PALU ARIT DI LADANG TEBU



Assalammu'alaikum

Tragedi berdarah tahun 1965 merupakan kepingan kelam dalam sejarah republik. Kegelapan itu terus berlangsung sepanjang 32 tahun dalam genggaman penguasa rezim Orde Baru. Sejarah dibuat serupa oleh pucuk pimpinan bernama Soeharto. Siapa berbeda maka kuburan tempat pulangnya, bahkan pulang tanpa sempat mengajukan keberatan di meja hijau. Maka sebagai generasi yang dicekoki sejarah versi rezim ini aku lumayan muntab. Bagimana tidak, setiap tanggal 30 September sebagai warga negara yang baik aku harus menonton film pembantaian G30S/PKI dan menuliskan pendapatku untuk dilaporkan kepada guru di sekolah. Mungkin bisa dibilang aku bagian dari generasi yang sakit karena doktrin yang membabi buta itu, belum lagi doktrin lain yang secara sistematis dilakukan melalui sekolah. 

Adalah Hermawan Sulistyo, yang mengalami doktrin itu lebih awal yang menyaksikan bagaimana masa kelam pasca tragedi 1965 di kampung halamannya memilih untuk tidak bungkam apalagi manut terhadap sumber sejarah yang tunggal dari negara. Maka sebagai akademisi ia mulai mencari sumber-sumber sejarah, tidak untuk peristiwa secara keseluruhan, melainkan yang terjadi di kampungnya di Kediri, Jawa Timur, yang lumayan berdarah-darah. Berkat kerja kerasnya selama bertahun-tahun, pada 2000 disertasinya yang berjudul "The Forgotten Years: The Missing History of Indonesia's Mass Slaughter (Jombang-Kediri 1965-1966)" terbit sebagai buku berjudul "Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri: 1965-1966)". Buku ini merupakan satu dari empat buku penting hasil riset akademis yang mencoba mengungkap peritiwa pembunuhan massal anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai salah satu pembantaian terbesar dalam sejarah, yang merenggut nyawa sekitar 78.000-500.000 orang. Bahkan sumber lain menyebutkan hingga 1 juta orang.

Sebagai peristiwa berdarah dengan korban lumayan besar, kasus ini sangat sedikit dipelajari. Bahkan jurnalis asing pun mengalami kesulitan seakan peristiwa ini bukan bagian dari peristiwa kemanusiaan untuk bangsa yang baru saja merdeka. Karena minimnya sumber tertulis mengenai peristiwa tersebut, bahkan sepertinya data calon korban pun tak ada. Sehingga sampai saat ini masalah ini masih gelap bagi bangsa kita. Dan kegelapan ini membuat kita tak bisa dengan bangga menyatakan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang bersih dari penidasan terhadap diri mereka sendiri ketika dengan berapi-api benci pada penindasan oleh bangsa asing. Kita seperti terpenjara dalam cermin retak. 

Jadi, tak lama setelah perstiwa pembunuhan para Jendral TNI Angkatan Darat di Jakarta pada malam 1 Oktober 1965, yang masih belum jelas letak kebenarannya, pembantaian horizontal terjadi di Jombang dan Kediri. Peristiwa yang juga dikenal sebagai Gestapu itu membuat kedua wilayah di Jawa Timur yang menjadi salah satu basis PKI menjadi sasaran. Peristiwa pembantaian di wilayah ini berbeda dengan yang terjadi di Jakarta, sebab -dianggap- sebagai puncak dari konflik horizontal yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya yang berkaitan dengan masalah distribusi tanah, kondisi moral dalam masyarakat, kemiskinan, dan hal-hal teknis yang berkaitan dengan pabrik dan perkebunan tebu. Semacam bom waktu yang menemukan momentumnya untuk meledak dengan kekuatan yang menghancurkan. 

Penelitian panjang yang dilakukan penulis memang menemukan satu hasil mencengangkan bahwa ada banyak faktor penyumbang peristiwa berdarah ini. Tidak ada faktor tunggal. Ada perpecahan sosial yang telah berlangsung lama. dalam hal ini PKI juga dinilai lemah dalam melakukan pengkondisian kader-kadernya secara politis setelah memanangkan suara besar dengan dukungan akar rumput pada pemilu. Pada saat peristiwa ini terjadi PKI tidak siap secara organisasi, tidak memiliki senjata, tidak terorganisir dan tidak berdaya. 

PROVOKASI PKI
Sebagai partai berhaluan Komunis, PKI melakukan provokasi ingin mengubah struktur masyarakat Indonesia. Salah satu upaya yang diusung dan cukup memikat petani miskin adalah land reform dan pengaturan bagi hasil industri tebu. Pada masa itu memang banyak kalangan kyai sekaligus pemilik pesantren yang memiliki lahan sangat luas sampai puluhan hektar dan itu dianggap sebagai ketidakadilan oleh PKI. Sayangnya, provokasi yang dibesar-besarkan melalui berbagai kampanye yang retoris tidak diimbangi dengan gerakan revolusioner sehingga sangat kelihatan bahwa PKI lemah secara organisasi. Ada jurang yang besar dan dalam retorika politik PKI di tingkat nasional dan akar rumput. 

PERANG SUCI ISLAM
Kita tak bisa memungkiri bahwa pelaku pembantaian di Jombang dan Kediri adalah umat Islam, yang mengaji di pesantren. Bahkan sebagian besar algojo pembantaian ini adalah pemuda Muslim yang lumayan taat dalam menjalankan agama dibanding masyarakat pada umumnya, dan para korban adalah para Muslim yang kurang taat (yang PKI). Tentu kita tidak bisa menermima begitu saja bahwa seakan-akan pembantaian ini merupakan perang suci umat Islam dengan PKI, sebab saat itu suara para kyai sudah tidak didengar lagi oleh pada pemuda dan algojo. Pilihan mereka hanya dua, membunuh atau dibunuh PKI. Meski memang ada sebagian yang menyerukan pembantaian pada komunis sebagai jalan Tuhan, sebagai perang suci. Meski pengakuan perang suci ini tidak cocok disematkan mengingat metode yang digunakan untuk membunuh sangat mengerikan. Misalnya Algojo tidak menguburkan pada korban melainkan melemparkannya ke sungai Brantas sehingga mayat-mayat yang mengapung bisa dilihat anak-anak pada pagi hari (dan Hermawan menyaksikan itu saat ia maish kecil). Tak jarang juga para korban dimutilasi dan beberapa anggota tubuh mereka dibawa si algojo sebagai bukti kejantanan. Apakah yang demikian Islami?

KONFLIK KELAS, ALIRAN DAN TEKANAN EKONOMI
Komunisme sangat tidak suka kelas sosial. Karenanya konflik horizontal mau tak mau meledak karena dalam struktur pabrik gula dan kepemilikan tanah tentu ada perbedaan kelas. Ada tuan tanah dan ada buruh tani. PKI selalu mendoktrin bahwa tuan tanah itu jahat sehingga si miskin lagi tak punya tanah harus melakukan perlawanan. Tentu saja menarik jika orang-orang digerakkan untuk berjuang atas nama tanah, atas nama kehidupan. Ditambah lagi dengan kondisi ekonomi yang morat marit waktu itu, pengangguran yang merajalela dan kemiskinan yang tak usah yang diperparah dengan pengangkatan manajeman baru pabrik gula berdasarkan afiliasi politik. Naasnya, mereka yang mengalami deprivasi ekonomi dan miskin inilah yang menjadi korban pembantaian para algojo yang berasal dari kelas menengah. 

BALAS DENDAM TENTARA DAN GENOCIDE OLEH NEGARA
Sebagian pengamat mencurigai bahwa peristiwa ini diatur dengan sangat rapi oleh TNI AD yang berkolaborasi dengan kelompok-kelompok pemuda Muslim, dan bahkan ada yang dengan bangga menyatakan bahwa pembantaian ini merupakan tindakan heroik dalam membasmi komunis di Indonesia. Pola pembantaian berbeda-beda di setiap daerah, seperti di Jawa Tengah dan Bali. Namun tentu saja TNI AD bukan pelaku tunggal, sebab saat terjadi pembantaian di Jombang-Kediri oleh pemuda Muslim pihak keamanan diam saja tanpa melakukan tindakan apapun seakan-akan tindakan ini telah direstui secara diam-diam. Namun, beberapa peneliti menolak pola ini sebagai genocide sebab tak ada cetak biru yang dibuat, namun sulit juga menjelaskan sebab-sebabnya ke permukaan. 

Dan, tentu saja penelitian ini bukan akhir dari pencarian kita atas kebenaran sejarah. Mungkin banyak pelaku sebenarnya yang merupakan otak dibalik peristiwa berdarah ini yang tutup mulut atau sudah meninggal dunia. Sebagai bagian dari bangsa ini, aku turut bersedih bahwa ternyata kita menorehkan sekarah kelam kepada komunitas kita sendiri. Dan begitulah aku diajarkan olah keluargaku, seakan-akan paham komunias lebih berbahaya dari iblis. 

Buku ini baik untuk dibaca siapa saja yang ingin mengetahui secara benar-benar bagaimana peristiwa itu terjadi. Ada banyak hal mengejutkan dalam buku ini, yang secara detail menggambarkan bagaimana perpecahan sosial yang berkaitan dengan nilai, agama, kebudayaan hingga ekonomi berpautan satu sama lain sehingga memicu pembantaian. Terutama ketika dewasa ini kita seringkali memahami dengan keliru komunisme dan PKI. Sebagai generasi bangsa yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan, kita harus berkaca pada sejarah agar tidak mengulangi kebodohan serupa dan menodai janji kemerdekaan. Dan semoga buku ini memberikan kita pencerahan mengenai cara kita memakmai sebuah peristiwa tanpa ikut-ikutan secara buta melakukan penghakiman tanpa dasar, melainkan doktrin tunggal yang dilakukan negara sepanjang 32 tahun. 

Depok, Maret 2016

Bahan bacaan: 
Hermawan Sulistyo, 2010. "Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (Jombang-Kediri: 1965-1966)". Pensil-324

BACA JUGA:

 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram