukum dan keadilan tak bisa dibeli dengan uang. Tapi, sayup-sayup kudengar saran teman-temanku berkecamuk di pikiranku. "Iklaskan saja bro, agak sulit kalo dia sudah gak mau. Fokuskan aja energimu untuk masa depan. Soal anak-anak, kamu bisa berkunjung sebulan sekali" saran Eru temanku yang juga mengenal Tiara karena kami satu angkatan saat kuliah dulu. 

"Anak-anak cuma alibimu kan?" Lanjut Rendi temanku saat masih bekerja di salah satu Bank swasta di Jakarta. "Kamu masih cinta sama Tiara, yang lain hanyalah alibi! Alasan utama kamu melanjutkan semua ini karena kamu masih cinta Tiara kan? Masalahnya, saat benar itu yang terjadi, mustahil kamu balikan sama dia kalo dia udah gak mau. Meski sekali lagi itu terjadi karena pengaruh orang lain!" Bebernya. 

Kemudian tiba-tiba aku teringat Novi, temanku yang juga mengenal Tiara karena kami pernah sekantor bertiga. "Gak ada yang sia-sia kamu usahakan Bim. Baik itu untuk anak-anak, Tiara, atau untuk pernikahan. Bahkan kamu mungkin akan menyesal di kemudian hari saat kamu gak melakukan yang seharusnya kamu lakukan untuk mempertahankan rumah tanggamu." Novi adalah seorang perempuan pekerja keras, tangguh dan ibu yang baik.  Ketangguhannya mungkin yang membuatnya menjadi seorang istri yang baik, karena toh Novi tak luput dari masalah klasik dalam dalam rumah tangganya. Novi memiliki masalah yang tak kalah besar dengan masalahku.  Namun, baginya pernikahan adalah sebuah ladang dimana dia bisa menuai pahala sebesar mungkin. Kekecewaan terhadap suaminya banyak namun pada akhirnya dialah yang memilihnya. Bukan orangtuanya, bukan yang lain. Sikapnya tersebut menjadi salah satu faktor dia lebih mampu mempertahankan prinsip pribadinya ditengah berbagai gempuran prinsip yang berbeda dari lingkungannya. "Selama bukan perselingkuhan aku masih bisa bertahan, Bim." Ujar Novi yakin. 

Pendapat Novi lah yang bertahan di benakku saat itu. Entah kenapa. Mungkin karena kami lebih mirip secara pemikiran dibanding Eru dan Rendi. Kedua temanku itu berpikir layaknya lelaki kebanyakan yang berpisah dengan anak dalam waktu lama adalah hal yang biasa. Bagiku, waktu bersama anak adalah sebuah berkah, yang mungkin akan berakhir seiring mereka tumbuh dewasa. Eru yang menyarankanku untuk biasa saja saat mencinta tapi aku tak mengerti maksudnya. Bagiku, cinta bukan air dalam bak yang dapat dijemput dan dilupakan karena bantuan alat bernama keran, sekarang cinta dan besok tidak.  Bagiku cinta dan pernikahan adalah ikatan sakral, bukan main-main apalagi lelucon. Bagi Rendi dengan kehidupannya yang kacau karena begitu akrab dengan perselingkuhan dan obat-obatan, mungkin kasusku cuma picisan. Padahal aku melihat Rendi dan keluarganya begitu ideal dan harmonis.  Ia memiliki istri yang cantik dan setia, serta anak-anak yang sehat dan ceria. Secara ekonomi ia juga berkecukupan. Tapi pada akhirnya semua itu tak cukup untuk membuatnya setia.

***
Hari hampir gelap. Aku memacu motorku, mengarungi lautan senja. Masa-masa gelap sedang menghadangku tanpa pernah kutahu kapan matahari akan muncul. Kepalaku dihujani bayangan kedua puteriku saat kami berpisah tadi. "Ayah pulang ya!" pinta Sola manja sembari memamerkan senyumnya yang sangat manis. Aku bisa merasakan bilur rindu pada sepasang mata kecilnya yang bening. Refleks aku hanya menjawab lirih, "Kali ini Ayah gak bisa pulang, Nak!" dan senja meyaksikan air mataku yang mengalir deras kali ini.... 

Bersambung... 

Depok, 30 Maret 2017 
Sumber gambar: www.dnaindia.com
___________________

Ditulis oleh : Bima (nama pena)
Disunting oleh: Wijatnika Ika

Wijatnika Ika

34 comments:

  1. Ya Allah, saya langsung meluk anak saya. Semoga Allah memberi keberkahan bagi keluarga2 di bumi ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mas Fakhrudin, terima kasih sudah mampir. Iya, peluklah dengan cinta karena anak-anak sangat berharga. Semoga keluarga anda bahagia, penih cinta dan langgeng sampai maut memisahkan.

      Delete
  2. Sediiiih... Kok bersambung? Sambungannya mana, mak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Ade Ufi, terima kasih sudah mampir. Iya sedih. Lanjutan kisahnya mohon ditunggu ya, kan namanya juga tulisan berseri...

      Delete
  3. Tiap kali baca cerita sedihnya perpisahan seperti ini, tiap kali itu pula saya tambahkan kekuatan dan syukur sampai detik ini masih bersama keluarga yg utuh, Alhamdulillah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai mba Julia, terima kasih sudah mampir. Iya mba, kita yang masih bersama kleurag alengkap harus banyak bersyukur. Karena nyatanya musibah demikian bisa menimpa siapa saja. Sayangi keluarga kita. Peluk erat...

      Delete
  4. duh bersambung nih, aku abacnay tegang nih, jd penasaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Tira, terima kasih udah mampir. Tegang kenapa mba? Mohon ditunggu ya kelanjutan ceritanya...

      Delete
  5. sedih banget mbaa, ternyata laki-laki halus juga ya perasaannya. Hikss, penasaran sama akhir cerita ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Intan, terima kasih sudah mampir. Iya betul mba, laki-laki itu setahu saya sangat halus perasannya, cuma kadang mereka gengsi menunjukkan emosinya. Mohon ditunggu ya kelanjutan ceritanya...

      Delete
  6. Perceraian pasti meninggalkan luka bagi sesiapapun di dalamnya.. Semoga kita bs menjaga keluarga kita :) aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Marita, terima kasih sudah mampir. Yup betul, dan saya adalah korban perceraian orangtua saya, karenanya saya paham rasa sakitnya. Ya, kita harus menjaga dan menyayangi keluarga kita, karena banyak yang menangis menginginkannya.

      Delete
  7. Awalnya aku kira tulisan ini sama seperti tulisan tentang ayah lainnya tapi yang ini bikin aku mrebes mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Riska, terima kasih sudah mampir. Ya memang sedih sih. Ini kisah salah satu pembaca blog saya yang sekarang jadi sahabat saya. Kami senang kalau pembaca merasa terbantu oleh tulisan ini. Jangan nangis...

      Delete
  8. jika pernah berfikir mau berpisah maka peluk ia erat-erat karena dengan pelukan cinta akan semakin mendalam, rasa membutuhkan semakin dalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Yurmawita, terima kasih sudah mampir. Iya mba, peluk-peluk erat...

      Delete
  9. Perih banget bacanya mbak, dapat sudut pandang baru. Menjadi lebih bersyukur dan selalu ingin belajar untuk mejauh dari kata perceraian. Cerita yang dibalut tulisan apik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Silmina, terima kasih sudah mampir. Iya betul, nggak semua laki-laki bajingan kan? Banyak laki-laki baik yang jadi korban perempuan kok.

      Delete
  10. mba ini true story kah?aku sedih bacanya semoga Alloh selalu melindungi keluarga kecilku dan selalu menajdi keluarga samara. Sakit perpisahan itu :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Herva, terima kasih sudah mampir. Ini kisah nyata mba, kisah salah seorang pembaca blog ini. Iya mba semoga Allah melindungi keluarga kita ya.

      Delete
  11. wa... mana lanjutannya? ini real story mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mb Rewinnita, terima kasih sudah mampir. Iya ini kisah nyata. Kisah sahabat saya. Kisah lanjutnnya mohon ditunggu ya...

      Delete
  12. Ya Allah mb, aku nangis baca ini. Aku korban perceraian orang tua juga. Waktu itu ayahku pergi, aku sedih aku rindu. Hiks

    Tapi dalam cerita ini memang beda kasusnya dg keluargaku.
    Semoga Bima mendapat jalan terbaik dan bisa kumpul lagi dg Tiara. Aku benci perceraian. Aku kasihan Sona dan Luna.
    Moga2 Allah menjaga keluarga2 di dunia ini.
    Alhamdulillah aku bersyukur diberi suami dan anak yg setia sekarang. Harus banyak2 bersyukur.

    Salam kenal mb

    Aku mewek hiikss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Mei, terima kasih sudah mampir. Haha iya, saya juga korban.
      Jadi Bima itu pembaca blog ini yang tiba-tiba kontak saya via FB karena ingin mendengar kisah bagaimana saya bertahan selama ini sebagai korban perceraian keluarga alias ABH. Saat itu Bima sedang menjalani proses perceraian yang diajukan mantan istrinya. Usia Sola sama dengan usia saya saay kedua orangtua saya berpisah, 5 tahun. Jadi saya sangat paham bahwa Bima nggak mau apa yang saya dan adik saya alami juga menimpa Sola dan Luna. Jadilah kami mulai banyak berdiskusi hingga tulisan berseri ini lahir. Bukan bermaksud untuk menggarami luka, bahkan jika mantan istri Bima membaca, Saya hanya ingin memberikan kesempatan bagi mereka yang sedang dalam masalah serupa untuk berpikir ulang jika berniat bercerai. Karena bagaimanapun juga perceraian sellau berdampak buruk pada anak-anak.

      Jangan nangis lama-lama mba, nanti matanya bengkak hehehe...

      Delete
    2. Masih nangis aku mbak. Karena semacam mengingat luka lama. Ayah ibu cerai saat aku SMP kls 1 dan adikku baru Sd kls 3 SD. Aku inget waktu itu disuap uang jajan 50ribu saat ayah dan ibuku menjalani proses cerai.

      Aku inget dicium keningku saat malam2 ayahku pergi meninggalkanku dan adikku. Ya allah :(

      Sudah2 malah curhat hahaha

      Iya perceraian itu sebenarnya hanya meninggalkan luka. Untung aku bisa move on. Ngga kebayang deh nanti Sona luna bagaimana.

      Mudah2an banyak yg baca dan menyadari semuanya ya mb.

      Mbak Wijatnika nanti kalau cerita Bima sudah ada, bisa tag aku di FB kalau nggak keberatan mb hehehe

      Delete
    3. Hai Mba Mei, biar nggak nangis, makan bakso pedas aja hehehe. Orangtua saya cerai waktu saya umur 5 tahun dan adik saya bayi 18 bulan. Saya masih ingat banget kejadian hari itu, karena saya nangis menjerit-jerit waktu ibu saya pergi dari rumah, dan paman saya memangku adik saya pergi agar nggak dibawa ibu saya. Hari itu semua orang menyuap saya dengan jajanan. Ayah saya sedang sakit. Dan malam itu juga seluruh ingatan saya tentang ibu saya hilang dari kepala saya. Bahkan saya nggak bisa merecallnya samapi sekarang.

      Betul mba, perceraian itu luka. Luka bagi ayah, ibu dan anak-anak. Nggak ada yang menang dalam perceraian. Semua menangis. Karenanya saya ingin orang-orang berani becerita agar memberi hikmah bagi mereka yang gamang dalam pernikahannya. Karena memang di dunia ini nggak ada manusia ideal, nggak ada pernikahan ideal. Mereka yang langgeng sampai kakek-nenek adalah yang sanggup berkompromi dengan segala kekurangan orang-orang terkasih mereka.

      Delete
  13. Kisah sedih yg ditulis dgn apik sehingga rasanya mau teriak melihat kata 'bersambung'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Melati, terima kasih udah mampir. Iya nih, ditunggu ya kelanjutannya.

      Delete
  14. Memyentuh.... Saat membaca sambil bedoa Semoga kami tak akan pernah sampai ke situasi itu... Lindungi keluargaku ya Allah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Sri Murni, terima kasih sudah mampir. Iya mba semoga Allah melindungi keluarga mba dan kita semua. Amin

      Delete
  15. Bersambung....

    Aku melihat kasus sekitar mgkn ada yg seperti dicerita ini. Siapa yg salah, entah lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear mba Jiah, terima kaish sudah mampir. Cerita model begini mungkin banyak. Menurut saya sih bukan siapa yang benar atau salah. Tapi karena suami istri sudah lelah saling memperjuangkan kebahagiaan.

      Delete
  16. Hidup bersama bertahun2 gak bs jd jaminan pernikahan. Perbaiki diri masing2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Pu, makasih sudah mampir. Iya betul, sepakat 100% saya.

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram