Sekelumit Kisah Cinta dan Hujan Bulan Juni


Assalammu'alaikum

Juni, tidak saja identik dengan musim kemarau yang membakar dan musim panen kopi di beberapa wilayah di tanah air seperti di kampung halamanku di Lampung. Tapi sesekali Juni adalah hujan yang gila-gilaan karena pengaruh suasana alam yang bahkan membuat laut sedikit mengamuk. Satu hal lagi, Juni adalah soal puisi dan kisah cinta. Dan tidak afdol jika Juni tak dikaitkan dengan puisi fenomenal "Hujan Bulan Juni" karya Sapardi Djoko Damono. Puisi sederhana ini telah menginspirasi tidak saja seniman, tapi juga para pecinta hujan dan mereka yang sedang dalam proses percintaan yang pelik. Puisi ini telah bertransformasi menjadi lagu atau musikalisasi, komik, buku mewarnai bagi dewasa, novel dan film (coming soon 2017). Sungguh menarik...

Kali ini aku akan mengulas tentang Hujan Bulan Juni versi novel yang pertama terbit setahun silam ini. Berkisah tentang seorang Antropolog, penulis puisi, peneliti sekaligus dosen muda jurusan Antropologi FISIP UI bernama Sarwono asal Solo (yeah setidaknya tokohnya satu fakultas denganku) dan kisah cintanya dengan perempuan Jawa-Manado bernama Pingkan yang juga dosen muda di Fakultas Ilmu Budaya UI. Kisah mereka bukan sekadar cinta picisan meski diceritakan sederhana ala FTV, tapi sebagai kisah pelik sekaligus klasik: cinta beda agama beda budaya beda sudut pandang. Tapi apakah percintaan beda agama antara Sarwono dan Pingkan yang menjadi inti kisah ini? Hm, kupikir bukan itu. Sama sekali bukan! Ada warna yang lebih semarak dan keinginan-keinginan yang kompleks.

Sarwono adalah lelaki Jawa yang tak bisa hidup tanpa Jawa sebagai dirinya, tanah airnya, rumahnya, tempatnya pulang, mimpi-mimpinya dan masa depannya. Dalam memaknai Jawa sebagai dirinya dan kehidupannya, Sarwono harus berhadapan dengan perempuan cantik dan cerdas yang memikat hatinya yang identitas ke-Jawa-annya sudah tak jelas. Bukan karena perempuan itu tak berusaha menjadi Jawa, tapi karena latar belakang keluarganya di Makassar sana berpengaruh banyak, terutama ketika terjadi pergesekan budaya antara kaum perantau dari Jawa atau daerah lain di pulau berbentuk huruf K itu. Ibunya yang Jawa, namun lupa dimana leluhurnya berada telah kehilangan rumah semacam tempat pulang bagi identitas ke-Jawa-annya, mempertegas ketimpangan dalam diri Pingkan yang berusaha menjadi sebagian Jawa tetapi selalu tak bisa. Pingkan tetaplah putri Manado.

Cinta diantara Sarwono dan Pingkan adalah kisah yang pelik yang senantiasa membuat hati keduanya merasa cemas dan takut kehilangan satu sama lain, sekaligus takut menyeragamkan keyakinan mereka yang berbeda, yang sesungguhnya berurat akar dari kebudayaan dimana mereka lahir dan tumbuh sebagai manusia. Mereka saling mendamba sekaligus meragukan, meski sama-sama menginginkan penyatuan kasih sayang. Mereka percaya bahwa kasih sayang merupakan kitab suci yang tersirat. Kasih sayang beriman pada senyap, yang mengungguli apapun yang memiliki definisi, tepi dan pinggiran yang mengurung dan membatasi. Kesana mereka ingin menuju, berlabuh dan berumah tangga. Setidaknya itulah keinginan paling tinggi Sarwono atas Pingkan.

Sarwono percaya bahwa Pingkan adalah takdirnya dan ia tak bisa menolak takdir, sebab ia yakin takdir tak bisa diubah. Karenanya ia cemburu hebat ketika Pingkan memilih berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studinya, sebab ia sangat tahu bahwa perempuannya mungkin saja bisa kepincut lelaki dari negeri sakura bernama Katsuo saat membawanya jalan-jalan menikmati musim bunga Sakura pada minggu pertama bulan April yang menghipnotis. Meski demikian, Sarwono memilih menyibukkan diri dengan kerja-kerja penelitiannya, sambil bermuka dua antara terus menerus memelihara Pingkan dalam ingatan dan hatinya, dan usahanya melupakan kekasihnya jika memang mereka tak mungkin dipertemukan dalam pernikahan suci sebagaimana ia inginkan. Ia sadar betul bahwa iman bisa menjadi benteng tebal pemisal cinta sepasang kekasih, meski masalah mereka sebenarnya bukan soal iman tapi soal perasaan masing-masing. Dan keluarga Pinkan yang memuja Yesus ingin gadis itu meninggalkan Sarwono dan menikah dengan seorang dosen tampan di kampung halamannya, sementara Sarwono sendiri diminta berfikir ulang oleh ayahnya jika ingin menikahi gadis dengan beda keyakinan dan budaya. 

Lalu bagaimana akhirnya? Saat Pingkan kembali ke Indonesia, ia mendapati bahwa Sarwono kekasih hatinya tengah dirawat secara intensif di rumah sakit karena menderita paru-paru basah. Hanya puisi yang menemaninya menerjemahkan bagaimana takdir mereka ditata ulang. Tamat. 

CINTA, BUDAYA, IMAN, TEKNOLOGI
Sebagai dua orang yang saling mengikatkan diri mereka dalam kasih sayang, Sarwono dan Pingkan berupaya meresapi perasaan mereka terhadap satu sama lain dan harap-harap cemas terhadap perasaan sesungguhnya dari sang kekasih. Cinta begitu kuat diantara mereka, meski kadang-kadang mereka ragu entah karena apa. Meski memang dalam banyak adegan mereka banyak bercakap soal iman dan budaya, soal Jawa yang melekat kuat pada Sarwono dan darah campuran Pingkan dan bagaimana peran keluarga dalam percintaan mereka (keluarga memang merasa sangat berhak campur tangan. Ngegemesin memang!) Cinta memang tak pernah sederhana jika bicara soal kemana ia akan berlabuh dan diikat selama-lamanya. Tidak sesederhana puisi-puisi Sarwono yang terinspirasi dari kecantikan kekasihnya yang lebih cantik dari bunga-bungan nan indah di taman yang ia lihat saat bangun tidur di pagi hari. 

   
Satu hal yang menarik disini. Jika biasanya komunikasi antara tokoh-tokoh dalam sebuah novel banyak dilakukan tatap muka yang terkesan konvensional, dan sedikit melibatkan teknologi seperti ponsel untuk menelpon dan kirim SMS. Disini SDD melibatkan aplikasi WhatsApp secara intensif sebagai jembatan komunikasi antara Sarwono dan Pingkan. Sebuah kisah yang diselipi komunikasi kekinian. Karena modern dan aplikasi WA sangat akrab dengan kita, dunia pembaca, seakan-akan kejadian dalam novel ini berlangsung tahun 2015, kedua tokohnya hidup dan kita pembaca merupakan orang-orang yang bisa saja pernah berpapasan di jalan-jalan atau di lorong-lorong kampus UI dengan keduanya dan orang-orang lain yang diceritakan didalamnya. Novel ini, cerita ini seakan-akan cerita tentang kita semua, tentang hidup kita saat ini.

Dan aplikasi WA cukup banyak diceritakan digunakan sebagai sarana berkomunikasi antara Sarwono dan Pingkan, seperti ketika keduanya terpisah kamar hotel dalam sebuah perjalanan dan berkomunikasi untuk mempertanyakan lagi lagi dan lagi perasaan masing-masing, atau ketika Pingkan di Jepang dan keduanya saling mengirim photo hasil selfie, atau ketika keduanya begitu antusias mengecek WA untuk menanyakan kabar masing-masing ketimbang menelpon. Hm, sepertinya menelpon menjadi sesuatu yang aneh dengan keberadaan WA yang memang populer sekarang. Ini menunjukkan bahwa SDD awas dengan perkembangan pola komunikasi dan interaksi masyarakat zaman sekarang (baca: kekinian), bahwa penggunaan WA merupakan bagian dari budaya populer dimana chat antara sepasang kekasih mungkin terbaca lebih puitis dibanding puisi itu sendiri, dimana bisa dibumbui lampiran berupa photo. Puitis bukan?

Yang pasti, aku suka cara SDD menjalin cerita yang begitu puitis dalam menggabungkan cinta, iman, budaya dan kisah keseharian para akademisi di kampus-kampus semacam UI dan UGM, dan bagaimana ia melibatkan pandangan-pandangan ilmiah dengan cara sederhana seperti tentang suatu masyarakat, terutama yang berkaitan dengan keluarga dan asal muasal kedua tokohnya. Juga bagaimana kedua tokoh digambarkan memiliki selera musik, buku-buku yang mereka baca, pemahaman akan budaya orang asing, pandangan akan orang asing, makanan-makanan, lelucon dan puisi tanpa sajak. Bagiku, Puisi Bulan Juni adalah keajaiban....

  
Bandar Lampung, 20 Juni 2016
Sumber gambar:
https://pixabay.com/en/rain-man-woman-clouds-lovers-wet-930262/
http://www.pesona.co.id/read/mewarnai-puisi-puisi-sapardi- 


Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Waaaaah akupun ngefans sama karya-karyanya SDD mbak. Tokoh sastra besarnya Indonesia.. Jadi penasaran sama novelnyaaaaa. Makasi sharingnya ya Mbaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir Adriana,

      Semoga segera ketemu novelnya. Bagus bikin ngaduk emosi

      Salam,

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram