Mengapa Buku Kiri Dilarang? Kritis itu Seksi!


Assalammu'alaikum

Momentum perayaan Hari Buku Nasional tahun ini tidak bisa dibilang semanis madu. Terutama ketika terdapat segelintir orang dengan memanfaatkan jabatan publik dan embel-embel organisasi masyarakat tertentu terang-terangan melakukan pelarangan terhadap buku-buku berhaluan kiri bahkan meminta publik melakukan pembakaran buku. Bukan hanya itu, mereka bahkan melakukan pembubaran kegiatan bedah buku dan film yang dianggap tidak sejalan dengan ideologinya. Alasannya sih mengancam kedaulatan bangsa. Hm, mereka paham daya rubah buku-buku tersebut atau memang belum pernah membacanya sama sekali? Kan lutju kalau belum baca bukunya tapi bilang isinya berbahaya. Padahal membaca itu seksi dan ketje lho...  

Penghancuran buku sudah terjadi sejak zaman kuno [1]. Mengapa buku dibakar? Untuk menghabisi penyimpan ide. Pada tahun 4000an SM terjadi penghancuran buku dalam bentuk tablet tanah liat khas kebudayaan Sumeria kuno di peradaban sungai Eufrat dan Tigris; pada tahun 213 SM Kaisar Zhao Zhang pendiri Dinasti Qin, China menghancurkan nyaris semua buku terutama yang berisi kritik pada penguasa, kecuali buku-buku pertanian, kedokteran dan nujum; tahun 389 M sebanyak 40.000 buku hancur saat kota Alexandria, Mesir dibumihanguskan oleh perang; di Romawi Kaisar Augustus juga menghancurkan buku-buku yang dianggapnya mengangganggu stabilitas negara, sebanyak 2000 karya hancur tak bersisa; pada abad ke 2-5 M terjaid penghancuran buku-buku karya penganut Gnostik seiring perkembangan Kristen; tahun 1108 sebanyak 3 juta buku di kota Damaskus dihancurkan pasukan Salib dan pasukan yang sama menghancurkan 100.000 buku di Tripoli pada 1204; pasukan Gengis Khan melakukan penghhancuran buku secara besar-besaran di atas buku di Baghdad pada 1257 dengan menghanyutkannya ke sungai Tigris sampai sungai itu menghitam karena tinta yang luntur; saat penaklukkan Konstantinopel tahun 1453, buku-buku yang tidak Islami dihancurkan pasukan sultan Muhammad Al-Fatih; dan penghancuran buku terus berlanjut hingga masa modern. 


Penghancuran buku oleh rezim Nazi Jerman
"Pelarangan buku adalah bentuk paradoks di negara demokrasi karena memperlihatkan kesewenang-wenangan dalam membatasi kebebasan berpikir, berpendapat, dan berekspresi. Padahal semua itu dijamin oleh prinsip-prinsip dasar demokrasi, bahkan secara tegas ditulis dalam Undang-Undang Dasar 1945. Melarang buku juga menjadi paradoks bagi kehidupan bermedia di Indonesia yang lebih dari satu dekade terakhir telah mengumandangkan dukungan terhadap kebebasan pers. Pelarangan buku, di sisi lain, mengindikasikan ambiguitas kebijakan penguasa. Alih-alih mengantisipasi polemik di masyarakat, lewat tindakan pelarangan buku, pemerintah memperlihatkan praktik-praktik primitif dalam mengontrol, mengarahkan, membatasi, bahkan memandulkan cara berpikir masyarakat." [2

BUKU BERHALUAN KIRI
Pelarangan hingga pemusnahan buku di Indonesia pun bukan cerita baru. Dalam sebuah riset disebutkan bahwa pelarangan buku/tulisan di tanah air terjadi sejak zaman kolonial. Salah satu yang paling terkenal adalah pelarangan artikel berjudul "Seandainya Saya Warga Belanda (Als iik een Nederlander was)" karya Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) yang mengecam perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Perancis pada 1913 di negeri jajahannya yaitu Nusantara. Pihak-pihak yang berkaitan dengen penulisan dan penerbitan artikel itu diasingkan. Pada periode demokrasi terpimpin pembredelan buku dilakukan lebih keras hingga memberangus kebebasan pers. Tulisan-tulisan yang dianggap bertentangan dengan paham penguasa dilarang beredar. Karya-karya kritis yang diberangus diantaranya buku kumpulan puisi berjudul "Yang Bertanah Air Tapi Tak Bertanah" karya Sabar Anantaguna,  "Yang Tak Terbungkamkan" dan "Matinya Seorang Petani" karya Agam Wispi, dan artikel berjudul "Demokrasi Kita" karya Mohammad Hatta pasca penguduran dirinya sebagai wakil presiden. Juga buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul "Hoekiau di Indonesia" yang membuatnya dipenjara selama satu tahun pada 1959. 

Pada masa berkuasanya Orde Baru pelarangan buku-buku tertentu dilakukan dengan terang-terangan dan massive karena dianggap membahayakan stabilitas nasional, terutama pasca peristiwa 1965. Segala buku yang berkaitan dengan paham komunisme dan kiri dibredel habis.  Hanya buku-buku yang disetujui dan memiliki kesamaan pesan dengan rezim berkuasa yang bisa dibaca di masyarakat. Contohnya buku-buku karya penulis Pramoedya Ananta Toer karena berisi kritik terhadap pemerintah dan kondisi sosial. Pada masa itu segala hal berbau kritik dianggap berhaluan kiri dan menganam Pancasila. Pada era reformasi pembredelan serupa terjadi lagi. Tahun 2002 misalnya buku berjudul "Aku Bangga Menjadi Anak PKI" karya Ribka Tjiptaning dilarang terbit dan semua yang telah diterbitkan ditarik dari peredaran karena dianggap akan membangkitkan komunisme di Indonesia. Sejak 2002 hingga 2009 ada banyak kasus pelarangan buku. Tahun 2009 buku berjudul 'Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto" karya John Rossa digugat oleh Kejaksaan Agung, namun gugatan itu ditolak Mahkamah Agung. 

Baca juga beberapa artikel tentang pembredelan buku di tanah air DISINI, DISINI, DISINI, DISINI 

Baru-baru ini soal pelarangan buku tertentu mencuat lagi, dan dengan ketakutan yang sama, khawatir paham komunisme bangkit sehingga Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sudah lama dibubarkan berdiri lagi. Padahal menurutku sih ada pihak-pihak yang takut masyarakat Indonesia menjadi cerdas, karena buku-buku berhaluan kiri merupakan bacaan kritis yang mengajak kelas pekerja dan petani untuk bangkit melawan ketidakadilan dalam masyarakat. Karena memang hanya buku-buku berhaluan kiri yang sanggup berbuat demikian. Lagipula di era digital begini bagaimana bisa pemerintah membunuh keingintahuan masyarakat untuk membaca buku-buku tertentu hanya dengan membakar buku cetak sementara sangat mudah menerbitkan buku kedalam bentuk digital dan dunia bisa mengaksesnya dalam hitungan menit. Heinrich Heine, seorang penyair Yahudi yang terkenal pada abad ke 19 mengatakan "Orang yang membakar buku akhirnya akan membakar manusia" [3


Beberapa buku berhaluan kiri yang dilarang beredar, dilarang dibaca
Mengapa buku-buku berhaluan kiri dan kritis selalu menjadi sasaran pelarangan hingga pembakaran? Di tanah air, yang disebut buku berhaluan kiri adalah semua bacaan yang berkaitan dengan komunisme [4] karena dianggap melanggar UU (UU apa ya?). Bahkan, para petinggi TNI dan purnawirawan memperingatkan masyarakat bahwa bacaan berhaluan kiri akan membangkitkan komunisme dan lahirnya PKI modern di Indonesia dan mereka menakut-nakuti masyarakat dengan peristiwa 30 September 1965 [5]. Bukan hanya buku, bahkan hal-hal yang dikaitkan dengan simbol PKI turut diberangus, termasuk seekor ikan Louhan (Ya ampun!). Bagi sebagian orang, terkadang membaca buku yang mereka anggap bahaya tidaklah penting. Sebab mereka menggilai simbol. Segala simbol yang bertentangan dengan isi kepala mereka adalah musuh dan harus diberangus tanpa ampun, bahkan tanpa diskusi sebagai ciri khas negara demokrasi. Pokoknya segala hal berkaitan dengan palu-arit pasti dicap PKI dan PKI itu kejam (bukannya PKI udah bubar ya?) Tidakkah itu gila? 
 
BUKU UNTUK TUNA NETRA
Dalam momen peringatan Hari Buku Nasional tahun ini aku kebetulan bersama kumpulan orang-orang baik yang berkontribusi besar dalam melakukan konversi buku kedalam Braille. Tanggal 17 kemarin, karena diundang seorang teman, aku ikut serta dalam kegiatan yang diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Koordinator PMK, IBM Indonesia, Friedrich Ebert Stiftung, IKAPI dan Yayasan Mitra Netra dalam peresmian Perpustakaan Digital untuk penyandang tunanetra dan pengetikan buku untuk dikonversi ke Braille. Jadi, Yayasan Mitra Netra yang memiliki program konversi 1000 buku ke Braille membutuhkan relawan untuk menulis ulang buku-buku yang oleh mereka akan dikonversi kedalam Braille serta Audio Book dan epub. Para relawan hanya perlu menulis ulang, sebuah pekerjaan yang tidak memberatkan sama sekali. Hari itu, puluhan relawan sempat menyelesaikan pengetikan 3 eksemplar buku, lumayan. Dan masing-masing kami membawa pulang buku yang akan kami ketik ulang. Aku memilih dua buku yang isinya bagus dan kritis. 



Dari 250 juta penduduk Indonesia, terdapat 3.5 juta penyandang Tuna Netra. Jumlah yang lumayan besar. Mereka adalah warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang sama, termasuk mengakses pendidikan dan membaca buku dengan warga negara lain. Yayasan Mitra Netra yang berdiri tahun 1991 mencoba membantu para penyandang tunantera untuk bisa mengakses buku-buku yang bisa mereka pelajari, selain mereka bisa mengasah keterampilan di Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah umum yang menerapkan kurikulum pendidikan inklusi. Hingga saat ini baru 2800 judul buku yang telah dikonversi ke Braille dan 2000 buku ke audio book. Jumlah ini tentunya harus ditingkatkan mengingat masih tingginya ketimpangan akses terhadap pengetahuan antara penyandang tunanetra dan yang normal. Dan dukungan publik terhadap program ini sangat diperlukan demi terwujudnya kesetaraan dalam mengakses pendidikan sebagai hak dasar warga negara

"Bahkan sudah ada yang membantu membuatkan peta Indonesia untuk penyandang tunanetra. Petanya jadinya sangat besar," ujar mba Indah, salah seorang staf di Yayasan Mitra Netra, saat kami mengobrol. Aku jadi penasaran seperti apa bentuk petanya. Dan tentu saja lebih penasaran dengan berbagai gadget ramah tunanetra yang selama ini terus mengalami perkembangan.  

Hm, mungkin kedepan aku harus membangun komitmen sebagai relawan yang mendonasikan waktuku untuk menulis ulang minimal 1 buku setiap bulan untuk dikonversi ke Braille oleh Yayasan Mitra Netra. Daripada mendukung ide bodoh dan gila memberangus buku-buku tertentu, lebih baik membantu warga negara yang membutuhkan buku.

Depok, 20 Mei 2016
Bahan bacaan:
https://dhutag.wordpress.com/2010/01/31/kebiadaban-pelarangan-buku/ 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2010/10/101013_mkbooks.shtml 
http://megapolitan.kompas.com/read/2016/05/18/06162781/najwa.shihab.pelarangan.buku.apapun.tidak.dibenarkan 
https://sites.google.com/site/sejarahsosial/pelaranganbuku/pelarangan-buku-dari-jaman-ke-jaman
https://nobodycorp.org/portfolio/anti-pelarangan-buku/
http://sekolah-mandiri.sch.id/node/18
http://www.mitranetra.or.id/library/index.asp?lg=2&page=haki
http://akubuku.blogspot.co.id/2013/09/penghancuran-buku-dari-masa-ke-masa.html
http://trulyrudiono.blogspot.co.id/2014/02/penghancuran-buku-dari-masa-ke-masa.html
http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160513095109-241-130436/pemberangusan-buku-buku-kiri-dinilai-hanya-kambing-hitam/
[1] http://indoprogress.com/2014/03/penghancuran-buku-dalam-sejarah-umat-manusia/
[2] Pelarangan Buku di Indonesia: Sebuah Paradoks Demokrasi dan Kebebasan Berekspresi/Iwan Awaluddin Yusuf dkk.; penyunting, Wendratama.—Yogyakarta: PR2Media, 2010.
[3] https://www.ushmm.org/wlc/id/article.php?ModuleId=10007978 
[4] https://m.tempo.co/read/news/2016/05/17/078771605/fobia-komunisme-berlanjut-ksad-nilai-buku-kiri-langgar-uu
[5] https://m.tempo.co/read/news/2016/05/17/078771701/sweeping-buku-kiri-2-penerbit-didatangi-tentara-dan-polisi


Wijatnika Ika

6 comments:

  1. Sedih tiap baca berita pemberangusan buku sama pembubaran acara-acara diskusi. Menurutku juga kayaknya aparat nggak baca bukunya, makanya mereka ketakutan banget kayaknya masyarakat jadi lebih pinter dan kritis :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Heryani,

      Iya saya juga sedih. Tapi lebih sedih dengan membenci buku tanpa membacanya terlebih dahulu. Itulah ketakutan tertinggi manusia modern.

      Salam,

      Delete
  2. mungkin negara bisa jadi tidak setuju dengan ideologi tertentu, tetapi membakar buku adalah sebuah tindakan yang sangat primitif, dan menurut saya pemerintah cenderung diktator jika melakukan ini. Cara melawan pengetahuan adalah dengan pengetahuan bukan dengan menghilangkan jendela pengetahuan (buku). Itulah sikap kedewasaan negara jika memang menghormati ilmu pengetahuan. Jika memang tidak setuju dengan komunis lalu terbitkanlah buku2 demokrasi yg secara langsung mengkritik ideologi komunis. Indonesia saya kira punya banyak ahli politik dan demokrasi. Atau melalui diskusi sehat tentang bedah buku tersebut sekaligus menghadirkan banyak ahli termasuk si penulis.

    Halo Mbak Wijatnika, tulisan anda menarik.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir pak Sofyan. Yah, semoga peristiwa begin jadi pelajaran bersama bahwa kalau mau bodoh dan malas baca buku jangan ngajak-ngajak orang lain hehehe

      Salam

      Delete
    2. Hehe. Saya itu mencoba berpendapat solutif.

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram