Jakarta Uncovered: Catatan Hitam Industri Seks (1)


Assalammu'alaikum

Kali ini, bertepatan dengan momentum kemarahan publik soal kasus pemerkosaan gadis berusia 14 tahun di Bengkulu dan gadis-gadis di kota lain, aku akan mengulas sebuah buku, ditulis 2 seri karena banyak informasi yang harus dibagikan. Buku ini berjudul "Jakarta Uncovered: Membongkar Kemaksiatan, Membangun Kesadaran Baru" ditulis oleh seorang aktivis perempuan Nori Andriyani, yang resah dengan persepsi yang salah soal industri seks di Jakarta dan Indonesia, dan ingin meluruskannya. Memang buku ini diterbitkan tahun 2010 lalu dan data-datanya mungkin sudah tidak relevan lagi. Tapi setidaknya bisa menjadikan data itu sebagai gambaran dalam melakukan kajian sepanjang lima tahun sejak 2010-2016 awal.

Buku dibuka dengan kisah Siti, seorang istri yang berhasil membongkar kegiatan suaminya, Budi saat pulang larut malam dan mengaku lembur dari bon kartu kredit senilai Rp. 2,6 juta di tempat berinisial AS, Jakarta. Siti mempelajari tempat itu via internet dan menyadari bahwa suaminya telah melakukan transaksi di lokalisasi. Setelah didesak suaminya mengaku bahwa ia telah membeli layanan seks bersama teman-teman kerjanya. Pengakuan Budi juga lumayan membuat terkejut Siti yang curiga bahwa ada keanehan pada suaminya selama 6 bulan terakhir. Ternyata selama itu Budi melakukan berlapis-lapis kebohongan demi menutupi kecanduannya membeli layanan seks perempuan di tempat hiburan malam. Budi mengaku bahwa ia berusaha berhenti tapi tidak bisa dan ini menghancurkan Siti. Kehidupan rumah tangga mereka pun diujung tanduk, bahkan Budi harus ditangani psikolog karena mengalami ketergantungan seks.

KETERGANTUNGAN SEKS
Ketergantungan seks merupakan obsesi dan preokupasi terhadap seks, dimana segala hal didefinsikan secara seksual. Ketergantungan ini bersifat progresif dan fatal dan menghancurkan di pecandu, orang lain dan mereka yang memiliki ikatan dengannya. Orang dengan ketergantungan seks menjadi semakin progresif dalam berbohong, memikirkan kepentingan pribadi, terisolasi, penuh rasa takut, bingung, mati rasa, dualistik, ingin mengontrol, perfeksionis, menolak keberadaan masalah, kehilangan kewarasan, menyalahkan orang lain dan disfungsional. Ketergantungan seks dalam contoh kasus Budi merupakan bagian dari massifnya bisnis prostitusi di Jakarta yang menjadi bahasan utama dalam buku ini. 

Nori mendefinisikan prostitusi sebagai kegiatan kaum lelaki membeli layanan seks perempuan, satu persepsi yang secara umum dipandang tak bisa dihentikan karena sudah hidup dan berkembang sejak ribuan tahun silam. Bahkan, tak sedikit yang menerimanya sebagai bagian dari kehidupan. Disinilah Nori memulai perannya dalam menulis buku ini, dimana ia ingin membangkitkan kesadaran baru tentang kegiatan yang dianggap lazim sebagai sebuah masalah. Ia pun mengutip tulisan Victor Maralek, seorang jurnalis Kanada keturunan Ukraina yang mengungkap kejahatan perdagangan manusia untuk industri seks yang menjual gadis-gadis miskin dari kawasan Eropa Timur paska keruntuhan Uni Soviet ke berbagai penjuru dunia. Ia menulis tentang kebinatangan kaumnya sendiri dalam industri kotor ini. Menurut Maralek, prostitusi merupakan bentuk penindasan tertua di dunia (the world's oldest oppression) alih-alih mengamini pemakluman publik bahwa prostitusi merupakan pekerjaan tertua di dunia. Prostitusi bukanlah pekerjaan, karena tak seorangpun akan bangga mengatakan pekerjaannya sebagai pemberi layanan seks.

DOMINASI LAKI-LAKI ATAS PEREMPUAN
Kita mungkin bertanya mengapa prostitusi tak bisa dihentikan? Mengapa jumlahnya semakin tahun semakin bertambah? Mengapa bisnis ini semakin besar dan kuat? Mengapa tak ada yang mampu meruntuhkan bisnis kotor ini? 

Dalam buku ini disebutkan bahwa pada 1995 tercatat 72.000 orang dilacurkan di berbagai lokalisasi, dan 30% diantaranya adalah anak-anak. Pada 1998 jumlahnya meningkat menjadi 150.000 orang. Pada 2003 jumlahnya bertambah antara 190.000-270.000 orang dengan konsekuensi 1 orang pemberi layanan seks melayani 7-10 pria pembeli layanan seks. Jumlah ini merupakan 30% dari jumlah korban perdagangan manusia untuk industri seks di dunia di tahun yang sama yaitu 800.000-900.000 orang. Artinya korban industri ini di Indonesia terbilang sangat signifikan. Dengan jumlah ini kita bisa menghitung bahwa jumlah lelaki pembeli layanan seks angkanya jauh lebih besar. Kasarnya ada lebih dari 1-2 juta lelaki merupakan pembeli layanan seks.

Apa yang membuat laki-laki bisa membeli layanan seks? Dalam buku ini Nori menjelaskan bebarapa faktor yang membuat laki-laki membeli layanan seks, bahkan kecanduan untuk terus membeli seakan lazim hal itu dilakukan.

1| Uang
Uang adalah kekuasaan. Dan kekuasaan lelaki atas kepemilikan harta memberinya posisi dominan atas perempuan, khususnya istri dan anak-anaknya. Dengan uang lelaki membangun kekuasannya dan bersifat hegemonik terhadap perempuan sebagai opposite sex. Ketika ia mengeluarkan untuk membeli layanan seks, ia merasa itu karena uangnya, hasil kerja kerasnya dan untuk sedikit kesenangannya.

2| Selingkuh badan, bukan selingkuh hati
Dalam masyarakat kita kata-kata ini sangat populer, "Boleh selingkuh badan asal jangan selingkuh hati," sebagai pembenaran bahwa tidur dengan pemberi layanan seks merupakan perbuatan yang sah dan bisa dimaafkan karena toh nggak pake cinta, nggak pake hati. Lelaki semacam ini adalah mereka yang sudah kecanduan seks, sehingga tak mampu memisahkan hati dan badan. Bagaimana ia bisa mengatakan cinta pada istrinya jika ia melakukan hubungan badan dengan perempuan lain dengan imbalan uang? Bagaimana jika istrinya melakukan hal itu dengan lelaki pemberi layanan seks? 

3| Variasi 
Dalam masyarakat kita lelaki nakal dan hidung belang dianggap sebagai kewajaran. "Lelaki nakal mah wajar, namanya juga lelaki," sehingga masyarakat masih bisa menerima jika lelaki melakukan hubungan seks diluar nikah. Lelaki demikian bahkan tak pernah menerima cap sebagai jalang, binal, nakal, kotor atau tidak perjaka. Sementara hal serupa akan menjadi pedang pembunuh bagi perempuan. Karena itu masyarakat merasa tak bermasalah dengan lelaki 'dengan riwayat memerkosa' atau lelaki pemain perempuan, tetapi sangat sensitif dengan perempuan korban perkosaan, bahkan jada karena mereka tidka lagi perawan.

4| Perempuan baik versus jalang
Lelaki pembeli layanan seks membedakan kedudukan cinta dan seks, istri dan pelacur. Ia mendudukan istrinya sebagai ratu rumah tangga, yang suci, yang tidak nakal, yang mengatur urusan rumah tangga yang tak ada hubungannya dengan seks nakal dalam hubungan suami istri. Karena penghormatan terhadap istri, ia membeli layanan seks untuk menikmati seks yang berbeda dengan yang ia nikmati dengan istrinya. Ia menikmati fantasinya diluar rumah, dengan perempuan lain yang dianggap jalang, pantas dibayar untuk leyanan seksnya dan tak pantas dinikahi. Perempuan nakal untuk main-main. Lelaki semacam ini bahkan tak segan melakukan praktek ini setelah istrinya melahirkan anak-anak dan ia membuat garis pemisah antara perempuan baik-baik dan jalang. Yang penting bukan istrinya yang jalang.

5| Menyalahkan istri
Tak jarang lelaki menyalahkan istrinya yang tidak mau melakukan hubungan seks sesuai kehendaknya sehingga ia memilih membayar pemberi layanan seks. Lelaki demikian beranggapan bahwa karena ia membayar maka ia berhak mendapatkan layanan sesuai keinginanya. Pembenaran lainnya adalah dengan membeli layanan seks demi memuaskan fantasinya, sang lelaki telah membantu istrinya untuk tidak perlu bersusah payah dalam melayaninya demi memuaskan fantasi seksualnya

6| Transaksi yang saling menguntungkan
Banyak lelaki pembeli layanan seks berasumsi bahwa dengan membayar layanan seks ia telah menolong si pelacur untuk mendapatkan penghasilan. Jadi itu transaksi dianggap saling menguntungkan. Pandangan ini seakan memberikan pembenaran bahwa industri seks adalah industri yang sah. Padahal, para perempuan yang menjadi pemberi layanan seks adalah mereka yang dilacurkan karena korban perdagangan orang dan biasanya berasal dari keluarga miskin, atau korban pemerkosaan. Mereka adalah korban kemiskinan struktural, kemiskinan yang disebabkan sistem yang tidak adil dan tidak berpihak pada perempuan. Sistem yang tidak memberikan pilihan bagi mereka untuk berpendidikan tinggi, mendapatkan keahlian dan bekerja. Konteks lain adalah bahwa si lelaki tidak mau mencari tahu bahwa si perempuan adalah korban perdagangan seks yang bisa saja terjebak dalam hutang atau ia akan mendapat kekerasan fisik dan psikologis jika tidak melakukan transaksi. 

Transaksi seks juga berakibat fatal bagi kesehatan karena penularan penyakit dan infeksi kelamin seperti HIV/AIDS, ketergantungan alkohol, narkotika dan obat-obatan terlarang. Para perempuan yang diperdagangkan dalam industri seks biasanya dipaksa untuk mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, mereka juga jadi korban penularan penyakit. Selain itu, uang yang diperoleh para pemberi layanan seks berumur pendek. Para perempuan biasanya diperdagangkan sampai usia mereka 30 tahun, setelah itu nasib buruk bisa menimpa mereka seumur hidup, karena mereka dianggap tak lagi produktif.


7| Perempuan menikmati kok...
Pembenaran lainnya adalah bahwa para perempuan pemberi layanan seks dianggap menikmati transaksi seks yang terjadi. Padahal, perempuan yang diperdagangkan untuk industri seks tidak mungkin tampil dengan terpaksa karena ia harus mendapatkan uang. Mereka harus melakukan transaksi dibawah todongan senjata mucikari. Dan pastinya, tidak ada 'suka sama suka' dalam industri seks. Jika perilaku membeli layanan seks adalah benar dan sah, tentu tak seorangpun yang perlu takut mengumumkan apa yang dilakukannya pada istrinya dan keluarganya, bukan? 

8| Ritual pendewasaan dan tekanan teman
Dalam banyak kasus remaja lelaki terpaksa melakukan hubungan seks pra nikah dengan membeli layanan seks karena tekanan teman-temannya. Tekanan untuk menunjukkan kejantanan dalam pergaulan pun berlanjut hingga dewasa. Bahkan di Jakarta disebutkan bahwa membeli layanan seks merupakan ritus pendewasaan remaja lelaki sebagai pembuktian kejantanan mereka. Hal lain yang dilakukan adalah membeli layanan seks di internet dimana para lelaki pembeli layanan seks bergabung dengan grup pembeli layanan seks sehingga mereka bisa saling berdiskusi dan merekomendasikan layanan seks satu sama lain. Dengan demikian lelaki yang pada awalnya bersalah telah melakukan penyimpangan seks merasa menemukan pembenaran bahwa ada banyak lelaki serupa dengan dirinya.

9| Business with pleasure
Bisnis seks juga dijadikan alasan para pekerja untuk memuluska kerjasama bisnis. Banyak lelaki baik-baik yang tercebur ke dunia ini karena pada awalnya dijebak untuk memasukkan untuk pleasure dalam bisnis. Di negara-negara Asia seperti Hong Kong, sudah menjadi kebiasaan jika selepas diskusi soal pekerjaan para lelaki akan minum-minum dan mendapatkan layanan perempuan. Di Indonesia akhir-akhir ini kejadian semacam ini terbuka ke publik dimana para perempuan cantik pemberi layanan seks dijadikan sebagai alat suap untuk kepentingan bisnis  

10| Lelaki pembenci perempuan
Ternyata ada juga lelaki yang membeli layanan seks karena membenci para perempuan yang kini mulai banyak meraih kekebasan dan keseteraan. Ini banyak terjadi di Barat. Mereka kemudian beralih mencari perempuan penurut, innocent untuk memuaskan hasrat seksualnya. Hal ini banyak dilakukan lelaki Barat yang pongah dengan kepemilikan uang dan membeli layanan seks perempuan Asia. Sikap ini juga ditampilkan dengan kebencian, ingin mengontrol perempuan, senang memiliki kekuasaan untuk membeli layanan seks perempuan

11| Supremasi seks laki-laki
Masyarakat kita meyakini bahwa laki-laki harus tampil macho dan mengakui bahwa nafsu seksknya lebih besar dari perempuan. Dan bahwa perempuan bersifat pemalu, penurut dan tidak boleh agresif. Hal ini dijadikan pembenaran untuk lelaki membeli layanan seks, atau bertindak nakal. Hal ini didukung iklan-iklan produk keperkasaan bahwa lelaki perkasa adalah lelaki yang prima yang bisa mendapatkan sebanyak mungkin perempuan untuk memuaskan hasratnya. Belum lagi promosi dalam bentuk pornografi yang mengkampanyekan seks secara vulgar, bahkan soal membeli layanan seks.

12| Pembenaran kaum perempuan
Berbagai produk pembenaran kaum lelaki dalam membeli layanan seks dan dominasinya atas perempuan tak jarang didukung kaum perempuan. "Kalau suami saya begituan asal jangan dirumah saya, jangan didepan saya," sering kita dengar. Atau anggapan bahwa perempuan nggak perlu tahu kemana suami pergi pada malam hari yang penting pulang dengan selamat ke rumah, merupkan salah satu pembenaran kaum perempuan atas dominasi laki-laki sampai-sampai transparansi dalam berkegiatan sehari-hari tidak diperlukan. Banyak perempuan juga tidak peduli jika suami membeli layanan seks yang penting ia tetap membawa uang ke rumah sebagai bentuk tanggungjawab terhadap keluarga. Atau pembiaran atas perilaku suami membeli layanan seks karena si perempuan mereasa tidak berdaya untuk menegur, mengancam atau meninggalkan karena ia membutuhkan penghasilan di suami untuk menghidupinya, sementara ia tak bisa melakukan apa-apa untuk hidupnya.


MENDEFISINIKAN PROSTITUSI
Memberi layanan seks bukanlah pekerjaan, karena tak seorangpun dengan lantang dan bangga akan mengatakan bahwa ia pekerja seks. Prostitusi adalah keadaan yang dipaksakan. Satu dominasi laki-laki atas perempuan terhadap vagina, anus, mulut, tubuh dan pikirannya. Tidak hanya oleh satu laki-laki, tapi oleh banyak laki-laki yang membayarnya. Ketika lelaki menggunakan perempuan untuk prakteks seks berbayar sesungguhnya ia tengah mengekspresikan kebencian mendalam terhadap perempuan. Ia dapat melakukan apapun yang ia inginkan sementara si perempuan sebaliknya. Ia tidak eksis. Ia hanya benda untuk sebuah permainan.

Dalam industri seks, perempuan tak lagi utuh sebagai dirinya. Tak mungkin seorang perempuan tetap utuh setelah tubuhnya dipergunakan dalam praktek seks berbayar, karena terlalu banyak yang dirampas dalam proses itu, dan itu bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, oleh puluhan hingga ratusan lelaki berbeda. Yang dirampas bukan hanya fisik yang bisa dirasakan kulit, tapi juga pikiran dan jiwa. Prostitusi juga dianggap sebagai permerkosaan massal. Perempuan dalam industri seks mengalami kekerasan seksual, fisik dan psikologis sehingga mereka mengalami trauma. 

Prostitusi merupakan bentuk penindasan tertua di dunia, dan sedihnya menjadi praktek pelanggaran HAM paling diabaikan di dunia. Dalam banyak kasus, korban dipaksa mucikari dan membayar untuk menonton vidoe porno dan mempraktekkannya pada tamunya. Lelaki pembeli merasa berhak mendapatkan layanan seksual sekehendak hatinya karena telah membayar. Si perempuan menjadi alat kekuasan lelaki dalam prostitusi, karena uang. Tanpa uang, apakah lelaki bisa berkuasa atas perempuan?
 
Bersambung...

Depok, 6 Mei 2016

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram