Apa Hukuman Yang Tepat Bagi Pemerkosa?


Assalammu'alaikum

Diantara kesibukan tak terbatas kita demi menjalani kehidupan, dan tangisan-tangisan sedih yang tidak terdengar suaranya karena terlampau parau, dan airmata yang disembunyikan hanya untuk dipersembahkan pada Tuhan, dan doa diam-diam kita untuk semua kekacauan yang sepertinya semakin hari semakin tak masuk akal, sebuah berita yang beredar di dunia maya membuatku terdiam. Ngeri. Aku benar-benar merasa ngeri sampai bulu kudukku berdiri seakan-akan aku tengah didatangi malaikat kematian secara tiba-tiba. Bahkan tulang belulangku sakit tak terperi karena amarah.

Pada 5 April 2016.
Di Rejang Lebong, Bengkulu.
Seorang gadis, Yuyun.
14 tahun, siswa SMP.
Pulang sekolah.
Diperkosa.
Oleh 14 laki-laki.
Lalu dibunuh 
Mayatnya dilempar ke jurang. 

Bagi seorang perempuan, peristiwa percobaan pelecehan seksual saja begitu mengerikan dan bisa membuatnya depresi, terutama jika peristiwa tersebut tak bisa dilupakan seumur hidupnya. Lalu bagaimana dengan korban pemerkosaan? Bagaimana dengan korban pemerkosaan oleh 14 orang? Kukira, tak ada seorangpun yang mampu berimajinasi bagaimana sakit yang dirasakan, juga warisan gangguan psikologis karena merasa diri kotor dan rasa malu yang harus ditanggung seumur hidup korban pemerkosaan. Korban tak pernah tunggal, sebab efeknya menjalar pada keluarga dan lingkungan korban. Seumur hidup korban dan keluarganya akan dipandang dengan belas kasihan seakan-akan merekalah yang melakukan dosa memalukan itu.

Selain itu, korban pemerkosaan adalah korban yang tidak pernah bisa berteriak lantang "Hei, aku korban pemerkosaan. Tolong aku!" sebagaimana korban tindakan kriminal lain. Rasa malu, kotor, hina dina dan semacamnya membuat mereka menjadi inferior sebab dalam masyarakat kita "perempuan selalu salah" bahkan tak jarang dalam beberapa kasus pemerkosaan, si pemerkosa dibebaskan dari tuduhan karena si korban mengalami orgasme. Sebagai korban pemerkosaan, perempuan tak akan pernah bisa mendapatkan apa yang hilang darinya. Sesuatu yang diambil dari tubuh dan kehormatan perempuan tak pernah bisa dikembalikan pada kondisi semula. 


Itulah mengapa aku sering merasa geram manakala aparat keamanan begitu vulgar menyebutkan nama korban pemerkosaan, dan hanya menyebutkan nama inisial pelaku. Kenapa? Apakah karena pelaku adalah laki-laki dan itu melukai ego kaum lelaki? Pun dengan kasus Yuyun yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 orang laki-laki. Dalam berbagai sumber digambarkan bahwa polisi dengan jelas menyebut nama korban dan hanya menyebutkan insial pelaku. Wajah para pelaku juga ditutup dengan kupluk? Kenapa? Kenapa kita menyembunyikan wajah mereka? Bukankah wajah pelaku korupsi dan terorisme saja tak pernah ditutupi agar diketahui publik? 

STIGMA
Kasus ini lumayan sepi. Aku saja baru mendapat beritanya beberapa hari lalu. Para aktivis pendamping penyintas kekerasan seksual berpendapat bahwa kasus ini sepi karena dua hal. Pertama, peristiwa terjadi jauh dari kota, lebih jauh lagi dari Jakarta sebagai magnet berita. Lagi pula Yuyun adalah rakyat biasa, bukan orang penting dalam tatanan sosial masyarakat kita (kalah rame dengan kasus kopi sianida di Jakarta). Kedua, dalam banyak kasus pemerkosaan, si korban dianggap bersalah. Mengapa? Dalam masyarakat yang dikendalikan konsensus laki-laki, perempuan adalah warga kelas dua yang inferior, yang jika menurut laki-laki mereka salah ya berarti mereka salah. 

Karena itu, dalam kasus pemerkosaan biasanya yang pertama kali dibahas adalah 'pakaian yang dikenakan perempuan'. Jika pakaian itu dianggap mengundnag birahi kaum laki-laki maka salah si perempuan telah membangkitkan iblis jahat dalam otak laki-laki, lalu terjadilah pemerkosaan. Seakan-akan laki-laki dianggap sah melakukan pemerkosaan karena ukuran pakaian perempuan. Stigma demikian membuat lebih dari 75% tindakan kekerasan seksual tidak dilaporkan. Padahal banyak juga kasus pemerkosaan yang korbannya balita atau nenek-nenek. Apakah tubuh balita menggoda iblis jahat dalam kepala laki-laki untuk melakukan pemerkosaan

Sepinya kasus ini bisa dilihat saat kita mencari beritanya di mesin pencari. Sebagian besar beritanya dimuat oleh media lokal dan beberapa diantaranya media lokal yang menurutku kurang kredibel karena tidak menyajikan data baru, melainkan hanya copy paste dari berita media mainstream. Padahal, dalam catatan Komnas Perempuan, kasus kekerasan seksual di Indonesia lumayan tinggi dan terus meningkat tiap tahunnya. Indonesia juga disebut-sebut dalam kondisi darurat kekerasan seksual, terutama terhadap anak dibawah umur. Kasus semacam ini sangat serius dan harus menjadi perhatian banyak pihak, termasuk kalangan media. Meski sepi pemberitaan, trend kasus terus merangkak naik setelah banyak aksi solidaritas dilakukan dengan tagar #nyalauntukyuyun yang meramaikan media sosial, khususnya Twitter. Dan mari kira ramaikan kembali.

Para tersangka pemerkosa dan pembunuh Yuyun. Kita harus ingat dan memaksa polisi mempublikasikan nama-nama mereka sebagaimana nama Yuyun. Publik harus tahu.
HUKUMAN BAGI PEMERKOSA
Kasus pemerkosaan dan pembunuhan atas Yuyun ditangani oleh Polres Rejang Lebong, Bengkulu. Sebanyak 12 dari 14 pelaku yang berhasil ditangkap kabarnya dijerat pasal berlapis yaitu pasal 76 d Undang-Undang No. 35 tentang perubahan UU tahun 23/2003 tentang Perlindungan Anak, pasal 338 KUHP tentang Menghilangkan Nyawa Orang dan pasal 536 KUPHP tentang Mabuk-Mabukan ditempat Umum. Para pelaku akan dijerat hukuman penjara 30 tahun dengan tambahan kurungan 3 bulan. Ironisnya 2 dari tersangka merupakan kakak kelas Yuyun. 


Apakah hukuman ini masuk akal dengan kejahatan yang dilakukan? Banyak pihak menilai bahwa hukuman kurungan bagi pelaku pemerkosaan tidak adil karena tidak sebanding dengan trauma psikis yang dialami korban yang berlangsung selama bertahun-tahun bahkan bisa seumur hidup. Apalagi jika korban meninggal karena dibunuh. Lagipula hukuman kurungan tanpa rehabilitasi juga tidak akan memberi efek jera sehingga kejadian yang sama bisa terulang kapan saja dan dimana saja. Dan itulah masalah penegakan hukum di Indonesia, yang hanya berpusat pada kurungan dan denda. Hukuman yang tidak menyentuh inti permasalahan.  

Sebenarnya sudah lama publik menginginkan agar pelaku kejahatan kekerasan seksual dihukum dengan dikebiri bahkan dihukum mati agar mereka tidak menjadi predator. Agar ada afek jera, juga langkah antisipasi bagi calon pelaku untuk berpikir ulang sebelum melakukan kejahatan ini. Apalagi kasus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur seperti Yuyun sudah memiliki payung khusus. Namun, usulan ini menimbulkan pro kontra bagi banyak kalangan, bahkan di DPR. Sebab meski kedua jenis hukuman tersebut dianggap sebagian kalangan akan efektif, tetap akan termasuk kedalam pelanggaran HAM. Kalau urusannya HAM, ribet sudah. Hukuman kebiri dan hukuman mati juga dianggap sebagai tindakan kejahatan yang tidak berbeda kedudukannya dengan kejahatan yang dilakukan si kriminal. Jika kejahatan dibalas kejahatan, maka proses saling membalas dendam justru akan tumbuh subur dalam masyarakat dan kedamaian yang diinginkan tidak akan tercapai.


Masalah efektif atau tidaknya pemberian hukuman tertentu bagi pelaku kekerasan seksual seperti pemerkosaan tidak hanya menjadi perhatian Indonesia, tapi dunia. Secara internasional anak-anak dilindungi oleh Konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak, dimana setiap negara anggota wajib meratifikasi dengan dan membuat kebijakan khusus tentang perlindungan anak agar anak-anak terhindar dari kekerasan dan penyalahgunaan seksual. India, sebagai salah satu negara dengan kasus kekerasan seksual yang tinggi bahkan telah menerapkan hukuman mati bagi kasus kekerasan seksual tetentu. Pada 2015 Pengadilan India menjatuhkan hukuman mati bagi 7 orang pemuda yang melakukan pemerkosaan sadis pada seorang perempuan belia pada 2012. Peristiwa sadis yang membuat korban meninggal dalam keadaan mengenaskan itu menggemparkan India sehingga memicu gelombang kemarahan publik, terutama ketika pengadilan membebaskan salah seorang pelaku

Di negara-negara lain seperti Perancis, hukuman bagi pelaku kekerasan seksual adalah kurungan 15-30 tahun penjara seusia dengan tingkat brutalitas, di China pelakunya dihukum mati atau dikebiri, di Arab Saudi dihukum penggal, di Korea Utara pelaku dihukum mati oleh regu penembak, di Afghanistan dihukum tempak atau digantung, di Mesir dihukum gantung, di Irak dihukum gantung, di Israel hukuman kurungan 15 tahun penjara atau seumur hidup, di Amerika Serikat hukuman seumur hidup, di Russia hukuman kurungan 3-20 tahun penjara, dan di Norwegia 4-15 tahun penjara. Bahkan ada satu kasus di negara bagian Oklahoma, Amerika Serikat dimana seorang mantan polisi dijatuhi hukuman penjara selama 263 tahun setelah memperkosa empat perempuan. Apakah mungkin Indonesia akan menerapkan hukuman penjara dan kerja paksa selama 100 bahkan 1000 tahun?

Pro kontra mengenai hukumna bagi pelaku kekerasan seksual seperti yang dialami Yuyun masih akan terjadi. Aku yakin kita semua geram dan ingin si pelaku dijatuhi hukuman seberat-beratnya agar keadilan dapat dirasakan korban dan keluarganya. Namun, karena negara kita adalah negara hukum yang menurutku hukumnya sangat rumit, kita tidak bisa serta merta meminta diberlakukannya hukuman kebiri atau mati bagi pelaku pemerkosaan. Namun bukan berarti kita tidak bisa memperjuangkan agar hukuman maksimal agar terjadi efek jera, misal penjara 500-1000 tahun. Yang harus publik lakukan adalah terus mendorong para pemangku kepentingan menjadikan kasus ini sebagai kasus berat sehingga pembahasannya tidak berhenti dilakukan sampai ditetapkan hukuman yang tepat dan adil bagi semua pihak. 

Dan melalui tulisan ini aku turut berpartisipasi menyuarakan kasus Yuyun. Mari kita ramaikan pemberitaan kasus ini agar menjadi trending topic. Bukan hanya bertujuan agar kasus ini menjadi perhatian penting secara nasional, juga agar kita semua bisa mengambill pelajaran agar kasus serupa tak terulang lagi, agar pada gadis menjalani hidupnya tanpa ketakutan, agar para pemuda berfikir jernih dan menjadikan pemudi sebagai sahabat yang patut dihormati, agar para orangtua terus mengawasi anak-anaknya dan yang terpenting agar kita semua saling menyayangi sebagai sesama manusia. 

Depok, 3 Mei 2016

Bahan bacaan:
http://regional.liputan6.com/read/2497518/14-abg-bengkulu-pemerkosa-yuyun-terancam-30-tahun-penjara
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160502_trensosial_yuyun 
http://www.femina.co.id/Trending-Topic/kecam-kekerasan-seksual-
http://jambi.tribunnews.com/2016/05/02/aksi-simpati-dunia-maya-untuk-yuyun-siswi-smp-yang-tewas-usai-diperkosa-14-pemuda
http://www.rappler.com/indonesia/131402-nyala-untuk-yuyun-korban-pemerkosaan
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/05/02/o6k302330-simpati-netizen-untuk-siswi-smp-di-bengkulu-yang-diperkosa-hingga-tewas
http://transsulawesi.com/artikel/19305V3f1d?777-aksi-solidaritas-nyala-untuk-yuyun-menggema-di-medsos.html
http://www.antaranews.com/berita/434854/cukupkah-hukum-pidana-jerat-penjahat-seksual 
http://www.rappler.com/indonesia/110227-pro-kontra-hukuman-kebiri
http://www.rappler.com/indonesia/101820-komnas-pa-sebut-indonesia-darurat-kejahatan-seksual
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/151021_indonesia_pengebirian
http://www.voaindonesia.com/content/pemerintah-masih-pertimbangkan-bentuk-hukuman-kebiri/3031658.html 
https://indonesiacompanynews.wordpress.com/2015/02/04/aceh-masuk-peringkat-pertama-rawan-pelecehan-seksual-jatim-kedua/
https://m.tempo.co/read/news/2014/05/05/118575441/hukum-internasional-terkait-kekerasan-seksual-anak
http://www.scoopwhoop.com/inothernews/punishing-rape-globally/
http://www.reuters.com/article/us-ohio-murder-idUSKCN0XO232 
http://www.reuters.com/article/us-oklahoma-police-idUSKCN0UZ1WE
http://www.antarabengkulu.com/berita/36703/polres-rejanglebong-tangkap-12-pemerkosa-pelajar


Wijatnika Ika

18 comments:

  1. Terimakasih sharingnya mbak Ika. Turut prihatin, miris. Semoga almarhumah dilapangkan jalan ke surga. Semoga pelaku dihukum seberat-beratnya...

    ReplyDelete
  2. Sama-sama Mba Tri. Saya berharap kasus Yuyun menjadi isu nasional dan publik bisa mendorong para pemangku kepentingan agar kasus kekerasan seksual mendapat perhatian yang adil dimata hukum.

    Salam,

    ReplyDelete
  3. aku sih setujunya hukumana kebiri ato hukuman mati kalo korbannya sampe meninggal.. apalagi anak di bawah umur gini :(.. kebayang anak sendiri mbak.. dan ngapain itu dikait2kan ama merampas HAM kalo dikebiri ato dihukum mati.. bingung deh.. lah korbannya yg meninggal apa ga dirampas juga HAM nya.. inikan hukuman, ya wajar harus dihukum berat apalagi sampe menghilangkan nyawa org.. Tapi ya sudahlah.. tau sendiri hukuman dunia itu kyk apa ya mbak :( Mungkin mereka ga bakal dihukum terlalu berat di dunia, tapi Tuhan ga tidur kan.. mereka masih harus mempertanggungjawabkan ama Tuhan nantinya

    ReplyDelete
  4. Terima kasih sudah mampir mba Fanny.

    Pemerkosaan sekaligus pembunuhan adalah pelanggaran HAM berat menurut saya. Kita inginnya pelakunya dihukum seberat-beratnya, entah dikebiri atau dihukum mati. Tapi sebagai sebuah masyarakat yang memiliki lembaga negara untuk mengurusi urusan semacam ini, saya kita kita sebagai masyarakat harus menekan pemerintah agar membuat kebijakan yang adil dalam perkara ini.

    Semoga kasus-kasus kekerasan seksual yang sering terjadi membuat kita semakin bisa memeluk diri kita masing-masing agar tidka menjadi korban atau pelaku.

    Salam.

    ReplyDelete
  5. Saya sedih dengan hukum yang "diperkosa" di Indonesia oleh para entah siapa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga sedih mba. Masalahnya adalah apakah masyarakat sudah bersatu padu agar negara menegakkan hukum secara adil? Apapun yg terjadi di negara ini, kita semua berkontribusi. Bisa jadi kita adalah salah satu yang memperkosa hukum.

      Yuk kita saling bahu membahu melihat sekitar kita agar semua membaik, agar tak ada peristiwa serupa.

      Salam

      Delete
  6. Lebih setuju dihukum kebiri, kenapa ? Karena dia akan mengingat seumur hidupnya akibat dari perbuatan bejadnya. Dengan kebiri, pelaku akan merasa malu seumur hidupnya. Nanti, kalau dia udah gak kuat menahan rasa malu, dia (pelaku) akan bunuh diri dengan sendirinya.
    Sayangnya hukum di negara kita yang katanya tercinta ini masih timpang, tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. [alangkah lucunya negeri ini]

    ReplyDelete
  7. Terima kasih sudah mampir Pak Horas.

    Saya, selain ada hukuman penjara dan lain-lain, ingin agar dibuatnya daftar nasional pelaku pemerkosaan dan datanya bisa diakses siapa saja. Sehingga kita bisa tahu siapa yang memiliki riwayat melakukan pemerkosaan. Agar para gadis tidak tertipu.

    Salam.

    ReplyDelete
  8. Jujur saya seorang feminist dan saya sangat sangat sangat sangat geram. Saya nggak tau lagi bahkan saya kehabisan kata kata untuk mengutarakan kemarahan saya. Kasus ini benar benar membuat saya sakit hati. Ayo kita sama sama angkat kasus ini

    ReplyDelete
  9. Terima kasih sudah mampi mba Adhelia

    Iya kita semua marah. Karena itu kita harus saling bahu membahu menekan pemerintah agar mengesakan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

    Selain itu saya pikir bahwa sistem dalam masyarakat kita juga harus dibenahi bersama-sama. Salah satunya adalah dengan tidak melakukan victim blaming pada setiap korban kekerasan seksual, seperti mengeluarkan siswi korban perkosaan dan membantu mereka menjalani hidup normal.

    Salam.

    ReplyDelete
  10. Kasus yang amat menyedihkan, dari semua sisi.
    Termasuk karena kurangnya gaungnya sebab jaraknya yang jauh dari pusat (JAkarta) :(
    Kini ada lagi berita di Manado, gadis 19 tahun diperkosa 15 orang. Tidak ada tindakan dari yang berwajib padahal sudah dilaporkan.
    Semoga ada tindakan yang seberat2nya untuk para pelaku.

    ReplyDelete
  11. Terima kasih sudah mampir kakak Mugniar

    Ya, ada yang tidak beres dalam masyarakat kita. Kini setiap keluarga harus bertanggungjawab secara ketat atas anak-anak mereka masing-masing, baik laki-laki maupun perempuan.

    Salam

    ReplyDelete
  12. mengingat ruwetnya hukum di sini, saya cenderung sepakat pada hukum yang diakumulasi. pemerkosa 15 tahun, perkosaan dengan korban di bawah umur 20 tahun, perkosaan beramai-ramai 20 tahun, pembunuhan 50 tahun (sekedar permisalan, saya nggak tahu aslinya berapa tahun hukuman itu), lalu dijumlahkan. hasilnya 105 tahun.

    masih ditambahi lagi. berbelit-belit di pengadilan 10 tahun, berkata/perilaku tak sopan selama pengadilan 10 tahun, dst. lalu diakumulasikan lagi jadi 125 tahun.

    inginnya sih hukumannya dikebiri dan dihukum mati untuk pemerkosa baik korbannya meninggal atau tidak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ide semacam ini dibahas di DPR

      Salam.

      Delete
  13. Tapi Alhamdulillah ya... presiden sudah memberi tanggapan yg serius ttg hukuman para pemerkosa ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir mba Santi.

      Betul, itu lampu hijau. Tapi tetep soal hukuman itu kan produk hukum dan itu dibahasnya di DPR RI. Kalau DPR RI nggak tegas dan nggak sepemikiran sama presiden dan rakyat, sama aja bohong.

      Salam.

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram