Melancong ke Musi Rawas


Akhir September 2016 silam aku mendapat tugas melakukan riset awal di desa Sukakarya, Musi Rawas, Sumatera Selatan. Aku menempuh perjalanan yang cukup jauh menggunakan kendaraan roda empat dari Palembang. Delapan jam! Rasanya mati kutu di perjalanan karena begitu lama dan membuat badanku remuk redam. Pada saat yang bersamaan aku juga sedang kurang sehat. Aku beberapa kali muntah di perjalanan. Tapi, saat tiba di lokasi dan live in selama 5 hari, aku lumayan terhibur. 


Desa Sukakarya merupakan desa transmigran yang terletak di bagian paling barat Kabupaten Musi Rawas. Hanya perlu mendaki gunung kita sudah bisa menyeberang ke Bengkulu. Letaknya yang tidak jauh dari kota Lubuk Linggau menjadikan desa ini lumayan maju untuk sebuah peradaban di wilayah terpencil. Dan memasuki desa ini tidak membuatku merasa asing, karena homogenitas penduduknya mengingatkanku pada kampung halamanku sendiri. Bahkan, aku merasa sangat akrab dengan penduduknya dan dipersilakan tinggal di salah satu rumah penduduk alih-alih di hotel. 


Selama menjalankan pekerjaanku, aku ya menikmati keindahan khas pedesaan. Aku diajak Pak Sekdes dan Kepala BUMDesa naik ke bukit Cogong. Kami bukan saja melihat wilayah sumber mata air yang mensuplai kebutuhan air bersih warga desa. Juga lokasi wisata alam yang terbengkalau karena salah urus. Kami banyak berdiskusi mengenai potensi sumber daya alam di desa Suka Karya dan berharap kedepan wilayah ini akan berkembang sebagai kawasan wisata hijau. Bukit Cogong merupakan potensi yang sangat disayangi warga desa karena memang menjadi sumber kehidupan.


Aku juga dibawa berkeliling desa sehingga dapat menyaksikan aktivitas masyarakat desa dari dekat, hingga bercengkrama dengan mereka. "Panen ikan nih mbak Ika..." ujar sekelompok pemuda yang sedang memanen ikan gurame di sebuah kolam dekat rumah Pak Sekdes. Setelah ditimbang, ikan-ikan itu lalu dimasukkan kedalam drum berisi air bersih dan dibawa ke desa lain untuk dijual. "Nah, ini saya mau kasih makan ikan mbak Ika..." ujar seorang lelaki muda saat kami tiba di gubuknya, yang kebetulan dibangun diatas kolam. Saat pakan ikan dilemparkan, sekumpulan ikan berebutan makan. Ah, seru sekali. Aku juga dipersilakan memanen ikan untuk kumasak sendiri. Dan dengan senang hati aku membawa ikan itu ke rumah tempat aku menginap dan meminta izin tuan rumah untuk memanen berbagai rempah di halaman. Lantas aku membuat ikan pepes dengan resep warisan nenekku.  Saat aku sibuk membuat pepes, tuan rumah membuatkanku tumis jantung pisang. Alhasil, hari itu aku makan lahap sekali.


Salah satu keuntungan live in di rumah warga adalah aku bisa berinteraksi dengan santai dan alami dengan warga desa, bahkan aku bisa memasak bersama tuan rumah. Di rumah Bu Suhartini aku bahkan boleh membuat request mengenai makanan apa yang sebaiknya beliau masak untuk menu kami bersama. Senangnyam berasa di rumah sendiri haha. 

Menurutku, jika dikelola dengan baik dan warga desa tidak malas, desa ini akan menjadi desa yang maju, atau setidaknya swasembada pangan. Apalagi sekarang desa sudah didukung dengan dana desa dari Kementerian untuk membiayai berbagai kebutuhan pembangunan desa termasuk pengembangan ekonomi desa. "Kami ingin menjadikan desa kami sebagai desa wisata berbasis agrowisata. Desa hijau yang non sampah.." ujar bapak Kepala Desa dengan penuh semangat. Aku senang sekali mendengarnya, di mana kepala desa begitu semangat membangun desanya dengan memanfaatkan potensi yang ada. 

 
Depok, 30 Maret 2017

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram