Pesan Bapak untuk Calon Bapak


Assalammu'alaikum,

Halloo dunia! Hm, mau cerita tentang beberapa film yang kusaksikan di bioskop menjelang lebaran. Dari beberapa film yang kunikmati dengan penuh minat, pertama-tama aku akan cerita film terakhir yang kutonton yaitu "Sabtu Bersama Bapak" yang diangkat dari novel populer berjudul serupa karya Adhitya Mulya. Sebelum memutuskan menulis aku sempat bingung sih mau nulis tentang siapa: tentang si Bapak, si ibu, si bapak muda, si calon bapak atau semua tokoh. Setelah bermeditasi beberapa hari (gaya bener ya hehehe) kuputuskan bahwa beginilah reviewku atas film tersebut: 

Pada suatu hari, di kota Bandung, pasangan muda Gunawan dan Itje dikejutkan oleh sebuah surat dari Lembaga Kanker yang menyebutkan bahwa Gunawan menderita kanker dan umurnya nggak lama lagi, kemungkinan tahun depan sudah meninggal. Sebagai bapak muda dengan dua bocah lelaki yang masih SD ia jelas sedih, sangat sedih. Mungkin sejenis sedih yang tak bisa dijelaskan kata-kata. Tapi sedih aja nggak cukup untuk menghadapi kenyataan sepahit itu. Sebagai kepala keluarga, ia mencoba melakukan sebuah terobosan baru dan anti-mainstream dalam mengawal perjalanan kedua bujangnya hingga kelak mereka menikah jika ia ditakdirkan meninggal dunia; dan agar sebagai bapak ia tak dilupakan begitu saja oleh keluarganya. Ibu Itje, sebagai kekasih hati bapak Gunawan yang bijak, berjanji akan membesarkan, mendidik dan mengawal semua proses pendewasaan anak-anak mereka sampai memasuki gerbang penikahan, ke dunia baru sebagai kepala rumah tangga. 

Ada beberapa hal yang dilakukan pak Gunawan sebelum ia meninggal yaitu menyiapkan dana untuk pendidikan anak-anaknya; berbicara dengan kedua bocah lelakinya soal kepindahannya ke dimensi yang lain melalui kematian; dan membuat rekaman untuk diputar pada pertemuan keluarga setiap Sabtu. Jadilah sejak SD sampai mereka lulus kuliah kedua anak pak Gunawan yang bernama Satya dan Cakra setia mengikuti Kuliah Sabtu bersama rekaman sang Bapak di televisi. Pertemuan ratusan Sabtu itu tidak saja menjadi obat pelepas rindu keluarga kecil mereka, tapi juga semacam kuliah tambahan yang sangat istimewa dari bapak untuk dua calon bapak, dari dimensi lain. 

Sabtu demi Sabtu yang dijalani keluarga kecil ibu Itje ternyata telah menanamkan semacam doktrin di kepala kedua anaknya, terutama Satya. Sebagai sulung ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang segala sesuatu dalam hidupnya harus berjalan sempurna, sebagaimana rencana dan sebagaimana yang diajarkan bapak. Satya bukan saja tumbuh menjadi lelaki tampan dan menjadi idola para gadis, tapi juga cerdas dan punya karir yang cemerlang. Ia kemudian memiliki pekerjaan dengan gaji sangat besar, istri yang cantik dan anak-anak yang menggemaskan. Sebagaimana sang bapak, Satya membagi peran dalam keluarga kecilnya menjadi dua, yaitu Satya untuk urusan publik/mencari nafkah dan membuat keputusan-keputusan penting, sementara istrinya mengurus urusan domestik serta memastikan anak-anak mereka sekolah dan tumbuh dengan baik. Pengelolaan yang konvensional.


Bagi Satya, sang Bapak dan semua pesan-pesan dalam pertemuan Sabtu mereka adalah doktrin yang menghipnotis, yang menyatu dengan aliran darahnya, yang manunggal dalam dirinya. Dalam kepalanya  seakan tertulis sebuah motto "Jika bapak bisa maka saya pun bisa!" dan hal itu pula yang ia ajarkan di keluarga kecilnya. Satya mendoktrin keluarga kecilnya harus sempurna. Misalnya anak-anaknya harus cerdas dan nilai-nilai sekolah mereka harus sempurna. Tidak boleh ada kata gagal, tidak boleh ada nanti jika sekarang bisa. "Jika bapak bisa maka kalian pun bisa!" begitulah ia mendoktrin anak-anaknya. Ia mau anak-anaknya secerdas dirinya, seberhasil dirinya, sesukses dirinya dan menjalani hidup yang sesuai dengan rencana yang ia buat. Satya ingin keluarganya berjalan dalam track yang benar, yang sempurna dan membanggakan. Jika ada hal-hal kecil yang melenceng dari rencananya maka ia merasa telah gagal sebagai seorang ayah; sekaligua gagal menjalankan pesan-pesan bapaknya yang menurutnya sempurna

Cara Satya menjalankan rumah tangganya tampak berhasil. Dengan gajinya yang besar ia bisa memberikan keluarganya rumah yang bagus dan tabungan yang cukup untuk membiayai pendidikan anak-anaknya kelak. Tapi lama-kelamaan istrinya lelah dan bosan. Ia lelah mengikuti cara Satya bahkan dalam konteks memandang kesalahan kecil anak-anaknya di sekolah atau kegagalan mengikuti les ini-itu. Ia ingin anak-anaknya tahu bahwa dunia ini tidak sempurna dan manusia memang melakukan kesalahan-kesalahan, karena itulah hidup jadi berwarna. Tapi Satya tidak terima dan merasa bahwa istrinya melakukan kritik yang tidak pantas pada nasehat-nasehat mendiang pak Gunawan yang selama ini menjadi guru Satya, menjadi panutan dalam menjalankan rumah tangga. Ia merasa bahwa istrinya lah yang selama ini tidak becus mengurus rumah tangga sementara dirinya bekerja keras mengumpulkan nafkah demi kehidupan yang layak dan berkecukupan. 

Pada titik inilah Satya mengalami jungkir balik. Ia merasa telah begitu sempurna sebagai seorang ayah dan telah menjalankan nasehat sang bapak dengan baik dalam memimpin keluarga, yang baru saja dibantah habis-habisan oleh istrinya. Ia pun bingung dan mempertanyakan semua nasehat Sabtu sang bapak yang ia anggap sebagai kebohongan. Lalu Satya bermimpi bertemu sang Bapak dan mereka bertengkar (hm, agak gimana gitu pas nonton adegan ini) soal perbedaan 'keberadaan' sang bapak dan Satya, soal bagaimana Satya menerapkan "Bapak's Method" dalam rumah tangganya dan soal kerinduan antara bapak-anak. Sebagai anak yang menelan mentah-mentah semua nasehat sang bapak,  Satya tidak menyadari bahwa selama ini istrinya telah berusaha menyeimbangkan kekakuan Satya dalam memimpin biduk rumah tangga mereka.

Singkatnya, setelah bertengkar hebat dan istrinya meninggalkan rumah, melalui berbagai rekaman kegiatan keseharian sang istri lah Satya menjadi sadar bahwa bukan cuma dia yang bekerja keras untuk keluarganya. Sebagai kepala rumah tangga yang jarang di rumah karena harus bekerja di lapangan demi gaji yang besar, ia baru menyadari bahwa mengurus rumah dan anak-anak bukan pekerjaan gampangan. Ia tercenung oleh kenyataan bahwa bukan cuma cari nafkan yang melelahkan, tapi juga mengurus rumah, mendidik anak-anak, bahkan bagaimana istrinya berolah raga dengan keras agar tetap cantik dan menyenangkan bagi Satya ditengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Keangkuhannya sebagai pencari nafkah dibabat habis oleh kekurangannya sendiri, seperti soal menyiapkan beberapa potong pancake untuk sarapan yang ternyata nggak segampang kebiasannya mengkritik masakan istrinya yang tak selezat masakan ibunya. Satya yang sempurna kini menemukan dirinya remuk redam oleh kenyataan bahwa dirinya nggak sesempurna yang ia pahami selama ini. Dan kepingan-kepingan hatinya yang hancur itu hanya bisa direkatkan dengan kasih sayang sang istri yang entah dimana rimbanya.

Lalu bagaimana nasib Satya dan rumah tangganya? Bagaimana dengan Cakra yang meski sukses dalam karir tapi nggak seberuntung Satya dalam tampang dan percintaan? Bagaimana dengan hari-hari ibu Itje yang galau karena anak bungsunya itu kok belum punya calon istri juga? Apa pesan terakhir pak Gunawan untuk Cakra sebelum ia menikah dan menjadi calon bapak? Mari ke bioskop dan cintailah film-film Indonesia...

PARENTING ANTI MAINSTREAM
Aku merasa agak gimana itu pas nonton film ini tapi belum baca bukunya. Dulu, pas pertama kali buku ini muncul di toko buku kok merasa nggak ada niat banget buat beli dan ternyata kini aku: menyesal. Kini aku baru tahu kalau ternyata buku ini berisi kisah parenting anti mainstream, yang mungkin belum pernah dipraktekkan bapak mana pun di dunia ini. Tentang seorang lelaki yang merasa bertanggungjawab mengawal anak-anaknya hingga dewasa melalui rekaman-rekaman yang ia titipkan kepada istrinya; seorang lelaki yang ingin selalu menemui, menemani dan berbicara dengan istrinya dihadapan anak-anak mereka; seorang lelaki yang tidak mau dilupakan keluarganya dan merindukan pertemuan yang hangat seakan-akan ia tengah bertugas ke negeri yang jauh dan nggak bisa pulang; seorang lelaki yang berusaha mendidik kedua anak lelakinya sampai mereka siap menjadi calon bapak agar lunas sudah tanggungjawabnya. 


Film ini sederhana dan pesan-pesan moral didalamnya sangat dekat dengan keseharian bernama rumah dan keluarga. Bisa kukatakan bahwa film ini sangat kurekomendasikan untuk dinikmati keluarga di kota maupun di desa; keluarga sempurna maupun tidak sempurna; keluarga kaya maupun miskin papa; keluarga lengkap, single parent ataupun yang poligami; mereka yang ditelantarkan orangtuanya; dan tentunya mereka yang akan menikah dan punya rencana akan menikah. 

Nah, selain belajar dari Cakra dalam rayuan mautnya kepada Ayu, "Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang kuat. Itu adalah tanggung jawab masing-masing...Begitu kata bapak saya." Kita kita juga bisa belajar pada prinsip istrinya Satya yang bilang ke Satya bahwa yang ia butuhkan bukan Bapak sebagai role model Satya, tapi Satya sebagai suaminya dan bapak dari anak-anaknya. Bahwa setiap rumah tangga, setiap keluarga memiliki keunikan sendiri dan kebutuhan yang berbeda dengan keluarga lain, termasuk dengan rumah tangga orangtua. Saat kita terpesona oleh kehidupan rumah tangga orang lain atapun orangtua sendiri yang seakan sempurna dan tiada cela, belum tentu metode yang sama cocok diterapkan bagi keturunan mereka. Sebab pernikahan dibangun dari dua pribadi dan keluarga yang berbeda, dan memiliki kebutuhan dan cara berbeda dalam menjalankannya. Persamaannya adalah bahwa setiap orang yang berniat menikah dan membangun keluarga harus memiliki kesiapan lahir dan batin. Sebab jika seorang lelaki nggak pede dengan dirinya sendiri, gimana mau jadi imam buat orang lain? 

Apakah film ini merupakan pesan khusus bagi lelaki sebagai calon suami dan calon bapak? Menurutku sih enggak ya. Pesannya universal untuk mereka yang akan menikah ataupun yang sudah menikah dan memiliki keturunan. Intinya, sebuah keluarga harus dijalankan dengan peran yang seimbang dari seluruh anggotanya. Dominasi dari satu anggota akan menyebabkan kepincangan peran anggota yang lain, atau bahkan terkuburnya potensi yang bisa jadi bikin keluarga tersebut bahagia. Terakhir, di dunia nggak ada yang sempurna. Jadi, nggak perlu memaksakan diri menjadi suami atau istri atau orangtua yang sempurna. Sebab belajar dari kesalahan serta ketidaksempurnaan sebagai manusia adalah keindahan dan kebahagiaan tersendiri...


So, yang akan kulakukan selanjutnya adalah beli dan baca bukunya, mungkin juga beli beberapa buah buat kuhadiahkan ke adik dan sepupuku (jadi kado buat teman yang akan menikah juga bisa kok). Sebab, setelah membaca beberapa review bukunya di blog orang-orang, banyak sekali quote menarik disana. Sungguh ketololan tak terkira jika aku melewatkan begitu saja kesempatan berguru pada buku unik semacam ini.  

Depok, 8 Juli 2016
Bahan bacaan: 
http://sabtusore.com/sebuah-pesan-di-novel-sabtu-bersama-bapak.html
https://brightsightrads.wordpress.com/2016/05/09/tentang_sabtu_bersama_bapak_novel/
http://www.trivia.id/post/ini-7-alasan-kenapa-sabtu-bersama-nbapak


Wijatnika Ika

20 comments:

  1. Aku baru baca bukunya nih, sepertinya harus nonton film juga >w<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir Asy-syifa. Ayo buruan ke bioskop karena filmnya bagus dan menghibur. Sederhana tapi penuh makna.

      Salam

      Delete
  2. wah ahrus baca bukunya dulu ya, bair afdol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Tira. Iya nih buat tahu konten pesan si bapak apa aja karena di film nggak terlalu banyak dieksplore. Selamat menikmati kerenyahan pesan Bapak.

      Salam

      Delete
  3. aaah..tambah penasaran sama buku dan filmnya niiih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudahmampir mba Indah. Iya, ayo baca bukunya trus langsung nonton filmnya bareng keluarga. Bagus banget

      Salam

      Delete
  4. Wah membaca tulisan ini jd ingin segera nonton bersama suami dan beli bukunya juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Reni. Ayo mba nonton & jangan lewatkan keseruan kisahnya Cakra yg sengaja nggak saya review disini.

      Salam,

      Delete
  5. Kmrn mau nonton ini, tapi gk ada yg tayang malam. Sepertinya mau beli novelnya dulu, krn gk tau kpn lg ada kesempatan nonton hehe #malahcurcol :))
    THx reviewya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba April. Jangan sampe nggak nonton mba karena filmnya bagus dalam konteks parenting dan komunikasi dalam keluarga. Bagus juga buat yang mau menikah

      Salam

      Delete
  6. Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Nurin. Sok atun nonton bareng keluarga. Dijamin seru dan tersenyum paska nonton.

      Salam

      Delete
  7. jadi penasaran nih.... pengen nonton

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Avy. Ayo mba kalau ada kesempatan nonton karena filmnya bagus dan lucu.

      Salam

      Delete
  8. semakin senang aja baca blog ini.TOP

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir LOGISnya Ani Apriani. Senang ternyata teman masa kecil baca blog ini hehehe

      Salam,

      Delete
    2. Terima kasih Neng Ani sudah menjadi pembaca setia blog sederhana ini.

      Salam,

      Delete
  9. saya juga sudah nonton film ini, memang keren bgt.
    slm kenal mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir Bocah,
      Iya filmnya keren karena pesan-pesan indah didalamnya.

      Salam,

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram