MIMPI MIMPI MIMPI


Assalammu'alaikum

Pas ngetik judul kok merasa aneh, merasa ada yang sedang ngacak-ngacak isi kepala. MIMPI. Kenapa yang bisa ada kata M-I-M-P-I yang kemudian memiliki kecocokan makna dengan maksud yang sama dalam bahasa Inggris misalnya, D-R-E-A-M. Omong-omong soal mimpi, sebenarnya sih kali ini aku mau curhat tentang mimpi-mimpi. Mungkin ini sejenis tulisan konyol sebelum aku nulis hal serius lagi...

Tulisan ini berlatar belakang sederhana, gara-gara ada yang menyentil kembali mimpi-mimpiku semasa remaja, yang sebenarnya udah buyar entah kemana. Udah jadi debu. Soal masa depan. Soal pernikahan. Soal rumah. Mungkin nggak akan ada yang percaya bahwa aku yang masih sendiri di usia ini pernah punya mimpi menikah pada usia 22 tahun, hehehe. Siapa impianku waktu itu? Hm, kakak tingkatku dari fakultas berbeda. Sumpah itu orang kece banget (dalam pikiranku waktu itu). Manis, cerdas, respek ke kaum hawa, soleh dan punya visi hidup yang jelas. Idola kaum hawa deh waktu itu. Kenapa mimpi itu buyar? Ya cuma Allah, aku dan orang itu yang tahu.

Lalu, lalu, lalu...
Gara-gara rambutku rontok, aku jadi ingat sama cinta monyet masa SMP. Ada satu orang yang suka padaku cuma gara-gara rambutku. Ya, hanya gara-gara rambut. Aneh banget kan? Dan setelah kuinvestigasi dengan berbagai cara keberadaan nih orang, nggak ketemu juga dimana rimbanya. Ya sudah lah, hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi. Dan, ingatan ini membuka kotak ingatanku yang lain. Kini, ingatanku terlempar ke masa-masa itu, dan aku tetiba kangen dengan teman-teman sekolahku. Juga pada seorang guru Bahasa Indonesia, yang menjadi satu-satunya guru yang paling mendukungku dalam mengembangkan kemampuan tulis-menulis. Sosok yang bersahaja, kurus kering, perokok berat dan penjudi. Aku lupa kapan terakhir kali bertemu dengan beliau dan ngobrol tentang buku, juga tentang mimpi-mimpi. Yang pasti, dari pancaran sepasang matanya, aku tahu bahwa beliau berharap aku bisa memberinya kebahagiaan dengan tercapainya impianku dalam dunia tulis-menulis yang sampai sekarang masih dalam proses. Proses yang panjang dan harus terus dijalani dengan tekun.  

Balik lagi ke mimpi-mimpi soal tiga hal: masa depan, menikah, rumah. Selain mimpi sama si kakak yang buyar, pernah juga sih jatuh cinta lagi ke dua orang saja. Rasanya, pada saat aku jatuh cinta sama masing-masing mereka, aku bertemu dan memimpikan sosok yang tepat untuk mengisi kekurangan yang ada padaku. Seperti menemukan bagian puzzle hidupku yang hilang, untuk melengkapiku. Dan, akhirnya buyar juga sampai nangis bombay berminggu-minggu. Yang terakhir bahkan bikin aku nggak bisa move on sampai 2 tahun lamanya. Bukan jodoh, bukan takdir. Klise. 

Jadi, apa mimpiku hari ini? 
Setelah mengalami sekian tahun dunia yang menyusut dan membuaku remuk, aku berusaha bangkit. Aku memulai kembali hidupku dari nol. Aku bertemu seseorang. Tapi entah bagaimana, kali ini aku merasa gila. Dan aku tidak pernah segila ini sebelumnya. Aku ingin mundur, tapi selalu tak bisa. Aku ingin menyerah, tapi selalu kembali berdoa. Aku ingin berhenti, tapi sisi lain hatiku selalu berkata agar aku mencoba dulu, berjuang dulu, sampai batas paling akhir yang bisa diperjuangkan. Sampai Tuhan memberikan jawaban...

Aku tidak punya ambisi untuk merengkuh dan memiliki apa yang kuinginkan seekstrim lompatan seekor cheetah saat berburu. Aku sudah berusaha, tapi selalu patah. Aku lelah dan hanya ingin memberi waktu untuk diriku sendiri agar dapat berkompromi dengan keadaan-keadaan yang kadang-kadang tidak masuk akal, dan dalam beberapa hal sangat mengejutkan sampai-sampai membuatku kehabisan kata-kata, bahkan rasanya saat itu aku berubah wujud menjadi patung. 

Apakah aku sedang tersesat dan tak sadar diriku tersesat? 

Jadi, meski aku merasa gila, aku sudah bertekad akan mencintai dengan sederhana, sebiasa kehadiran udara. Menerima kehadirannya dengan tangan terbuka dan dengan penuh pengertian. Aku tidak ingin tergesa-gesa. Hanya ingin jatuh cinta setiap hari, sepanjang tahun sampai selamanya. Hanya ingin belajar hal-hal baru setiap hari, seperti sebuah biji kecil yang tumbuh bersama waktu sampai akhirnya ia bisa bertemu dengan langit biru di ketinggian, sebagai pohon yang kuat, rindang dan anggun. Aku ingin lebih banyak belajar diam, menerima, menunggu dan mendengarkan. 

Jika selama ini aku selalu memberontak untuk hal-hal yang diluar alur pikirku dan bertentangan dengan isi hatiku, kali ini aku akan mencoba hal lain. Mungkin semacam menyerahkan diriku kepada kehendak semesta. Bisa jadi, dengan demikian akan muncul kebaikan-kebaikan dari semua hal biasa itu, hal yang tidak lagi perlu dipikirkan terlalu rumit dan ideal. Hanya itu...

Mimpiku: aku terbangun oleh deburan ombak dan semilir angin dari gunung secara bersamaan, pada suatu pagi yang tenang di rumahku. Lalu aku akan menyeduh secangkir kopi yang wanginya sangat kukenal sejak aku kecil dan menyesapnya dengan penuh rasa syukur, lalu aku menyiapkan kegembiraan sederhana untuk keluarga kecilku yang mendatangiku dengan sekeranjang bunga warna-warni yang mereka petik dari halaman rumah. 

Demikian curhat hari ini, semoga pembaca mengerti bahwa kadang-kadang aku ini sangat konyol, melankolis, sentimentil atau apa pun sebutannya. Membaca tulisan ini sembari mendengarkan lagu "Dealova" versi Once Mekel sangat disarankan hehehe...

Depok, 24 Agustus 2016
Sumber gambar:
http://wallpaperbook.net/sweet-dream-home-wallpaper-for-desktop/

Wijatnika Ika

4 comments:

  1. What a very sweet dream, Ika. Moga Allah wujudkan mimpimu jadi kenyataan, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir Izzah,
      Mimpi harus kita bangun manis dan ideal, tapi kita tetap harus bijaksana dan penuh kompromi dalam realitas 😊

      Salam,

      Delete
  2. Mimpi, milik orang-orang yang berani bermimpi. lalu dilekatkan dalam diri dengan kebijaksanaan. Soal jodoh saya juga selalu bertanya-tanya, siapakah jodohku? Ini yang juga menjadi pertanyaanku saat ini.

    Semangat Kak Ika. Hidup memang perlu bergerak karena ia anti-statis, apapun yang menjadi rintangan kita..

    Salam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir Laode,
      Dan saya apresiasi masukannya. Semoga Tuhan selalu memudahkan jalan kebaikan...

      Salam,

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram