ME BEFORE YOU: Cinta yang Pergi




Apa kabar dunia? Lumayan lama nggak nulis dan bikin kangen dengan keseruan dunia blogging. Kali ini aku mau mengupas sebuah novel berdasarkan sudut pandangku sebagaimana biasanya (keluar dari pakem), novel cinta yang bikin aku terpukau bukan saja oleh cara penulisnya merangkai cerita, tapi juga oleh pengetahuan medis didalamnya yang asing bagi sebagian besar umat manusia, yang kuyakin ditulis dengan perpaduan data riset yang memadai. Kisah ini ada di novel karya Jojo Moyes berjudul "Me Before You" alias Sebelum Mengenalmu. Sebuah kisah yang berlatar di Inggris, Eropa yang kocak, menyebalkan, sedih, haru dan sangat kental dengan keseharian. Bahasanya sederhana dan tokoh-tokohnya digambarkan apa adanya alias tidak sempurna. Membaca novel ini ibarat menikmati kopi yang kenikmatannya sampai di tetes terakhir. 

Ini adalah kisah tentang Louisa Clark, seorang gadis 26 tahun dengan penampilan paling nyentrik sebuah kota kecil di Inggirs, yang berwajah biasa saja, tamatan SMA dan menjadi tulang punggung keluarga setelah pekerjaan ayahnya amburadul dan adiknya melahirkan seorang anak diluar nikah; harus mengalami turning point dalam hidupnya karena kafe tempatnya bekerja tutup dan ia kehilangan pekerjaan yang amat dicintainya. Hm, sebenarnya sih karena ia tak punya keahlian dan ijazah dari Universitas sehingga sulit mencari pekerjaan lain. Ia juga merupakan gadis paling tidak ambisius dan bertahan dengan satu pacar selama tujuh tahun, pacar yang tidak pernah sekalipun membicarakan soal lamaran dan pernikahan karena terobsesi oleh hobinya berolahraga. Kehilangan pekerjaan dengan pesangon 3 bulan dan ekonomi keluarga morat-marit membuatnya harus mencari pekerjaan agar keluarganya bisa bertahan. 

Pada satu hari, setelah mengajukan aplikasi di Bursa Kerja, ia dihubungi seorang pemberi kerja, yaitu keluarga Traynor, keluarga kaya raya yang mengelola Kastel Storfold untuk para wisatawan yang membutuhkan seorang perawat untuk bekerja secara professional selama enam bulan saja. Meski Lou tak punya pengalaman sebagai perawat, bahkan tak pernah merawat kakeknya yang setengah lumpuh, ia harus menerima pekerjaan itu agar dapur keluarganya mengepul. Nyonya Traynor yang bekerja sebagai hakim, menawarkan gaji sangat tinggi agar Lou mau menjadi perawat khusus bagi anaknya bernama Will Traynor yang menderita kasus quadriplegia C5/6 akibat kecelakaan hebat dua tahun sebelumnya. Ia bertugas merawat Will yang bahkan tak bisa menggerakkan tangannya sendiri, bersama seorang perawat lain bernama Nathan. 

Will Traynor, seorang lelaki tampan berusia 35 tahun merupakan pebisnis sukses, kaya raya, sangat suka olahraga ekstrim dan memiliki banyak penggemar perempuan sebelum ia mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya mengalami quadriplegia dimana ia harus dilayani selama 24 jam dan terpenjara dalam kursi roda. Hidupnya yang sukses, dinamis dan ceria berubah 180 derajat dan ia merasa sangat ingin mati. Ia benci menahan rasa sakit yang tak terkira di sekujur tubuhnya dan harus mengonsumsi banyak sekali obat-obatan. Ia benci dilayani orang lain untuk urusan-urusan pribadi seperti membersihkan tubuhnya, makan, berganti pakaian, dan nyaris semua hal. Karenanya ia pernah mencoba bunuh diri sehingga membuat keluarganya sangat cemas. Lou diharapkan akan menjadi semacam pekerja yang bertugas memastikan Will memiliki alasan untuk hidup dan tidak lagi mencoba membunuh dirinya sediri dengan alasan apapun. 


Lou yang memang tidak menyukai pekerjaan ini sejak awal semakin mati gaya saat Will menyambutnya dengan dingin, seakan-akan kehadirannya hanya menambah rasa sakit dan kesedihan lelaki itu. Lou pun menyibukkan dirinya agar tidak dianggap Will sebagai penganggu. Dan saat Lou mempelajari bagaimana Nathan merawat Will pada jam-jam tertentu dengan perasaan muak dengan keketusan dan sikap Will yang kasar, Will justru tengah menilai gadis aneh dan nyentrik yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya yang hancur. Lalu mereka mulai berbicara satu sama lain dengan santai, dan Lou lumayan tahu bagaimana cara menghadapi lelaki yang katanya sangat ingin mati dan tak mampu melihat harapan. Gadis itu pun merasa lega dan merasa hidupnya membaik, terutama dengan gajinya yang sangat lumayan. 

Namun, pada suatu hari yang sangat dingin, Lou tak sengaja mendengar pertengkaran antara Nyonya Traynor dan Georgiana, adik Will yang datang dari Australia gara-gara mengetahui 'kesepakatan' berusia 6 bulan antara Tuan dan Nyonya Traynor dengan Will. Jelas saja Lou merasa dibohongi dan pekerjaannya sia-sia saja sebab Will yang diurusnya dengan mati-matian itu telah memilih tanggal kematiannya sendiri. Ia merasa menjadi pecundang dan memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia tak mau terlibat dalam proses bunuh diri Will hanya karena lelaki itu tak bisa menerima bahwa hidupnya berubah, bahwa Will yang dulu berbeda dengan Will yang sekarang, yang harus menjalani perawatan super mahal dengan perawat berjaga 24 jam. Sikap Lou jelas membuat Nyonya Traynor sangat sedih sehingga ia mengiba kepada Lou agar meneruskan kontrak kerjanya sesuai kesepakatan, sebab sebagai ibu ia ingin sekali melihat Will menggunakan kesempatan kedua untuk hidup. Will tak perlu hidup sempurna sebagaimana sediakala. Cukup hanya melanjutkan kewajiban hidup. Hanya hidup untuk keluarganya dan untuk dirinya. Lagipula Nyonya Traynor mulai mencium gelagat bahwa Will menyukai Lou dan ia berharap Lou mampu menjadi alasan bagi Will untuk terus hidup dan melupakan rencana bodohnya. 

Lou yang sejujurnya mulai dekat dan menyayangi Will tak punya pilihan. Meskipun Lou mengetahui bahwa Will sudah membuat surat wasiat melalui seorang rekan pengacaranya, Lou tak mampu mencegah Will untuk mengurungkan niatnya bunuh diri. Lou pun bekerja keras untuk memanfaatkan kesempatan terakhirnya, dan membuat Will memiliki semangat hidup, atau setidaknya dirinya bisa menjadi alasan bagi Will untuk melanjutkan hidup. Lou bukan saja melakukan komunikasi dengan kelompok penderita quadriplegia dan perawat mereka di internet, juga menemani Will menonton konser musik klasik, lebih sering membawa Will berjalan-jalan di kota mereka dan menikmati suasana Kastel, membuatkannya masakan enak, bertukar cerita dan impian masing-masing, menghadiiri pernikahan mantan pacar Will, hingga liburan selama 10 hari yang menyenangkan ke Mauritania. 

Kedekatan mereka bahkan membuat Lou bisa menceritakan kisah kelamnya ketika masih remaja dimana dia diperkosa beberapa lelaki tak dikenal saat mereka mabuk-mabukan bersama di dalam Kastel (yang hanya diketahui adiknya). Will juga yang memberinya semangat agar Lou tidak memenjara dirinya dengan masa lalu yang bukan kesalahannya, agar Lou bisa melihat potensi dalam dirinya dan melanjutkan hidupnya yang cemerlang termasuk melanjutkan pendidikannya di universitas.

Di negara dengan pantai tropis yang indah itu, Lou bahkan menyatakan cintanya pada Will dan merajuk agar Will mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ia ingin sekali menjadi alasan bagi lelaki itu untuk terus melanjutkan hidup dan tidak mendahului takdir Tuhan. Tapi Will bergeming, meski ia juga jatuh cinta dan menyayangi Lou. Diatas cinta dan harapan yang membentang di depan hidungnya, lelaki itu merasa sudah tidak tahan dengan semua rasa sakit di sekujur tubuhnya dan tak ingin menjadi beban bagi siapa pun selama 24 jam di sepanjang sisa hidupnya. Ia merasa dunianya gelap dan hancur, dunia yang bahkan tak mampu diterangi oleh kasih sayang keluarganya dan kehadiran Lou. Cinta yang seharusnya menjadi energi dan mengubah hidup Will bahkan tak mampu menggoyahkan rencana lelaki itu, meski pada akhirnya kasih sayang Will memberikan jalan terang bagi masa depan Lou yang masih muda. 

Sangat menyesakkan memang ketika kita harus jatuh cinta pada seseorang yang memilih kematian alih-alih bertahan hidup demi kekasihnya, pada seseorang yang bahkan tak mau bersusah payah menahan sakit demi membahagiakn kekasihnya, dan memilih mencintai dirinya sendiri.


Will pun mati sebagaimana direncanakan, di Dignitas, Swiss sebuah klinik yang melayani bunuh diri secara legal dengan bantuan dokter dan obat-obatan bagi orang dengan cacat mental dan sakit yang tidak bisa disembuhkan. Praktek ini dikenal dengan suntik mati atau Euthanasia atau mercy killing. Pendirinya, Ludwig Minelli (yang dikecam publik karena kaya raya dari hasil kliniknya) beranggapan bahwa ia hanya menyediakan cara bagi seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya secepat mungkin tanpa rasa sakit dan legal. Praktek ini juga dilegalkan, meski dengan aturan yang sangat ketat, di Belanda, Luxemburg, Belgia dan negara bagian Oregon, Amerika Serikat. Kematian semacam ini telah merenggut kehidupan setidaknya 2000 jiwa sejak beroperasi sejak 1998. Bahkan Swiss dengan terang-terangan membuat promosi wisata bunuh diri demi mendukung "Hak Untuk Mati" yang didengungkan kelompok Dignitas. Dan Dignitas merupakan sebuah klinik kematian dengan manajemen yang rapi dan professional, dengan berbagai layanan sejak dari konsultasi hingga kematian dan bagaimana jenazah klien diperlakukan. Hm, seperti hotel yang tenang dan berwibawa untuk tempat seseorang berbaring dan menikmati hidup terakhirnya sebelum menghadapi ranjang kematian yang dikerjakan dengan diam dan sunyi oleh obat-obatan tertentu dengan dosis tinggi, seperti dongeng pengantar tidur (baca disini) 

QUADRIPLEGIA
Membaca novel ini jadi membuatku penasaran dengan quadriplegia dan bagaimana para survivor memperjuangkan hidup mereka alih-alih memilih bunuh diri secara klinis seperti yang dilakukan tokoh Will. Quadriplegia dikenal juga sebagai salah satu jenis celebral palsy karena kelumpuhan bagian tertentu di otak sehingga mempengaruhi sistem yang lain dalam tubuh. Quadriplegia bisa juga merupakan kelumpuhan otak bawaan atau akibat cedera yang disertai dengan tidak berfungsinya sumsum tulang belakang sehingga nyaris sebagian besar anggota tubuh kehilangan fungsinya untuk bergerak, kecuali area kepala. Penyebabnya bisa bawaan atau penyakit bisa juga akibat cedera/kecelakaan. Kita bisa mengingat penulis internasional Stpehen Hawking untuk mendapat gambaran mengenai kasus ini, sebagai satu dari banyak orang terkenal yang mampu mengatasi masalah fisik mereka dan berjuang untuk hidup, untuk sukses, untuk menjadi penerang dunia. Informasi lain tentang quadriplegia bisa dbaca disini, disini, disini, disini


Jumlah penderita quadriplegia di seluruh dunia cukup tinggi, yang di Amerika saja per tahunnya bisa mencapai 32 kejadian per 1 juta orang (baca disini, disini). Selain harus menjalani terapi yang mahal dan mengkonsumsi banyak sekali obat-obatan, para penderita quadriplegia juga harus ditopang berbagai alat modern dan mahal agar mereka dapat beraktivitas (cek disini, disini, disini). Meski demikian, mereka juga dapat mengikuti klub olahraga atau komunitas untuk saling menguatkan dan menyemangati, bahkan menjadi inspirasi bagi jutaan manusia normal. Para quadriplegic dapat mengikuti klub olahraga seperti rugby, golf, renang, football, hingga grup seni tari (baca disini, ). Mereka bahkan mendirikan asosiasi penderita quadriplegia. Salah satu contohnya adalah asosiasi para quadriplegic di Australia yang sudah berdiri selama 50 tahun (baca disini), yang digerakkan oleh sekelompok staff dan relawan professional demi memberikan kesempatan kepada para quadriplegic untuk bertemu dan melakukan berbagai aktivitas bermanfaat bagi hidup mereka. 

Setelah selesai membaca novel ini aku jadi semakin bersyukur dengan nikmat sehat yang Allah berikan hingga saat ini. Alhamdulillah, hidupku ternyata baik-baik saja.

   
Bandar Lampung, 16 Juni 2016
Bahan bacaan: 
http://www.kompasiana.com/ragile/undangan-wisata-bunuh-diri-ke-swis-di-kota-zurich_5500c8e3a333119a72511ee6
http://www.dignitas.ch/index.php?option=com_content&view=article&id=23&Itemid=84&lang=en
http://dailysignal.com/2016/06/03/disability-advocates-react-to-me-before-you-our-suicides-are-tragedies/ 
http://samiralgazzar.com/forum/thread23378.html 
http://www.slideshare.net/hugerne/the-help-guide-to-cerebral-palsy-complet
http://www.cbc.ca/news/arts/film-review-me-before-you-into-forest-1.3609027
http://www.pqsa.asn.au/
http://www.disabled-world.com/disability/para-quad.php

Wijatnika Ika

12 comments:

  1. Jadi penasaran dg novelnya.

    Eh, kenapa tulisannya Mbak Ika selalu keren ya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir Ummi Nadliroh,

      Iya novelnya bagus dan bikin emosi diaduk-aduk macam sayur lodeh hehehe..

      Duh jadi geer nih dapet pujian ;)
      Tapi intinya sih saya menulis untuk bahagia, untuk membantu mereka yang bisa saya bantu melalui blog ini, jadi nulisnya santai dan nggak punya beban harus menyenangkan orang lain atau untuk mengalahkan tulisan orang lain.

      Salam.

      Delete
  2. Aku kepengen banget baca novelnya mba meski udah nonton filmnya yang kocak sama pemeran si Lou nya :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Herva, makasih udah mampir. Iya novelnya seru. Dan jangan lupa baca juga sekuelnya, judulnya "After You." Keren banget deh...

      Delete
  3. makasih reviewnya jadi pengen baca novelnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mba Tira, makasih udah mampir. Sekalian baca sama sekualnya mba judulnya "After You" supaya lengkap ceritanya sampai the end....

      Delete
  4. Aku baru kali ini tau soal film Me Before You mbak, jadi penasaran pengen baca langsung novelnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Riska, makasih udah mampir. Novel dan filmnya sama-sama bagus lho.

      Delete
  5. malah penasaran sama filmnya...hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Usmar, makasih udah mampir. Iya, filmya bagus dan kocak.

      Delete
  6. Baru tau ada situs resminya ya.. Tapi pasti sih.
    Tapi novel ini rasanya serem banget, kaya semacam meng-encourage dan men-support bahwa it's okay to choose to die without thinking what other people are thinking. Jadi takut wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Loki, makasih udah mampir. Hm,nggak juga sih. Novel ini lebih tepatnya mewakili fenomena "bunuh diri legal dan klinis" yang memang terjadi di dunia nyata. Kalau soal serem atau tidak tergantung dari sudut pandang pembaca saja kok.

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram