Lukisan untuk Mama Aleta Fund




Manusia dapat membuat segudang rencana, tapi semesta memiliki caranya sendiri dalam menghadirkan keajaiban dalam hidup. Aku menyebut momen ini sebagai keajaiban karena memang diluar rencana dan membuatku merasa bahagia. 

Sabtu, 11 Maret aku menuju kafe Ke Kini di bilangan Jakarta Pusat guna mengikuti acara soft launch Mama Aleta Fund. Ya, sebuah inisiatif baru telah digulirkan guna mendukung kerja-kerja kemanusiaan Mama Aleta sebutan bagi Aleta Baun, seorang aktivis perempuan asal NTT. Karena kegiatan advokasi yang dilakukannya, pada  15 April 2013 Mama Aleta mendapat penghargaan  Goldman Environmental Award di San Francisco, Amerika Serikat. Goldman Environmental Award merupakan penghargaan lingkungan yang diberikan oleh Yayasan Lingkungan Hidup Goldman kepada para pemimpin yang tanpa rasa takut melawan semua rintangan demi melindungi lingkungan hidup dan komunitas mereka.

Mama Aleta mengaku tak sanggup menerima dana begitu besar dari penghargaan tersebut karena akan menjadi beban di pundaknya. Karena itu, ia ingin agar perhargaan dunia atas kerja kerasnya digunakan untuk membantu kaum perempuan di NTT khususnya di  Amanatun, Amanuban dan Mollo dalam memperbaiki kualitas hidup dan lingkungan. Lembaga-lembaga masyarakat sipil yang selama ini mendampingi masyarakat Mollo melakukan advokasi atas lingkungan mereka turut membantu gerakan ini. Diantaranya adalah WALHI, JATAM, the Samdhana Institute, PIKUL, AMAN, GEF-SGP. dan sebagainya.
Mama Aleta Fund merupakan lembaga pendanaan yang akan digunakan untuk: 
1. perjuangan masyarakat, khususnya perempuan, dalam mempertahankan wiayah dan berjuang menolak perusakan alam;
2. pengembangan dan penguatan generasi baru masyarakat, dengan ikatan sosial yang kuat, terutama yang dirajut para perempuan atas tantangan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan dan menghadapi tantangan besar perubahan iklim;
3. keberlanjutan pangan dan pengembangan ekonomi kreatif, terutama penghidupan kaum perempuan yang berkaitan dengan keselamatan rakyat dan pemulihan alam;
4. pertukaran pengalaman antar wilayah untuk pembelajaran dan pengetahuan mengenai kepemimpinan perempuan
Dan inilah pertama kalinya aku bertemu Mama Aleta. Luar biasa, bukan? Dan karena tidak lagi bekerja di NGO seperti WALHI sehingga merasa tak mampu memberikan sumbangsih, maka aku memutuskan untuk melelang tiga lukisan kesayanganku yang bertema "Aku Perempuan". Disebut kesayangan karena memang ketiga lukisan tersebut merupakan produk periode pertama pembelajaranku menggunakan teknik lukisan titik atau dot artwork. Alhamdulillah, kurang dari 30 menit, ketiganya terjual dengan total harga Rp. 15.000.000 dan 100% aku sumbangkan untuk Mama Aleta Fund. Bahagia rasanya...

Lantas ada teman yang bertanya, "kenapa kamu nggak bagi berapa persen untuk kamu dan berapa persen untuk Mama Aleta Fund? kayak banyak duit aja kamu, Ka." Hm, bukan karena aku punya banyak uang sih. Tapi lebih kepada belajar memberi saja tanpa harus menerima. Kehidupan telah memberiku banyak hadiah dan aku yakin kalau soal memenuhi kebutuhan hidup aku bisa kok. Sudah 13 tahun lamanya aku mandiri dan alhamdulillah baik-baik saja. Uang bukan segalanya. Tapi mungkin dengan kemampuanku aku bisa memberi sumbangsih, sebab aku tak memiliki kemampuan lain yang mumpuni saat ini.


Sebagai anak muda yang pernah besar di WALHI dan memahasi isu lingkungan yang berbaur dengan isu pemberdayaan ekonomi perempuan, aku paham bahwa perjuangan Mama Aleta dan komunitasnya di NTT sana bukan perjuangan yang mudah. Aku memiliki beberapa tahun pengalaman keluar masuk hutan demi melakukan pemberdayaan semacam ini, bahkan kadang-kadang aku mengalami kecelakaan kecil selama di perjalanan. Bahkan, aku pernah nyaris masuk jurang saat melakukan perjalanan mendaki hutan di tapal batas TNBBS bertahun-tahun silam. Jadi, aku hanya menggunakan potensiku untuk mendukung gerakan yang sesuai idealismeku. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kemanusiaan.
AKU PEREMPUAN 
Tuhan mengutusku ke dalam tubuh perempuan. Katanya, sebab perempuan adalah ciptaanNya yang paling indah. Perempuan adalah yang paling kuat hati, raga dan pikirannya.

Sebagai perempuan aku menjadi penjaga dan pemelihara. Dari tubuhku lahir kehidupan yang kupupuk ia dengan darahku dan kusiram ia dengan peluhku. Aku juga melahirkan perempuan; yang baik hatinya; yang jujur sikapnya; yang berani berkata benar; yang terdepan untuk keadilan; yang menghapus kesedihan; yang tidak menyakiti sesamanya; dan yang matanya bersinar secerah bintang.

Aku perempuan dan benar apa yang Tuhan katakan bahwa menjadi menjadi perempuan itu indah. Rahim perempuan adalah taman cinta. Di dalamnya tidak ada hari yang kosong melompong tanpa canda tawa. Katanya, saat perempuan tertawa bunga-bunga bermekaran, padi menguning, pepohonan berbuah lebat dan ikan-ikan di lautan berkecipak gembira. Bahkan saat perempuan menangis airmatanya menjadi hujan yang menguatkan akar tanaman dan menyuburkan dedaunan. Menjadikan bumi menggeliat bangkit bersama biji-bijian yang bertunas seribu, dan membuat kehidupan berlangsung lebih tangguh.

Sebab aku perempuan dan pemelihara kehidupan, aku juga berbicara atas nama keadilan dan kesetaraan. Agar anak-anak dari rahimku menjalani kehidupan yang baik dan gembira. Agar saudara dan saudariku berkarya dalam tentram, tanpa saling curiga. Agar tanah airku gemah ripah sampai nanti, saat anak-anakku yang nomor seribu lahir.

Aku perempuan.
Tuhan mengutusku untuk memelihara kehidupan.
Dan aku bahagia.

Depok, 30 Maret 2017
 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram