Perempuan Cantik Dibalik Jepang Modern


Assalammu,alaikum

Apa yang menarik dari kisah cinta orang-orang besar dimasa lampau? Bagaimana misalnya perempuan dalam masyarakat tradisional dan tertutup memainkan perannya? Apakah perempuan selalu menjadi putri yang perlu diselamatkan pangeran atau sebaliknya menjadi seorang pioner dan bahkan pahlawan? Bisakah cinta tak melulu soal "aku" dan "kamu" tapi bagaimana peran "kita" terhadap masyarakat agar menjadi lebih baik? Bisakah seorang perempuan pada masa itu meraih cinta sekaligus memimpin sebuah perubahan? Bagaimana cara seorang perempuan memimpin perubahan?

Kali ini, aku akan menceritakan tentang kisah sepasang manusia yang memiliki pengaruh besar dalam Restorasi Meiji di negeri matahari terbit. Dan seorang perempuan keren tentu saja. Mereka melalui suka duka bersama dan menjadi motor penting dalam menggerakkan para pemuda Jepang kala itu untuk beralih dari zaman samurai ke Jepang modern, Jepang yang berkiblat ke Amerika dan Eropa dalam banyak hal. Ya, kisah yang dipendekkan dalam sebuah drama sejarah di NHK dengan judul "Hana Moyu" yang kalau diterjemahkan secara bebas mungkin berarti para para reformis atau para pejuang. Dramanya sebanyak 50 episode bisa dilihat disini: HANA MOYU. Drama sejarah yang berkisah mengenai peran besar seorang perempuan muda dalam masa transisi dari periode Edo (Tokugawa Shogunate) ke Era Meiji yang disebut juga Restorasi MeIji (1868-1912). 

Alkisah ada seorang pemuda bernama Torajiro (yang kemudian dikenal sebagai Yoshida Shoin) dari keluarga samurai miskin bermarga Sugi yang sangat suka membaca, ahli strategi perang dan sangat ingin menyeberang lautan untuk sampai ke sebuah negeri modern bernama Amerika. Ia ingin belajar banyak hal di negara maju itu dan membawa serta hasil belajarnya untuk kemajuan Jepang yang saat itu masih menjadi sebuah negara kepulauan tertutup dan terisolir dari masyarakat internasional. Idenya didukung sekaligus ditentang banyak orang. Para penentangnya yang kolot menyatakan bahwa ia tak mungkin mendobrak tradisi Samurai yang sudah mendarah daging. Sementara para pendukungnya yang sebagian besar kaum muda yang bosan dengan tradisi kolot samurai menyatakan bahwa Jepang harus berubah. Mereka mendukung Torajiro mengubah sistem kolot samurai jika ingin bersaing dengan bangsa-bangsa besar yang suka memamerkan kapal besar mereka di lautan. Salah satu pendukungnya yang paling setia adalah adik kecilnya bernama Fumi.

Gadis itu sangat suka membaca dan banyak belajar dari Torajiro yang kemudian menjadi mentor sekaligus pemicu semangatnya untuk menjadi terpelajar. Ketika Torajiro mendirikan sebuah sekolah anti-mainstream di salah satu ruangan di rumah mereka bernama Shoka Village School, Fumi dengan setia mengikuti setiap pembelajaran sambil menyiapkan makanan bagi para pelajar. Para pemuda memuja kecantikan, kebaikan hati, kerja keras, semangat dan masakan Fumi yang lezat. Fumi sellau memastikan bahwa para pelajar yang penuh semangat itu tak pernah kelaparan, karenanya ia selalu setia membuatkan mereka makanan. Saat Torajiro dipenjara karena dianggap berkhianat pada kekaisaran, Fumi menjadi mata dan telinganya untuk menghubungkannya dengan dunia luar, juga dengan murid-muridnya. Bahkan ketika Torajiro kemudian dihukum mati dan keluarga mereka diasingkan secara sosial, para murid terpecah belah dan sekolah nyaris bubar, Fumi tampil sebagai sosok yang terus menyemangati mereka dan menghidupkan sekolah agar ide mereformasi Jepang tak pernah mati. Fumi berjanji akan melanjutkan ide kakaknya untuk merubah Jepang menjadi lebih baik, Jepang yang setara dengan bangsa-bangsa asing. 
Pernikahan Fumi dan Kusaka, murid Yoshida Shoin yang menjadi martir
Fumi, bersama Kusaka sang suami dan kakak iparnya Odawara Inosuke terus memperjuangkan ide mereka mereformasi sistem di Jepang yang kolot dan korup. Suaminya yang nggak sabaran, melakukan banyak kesalahan sehingga ia dibenci oleh banyak pejabat membuat banyak siswa meninggal dalam pemberontakan yang sia-sia. Saat Kusaka memilih bunuh diri karena tak sanggup menanggung rasa malu dan tidak ingin membebani para murid yang lain, Fumi harus menanggung beban dikucilkan secara sosial untuk kedua kalinya. Haknya untuk mengadopsi anak kakaknya dicabut, hak untuk menyewa rumah dicabut dan ia dianggap sebagai perempuan tak berguna. Sampai kemudian Fumi memutusan untuk menjadi pelayan di istana dalam dan dipercaya menjadi pengasuh putra mahkota. Kepribadian Fumi membuat banyak orang, termasuk Ratu dan Putri menyukainya dan perjuangan Fumi melakukan reformasi menemukan pendukunganya dari orang berkuasa. Ia memulainya dengan menanamkan pengaruhnya kedalam lingkungan paling berkuasa di istana klan Choshu. Bersama Inosuke, Fumi yang kemudian berubah nama menjadi Miwa terus melakukan berbagai manuver agar Jepang berubah. Tentu saja dengan dukungan istana. 

Fumi/Miwa sebenarnya bertemu Inosuke pertama kali saat ia masih kecil secara tak sengaja. Saat remaja ia mulai menyukai Inosuke, tetapi karena ia menyayangi kakaknya yang sangat ingin menikahi pria kaya karena bosan hidup miskin dengan mengandalkan kecantikan dan keanggunannya, maka ia meminta Inosuke menikahi kakaknya dan ia sendiri menikahi Kusaka atas saran Torajiro. Meski demikian, ia dan Inosuke menjadi pejuang bertangan dingin yang paling diandalkan para reformis yang sebagian besarnya meledak-ledak, sembrono dan bukan ahli strategi. Fumi juga dikenal sebagai ahli dalam menghubungkan orang-orang dengan menggunakan caranya yang anggun, keibuan, cerdas dan logis. Ia bahkan bisa menaklukkan musuh-musuhnya tanpa harus menghunuskan pedang. ide-ide Fumi dan Inosuke selalu cocok satu sama lain dan keduanya selalu saling menguatkan jika diantara mereka mulai patah semangat. Saat semua orang menjadikan Fumi sebagai andalan dan tempat bercurah hati, maka Inosuke lah yang menjadi sandaran Fumi saat ia tak sanggup menangung beban karena ditinggalkan banyak orang terkasih dan beban perjuangan yang semakin berat.

Melakukan perubahan bukan tanpa korban. Ketika sistem samurai hendak dihapus dan diganti ke sistem baru, banyak kelompok samurai yang melakukan pemberontakan. Mereka yang terbiasa dilayani misalnya, enggan berubah untuk hidup mandiri dalam sistem yang setara. Pemberontakan pecah dimana-mana. Fumi dan Inosuke tetap membantu pemerintahan transisi dengan kepala dingin, meski satu persatu teman dan anggota keluarga meninggal. Karena dianggap tokoh paling bertanggungjawab atas hancurnya sistem samurai, Inosuke bahkan harus berganti nama menjadi Katori Motohiko agar bisa tetap hidup.

Saat periode transisi dimulai dan Jepang mulai memasuki era baru dalam restorasi Meiji, banyak pihak mulai bingung tentang apa yang harus dilakukan. Ito Hirobumi, murid Torajiro yang kemudian menjadi Perdana Menteri Jepang Pertama dan melakukan berbagai perubahan di pemerintahan transisi tanpa memusingkan Kaisar tetap berguru pada Katori. Miwa kembali ke keluarganya dan menghidupkan kembali sekolah untuk mengajar siswa yang lebih kecil bersama kakak dan kakak iparnya yang lain. Miwa ingin mimpi Torajiro dan Kusaka terwujud dan kematian mereka tidak sia-sia.

Inosuke dan Fumi, sepasang reformis yang selalu dikenang masyarakat Jepang, khususnya masyarakat Gunma Prefecture. Mereka membentuk dan melihat Jepang modern

Tapi kemudian, Miwa harus menemani kakaknya yang sakit parah pindah ke provinsi Gunma, karena Katori diangkat menjadi gubernur oleh pemerintahan baru pada 1876. Meski sulit, Miwa dan Katori bekerja keras bersama-sama untuk mewujudkan Gunma sebagai provinsi panghasil serat sutera terbaik dan pondasi bagi pendidikan Jepang modern. Hisa, kakak Miwa yang sakit parah melihat bahwa ia tak memiliki masa depan di Jepang modern. Maka ia meminta Miwa mendirikan sekolah perempuan dan Ia meminta Katori menikahi Miwa apabila ia telah mati. Miwa berhasil mendirikan sekolah perempuan di Gunma dan Katori sebagai gubernur berhasil menjadikan provinsi itu sebagai penghasil serat sutera terbaik di Jepang yang kemudian diekspor ke Amerika dan Eropa. Ia juga berhasil mendapat suntikan dana dari berbagai bank berkat kemampuan negosiasi Miwa yang unik untuk membangun rel kereta api untuk memudahkan transportasi yang akan menguntungkan perekonomian masyarakat Gunma dan wilayah sekitarnya.

Setelah Hisa meninggal dunia, meski canggung dan merasa aneh, Inosuke dan Miwa akhirnya menikah. Pernikahan mereka ibarat penyatuan sepasang sayap yang terpisah sekian lama. Karena Katori tahu betapa dalamnya cinta antara Miwa dan Kusaka, maka ia mengizinkan Miwa menyimpan surat-surat Kusaka. Karena pernikahan mereka bukan bertujuan melupakan pasangan masing-masing yang sudah tiada, tapi merupakan penyatuan cita-cita dan semangat yang tersisa dari para reformis. Mereka adalah sepasang bunga yang tersisa dari perjuangan yang berat dan dianggap sangat ideal jika bersama untuk saling menguatkan satu sama lain. Dan benar,brkat kerja keras keduanya, Gunma berhasil memiliki sekolah perempuan, sekolah kesehatan, sekolah guru dan didicetaknya banyak buku teks. Kaum perempuan dan gadis-gadis pekerja yang sebelumnya buta huruf kini bisa membaca dan peduli nasib bangsa. Mereka juga mendorong kemajuan pertanian modern yang kemudian ikut dikembangkan di Tokyo. Hingga kini, bagi masyarakat Gunma khususnya, Miwa dan Katori adalah pahlawan dan jejak kehadiran mereka masih dirasakan masyarakat Jepang modern. 

The Tomioka Silk Milk merupakan pabrik pembuatan serat sutera kebanggaan masyarakat Gunma yang nyaris gulung tikar. Berkat usaha keras Katori dan Miwa bersama para pekerja perempuan yang mengajukan petisi ke pemerintahan transisi, Pabrik ini berhasil diselamatkan. Banyak pekerja perempuan di pabrik ini dan jika para pekerja dirumahkan maka rencana besar Miwa mendirikan skeolah perempuan juga terancam gagal. Pada tahun 1872 pabrik ini mengalami modernisasi peralatan dan serat yang dihasilkan bisa memenuhi kebutuhan ekspor karena ketika itu Jepang mengandalkan pendapatan negara dari ekspor serat sutera ke berbagai negara di Eropa dan Amerika.
FUMI 
Sebagai bagian dari masyarakat Jepang yang tradisional dan tertutup, Fumi/Miwa bukan tipe yang mencari peluang untuk keuntungan diri sendiri. Pada masa itu memang perempuan dengan paras ayu dan dari keluarga samurai berkesempatan untuk menikah dengan lelaki dari kalangan terhormat. Tapi, kesempatan Miwa agak tersendat karena keluarganya adalah samurai miskin dan Miwa nggak cantik-cantik amat. Jadi, ketika sang kakak memintanya menikahi Kusaka Genzui seorang dokter yang kekeuh ingin jadi samurai ia menurut saja. Lagipula semua anggota keluarga dan para pelajar mengatakan bahwa Miwa dan Kusaka sangat cocok, meski dikemudian hari ia sangat kecewa karena kusaka berselingkuh dengan seorang Gaisha hingga memiliki seorang anak. Tapi, Miwa adalah seorang yang besar hati dan pemaaf. Alih-alih melampiaskan kekesalan dan kebencian para Geisha yang merebut suaminya, ia malah berniat mendidik anak suaminya agar kelak menjadi salah satu reformis menuju Jepang modern. Masalah pribadinya ia kesampingkan demi cita-citanya melihat Jepang baru. Dan sifat itulah yang membuat Miwa disayangi semua orang, bahkan dihormati musuh-musuh sosialnya. Padahal, pada masa itu memag lazim bagi para pria Jepang untuk bermain-main dengan para Geisha dan berselingkuh dibelakang istri mereka yang terhormat dan berusaha membuat keluarga mereka bermartabat.

Salah satu peran Miwa yang pernah dianggap melawan adat istiadat dan tabu adalah ketika ia berhasil membujuk para gadis dan kaum ibu, bahkan dari kalangan terhormat untuk bersatu padu membantu kaum pria membangun pelabuhan yang hancur akibat bom tentara asing di Hagi. Mereka mengangkat pasir, memindahkan batu dan lain-lainnya. Untuk memudahkan bekerja, maka para perempuan mengangkat tinggi pakaian mereka hingga tampak betis-betis mereka sehingga kaum pria menegur mereka. Tapi mereka tidak peduli dan menganggap bahwa sedikit melanggar adat tak apa jika bisa memudahkan pekerjaan demi kepentingan bersama. Karena itu juga Miwa jadi memiliki posisi terhormat dikalangan gadis dan ibu-ibu yang status sosialnya lebih tinggi darinya.

Dalam cerita ini, Miwa digambarkan sebagai sosok kharismatik, tangguh dan pantang menyerah. Ia sangat lihat dalam menjadikan kenalan barunya sebagai sahabat sekaligus mitranya dalam perjuangan. Ia pandai memasak dan menjadikan kelas memasak sebagai salah satu cara membuat para perempuan mau membaca; ia juga pandai menjahit dan menjadikan waktu bergosip saat menjahit sebagi cara menularkan ide-ide reformasi; ia pandai berkebun sampai-sampai mampu membuat Raja dan Putra Mahkota ikut memelihara kebun untuk menyampaikan pesan bahwa para petani di Jepang selalu bekerja keras menyediakan pangan bergizi bagi bangsa, dan berhasil membawa seorang ahli pertanian Gunma untuk mereformasi seluruh sistem pertanian di Jepang; dan yang terpenting ia pandai sekali membuat kenalan-kenalan barunya terkesima dengan kata-katanya yang logis tentang pentingnya para perempuan Jepang mendukung ide reformasi untuk masa depan lebih baik, terutama dalam hal kesetaraan antara keluarga kaya dan miskin untuk meraih pendidikan. Miwa adalah seorang negoisator ulung.
 
YOSHIDA SHOIN 
Yoshida Torajiro lahir pada 20 September 1830. Ia mendapatkan nama Yoshida karena diadopsi keluarga Yoshida sejak usia 4 tahun untuk mendapatkan pendidikan terbaik dan pewaris keluarga itu. Setelah ayah angkatnya meninggal, ia kembali ke keluarga Sugi dan mulai mendirikan Shoka Village School dengan murid-muridnya berasal dari kalangan muda yang haus ilmu dan perubahan. Dari 92 murid sekolah ini dua diantaranya menjadi Perdana Menteri (Ito Hirobumi dan Yamagata Aritomo yang sangat terkenal), empat orang menjadi menteri, empat orang menjadi gubernur dan 12 orang lainnya menjadi diplomat, ahli hukum, militer dan ahli berbagai bidang ilmu yang memiliki posisi tinggi dalam pemerintahan. Sedikit memang, sebab banyak dari mereka yang gugur dalam pertempuran termasuk Kusaka Genzui dan Takasugi. Untuk lebih jelasnya, apa peran penting dari Shoka Village School dan para alumninya bisa dibaca dalam berbagai literatur seperti DISINI, DISINI, dan DISINI.

Buku tentang Yoshida Shoin dan lukisan Yoshida Shoin yang dibuat salah seorang muridnya di Shoka Village School sebelum ia dipenjara dan dihukum mati
Untuk menghargai peran Yoshida Shoin, sebuah patung dibuat untuk mengingatkan bangsa Jepang tentang peran pemuda ini dalam masa Restorasi Meiji. Patung itu dibuat di Shimoda, Shizuoka Prefecture. Ada sebuah universitas bernama Shoin University yang didirikan untuk mengenang jasanya dalam dunia pendidikan. Juga sebuah shrine dimana jasadnya dikuburkan ulang oleh para pengikutnya setelah eksekusi pada 1859. 

Sejarah adalah peristiwa berulang. Karena itu sejarah, dibelahan bumi manapun tercipta selalu mengabarkan bahwa pemuda adalah yang terdepan dalam mengobarkan perubahan. Para pemuda yang biasanya haus akan pembaharuan dan inovasi selalu melakukan gebrakan yang mencengangkan kaum tua yang lazimnya telah hanyut oleh kenyamanan yang diatur sistem, meski sistem itu korup dan merugikan banyak orang. Para pemuda, selain dengan berani melakukan berbagai reformasi, juga tak takut mati. Sebagian besar dari mereka rela mati terhormat sebagai pejuang daripada duduk diam dan berkeluh kesah atas keadaan.

Depok, 9 Maret 2016 
Bahan bacaan:
https://www.gunmachan-navi.pref.gunma.jp/en/connection/great_man.php 
http://www.dramago.com/japanese-drama/hana-moyu
https://kaitomonogatari.wordpress.com/category/japanese-dorama/
http://joniaswiraputra.blogspot.co.id/2010/06/perubahan-drastis-modernisasi-jepang_4808.html
http://mydramalist.com/article/2015/11/01/a-stalkers-guide-to-inoue-mao 
http://www.japantimes.co.jp/news/2014/05/05/reference/silk-mill-took-japan-global-level/
https://en.wikipedia.org/wiki/Gunma_University
http://yoshi-09.tumblr.com/post/135072652566/inoue-mao-mao-inoue-osawa-takao-takao-osawa-hana-moyu
https://thenietzscheclub.wordpress.com/tag/yoshida-shoin/ 

BACA JUGA:
 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram