Masihkah Ada Cinta Diantara Kita?


Assalammu'alaikum, 

Tulisan ini kudahului dengan sebuah pengakuan: bahwa terkadang aku tak tahu harus bagaimana memulai satu tulisan setelah menonton sebuah film. Dan, kadang-kadang harus menonton beberapa film lain dulu baru aku 'ngeh' harus mulai darimana dan tulisan bagaimana yang akan kubuat. Jadi, ketika film ini sedang ramai diperbincangkan melalui berbagai jenis tulisan, aku justru tengah menikmati bagaimana para blogger dan penulis di media sosial 'meributkannya' dengan gaya mereka masing-masing. Aku menikmati beberapa tulisan berkelas yang cerdas, sekaligus yang sarkas dan penuh humor. Kini, aku menjadi manusia kesekian yang bersaksi atas film ini. Ya, AADC2 yang fenomenal.

***

Saat layar terkembang aku membaca keresahan yang tak kunjung menemukan jawaban di sepasang mata Cinta di Jakarta, meskipun dijari manisnya terpasang cincin dari lelaki yang telah ia terima untuk menikahinya. Juga kesedihan dan risau dalam dunia kecil Rangga di New York, yang melulu dihantui kenangan bernama Cinta. Sosok perempuan teman SMA yang tiada duanya, tak tergantikan dihatinya, yang bikin meriang tak berkesudahan, yang mungkin juga membuatnya dihantui mimpi buruk berisi kisah percintaan yang tak bisa ia lupakan sepenuhnya. Bagiku, sejak awal, film ini sedang menggambarkan perasaan manusia-manusia yang hatinya sakit karena merindu, yang dihantui kemalangan karena cinta, yang terus saja merindu dalam sepi tapi tak tahu cara menuntaskan kerinduan itu, atau bahkan sekedar mengakuinya. Dan orang-orang yang saling merindukan sepertinya memang memiliki pertalian yang kuat bahkan dalam lamunan demi lamunan, seruput kopi, dan cara mereka membungkus kenangan. 

Bagi sebagian orang, cinta mungkin perkara sederhana, indah, dan mudah diperjuangkan untuk sampai pada status happily ever after. Tapi terlampau rumit bagi sebagian yang lain, atau bahkan tanpa pencapaian sama sekali bagi sebagian lainnya lagi. Dua orang yang saling menyayangi, merindukan dan membutuhkan satu sama lain memang harus memperjuangkan cinta mereka, sampai titik darah penghabisan, sampai tak ada lagi yang menjadi bahan mimpi-mimpi buruk dan penyebab membanjirnya air mata ditengah malam buta. Ya, sejenis cinta lama bersemi kembali, cinta yang hanya satu-satunya, yang tak mampu digantikan cinta dari hati yang lain meskipun mungkin lebih sempurna dan manis. Sejenis cinta yang setia meski harus menunggu dalam pedih perih selama ratusan purnama. Dan, sebagai penonton, yang penasaran bagaimana kisah mereka bermuara, aku setuju bahwa kemudian Rangga dan Cinta kembali bersama. Klasik tapi happy

YANG MEMIKAT DI AADC2
Film ini kan ceritanya tentang CLBK, dan cerita model ginian berserakan di FTV bahkan drama Korea. Bayangin aja, ketidakjelasan selama 9 tahun selesai cuma dalam waktu sehari semalam, cuma satu purnama. Sadis memang si Rangga. Sekali perjalanan New York-Jakarta buat urusin kerjaan dan ketemu ibunya, eh nggak tahunya malah si Cinta kembali ke pelukan hahaha. 

Tapi, meskipun demikian, yang menurutku film ini nggak keren-keren amat karena memang menceritakan percintaan dua manusia biasa dengan masalah biasa yang nggak harus diabadikan macam Romeo dan Juliet atau Laila dan Majnun, ada satu hal menarik disini. Puisi. Ya, karena belum pernah aku nonton film yang didalamnya ada puisi-puisi yang dibacakan begitu sedih. Film dengan kisah biasa menjadi sedikit menganggu perasaan karena puisi-puisinya yang sedih, muram tapi memendam harapan dan angan-angan. Kena banget di jantung, nusuk sampe perih. Jadi aku berterima kasih sama Aan Mansyur yang udah bikin 3 jutaan manusia Indonesia baper sama puisi-puisinya di film ini, dan mungkin terinspirasi buat bikin puisi juga. Dan tentu saja dengan kerja keras yang bikin film karena membuat film ini hidup dengan puisi-puisi (cek disini, disini, disini), bukan tangisan cengeng yang menggelikan dan menyebalkan. 


Hal lainnya adalah soal lokasi-lokasi mulai dari lokasi pameran seni, makan-makan, ngopi, belanja oleh-oleh, rekreasi, sampai dalam konteks memaknai sejarah, yang menurutku merupakan satu terobosan dalam film Indonesia. Gimana enggak, sebelum AADC2 tayang, aku nggak tahu kalau ada yang namanya gereja berbentuk ayam begitu, trus nama lokasi tempat photografer memotret Candi Borobudur yang magis, sampai pertunjukan boneka kertas yang menurutku unik sekaligus menyeramkan. Jadi, dalam hal ini AADC2 bukan saja sedang membangkitkan kenangan generasi 90an oleh sosok Cinta dan Rangga yang jadul, polos dan nggak secakep sekarang. Juga bagaimana industri film bisa memasukkan unsur edukasi, seperti saat Rangga membawa Cinta ke candi Ratu Boko misalnya, bahwa film dalam membangkitkan nasionalisme orang Indonesia nggak harus nunggu Agustusan yang biasanya menyuguhkan film-film bertema peperangan zaman kolonial Belanda atau Jepang. 

Kecintaan pada tanah air bahkan dengan sederhana bisa ditunjukkan dengan usaha keras mendapatkan pemandangan unik Candi Borobudur, sehingga seakan-akan kita diajak ke masa lampau. Atau bagaimana saat kita ngopi di satu kafe kita mendapatkan penjelasan mengenai darimana biji kopi yang digunakan berasal dan apa dampak positifnya bagi petani. Atau ketika menyenangi makan-makan di pinggiran dengan menu khas yang sudah populer sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam yang dibuat dan disajikan dengan penuh cinta. Atau bahkan soal hati Rangga yang nggak bisa dimasuki perempuan-perempuan se-New York sebab baginya seorang perempuan Jakarta bernama Cinta lebih memikat hatinya, yang tak tergantikan.   

DAMPAK EKONOMI
Selain berbagai lokasi dijadikan tempat pengambilan gambar film ini, yang jelas menghasilkan uang, apakah kiranya film AADC2 ini memberikan dampak ekonomi yang bagus bagi masyarakat Jogja? Berdararkan beberapa berita sih film ini berdampak signifikan pada meningkatkan kunjungan wisatawan ke Jogja, terutama ke lokasi-lokasi syuting AADC2, meskipun Jogja kan emang destinasi wisata sejak dahulu kala. Para akademisi menyebut fenomena ini sebagai film-induced tourism, dimana masyarakat berkunjung sebagai wisatawan ke lokasi-lokasi syuting sebuah film dibuat (baca disini). Ada banyak film berkelas internasional yang terlebih dahulu sangat berpengaruh pada laju kunjungan wisata di suatu wilayah, misal Selandia Baru gara-gara film berseri Harry Potter. Atau Korea Selatan gara-gara gelombang Halliyu yang memabukkan, yang tidak bisa ditolak dan sangat menggoda.



Via-Via Resto and Bakery sebagai salah satu dari 14 lokasi syuting AADC2 misalnya, yang jadi lokasi dimana Milly dan Carmen melihat Rangga kabarnya mengalami kenaikan jumlah kunjungan sebanyak 40% sejak film AADC2 rilis. Bahkan, kue yang dibeli Rangga dan Cinta dalam film menjadi jenis kudapan paling banyak dibeli pengunjung. Dampaknya adalah kenaikan omset dari Rp. 300.000 menjadi Rp. 600.000-1.000.000 per shift, dikalikan dua shift. Lumayan kan? 

Selain itu, gara-gara Rangga dan Cinta, kunjungan ke objek wisata sejarah candi Ratu Boko juga naik dari 200-300 orang per hari menjadi 500 orang. Alhasil, omset pun meningkat. Juga objek wisata gereja Ayam yang mengalami kenaikan pengunjung dari 80-100 orang per hari menjadi 500-600 orang pada hari libur, dan 200-300 orang pada hari biasa, yang kabarnya omset yang diperoleh kemudian digunakan untuk memperbaiki rumah doa dan memfasilitasi kegiatan karang taruna di wilayah setempat. 


Belum lagi jika ditambah dengan kenaikan kunjungan di lokasi-lokasi lain yang berdampak signifikan secara ekonomi. Juga di sektor transportasi seperti kereta api, pesawat, mobil carteran, sepeda hingga becak. Termasuk tingginya kunjungan orang-orang ketike premiere AADC2 yang dilakukan di Jogja. Baru kali ini loh ada film Indonesia yang menggelar karpet merahnya selain di Jakarta. So, Jakarta bukan segalanya.  

HARAPAN
Sebagaimana AADC yang menjadi tonggak kebangkitan film nasional, aku berharap AADC2 dua menjadi tonggak kebangkitan film nasional yang menggandeng industri pariwisata dan pendidikan kebangsaan. Kadang-kadang ya aku merasa iri dengan begitu gesitnya Korea Selatan dalam mempromosikan budayanya melalui film, drama dan paket-paket wisata padahal kekayaan budaya Indonesia jauh lebih berwarna dibanding negara ginseng itu. Mungkin, saat ini industri film memang harus diandalkan dalam membangkitkan kembali kebanggaan kita akan warisan sejarah dan budaya tanah air yang selama ini cenderung meredup karena banyak faktor. Dan, bukan lagi Jawa yang menjadi sentra dari kebangkitan industri ini, tapi pulau-pulau di luar Jawa yang memiliki kekayaan budaya dan kecantikan lokasi wisata yang tiada bandingannya. Berilah Jawa waktu untuk bernafas...

Buat yang sedang berusaha mempertahankan cinta, mungkin perlu menapak tilas perjalanan Rangga dan Cinta sekalian belajar sejarah dan wisata kuliner di Jogja. Tapi di tempat lain juga bisa sih, misal ke New York kalau punya duit hehehe...

Depok, 23 Juli 2016
Bahan bacaan:
http://www.duniaku.net/2016/03/11/dian-sastro-aadc-2-ada-apa-dengan-cinta/
https://m.tempo.co/read/news/2016/04/15/111762792/ini-puisi-lengkap-yang-dibacakan-rangga-di-aadc-2 
http://www.rappler.com/indonesia/131109-puisi-lengkap-aadc-2-rangga-batas-aan-mansyur
https://tirto.id/20160505-63/gelora-pariwisata-berkat-cinta-dan-rangga-200350 
http://wargajogja.net/sosial/aadc-2-dan-wisata-yogya.html 
http://www.qureta.com/post/cinta-tolong-jangan-gagal-move-lagi
http://www.muvila.com/foto/film/12-lokasi-unik-ini-dipakai-syuting-aadc-2-1605033-page7.html

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. kalo aku sih, efek dr film ini, lbh tertarik utk datangin tempat makan yg muncul di filmnya mbak :D.. kyknya asyik2 bgt dan enak gitu... udh nyatet dalam list nih, kalo ke jogja hrs kesana pokoknya :)..

    cumajujur kalo filmnya sendiri sih, aku ga terlalu nikmatin.. yg pertama aja aku ga nonton ;p.. ini juga akhirnya mau nonton krn dipaksa suami -__-.. dia memang selera movienya cendrung yg drama2 gini deh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Fanny, dan menapak tilas perjalanan Rangga dan Cinta di Jogja.

      Salam

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram