Tuhan yang Asing di Telinga


Assalammu'alaikum

Bagiku, kadang-kadang Tuhan, dengan nama-namaNya yang indah, begitu asing ditelinga. Entah mengapa. Entah bagaimana bisa. Aku bahkan tengah kehilangan selera untuk menjerit-jerit menyebut namaNya dalam doa-doaku. Aku bahkan tak bisa meneteskan airmata saat berdoa. Aku merasa hilang saat menghadapkan diriku padaNya, hilang entah kemana, ke tempat yang bahkan tak sanggup kuberi nama sebab ia begitu mudah lenyap dari kenangan. Aku umpama kapal yang diam ditengah samudera, yang terapung menunggu nasibnya untuk tenggelam atau berlabuh dengan selamat. Aku sering bertanya pada diriku sendiri: mungkinkah aku sedang tidak beriman? atau mungkin aku memang tidak beriman dan selama ini pura-pura beriman? atau aku meragukan keberadaan Tuhan yang tak sanggup kusentuh dengan keduaku yang kecilku ini? mungkinkah aku terlalu banyak bertanya? tapi mungkinkah aku tak pernah bertanya? sedangkan pertanyaan-demi pertanyaan terus berhamburan dari kepalaku umpama kerinduan yang bertunas seribu.

Tetapi ya memang salahku juga. Aku membangun harapan tinggi pada manusia, pada komunitas yang meyakini satu Tuhan yang sama denganku. Dan ditengah segala keganjilan itu aku semakin tak tahan menemukan hal-hal yang membuatku merasa asing, terhadap Tuhan yang kuyakini. Seperti para agamawan yang memimpin ibadah di masjid di dekat tempat tinggalku, yang sering membaca ayat-ayat Tuhan dengan tergesa-gesa, dimana kata-kata berlarian dan berlompatan begitu gesitnya seakan-akan tengah dalam sebuah perlombaan sampai-sampai aku tak mampu menangkap bahwa ia tengah mengajak memuja Tuhan atau bagaimana. Adakah nama Tuhan yang berhasil ditangkap telingaku? Aku merasa tidak yakin. 

"Benarkah Allah itu Maha Besar?" tanya Pak Erfan, guru Fisika di SMU, 14 tahun silam. Seisi kelas terhenyak dengan pertanyaan tak biasa itu pada pagi dimana kami tengah bersiap-siap mempelajari rumus entah apa lagi yang tak kumengerti. Kami hanya diam melongo seperti anak ayam yang tiba-tiba berhenti meributkan jatah makanan demi melihat satu pemandangan asing

"Apakah Tuhan tetap Maha Besar jika Dia menciptakan sesuatu yang lebih besar?" tanya beliau kemudian. Sial! pertanyaan macam apa itu ditengah-tengah kelas fisika yang ganjil dan membosankan. Hm, apakah Tuhan yang Maha Besar memang menciptakan sesuatu yang lebih besar dariNya? pertanyaan itu terus mengangguku dan beberapa teman. Kami benar-benar bungkam. Itulah pertama kalinya aku belajar filosofi yang bahkan sampai sekarang pun aku masih belum mengerti bagaimana menjawab pertanyaan itu. Ia masih berupa hantu yang menguntitku kemana-mana. Satu hal: aku bodoh. Terlampau bodoh dan selama ini aku beragama dengan bodoh. Jadilah aku ini manusia dengan kebodohan yang tak terkira. Padahal bisa jadi itu pertanyaan sangat mudah dari guruku yang saat ini rambutnya sudah memutih semua. 

Dan bagiku, nama-nama indah Tuhan menjadi semakin asing saat semakin banyak kutemui ketidaksinkronan dalam pemujaan manusia kepada Tuhan. Alih-alih mengagungkan Tuhan, banyak diantara kita yang lebih suka berkelana dengan kebencian dan kekerasan yang membawa-bawa Tuhan seakan-akan Tuhan bisa diseret-seret dalam kehendak dungu manusia. Manusia marah saat Tuhan dihina tapi lupa menghukum diri sendiri saat kita merusak ayat-ayat Tuhan yang nyata baik berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan bumi tempat kita berpijak. Kadang-kadang Tuhan juga dicerminkan sebagai yang menerima persembahan kekayaan berupa istana bernama Masjid yang indah, megah lagi kokoh sementara kita memalingkan wajah dari kaum miskin papa yang mati di tiang gantungan karena kehilangan pertolongan Tuhan dan hamba-hamba sejati Tuhan yang Maha Baik, Maha Pengasih, Maha Penyantun. Maha Segala.

Mungkinkah Tuhanku lenyap dari hatiku? dari pikiranku? 
Mungkinkah selama ini aku memang tidak mengenal Tuhanku? 
Mengapa rasanya segala sesuatu menjadi asing
dan aku merasa tak mengenal orang-orang?
Bahkan lupa bahwa aku mengenal diriku sendiri.
Atau sebenarnya aku tak mengenal diriku sendiri?  

Kadang-kadang, aku kehilangan Tuhan saat mendapati kaum agamawan mensyukuri kebinasaan manusia lain karena mereka merupakan penjahat yang dianggapnya pantas masuk neraka jahanam. Mengapa kita dengan mudahnya menganggap seseorang yang kita nilai jahat pantas masuk neraka dan menerima hukuman Tuhan sedangkan tangan kita bisa jadi belum pernah sekalipun berupaya menyelamatkannya dari melakukan kejahatan? Sungguh aku merasa asing, sebab rasanya bukan ini Islam yang kupelajari. Bukan Islam yang mengajak mensyukuri sesiapa pantas masuk neraka sebab Islam yang kuyakini adalah jalan pulang yang Tuhan tunjukkan dengan penih kasih sayang.  Dan aku pun serta merta melihat kedua tanganku, tangan yang hina dan belum melakukan kebaikan berarti bahkan untuk menyelamatkan diriku sendiri dari ketidaktahuanku tentang Tuhan dan mungkin juga murkan Tuhan. Apakah Islam dan Nabi Muhammad yang welas asih adalah dongeng?

Jadi..
Ya begitulah,
Aku yang dungu dan lemah ini tengah bingung
Terutama karena hujan dan langit kelabu
semakin bikin bingung,
Mungkin sebaiknya aku menunggu saja.
     
Depok, 22 Juli 2016

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Berat mba pembahasannya :D. Bener2 butuh keimanan dan keyakinan yg kuat ya utk bisa menjawab pertanyaan begitu. Aku sendiri masih dlm tahap percaya kalo Tuhan memang ada, tapi kdg msh berpikir kemana Tuhan saat semua org berperang di timur tengah sana, saat teroris dengan dalih membela Nya membunuh anak2 ga berdosa... Apa imanku masih lemah juga yaa krn mempertanyakan itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Fanny, dan waktu kecil saya sering menganggap bahwa Tuhan tidur di atas awan-awan putih yang lebuh (Akibat kebanyakan nonton film Cina dengan imaninasi kahyangan dan istana langitnya di atas awan putih hehehe). Dan sampai sekarang saya masih sering merenung sendiri, terutama ketika dunia Islam berwajah seperti saat ini dan saya nggak bisa melakukan apa-apa.

      Salam,

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram