Selagi Jomblo, Sekolahlah Setinggi Mungkin


Assalammu'alaikum, 

Kemarin malam sebuah pesan masuk via Facebook Messenger dari seorang teman yang kini tinggal di Baku, Azarbeijan. Ia telah menikah dengan seorang warga negara Turki dan kini tengah menunggu kelahiran anak kedua mereka. Kami sudah beberapa tahun tak bertemu namun tak lupa selalu berbagi kabar dan sekadar chit chat ala perempuan via FM. Intinya, semalam ia tengah resah. Ia mengirim pesan dan bertanya padaku apakah aku tak berniat melanjutkan kuliah. Ia sangat ingin kuliah lagi dan merindukan suasana kampus. Ia bilang padaku bahwa selagi belum menikah, sebaiknya aku mengambil kesempatan sekolah lagi baik untuk level Master ataupun Doktoral. Menurutnya, kesempatanku jauh lebih besar dibanding dirinya yang sudah memiliki seorang anak kecil dan beberapa bulan lagi akan memiliki bayi. Dia bilang "Impossible" bagi dirinya untuk melanjutkan kuliah lagi dengan kerepotan mengurus anaknya.

Setelah lulus S2 dari UI, teman-temanku menyarankan agar aku melamar beasiswa lagi dan melanjutkan pendidikanku hingga level doktoral karena beberapa teman kami juga melanjutkan ke level doktoral di beberapa kampus di Belanda dan Amerika. Hm, tapi rencananku tidak demikian. Setidaknya sampai hari ini aku belum memiliki rencana kuliah hingga level doktoral. Kalaupun aku kuliah lagi aku ambil Master untuk jurusan Sosiologi atau Art. Masalahnya ketertarikanku untuk kuliah lagi tak sekencang minatku untuk bekerja dan mendapat kesempatan ikut short course. Bagiku, pendidikan di kampus hanya satu dari banyak cara untuk belajar dan mengerti, sisanya ditentukan bagaimana proses kita menambang ilmu melalui pengalaman di lapangan.

Mengapa bekerja? Sebab aku butuh pengalaman. Bekerja merupakan salah satu cara mencicil kepakaran. Tanpa bekerja aku tentu tak akan pernah bisa mengaplikasikan ilmu yang kuperoleh selama belajar di kampus. Aku mengincar posisi tertentu dalam dunia kerja dan menurutku ini sangat penting kulakukan saat ini. Dan keinginanku untuk ikut short course tentu saja untuk meningkatkan keterampilanku di bidang yang berkaitan dengan pekerjaanku. Sayangnya, beberapa aplikasi short course yang kukirimkan ditolak (bikin patah hati!). Menurut pengalamanku, dalam beberapa hal, mendapatkan kesempatan short course jauh lebih menantang karena pihak penyelanggara biasanya menginginkan kandidat dengan kemampuan bahasa Inggris 'excellent' dan riwayat karir dan social leadership yang sudah diakui dan mumpuni. Saat ini, aku tengah mencicil semua itu agar aku bisa mendapatkan tiket ke short course impianku.

MENIKAH DULU ATAU KULIAH LAGI?
Perbincanganku dengan temanku soal perbedaan kesempatan antara aku dan dia untuk melanjutkan sekolah bukan hal baru. Kehidupan perempuan di negara yang dikendalikan konsensus laki-laki semacam Indonesia diukur dari usia mereka. Misalnya perempuan dianggap sudah pantas menikah jika sudah bisa memasak dan mengurus rumah, sudah lulus kuliah dan ketika kecantikan masa mudanya tengah mekar-mekarnya. Perempuan dianggap ideal untuk menikah saat usia 20an dan paling lambat setahun dibawah 30 tahun. Anggapan ini bukan cuma berbasis idealnya kondisi organ reproduksi, juga soal tampilan fisik yang masih muda, segar dan menggoda. Karenanya banyak orangtua yang masih menganggap bahwa keputusan perempuan untuk menikah atau melanjutkan pendidikan tidak bisa ditentukan si perempuan melainkan mereka yang menginginkan perempuan itu segera menikah. Bahkan oleh tetangga yang suka bergosip soal usia si gadis



Kesadaran bahwa perempuan sebagai 'guru pertama dan utama' generasi bangsa belum mengakar kuat. Sehingga anggapan mengenai cukuplah seorang perempuan kuliah sampai sarjana saja, lalu bekerja, lalu menikah, lalu memiliki anak dan seterusnya masih lazim dalam masyarakat. Selain itu anggapan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang perempuan maka semakin sempit kesempatan menikah baginya juga menjadi ketakutan banyak gadis dan keluarganya. Betul memang kaum lelaki akan segan dan hormat pada perempuan berpendidikan tinggi, cerdas dan memiliki kontribusi besar bagi masyarakat sehingga mungkin niatnya untuk mengajak si perempuan menikah diurungkan. Tapi bukan berarti bahwa perempuan bisa dihambat pendidikannya hanya karena alasan khawatir menjadi perawan tua dan tidak mendapatkan jodoh. 

Jika kita mau rendah hati, sungguh banyak perempuan yang menjadi pakar dalam bidang-bidang tertentu karena mereka giat bersekolah dan bahkan terlambat menikah. Tapi kita masih saja disibukkan dengan anggapan bahwa 'tugas terbesar' perempuan adalah melahirkan keturunan. Kita lupa bahwa tugas perempuan sebagai manusia jauh lebih besar dari itu. Misalnya, kita butuh perempuan-perempuan dengan kepakaran tertentu untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan isu perempuan. Jadi, soal pilihan menikah dulu atau kuliah lagi bergantung pada kebutuhan dan opini si perempuan, bukan orang lain.


SELAGI JOMBLO, SEKOLAHLAH...
Tahun 2010 lalu, saat aku tengah menjalani proses aplikasi sebuah beasiswa seorang senior di tempatku bekerja menasehatiku hal demikian. Kebetulan beliau seorang laki-laki jadi beliau menasehatiku dari sudut pandang laki-laki. Kata beliau betul bahwa lelaki itu menyukai perempuan lebih muda, level pendidikan di bawahnya, dan menarik hatinya. Pada dasarnya laki-laki tidak suka jika egonya sebagai pemimpin dikalahkan perempuan, meskipun itu perempuan yang dicintai dan dinikahinya. Ia juga menasehatiku agar tidak kebablasan dengan pendidikan dan karir atau aku akan bernasib seperti beberapa senior perempuan yang belum menikah menjelang usia 40. Aku menerima semua nasehatnya dan menjadikan itu sebagai satu nasehat berharga bagiku. Aku hanya berdoa pada Tuhan bahwa kelak, pada saat yang tepat, aku akan dipertemukan dengan seseorang yang mencintai dan menikahiku karena aku terdidik dan pantas menjadi ibu bagi anak-anaknya. Aku percaya bahwa, kecerdasan, kecantikan hati dan pikiran adalah investasi terbaik perempuan dalam pernikahan.

Di keluarga besarku, aku adalah generasi pertama yang mampu menggapai pendidikan tinggi. Untuk kehidupan dan impian mereka yang sederhana aku dinilai sangat ambisius. Aku berbeda, keras kepala, pembangkang dan tak bisa dipaksa. Karenanya tak seorangpun berani mendesakku soal pernikahan. Paling-paling paman dan bibiku bilang ingin cucu dariku (karena anak sulungnya yang kumomong sewaktu aku SD kini sudah menikah dan punya bayi!!!). Sementara ayahku tak ambil pusing yang penting aku bahagia dengan hidupku. Beliau selalu percaya pada setiap keputusanku dan bersabar menungguku membawa seorang calon menantu ke rumah.



Pada single ladies sebaiknya nggak usah khawatir soal masalah ini. Banyak gadis yang justru menemukan jodoh mereka saat sedang kuliah. Aku menyaksikan kenyataan itu dengan bahagia. Ada beberapa teman sekelas yang berjodoh dengan sesama teman kuliah kami, atau sesama penerima beasiswa, atau dengan seseorang yang mereka temukan saat tengah studi di negeri nun jauh, atau bahkan dengan kenalan lama dalam sebuah program pertukaran pelajar internasional. Contohnya, sebut saja Nina, saat hendak kuliah ke Belanda usianya 33 tahun. Dia resah belum menikah, eh pas sudah kuliah disana malah ketemu jodohnya yang ternyata teman lamanya sendiri. Sekarang mereka sudah punya 2 anak. Ada lagi Raya, dia kuliah S2 di Hawaii untuk menghindari pernikahan atas perjodohan. Disana dia sempat pacaran dengan dua pria berbeda negara. Tapi akhirnya ia berjodoh dengan teman lamanya asal Turki. Mereka menikah setelah ia lulus dan beberapa bulan lagi ia akan melahirkan anak kedua mereka. Ada juga Dian dan Budi, keduanya temanku yang bertemu saat mempersiapkan studi master mereka ke Belanda. Mereka saling jatuh cinta, pacaran selama di Belanda dan menikah setelah lulus. Masih banyak kisah lainnya yang mengharukan dan ajaib tentang jodoh dan pernikahan.

Kita hanya perlu menyakini satu hal, bahwa jodoh pasti bertemu dengan cara yang ajaib. Daripada pusing mikirin jodoh yang nggak kunjung datang kan mending sekolah, menambah teman dan pengalaman. Yakinlah, menunggu dengan segudang aktivitas bermanfaat akan mendatangkan keajaiban. Orang bilang segala sesuatu akan indah pada waktunya, kalau belum indah maka belum waktunya hehehe. Selama menunggu, kita bisa melakukan banyak persiapan mulai dari mental, fiskal, sampai spriritual. Sebab menjalani pernikahan nggak segampang dan sependek menjalani perkuliahan yang paling lama 7 tahun untuk level doktoral bidang ilmu sosial. 

Buatku sendiri, selagi masih sendiri aku akan belajar dan mengembangkan minatku sepuasku. Aku akan bekerja, membaca buku-buku, kalau bisa mengikuti short course di luar negeri dan mengumpulkan sebanyak mungkin pengalaman dan bertemu dengan teman-teman baru. Aku punya mimpi jika kelak menikah dan memiliki anak, aku akan menjadi sumber informasi pertama bagi mereka tentang dunia. Bagiku, menikah bukan sekadar 'yang penting nikah, udah laku' (emang cendol?) agar tak mendapat predikat perawan tua. Menikah bukan perlombaan sebagaimana kelahiran dan kematian. Menikah adalah menemukan setengah jiwa yang dipisahkan, untuk kembali bersama dan membangun kehidupan yang happily ever after. Bukan untuk memuaskan rasa penasaran orang. 

Depok, 2 Mei 2016

Bahan bacaan:
https://www.homelingua.com/category/study-tips/ 
http://baltyra.com/2013/12/26/jodoh-yang-tak-kunjung-datang/comment-page-1/




Wijatnika Ika

14 comments:

  1. salam kenal mba ika,,, tulisannya bagus. Saya juga berencana menulis tentang menikah dan sekolah... hehe,,

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sudah mampir dan salam kenal juga mba Eskaningrum.

    Silakan, supaya para Jomblo-ers jadi punya semangat hidup antara dua pilihan hehehe

    Salam.

    ReplyDelete
  3. Wah keren tulisannya mbak, bener banget selagi blm ada pikiran, raihlah pendidikan setinggi2nya.
    Saya kemarin rencananya udah s1 ini mau lanjut sampai s2 aja, baru kerja.
    Tapi baca tulisan mbak, jadi semangat untuk lanjut s3 juga. Aamiin
    Mumpung masih muda dan blm berkepala dua. Heheh

    ReplyDelete
  4. Terima kasih sudah mampir mba Alfha.

    Iya mba kalau ada peluang lanjut saja. Selama sekolah segala keajaiban bisa terjadi. Kalau saya memang belum niat buat S3, sedang nyaman bekerja sekarang hehehe

    Salam.

    ReplyDelete
  5. memang, selama ada kesempatan kuliah, mending kuliah aja dulu. apalagi kalau ada beasiswa. toh, kalaupun kita memutuskan untuk tidak kuliah dan menunggu jodoh dulu, nggak ada jaminan juga kita cepet ketemu jodoh. kuliah nggak jadi, jodoh nggak dateng, rugi dobel.

    ReplyDelete
  6. Terima kasih suda mampir Mba Indah.

    Nah itu maksud saya, jangan sampai saat menunggu jodoh datang kita melepaskan kesempatan sekeolah. Ruginya dobel. Kalau kita kuliah lagi dan dapet jodoh kan happynya dobel hehehe

    Salam.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih pencerahannya Mba, kebetulan saya sekarang lagi sendiri,

    ReplyDelete
  8. Terima kasih sudah mampir mba Anisa,

    Sama dong mba hehehe. Saya membuat tulisan ini sebenarnya untuk memotivasi diri sendiri yang bingung mau lanjut kuliah atau gimana, hehe..

    Salam

    ReplyDelete
  9. Dengan kalimat lain, kerjakan apa yg bisa dikerjakan sekarang tak perlu membuat syarat harus ini dan itu dulu ketika sebuah hal yg mungkin bisa dilakukan saat ini.

    *ini motivasi saya, dulu, sekarang dan nanti*

    Karena segala sesuatu ada saatnya sendiri yang tepat, bukan soal cepat atau lambat ataupun tepat waktu TAPI WAKTU YANG TEPAT:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Ririe,

      Kalau belum indah belum waktunya ya mba

      Salam

      Delete
  10. Iya ya. Menikah kan bukan perlombaan dimana setiap gadis harus bergerak cepat untuk mendapatkan jodohnya duluan. Tapi buatku,menikah juga patut dipikirkan matang matang. Biar nggak salah pilih pasangan. Dan di sekolah, menjadi saringan terbaik untuk memilih pasangan hidup juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir Akarui,

      Betul sekali. Siapa tahu pas sekolah dan menyaring calon jodoh bener-bener ketemu jodoh ya

      Salam,

      Delete
  11. Kalau saya pengennya sih dua-duanya lancar,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir Frutablend,
      Idealnya sih begitu, tapi nggak semua bisa begitu hehehe

      Salam,

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram