Kekerasan Seksual yang Tidak Diceritakan


Oh ya, selamat Hari Perempuan Internasional meski terlambat 1 hari. Seharusnya aku menulis cerita ini kemarin, ketika mendapat cerita segar langsung dari temanku. Tapi, kemarin aku pilek berat dan bersin-bersin sepanjang hari, mungkin karena aku salah makan atau menghirup banyak debu. Dan hari ini aku akan menceritakannya, tentang kekerasan seksual yang tidak diceritakan korban. 

Cerita Pertama 
Tentang Mentari (bukan nama sebenarnya). Mentari adalah perempuan pekerja keras, baik hati, dermawan, pandai bergaul dan idealis. Yang menjadi minatnya adalah pemberdayaan ekonomi, khususnya bagi perempuan. Dia memiliki pengalaman kerja di beberapa lembaga non pemerintah level nasional, yang memiliki nama cukup mentereng di lingkungan pemerintahan dan aktivis nasional. Bekerja, belajar sekaligus bergaul dengan orang-orang cerdas dan idealis sangat mengasyikan baginya. Dia merasa ada di dunia kerja yang ideal, meskipun dalam hal pendapatan lumayan jauh lah dari mereka yang bekerja di proyek-proyek internasional atau lembaga-lembaga PBB. 

Namun pada suatu hari ia dibuat kecewa sekali. "Waktu itu kita lagi ada pelatihan dan aku lagi bantuin fasilitator rapihin dokumen," ujar Mentari kepadaku. Karena memang dia pekerja keras, jadi dia mau saja membantu sang fasilitator pelatihan merapikan dokumen di kamar tempat fasilitator itu menginap, di lokasi kegiatan. "Aku lagi sibuk dengan kerjaanku ketika orang itu tiba-tiba meluk aku dari belakang dan mau menciumku. Jelas saja aku melonjak kaget dan berontak, trus berlari ke arah pintu. Tapi pintu dikunci!" tambahnya lagi. Ya, aku tahu dia pasti panik dan takut. Orang itu sengaja mengunci pintu. 

"Berisik banget sih kamu," Mentari menirukan cara orang itu saat membentaknya. Saat itu Mentari menggigil ketakutan di pojokan pintu. Ia tak menyangka orang yang dia hormati akan melakukan perbuatan tak terhormat itu kepadanya. Karena tidak punya pilihan selain menyelamatkan diri, Mentari mengamuk dan menjerit agar orang itu membuka pintu sebelum orang-orang mendengar keributan dan terjadi kepanikan massal. Meski sebal, orang itu membukakan pintu kamar sehingga Mentari bisa berlari sekencang-kencangnya, ke luar hotel, dan menangis seperti anak kecil. Sebagai perempuan yang berusaha menjaga kesucian dirinya, termasuk dengan berjilbab, ia tentu saja tidak percaya bahwa ada orang yang berniat menodai kehormatannya. "Selama ini aku kenal orang itu sangat baik hati dan banyak membantu menggolkan proposal-proposal program di kantorku," ujar Mentari sedih.

"Aku dibantuin temanku mengadakan sidang tribunal di kantor nggak lama setelah kejadian. Ada aku, orang itu dan seorang seperti hakim. Capek banget aku ngadepinnya karena banyak yang nyinyir ke aku. Aku yang korban mengapa jadi aku yang disalahkan?" ujar Mentari kesal. Dia juga bilang bahwa sebagian teman-temannya yang menurutnya idealis dan biasa pasang badan untuk isu anti kekerasan terhadap perempuan justru bersikap nyinyir padanya. Mereka menganggap Mentari berlebihan. Bahkan tak lama kemudian, pimpinan kantor tempat Mentari bekerja memecatnya. Saat ia dipecat karena kesalahan yang tidak dilakukannya, karena kehormatan yang dibelanya, ia sedang tidak punya tabungan. Ia seperti keluar dari mulut harimau lalu terlempar ke mulut buaya.  

"Berbulan-bulan lamanya aku stress karena peristiwa itu, trus aku dipecat secara tiba-tiba karena orangitu dekat dengan pimpinan tempatku bekerja. Lucu ya, kehormatan pelaku, karena dia laki-laki dan dapat mendatangkan uang bagi lembaga lebih brharga dari kehormatanku sebagai korban, pimpinanku sampai gelap mata dan bersikap nggak adil padaku," ujar Mentari sedih. Mentari juga bilang bahwa ia tak menceritakan kejadian itu kepada siapa pun setelahnya. Selain karena ia trauma,  juga masih tidak percaya bahwa teman-temannya menyalahkannya alih-alih si pelaku hanya karena si pelaku sudah senior dan dekat dengan pimpinan lembaga. 

Mentari juga bilang bahwa kasusnya kini menjadi bahan candaan di kantor tempatnya pernah bekerja itu. "Kata temenku yang masih kerja disana, kasusku jadi bahan candaan orang sekantor. Gini katanya, 'eh jangan pegang-pegang, pelecehan ini...' lalu mereka tertawa bersama seakan-akan itu hal lucu," ujar Mentari dengan wajah campuran antara sedih dan kesal. Ya, orang-orang itu tidak sadar bahwa mereka sedang menumbuh suburkan bibit-bibit kekerasan seksual di lingkungan mereka sendiri. Mungkin, mereka baru akan tutup mulut, berhenti tertawa dan bersimpati kepada Mentari jika mereka menjadi korban. Tapi apakah kita harus mendoakan mereka untuk jadi korban agar mereka sadar bahwa mereka salah?

Cerita Kedua
Gadis manis itu bernama Aini (bukan nama sebenarnya). Dia mahasiswi sebuah kampus paling ternama di kotanya. Dia kuliah di salah satu jurusan di FISIP, karena menurutnya di masa depan dia akan menjadi seorang analis sosial dan politisi ternama. Dua minggu sekali ia pulang kampung, ke salah satu kabupaten menggunakan bus, untuk bertemu dengan keluarganya. Biasanya Aini pulang sore hari agar diperjalanan tidak terlalu panas dan sampai di rumah pada malam hari. Selama beberapa tahun melakukan perjalanan pulang-pergi dari kampung halaman ke kota, Aini merasa aman. Lagipula dia yakin bahwa tak akan ada yang berani mengganggu perempuan berhijab. Aini yakin, bahwa Tuhan akan melindungi dirinya dari ulah manusia tidak bertanggungjawab. 

Pada suatu hari di jadwal kepulangan Aini ke kampung, ia merasa resah entah kenapa. Tapi ia tetap melakukan perjalanan itu karena memang harus pulang. Ia butuh uang untuk skripsi dan orangtuanya memintanya pulang kalau gadis itu membutuhkan uang. "Malam itu rasanya resah banget. Di perjalanan Aini tuh ngantuk banget, dan tidur sepanjang perjalanan. Padahal biasanya Aini nggak tidur terlalu lama karena suka melihat pemandangan sepanjang perjalanan," Aini lalu berhenti sejenak untuk menarik nafas dan menghembuskannya pelan-pelan. Sepasang matanya juga mulai berkaca-kaca. 

Aini mengaku entah bagaimana bisa saat itu ia tertidur begitu pulas sampai tak menyadari bahwa seorang lelaki sedang meraba-raba tubuhnya sambil bicara asyik dengan lelaki lain. Aini merasa sedang bermimpi dan sulit sekali membuka mata, dan kepalanya begitu berat. Tapi saat ia mendengar samar-samar suara seseorang mengatakan bahwa dia akan membawa Ainu ke suatu tempat, ia melonjak kaget. Aini merasa seseorang sedang bersekongkol dengan orang lainnya untuk memperkosanya secara bergiliran. "Aini sontak bangun dengan takut. Ternyata bukan mimpi. Ada orang yang memang meraba-raba tubuh Aini, dan berencana melakukan pemerkosaan. Aini teriak ketakutan dan bertanya kepada sopir apakah Aini sudah sampai di kampung apa belum. Aini teriak-teriak agar semua penumpang yang tinggal sedikit tahu apa yang terjadi. Waktu itu beberapa penumpang mengatakan kami telah sampai di suatu rempat yang telah jauh melewati kampung Aini," padaku Aini bercerita bahwa ia sangat panik dan hari sudah sangat malam. Bus yang ia tumpangi telah sangat jauh melewati kampungnya. Bus itu sedang memasuki suatu kampung yang tidak ia kenal, meski ia pernah dengar namanya.

Aini merasa ia dimanfaatkan oleh kernet bus yang bekerja sama dengan lelaki jahat yang berniat memperkosanya karena ia terlampau lelap tidur. "Aini teriak minta turun dan tak peduli harus tiba di kampung siapa, yang nggak Aini kenal. dan hari itu pukul 10 malam. Kampung itu begitu gelap dan sepi. Aini takut dan tidak mau membiarkan segerombolan orang jahat memanfaatkan situasi," kata Aini. Bus berhenti dan Aini meloncat turun di sebuah kampung yang tidak ia kenal. Ia berlari ketakutan mencari masjid terdekat. Ia kemudian ditemukan marbot Masjid yang menolongnya menginap di rumahnya bersama keluarganya sebelum kembali ke rumahnya keesokan harinya. 

Kepada marbot Masjid itu, Aini hanya bilang ia ketiduran sehingga terlupa bahwa kampung halamannya sudah jauh tertinggal di belakang. Bahkan saat ia sudah tiba di rumah dengan selamat pada keesokan harinya, ia tidak menceritakan kejadian menakutkan yang menimpanya kepada kedua orangtuanya. Bahkan kepada siapa pun setelahnya, bahkan kepada sahabatnya sendiri. Aini merasa pengalaman itu sangat mengerikan. "Aini berjilbab. Waktu itu Aini pakai gamis dan jilbab panjang. Tapi masih saja Aini menjadi korban percobaan kekerasan seksual. Aini merasa Allah tak peduli pada Aini dan nggak berani cerita ke siapa-siap karena Aini sudah tahu akan  seperti apa tanggapan orang. Aini akan tetap disalahkan karena Aini perempuan dan pulang malam-malam," katanya padaku dengan sedihnya. Ia merasa kecewa bahwa ternyata berjilbab tidak juga menyebabkan ia aman dari gangguan lelaki jahat. Ternyata, dunia tidak aman dan lelaki jahat selalu ada di mana saja.

Sejak kejadian itu, Aini menjadi semakin jarang pulang kampung. Jika pulang kampung, ia tidak lagi pulang pada sore atau malam hari. Ia memilih bus pagi hari meski di perjalanan ia harus kepanasan. Ia juga memotong semua gamisnya, menjadi pakaian pendek dan perlahan-lahan mengubah penampilan, berjilbab seperti orang kebanyakan, hanya melapisi tubuh dengan kain. Ia memutuskan lebih waspada dengan membawa sebuah pisau dalam tasnya. Ia bertekad berubah dan menjadi perempuan yang terlihat kuat agar tak ada lagi yang berani mengganggunya. "Bayangkan, sekarang kemana-mana Aini harus membawa pisau dalam tas. Sedih ya harus memposisikan laki-laki secara umum sebagai 'bisa saja dia predator' padahal seharusnya kan kita dapat hidup berdampingan dengan baik. Dan Aini kan tidak membuat mereka tergoda dengan alasan pakaian. Aini berhijab lho," pungkasnya sedih sembari tersenyum tipis. 

Mengapa Tidak Diceritakan? 
Kisah Mentari dan Aini hanyalah dua dari banyak kisah serupa, yang tidak diceritakan. Dalam masyarakat yang memandang bahwa laki-laki dapat apa saja, peristiwa semacam ini dapat terjadi di mana saja dan dilakukan oleh siapa saja. Kadang-kadang, orang tidak sadar bahwa dirinya sedang melakukan percobaan kekerasan seksual. Parahnya, korban juga menjadi korban 'victim blamming' dari masyarakat, bahkan dari kalangan perempuan. Karena kondisi masyarakat yang tidak sehat inilah, banyak korban kekerasan seksual yang tidak berani menceritakan kisahnya. Meskipun mereka paham bahwa dengan menutup mulut dan seolah-olah kejadian tersebut tak pernah ada, semakin memberi jalan mulus bagi para predator seksual. 

Lagipula, masyarakat kita seringkali memberi stigma negatif pada perempuan 'yang sudah disentuh dengan tidak semestinya' sebagai petempuan kotor dan tidak suci lagi.  Rasanya, dalam dunia kejahatan, hanya korban tindakan kekerasan seksual yang tidak dapat dengan lantang mengatakan bahwa ia korban kejahatan, sebagaimana korban pencurian, penipuan, begal, pemukulan, perselingkuhan sampai perampasan tanah. Korban kekerasan seksual idak dapat bersuara untuk menuntut keadilan. Bahkan jika kasus mereka dibuka ke publik dan ditampilkan di televisi, wajah mereka sengaja di tutupi agar tidak mendapat cemooh publik. Mengerikan dan menyebalkan, bukan? 

Contoh di mana korban kekerasan seksual disembunyikan idenditasnya padahal dia adalah korban. Dalam kasus ini, publik tahu pelakunya siapa. Mengapa demikian?
Pada momen Hari Perempuan Internasional ini aku berharap kita semua semakin terbuka terhadap isu kekerasan seksual dan membantu para 'survivor' untuk menjalani hidup lebih baik lagi. Bagaimanapun juga, setiap orang berhak atas rasa aman dari kemungkinan menjadi kejahatan seksual. Setiap orang berhak hidup berdampingan dengan baik dan tentram, saling percaya satu sama lain dan tidak menjadikan seseorang dengan jenis kelamin berbeda sebagai musuh apalagi korban nafsu sesaat. Selain itu, setiap kita, baik laki-laki maupun perempuan, harus menjaga dirinya agar tidak tidak menjadi korban atau pun pelaku kekerasan seksual. Hidup akan lebih indah jika kita mampu bersatu padu menciptakan dunia yang aman bagi semua orang.

Depok, 9 Maret 2017

Sumber gambar dan bahan bacaan:
http://www.suara.com/amp/news/2016/11/26/062713/awas-kekerasan-dan-pelecehan-seksual-di-perusahaan-media-massa
https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=imgres&cd=&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwiM49m9hsnSAhUBQZQKHTH6DK4QjxwIAw&url=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3DZ62nxOiGW9Y&psig=AFQjCNHeIO27PiFCStr9fGMYhcbxGWEmeg&ust=1489136118659391
https://www.merdeka.com/peristiwa/33-anak-di-bawah-umur-di-sukabumi-korban-pelecehan-seksual.html

Wijatnika Ika

7 comments:

  1. Sedih banget kalau dengar cerita2 pelecehan seksual mbak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai April, makasih udah mampir. Ya begitulah. Tapi memang harus berani bercerita agar kita dapat belajar cara berhati-hati.

      Delete
  2. Nyesek bacanya..salam kenal aja mbk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mahbub, makasih udah mampir. Iya, saya pas dengar cerita trus nulisnya aja nyesek. Sedih banget.

      Delete
  3. sedih. ngeri.

    saya pernah mb, pulang jam 9 mlm, belasan tahun lalu di jogja. tahun segitu pulang jam 9 udah malam bgt. waktu itu sy pulang dr jaga rentalan komputer.

    mampirlah saya di pom bensin, beli bensin. seperti biasa, saya bawa tas selempang dan biar aman saya masukkan ke jaket. memang tampang saya jadi aneh kayak orang hamil.

    pas mau diisi bensin, pas itu cuma sedikit pembeli di sana, petugasnya mencoba menyentuh "perut hamil" saya.

    "wis pirang sasi iki?" katanya kepada temannya sambil ketawa-ketawa.

    refleks saya mundur menghindar. alhamdulillaah ga kena mbak.

    tapi rasanya ingin misuh betulan. pingin teriak "kurang ajar!" gitu.

    ya Alloh. enak betul dia mau pegang saya! ga terima sampai sekarang.

    yang kedua pelecehan di ruang operasi. tahun 2003 saya operasi FAM. pas siap di meja operasi, nunggu dokter bedah datang, datang satu dokter laki yang sebelumnya saya dengar dia bicara sama perawat dan perawatnya bilang kalo saya berjilbab.

    sepertinya dia dokter muda apa gimana, yg jelas bukan dokter bedah yng saya kenali dan bukan dokter anestesi.

    dia masuk dan tanya, "(payudara) mana yang mau dioperasi?"
    perawat jawab, "yang kiri."
    dia buka dada kiri saya lalu sambil ketawa bilang, "yang kanan enggak" dan sambil buka bagian dada kanan saya!

    dokter apa itu?

    perawat buru-buru nutup dada saya.

    pingin saya teriakin dia. sayangnya saya ga bisa. dan sayangnya saya ga tau dia itu siapa.

    ada juga ya pelecehan di meja operasi???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dih Serem banget..koq malah kaya gitu sih tenaga medisnya... apa soal begini ga bisa dilaporin ke polisi?

      Delete
  4. Hai mba Damarojat, makasih udah mampir. Duuh, ceritanya ngeri banget ya. Btw, bukan sekali dua kali aku mendengar cerita semacam itu yang melibatkan tenaga medis (beberapa cerita dari orang medis sendiri) Mungkin orang medis udah terbiasa bercanda dengan melibatkan antomi tubuh. Tapi kupikir, mereka juga harus menghormati hak pasien atas tubuh mereka. Mudah-mudahan cerita ini memberi makna dan kejadian serupa nggak terulang bagi siapa pun.

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram