Cara Sederhana Mengapresiasi Kebaikan Teman



Setiap manusia pasti memiliki teman, baik sedikit atau banyak. Pertemanan kita dengan manusia lain benar-benar menandakan bahwa manusia itu makhluk sosial yang tak bisa hidup sendirian. Kita butuh teman untuk bersama-sama melakukan banyak hal, seperti belajar bersama, makan bersama, ke pesta bersama, bertualang bersama sampai memiliki impian bersama demi masa depan yang lebih baik. Dan di zaman modern ini jumlah teman kita bisa berkali-kali lipat lebih banyak karena kehadiran media sosial yang dihubungkan internet. Kita bisa berteman dengan setiap orang di muka bumi tanpa harus bertemu mereka. Kita bisa ngobrol, berkirim hadiah, saling menghibur dan berbagi kebaikan hanya melalui kata-kata atau video. Kita bahkan bisa mendukung misi kebaikan teman kita dengan menandatangani petisi atau berdonasi. Kita tentu familiar dengan fungsi media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan sebagainya, bukan?

Aku punya banyak kenalan, sedikit teman dan lebih sedikit sahabat. Aku pernah ditinggalkan dan meninggalkan teman karena alasan-asalan yang jika dipikir-pikir sekarang sungguh kekanakan dan bodoh. Karena sejak beberapa tahun silam aku mulai menata hati dan cara pandangku dalam berteman. Teman tidak harus selalu yang memberikan kita banyak keuntungan dan kesenangan. Kadang-kadang kita membutuhkan seorang teman untuk sekedar menikmati masakan kita, bertukar cerita tentang buku yang pernah dibaca, berbagi pengalaman soal cinta atau teman tempat kita menangis saat kita sedih. Dan kini aku berusaha melakukan empat hal sederhana saja untuk memberikan apresiasi atas kebaikan teman-temanku, sebab sebagai seorang yang penuh kekurangan aku belum memberi lebih.

TIDAK MENGUMBAR AIB TEMAN
Tak seorang pun yang ingin memiliki teman bermuka dua, dimana ia berwajah manis saat bersama namun menjadi musuh saat dibelakang kita. Teman dengan karakter demikian sulit dibaca niatnya saat berteman dengan kita. Tapi biasanya setelah tahun-tahun berlalu kita akan tahu seberapa banyak ia menyayangi dan membenci kita, terlebih ketika kita tak lagi menjadi pribadi yang menguntungkan baginya. 

Salah satu tugas manusia dalam memuliakan satu sama lain adalah dengan tidak mengumbar aibnya, membicarakannya di belakang punggungnya dan berbicara buruk tentangnya tapi bersikap 100% berbeda didepanya. Setiap manusia memiliki aib sebab manusia memang tidak sempurna, pemarah dan sebagian mungkin memiliki masa lalu kelam. Aku meyakini bahwa setiap orang demikian, selain mereka memiliki kebaikan dan kesucian hati yang kadang-kadang kita ingkari karena sedikit kesalahan. 


Sedih sekali jika pada suatu hari kita mengetahui ada teman yang membicarakan aib masa lalu kita dibelakang, mereka berbisik-bisik satu sama lain padahal mereka paham bahwa perbuatan itu terlarang. Mereka tidak berani berkata langsung dan memilih jalan buruk untuk membebani dirinya sendiri dengan prasangka masa silam. Mereka adalah teman yang tidak berjalan bersama perubahan. Untuk teman-teman yang bersikap demikian padaku aku tak ambil pusing. Aku juga tidak punya waktu untuk berkhianat dibelakang punggung mereka. Meski aku mampu, apa gunanya? Aku lebih memilih sibuk untuk menggenapi impian-impianku. Sebagaimana seseorang pernah bilang, ngapain ambil pusing untuk orang-orang yang nggak kasih kita makan, nggak kasih kita pakaian dan nggak kasih kita tempat tinggal? Jika mereka tergila-gila dan kecanduan menusuk punggung temannya di belakang maka itu urusan mereka dengan dirinya sendiri, bukan dengan kita. Jadi, sayangi diri sendiri dan teman kita dengan tidak mengumbar aibnya. Bukanlah lebih baik mempromosikan kebaikan dan karya teman-teman kita agar semua berbahagia?

MEMASAK UNTUK TEMAN
Hal paling membahagiakan adalah ketika seorang teman mengatakan ia kangen masakanku. Entah sambal, orak-arik tempa, sup, rendang, mie goreng dan sebagainya. Ya, aku memang suka memasak untuk temanku. Aku bukan tipe orang suka menghabiskan uang untuk makan enak diluar, sebab aku lebih suka uji coba masakan di dapur. Aku penyuka masakan rumahan. Dimanapun aku tinggal, aku selalu berusaha menyenangkan teman-temanku dengan masakanku. Tidak harus mewah, tapi jika bumbunya cinta hasilnya akan nikmat haha. 

Mengapa masakan? Sebab sesuatu yang pernah dirasai lidah seseorang akan terkenang selamanya dalam ingatannya. Dan memasak untuk teman adalah salah satu cara agar aku menjadi bagian dari hal-hal baik dan menyenangkan yang kelak mereka ingat sepanjang hidupnya. 


Bagi perantau yang tinggal di kos-kosan berbagi hasil masakan masing-masing sudah nggak asing. Berbagi semangkuk mie, sepotong pizza atau makanan kiriman orangtua merupakan cara tersendiri menyayangi teman. Apalagi kalau teman mau susah payah membuatkan bubur saat kita sakit, berbagi makanannya saat kita kere, atau secara sengaja membelikan makanan yang kita suka untuk menyenangkan hati kita. Orang bijak bilang, di perantauan tetangga terdekat kita adalah keluarga kita. Saat kita membutuhkan keluarga, misal saat sakit, mereka lah yang menggantikan peran keluarga untuk kita. Karenanya jangan sekali-kali menyia-nyiakan kebaikan antar tetangga di perantauan.

LIKE
Seberapa peduli kita dengan karya teman-teman kita? Seberapa besar apresiasi yang kita berikan untuk mendukung mereka? Seberapa jauh peran kita dalam membantu kesuksesan mereka? Seberapa besar hati kita untuk turut membesarkan karya teman kita? Seberapa besar harapan kita agar teman kita sukses melebihi kesuksesan yang kita nikmati? 

Mungkin kedengarannya aneh bahwa kita harus mendahulukan teman dibanding kita sendiri. Dan aku sadar bahwa semakin hari sikap saling memberi apresiasi antar teman semakin berkurang. Mungkin kita sedang besar kepala dan menganggap bahwa kita lebih baik dari teman kita, mungkin kita menganggap bahwa pencapaian teman kita nggak penting dan nggak ada hubungannya dengan hidup kita dan mungkin ada sebagian dari kita yang iri bahkan benci melihat keberhasilan teman kita sementara kita masih tertinggal di belakang. 

Aku sepenuhnya menyadari itu. Hatiku kadang tak luput dari sikap sombong dan merasa lebih baik dari temanku yang lain sampai tamparan demi tamparan semesta menyadarkanku bahwa setiap manusia memiliki perannya masing-masing dalam hidup ini. Meski aku misalnya merasa unggul dari seorang temanku, sesungguhnya aku nggak jauh beda darinya sebab aku tidak mungkin melakukan semua kebaikan sendirian dan menjadi pahlawan kesiangan. Manusia tidak mungkin merangkum semua pekerjaan baik sendirian dan menjadi superman. 

Karenanya, aku mencoba melakukan perubahan. Pertama-tama aku menunjukkan apresiasi dengan rasa suka atas postingan teman-temanku di media sosial mereka. Langkah ini sederhana tapi menurutku hal ini akan menyenangkan bagi diriku sendiri karena aku tahu perkembangan teman-temanku dan karya-karya mereka, bahkan perasaan mereka. Kedua, aku mulai membiasakan diri memberikan ucapan penghargaan atas prestasi atau karya yang diraih teman-temanku. Aku ingin menunjukkan bahwa aku tidak melupakan mereka. Lupakan soal apa kontribusi mereka dalam hidupku, jika mereka berkontribusi baik untuk bangsa dan kemanusiaan, mereka telah berkontribusi dalam hidupku dengan sangat baik. 


MENDOAKAN DIAM-DIAM
Hal paling romantias dan puitis yang dilakukan seseorang terhadap temannya adalah ketika ia mendoakan kebaikan untuknya secara diam-diam. Bayangkan saja, jika misal selama ini kita mengadu dan meminta pada Tuhan hanya untuk diri sendiri, kita telah melakukan perubahan dengan berdoa khusus untuk teman-teman kita. Kadangkala kita ingin membantu teman tapi apa daya kita tak mampu, maka meminta pertolongan langsung pada Tuhan untuk kebaikan teman kita bukankah sangat romantis dan puitis? Bisa jadi doa kita dikabulkan dan teman kita mendapatkan kebaikan berlipat ganda. Jadi, jangan ragu untuk saling mendoakan satu sama lain layaknya teman sejati. Martin Luther berkata "Mendoakan seseorang berarti mengirimkan malaikat kepadanya." Menyenangkan bukan jika Tuhan mengirimkan malaikat untuk teman kita karena doa yang kita panjatkan dengan tulus dan penuh cinta?

Depok, April 2016

Sumber gambar:
http://www.createhappythoughts.com/category/friendship/
http://www.ezyshine.com/best-friends-forever-7-great-ways-to-build-friendship-2/ 
https://kjtamusings.wordpress.com/2015/09/09/late-night-restaurant-episode-6-recap/
http://rezkyfirmansyah.com/2015/08/03/admiral-news-jika-tidak-bisa-mengingatkan-diri-sendiri-biarkan-teman-yang-mengingatkan-diri-ini/

Wijatnika Ika

4 comments:

  1. Jadi ingat seorang temanku (dia sudah pindah) yang kangen sama kue bikinanku. Aku emang suka bikin kue (yang simple),trus main ke rumah teman sambil bawakan kue itu. senang rasanya bisa membahagiakan teman.

    ReplyDelete
  2. Iya mba Nur Rochma. Senang rasanya.

    Salam,

    ReplyDelete
  3. Mungkin saat ini yang bisa saya lakukan hanya berdoa diam2, karena sekarang sahabat saya jauh di negara China :)

    ReplyDelete
  4. Terima kasih sudah mampir Mbak Lily,

    Semoga doanya dikabulkan yang Maha Kuasa, amin

    Salam

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram