yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti


Assalammu'alaikum

Malam-malam begini aku nggak bisa tidur. Jadi, sebagaimana judul yang tertulis (yang kupinjam), aku sedang mendengarkan lagu-lagu Banda Naira, sealbum, diulang-ulang. Dan memang aku jatuh cinta dengan lagu ini -yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti- dengan lirik lagu yang indah, tapi begitu nelangsa dan menampar-nampar. Ya, aku lumayan tertampar. Rasanya aku lah yang disebut tersungkur dan jadi debu dalam lagu ini. Tapi kalau aku mau aku bisa tumbuh menjadi aku yang baru. Toh, hidup adalah pilihan. 

Omong-omong soal pilihan hidup, aku sempat berdiskusi degan temanku orang Medan, bahwa ia merasa 'belum' membutuhkan apa-apa dalam hidup ini kecuali kebebasan dan kemerdekaan. Tapi, benarkah kebebasan dan kemerdekaan itu ada? Sebab kupikir, setiap manusia terikat sejak ia bertumbuh dalam rahim ibunya. Ikatan yang pertama yang tidak membuatnya bebas dan merdeka adalah soal budaya, tradisi, norma-norma, kemudian soal agama, hukum formal dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya. Jadi, apa sih kebebasan dan kemerdekaan yang dimaksud? Hm, mungkin kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih dan memilah apa yang akan dan tidak akan dilakukan dalam hidupnya. Sebab kuakui, aku bukan orang yang bebas dan merdeka. Ada banyak hal yang mengikatku.




Jatuh dan tersungkur di tanah aku
Berselimut debu sekujur tubuhku
Panas dan menyengat
Rebah dan berkarat


Yang,
yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti


Di mana ada musim yang menunggu?
Meranggas merapuh
Berganti dan luruh
Bayang yang berserah
Terang di ujung sana

Depok, 10 Agustus 2016

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram