Indonesia Darurat Kekerasan Seksual


Assalammu'alaikum,


Kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun, seorang siswi SMP di Bengkulu bukan saja telah membuatku menulis soal kasus tersebut. Tapi, aku mulai kembali giat membaca berbagai perkembangan di Indonesia dan dunia soal kasus kekerasan seksual dan upaya penegakan hukumnya. Termasuk hal-hal lain yang menjadi sebab dan akibat kasus ini. Hari ini aku membaca tulisan seorang jurnalis, Hera Diani di situs Magdalene.co yang berjudul "Sexual Violence Against Women Brings Dire Economic Consequences"


Tulisan ini lebih banyak menyoroti soal dampak lanjutan dari kekerasan seksual yang diderita korban sepanjang hidupnya, termasuk dampak ekonomi. Disebutkan juga bahwa di Indonesia, berdasarkan data Komnas Perempuan pada 2014, setiap harinya terjadi 35 peristiwa kekerasan seksual, atau 3 kejadian per 2 jam (itu yang dilaporkan, yang tidak dilaporkan berapa?). Kekerasan seksual pada perempuan merupakan persoalan kompleks. Selain berpengaruh pada fisik, psikologi dan kesehatan, juga pada ekonomi. Perempuan korban pemerkosaan misalnya, dapat kehilangan akses terhadap pendidikan dan ekonomi. Dalam beberapa kasus kekerasan seksual yang menimpa pelajar, si anak terpaksa harus keluar sekolah dan itu membuatnya kehilangan akses mendapat pendidikan tinggi dan pekerjaan dengan pemasukan bagus untuk mendukung masa depannya. Apakah pelaku pemerkosa juga diperlakukan demikian? 

Tak jarang korban pemerkosaan juga tertular virus HIV. Selain berdampak pada kesehatan fisik dan psikisnya, juga pada masalah ekonomi. Biaya yang harus dikeluarkan untuk terapi HIV sangat mahal. Selain itu, kehilangan generasi produktif akibat kekerasan seksual terhadap ekonomi jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk dana pendidikan. Penegakan hukum yang tidak adil dan bias gender juga disebutkan sebagai salah satu penyebab hanya 10% dari 3000 kasus kekerasan seksual yang dilaporkan. Sebab selama ini, korban tidak mendapatkan perlindungan dan bahkan kompensasi yang bisa menjamin pemenuhan haknya sebagai perempuan dan warga negara, terutama untuk menghilangkan trauma, mengobati kesehatan, serta mengakses pendidikan dan pekerjaan. 

JENIS-JENIS KEKERASAN SEKSUAL
Berdasarkan hasil pemantauan Komnas Perempuan selama 15 tahun sejak 1998-2013, terdapat 15 jenis kekerasan seksual, yaitu: perkosaan, intimidasi seksual berupa ancaman perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual (prostitusi dan pronografi), perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan termasuk cerai gantung, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan pemakaian kontrasepsi dan sterilisasi, penyiksaan seksual, penghukuman yang tidak manusiasi dan bernuansa seksual, praktek tradisi bernuasa seksual yang merugikan perempuan, dan kontrol seksual beralasan moralitas atau agama. 

Kekerasan seksual tidak hanya dilakukan oleh orang tak dikenal atau memang sengaja menipu demi melakukan kekejaman itu, seperti yang dialami Shandra Waworuntu. Tapi juga oleh orang terdekat korban. Dalam kasus Yuyun misalnya diketahui bahwa dua dari 14 pelaku adalah kakak kelas Yuyun. Kasus kekerasan seksual semakin tahun semakin meningkat. Pada 2015 ada 2.339 atau 72% kasus permerkosaan dari seluruh kasus kekerasan seksual yang dilaporkan. Sementara itu sejak Januari-April 2016, terdapat 43 kasus kekerasan seksual pada perempuan yang berujung pada kematian korban, dimana sebagian besar pelaku merupakan suami korban.



Saat kasus Yuyun sedang naik ke permukaan, kasus kekerasan seksual juga terjadi di beberapa tempat. Di Cirebon, remaja 13 tahun diperkosa pamannya sendiri, di Jakarta anak 12 tahun diperkosa gurunya, seorang anak perempuan berusia 6 tahun diperkosa ayah tirinya, serta seorang lainnya yang diperkosa secara berkelompok oleh temannya sekolahnya sendiri hingga tak bisa ikut ujian nasional. Miris. Gila. Seakan-akan dunia sedang memberitahu bahwa tak seorangpun lagi bisa dipercaya. Bahwa tak satu tempat pun aman bagi perempuan, bahkan meski ia masih bayi mungil. Bahwa kita dipaksa menaruh rasa curiga kepada keluarga, teman dan lingkungan dimana kita tinggal. 

Dalam Lembar Fakta Catatan Tahunan (CATAHU) Kompas Perempuan 2016 disebutkan bahwa sepanjang 2015 terdapat 321,752 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Sebanyak 305.535 kasus bersumber dari kasus yang ditangani Pengadilan Agama atau Badan Peradilan Agama, dan sebanyak 16.217 kasus yang ditangani layanan mitra Komnas Perempuan. Sebanyak 11.207 atau 69% kasus terjadi di ranah personal atau disebut KDRT dimana pelakunya memiliki hubungan darah dengan korban, kekerabatan, atau hubungan pernikahan dan hubungan pacaran. Sedangkan sebanyak 5.002 atau 31% terjadi di ranah komunitas dimana pelaku tidak memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan korban, seperti majikan, guru, teman kerja, tokoh masyarakat atau bahkan orang yang tidak dikenal. Dan kasus lainnya yaitu 8 kasus berkaitan dengan kekerasan seksual yang dilakukan atas nama negara. Kasus terakhir seringkali paling sedikit atau tidak dilaporkan. 

Dalam sumber lain bahkan disebutkan bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak yaitu phedofilia di Indonesa adalah yang tertinggi di Asia. Sedangkan untuk kasus kekerasan seksual berupa pernikahan paksa terhadap anak dibawah umur (antara 10-18 tahun) Indonesia menempati posisi tertinggi kedua di kawasan ASEAN setelah Kamboja. Kemiskinan, rendahnya pendidikan orangtua, rendahnya akses terhadap hak reproduksi seksual dan meningkatnya fundamentalisme agama menjadi faktor pemicu masalah ini.

Dalam laporan Lembaga Kesehatan Dunia, WHO, disebutkan bahwa 1 dari 3 perempuan di dunia mengalami kekerasan seksual baik yang dilakukan oleh pasangan maupun bukan. Kasus yang tertinggi yaitu mencapai 37.7% terjadi dikawasan Asia Tenggara, disusul 37% di wilayah Mediterania dan 34% di Afrika. Dalam laporan IOM, pada 2013 disebutkan bahwa terdapat 2.604 perempuan, 210 laki-laki dan 887 anak korban perdagangan orang untuk dipekerjakan sebagai pekerja seksual. Jikapun mereka dipekerjakan di sektor pekerja non formal seperti pekerja rumah tangga, mereka tetap mengalami kekerasan seksual, kekerasan fisik dan kekerasan psikis.
 

 

Perempuan dan anak dibawah umur yang menjadi korban terbesar perdagangan orang di sektor industri seks mengalami berbagai kekerasan seksual mulai dari kekerasan psikologi, fisik, dan seksual. Mereka juga tidak diberi makan dan minum yang cukup, dipaksa mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, tekanan ideologi juga ancaman. Dan sedihnya, mereka yang berhasil dibebaskan seringkali tidak bisa diterima keluarga atau masyarakat asal mereka dengan baik karena stigma yang dilekatkan sebagai korban kekerasan seksual, sehingga proses integrasi menjadi sulit.


PENANGANAN KEKERASAN SEKSUAL 
Kekerasan seksual, terutama yang dilakukan oleh pelaku yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan dengan korban seringkali tidak dialporkan karena dianggap masalah atau aib keluarga. Padahal, masalah ini jelas-jelas merupakan masalah bersama dan memiliki payung hukum. Sebuah komunitas tidak saja bertanggungjawab melakukan tindakan pencegahan kekerasan seksual di lingkungannya, tapi juga melaporkannnya ke pihak berwajib jika terjadi. Kekerasan seksual bukanlah urusan domestik sebuah rumah tangga, tapi merupakan tanggungjawab bersama karena berkaitan dengan hak asasi manusia yang dilindungi bahkan oleh hukum internasional. Masyarakat harus mengubah cara pandang bahwa kekerasan seksual adalah kejahatan serius, dan tidak membiarkan hal demikian terjadi. Juga harus menjadi benteng yang menguatkan kembali korban kekerasan seksual agar bisa hidup normal. 

Upaya penanganan kekerasan seksual tidak bisa dilakukan sendirian baik hanya oleh keluarga, masyarakat atau lembaga-lembaga terkait, melainkan harus dilakukan bersama-sama. Dalam konteks komunitas atau masyarakat lingkungan tempat tinggal, berikut adalah upaya yang dapat:

1| Melakukan edukasi tentang kekerasan seksual 
Seluruh anggota masyarakat dalam lingkungan terdekat misalnya Rukun Lingkungan, Rukun Tetangga atau Rukun Warga memiliki peran sama besar dan sama penting dalam memberikan edukasi kepada warganya mengenai kekerasan seksual. Sehingga satu sama lain dapat saling melindungi dan melakukan kontrol, sehingga tak ada lagi kasus kekerasan seksual dalam sebuah keluarga yang tidak dilaporkan.

2| Mendukung upaya hukum mengenai penghapusan kekerasan seksual  
Kita mungkin seringkali kecewa terhadap putusan pengadilan yang menghukum pelaku kekerasan yang seksual dengan hukuman yang ringan karena dianggap tidak sebanding dengan penderitaan korban atau bahkan membebaskan pelaku karena adanya bias gender. Karena itu masyarakat memiliki peran penting untuk mendorong para pemangku kepentingan agar membuat kebijakan yang adil terhadap korban dan pelaku.

3| Memberikan dukungan penuh pada korban untuk hidup normal kembali 
Beberapa kasus pemerkosaan yang menimpa pelajar berakhir tragis. Selain si pelaku hanya diberi hukuman ringan, korban menjadi victim blaming sehingga terpaksa keluar dari sekolah, tidak diterima sekolah di sekolah manapun, mengalami trauma, masalah kesehatan dan sebagainya. Disinilah masyarakat memiliki peran penting dengan merubah sudut pandang. Bahwa korban adalah korban dan korban tidak bersalah sehingga ia berhak menjalani hidup normal. 

4| Kritis terhadap norma dan aturan agama 
Menyedihkan memang jika ada anak dibawah umur dipaksa menikah dengan alasan mengikuti ajaran agama. Dalam masyarakat Islam biasanya berdasarkan pernikahan Nabi Muhammad dan Aisyah binti Abu Bakar. Padahal, jika mau dilihat lebih seksama pernikahan anak dibawah umur hanyalah demi mengikuti hawa nafsu atau masalah keterdesakan ekonomi. Karena itu masyarakat harus bahu membahu dalam membantu si anak dan keluarganya untuk keluar dari masalah tersebut alih-alih tidak peduli dan menganggap itu urusan rumah tangga orang lain. Bagaimanapun juga pernikahan anak dibawah umur bukan saja berakibat pada angka kematian ibu dan bayi, juga menurunkan produktivitas dan daya saing bangsa.

5| Kritis terhadap iming-iming pekerjaan 
Banyak kasus perdagangan perempuan dan anak untuk industri seks yang berawal dari iming-iming pekerjaan dengan gaji yang menjanjikan. Sebagian besar korbannya berasal dari keluarga miskin dengan pendidikan yang rendah. karenanya, masyarakat tidak boleh menutup mata terhadap masalah ini. Kita harus saling memperhatikan satu sama lain dan kalau bisa pemimpin warga setempat bisa menerima pengaduan warga yang membutuhkan pekerjaan sehingga aduan bisa diteruskan kepada lembaga-lembaga berwenang seperti dinas tenaga kerja atau lembaga pencari kerja legal. Dengan demikian warga dapat mengetahui kebutuhan antar mereka dan dapat saling membantu. 

Depok, 4 Mei 2016

Bahan bacaan: 
http://magdalene.co/news-781-sexual-violence-against-women-brings-dire-economic-consequences.html
http://www.thejakartapost.com/news/2015/03/09/new-draft-bill-defines-six-types-sexual-violence.html
http://www.rappler.com/indonesia/131581-infografis-indonesia-darurat-kekerasan-terhadap-perempuan
http://nasional.kompas.com/read/2016/05/03/19305051/Kondisi.Darurat.DPR.Didesak.Rancang.UU.soal.Penghapusan.Kekerasan.Seksual
http://www.aic.gov.au/publications/current%20series/tandi/441-460/tandi450.html
Lembar Fakta Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2016
http://indonesia.ucanews.com/2014/05/05/kasus-pedofilia-di-indonesia-tertinggi-di-asia/
http://pssat.ugm.ac.id/2016/03/21/indonesia-dan-darurat-pernikahan-anak/
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20140901105717-12-2120/kekerasan-seksual-pada-anak-meningkat/




Wijatnika Ika

4 comments:

  1. Mantap mba infonya, salam kenal ^^

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga.
    Silakan dibagi tulisannya agar kita semua mawas diri dan terhindar dari kejahatan ini.

    ReplyDelete
  3. berita soal yuyun itu kejam banget :(
    hari gini orang gak punya uang bukannya kerja malah mabok

    ReplyDelete
  4. Betul mba Ninda. Karenanya kita semua harus saling menjaga satu sama lain. Laki-laki dan perempuan pada dasarnya teman, karenanya tidak boleh saling menindas satu sama lain dalam bentuk apa pun.

    Salam,

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram