Menemukan Bahagia didalam Diri Sendiri (1)


Assalammu'alaikum

Manusia adalah produk dengan program paripurna, rancangan yang saling menghubungkan fungsi jiwa, akal dan raga untuk bisa membuatnya melakukan apa yang tidak dilakukan ciptaan lain seperti hewan dan tumbuhan. Dengan program dalam dirinya dari ujung kepala sampai kaki, manusia bisa berbuat apa saja untuk membuatnya senang, sedih atau bahkan mati. Nah, saat bicara soal bahagia, programnya juga sudah ada dalam diri, tinggal apakah si manusia sadar untuk mengaktifkannya atau tidak. Umpama kita memiliki ponsel pintar, kalau nggak kenal 100% dijamin gaptek. Pun dengan manusia saat tidak mengenal dirinya sendiri. Mereka rentan depresi. Karenanya setiap manusia hanya harus menentukan pilihan: bahagia atau tidak bahagia untuk dirinya sendiri.

Masa sih? Tapi kok banyak orang mengaku tidak bahagia walau mereka memiliki banyak hal, bahkan sampai bunuh diri? Bahagia menurut Gobind Vashdev, penulis buku "Happiness Inside" merupakan program bawaan setiap manusia sejak dia lahir kedunia. Bahagia merupakan perangkat bawaan dari Tuhan. Oleh sebab itu bahagia harus dikenali, digali dan dipilih. Keputusan untuk bahagia tidak ditentukan hal-hal diluar si manusia. Karenanya sebagai penulis, pembicara dan aktivis yang dikenal sebagai heartworker Gobind mengajak manusia yang tengah mencari kebahagiaan untuk melakukan "petualangan" kedalam diri sendiri. Jika bahagia merupakan harta karun yang teramat sangat diinginkan, maka kita tidak perlu mencarinya kemana-mana, melainkan kedalam diri sendiri. 

Bagaimana caranya? 

Pertama, mengenali kebahagiaan. Menurut Gobind, manusia adalah makhluk kebiasaan dan semua sistem kepercayaan, nilai, dan aturan yang seluruhnya terbentuk berdasarkan pengalaman atau kebiasaan dimasa lalu. Program dalam diri manusia juga dikendalikan pikiran yang dianalogikan sebagai pohon. Bagaimana pohon itu tumbuh dalam diri manusia tergantung asupan makanan yang diberikan sepanjang hidup. Baik atau buruk perangai, semuanya merupakan ulah manusia itu sendiri dalam memupuk tanaman dalamnya. Karenanya, apa yang setiap manusia pikirkan hari ini merupakan dampak dari apa yang dipikirkan dan lakukan dimasa lalu. Jika manusia terbiasa memupuk pohon pikirannya dengan hal-hal positif, maka pastilah berbuah pikiran-pikiran baik yang membahagiakan dan menguntungkan. 

Lalu bagaimana dengan hal-hal diluar diri? Misalnya keluarga, teman, sahabat, rekan kerja, penjahat, selebriti, politisi, pegawai bank, petugas kebersihan, anak, bahkan pasangan hidup? Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa kejadian eksternal akan mempengaruhi seseorang jika memang membawa pengaruh baginya, negatif atau positif. Karenanya, kejadian eksternal yang disebabkan oleh hal-hal diluar diri sendiri menjadi berpengaruh atau tidak, itu tergantung program dalam diri manusia dalam meresponnya.  


Dalam mengenali kebahagiaan, diperlukan sikap rendah hati untuk menyadari bahwa manusia harus terus belajar karena sesungguhnya ia hanya tahu hal-hal diluar dirinya sedikit saja. Sikap rendah hati akan memudahkan manusia menyerap ilmu dari manusia lain yang anggap lebih paham, dengan demikian manusia akan mencapai jalannya secara natural menuju kebijaksanaan. Dalam perjalanan menuju kebijaksanaan tersebut, patut kiranya manusia merasa bahwa sebenarnya di dunia ini semua manusia telah mengetahuai segala hal kecuali "diriku sendiri" sehingga setiap manusia tak punya kesempatan untuk menyombongkan diri dan akan berterima kasih atas kesulitan-kesulitan hidup yang menempa. 

Perjalanannya panjang dan melelahkan? Ah, itu tergantung tingkat kesabaran masing-masing. Dan sikap itu akan tercermin dari cara kita berkata-kata dan bertindak. Kata-kata yang terucap dari mulut setiap manusia, terutama dalam situasi sulit adalah cerminan dari program yang dibuat dalamnya sendiri.  Gobind mengatakan bahwa orang yang sabar dan tidak hanya dibedakan oleh kata-kata yang keluar dari mulutnya sebagai gambaran program dalam dirinya. Karenanya memang sangat disarankan untuk lebih banyak bertindak dan mendengar daripada berbicara. Karena dengan demikian manusia bisa memahami bahwa dimana hatinya berada disanalah harta karunnya -kebahagiaannya- terletak. Bukankah itu yang dituju dalam petualangan mencari harta karun? Itulah bahagia. 

Kunci dari pembahasan bab pertama buku ini adalah: membuka diri. Bukan saja membuka diri untuk hal-hal ajaib diluar diri seperti alam yang indah, manusia-manusia lain yang cerdas dan bijak, kesulitan hidup yang ternyata menyembuhkan dan lain-lain. Juga membuka diri untuk melibatkan diri sendiri, melibatkan program bawaan agar aktif dan membuat kita mengenali diri sendiri. Itulah kunci dari peti harta karun yang baru saja ditemukan.

Tulisan ini disarikan dari Bagian 1 (hal 1-91) buku "Happiness Inside" karya Gobind Vasdhev. 

Bersambung...
 
Depok, 8 April 2016

Sumber gambar:
http://acupoftrembling.blogspot.co.id/2013/10/look-oh-wait-read-what-i-found.html 
http://magazine.sukhacitta.com/

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. buku yang menarik, mengenali diri sendiri kadang tak semudah mengenal pribadi orang lain. makanya lebih mudah menemukan kekurangan orang lain dibanding kekurangan diri sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali mas Triadi.

      Btw, terima kasih sudah berkunjung ke blog sederhana ini.

      Salam,

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram