MERAYAKAN KEHILANGAN


Aku telah kehilangan hal yang paling berharga dalam usia belia. Kehilangan yang membuatku melupakan. Sebagai anak dari keluarga yang bercerai aku bukan saja kehilangan bonding dengan ibuku, tapi aku lupa nyaris semua hal tentang ibuku. Buatku, tak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan semacam ini. Lupa pada ibu sendiri, bahkan memori masa kecilku tentang ibu terhapus tak lama sejak kejadian naas itu, hanya satu-dua yang tersisa. Kehilangan dan kesedihan yang tak dapat diungkapkan, bahkan tak dapat disembuhkan oleh nasehat bijak manapun. Kehilangan yang bahkan tak bisa ditebus oleh komunikasi antar kami berdua ketika aku sampai pada ibuku sebagai perempuan dewasa. Dalam hatinya, aku adalah putri sulungnya yang masih berusia 5 tahun. Entah bagaimana cara memperbaiki semua ini, aku tidak tahu...

Dan doa-doa yang kupanjatkan sepanjang 25 tahun demi kembalinya keluargaku tak dijawab oleh Tuhan. Mengapa? Apakah karena aku seorang pendosa sejak belia sehingga tak pantas mendapatkan kehormatan hidup dalam keluarga bahagia atau bagaimana? Apakah Tuhan sedang melucu dan aku tak paham kelucunNya? Begitu terus aku bertanya. Dan setiap hari ini tiba (enam hari lalu), aku tak bisa tak merasa sedih, teramat sedih, karena aku selalu terlempar ke masa-masa kritis 25 tahun lalu, dan bagaimana aku berjuang sangat keras menjadi survivor keluarga semacam ini. Semacam mimpi buruk yang diulang setahun sekali. Diasuh oleh kehendak membebaskan diri, menjadi berani dan bermental baja (kata orang-orang) pada akhirnya membuatku lelah. Sangat lelah. Jadi, tahun ini, saat kupikir aku telah menyelesaikan setengah jatah hidupku, dan aku merasa tak memiliki energi, aku memutuskan untuk melepaskan hal yang paling kuinginkan itu. Ya, aku bertekad melepaskan.

Sepanjang tahun kemarin dan awal-awal tahun ini aku belajar tentang mengapa manusia harus melepaskan, bahkan merayakan kehilangan. Manusia sejatinya tidak memiliki apa-apa, bahkan tidak memiliki dirinya sendiri. Jadi, apa sulitnya melepaskan? Lagipula hidup di dunia hanya mimpi untuk terbangun pada suatu saat bernama mati. Setiap manusia telah ditentukan hari kematiannya, hanya saja tak seorangpun tahu kapan kita akan dieksekusi dan dengan cara apa. Jadi, jangan pernah lupa mati dan tak perlu takut pada peristiwa perpisahan antara ruh dan raga. Sebab sebenarnya ruh hanya berpengalaman sebagai manusia sebelum kembali pada keadaan asal melalui kematian. Dengan demikian, kita akan paham bahwa segala peristiwa di dunia ini sesungguhnya bukan apa-apa dan hanya perkara remeh temeh saja. Dan menyiapkan kematian mungkin lebih masuk akal ketimbang terus menerus menangisi sebagian ketidakberuntungan dalam hidup. Pun dengan keluarga. Mereka bukan milikku, mereka adalah sekelompok manusia yang dipinjamkan oleh Tuhan untuk menampungku, untuk menjadi teman terdekatku di dunia yang ganas ini. Jadi kupikir Tuhan hanya meminjamkan keduanya sebentar saja padaku, dan Dia menyerahkan pengasuhanku pada semesta agar aku menjadi kuat, mandiri dan tidak manja. Lalu apa gunanya mengeluh?

Jadi, tahun ini aku mencoba bertamasya kedalam diriku sendiri. Mencari diriku yang kuabaikan. Berkomunikasi dengan diriku sendiri dan tidak menggantungkan kebahagiaanku pada segala sesuatu diluar diriku, selain Tuhan tentunya. Dan sebagaimana nasehat bijak seorang guru untuk jangan lupa berterima kasih kepada diri sendiri atas semua keberhasilan menjalani hidup yang keras ini, atas semua pencapaian yang membahagiakan dan untuk mampu menerima keajaiban yang akan segera datang. Wish me luck for next 30 years and another next 30 years...

*** 

Curhat, hehehe. Hm, sebenarnya sih selain tidak ingin menyembunyikan fakta tentang diriku (dulu aku suka berbohong saat ditanya teman-temanku tentang keluargaku, dimana aku selalu bilang bahwa we are happy family dan keluargaku baik-baik aja seperti keluarga lain, karena apa? Karena 90% teman-temanku berasal dari keluarga bahagia, jadi apa untungnya cerita soal ketidakbahagiaan yang nggak akan mereka pahami-juga nggak akan menyelesaikan masalahku). Juga untuk jujur pada diriku sendiri, bahwa aku bukanlah perempuan kuat (wonder woman) sebagaimana dipahami mereka yang mengenalku, bahwa aku tidak punya pilihan selain menapaki jalan terjal ini untuk tidak jatuh dan menyesal. Tapi jika mereka menyukai karena aku kuat dan berani, baiklah, aku akan mempertahankannya untuk mereka.

Selain itu, jika ada pembaca yang bernasib sama sepertiku, mungkin tulisan ini bisa menjadi inspirasi atau pengingat, bahwa tak seorang pun dan tak satu hal pun di dunia ini boleh membuat kita jatuh apalagi terpuruk dan hancur lebur. Setiap manusia bertanggungjawab pada dirinya sendiri, termasuk kebahagiaannya. Jika kita sempat hancur karena nasib yang demikian, yang perlu dilakukan adalah mengklaim ulang hati kita sendiri, reclaim our heart. Lalu tersenyum dan berterima kasih pada diri sendiri, seraya meminta Tuhan memeluk hati dan menggandeng tangan kita. Everything will be fine...

Depok, 19 Mei 2016 


Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Ika sahabatku........don't be sad:( Alloh Swt Maha Mengetahui yang terbaik buat kita. Tetap bahagia, penuh syukur dan ceria seperti yang Ai kenal ya ka.... Miss you....

    ReplyDelete
  2. Makasih sudah mampir dan menghiburku Neng Ai,

    Salam

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram