Menunggu Nasib Aung San Suu Kyi


Assalammu'alaikum, 

Nampaknya dunia yang sedang kacau balau ini tidak saja membuat rakyat biasa menjadi sinting bahkan mati sia-sia. Tapi efek bola saljunya juga mulai menyasar aktivis demokrasi sekelas Aung San Suu Kyi. Ia marah setelah diwawancarai Mishal Husain presenter BBC untuk Today Programme, karena sebelumnya tak seorangpun memberitahunya bahwa ia akan diwawancarai oleh seorang Muslim. Pernyataan itu sontak membuat dunia berbalik marah dan dalam waktu singkat petisi yang meminta anugerah Nobel Perdamaian 2012 untuknya dicabut meramaikan jagat maya! Dalam pandangan aktivis demokrasi pernyataan Suu Kyi sungguh rasis dan sangat berkebalikan dengan misi perdamaian internasional. 

Insiden ini terjadi pada 2013 dan terus menjadi perhatian publik setelah buku berjudul  “The Lady and the Generals: Aung San Suu Kyi and Burma’s Struggle for Freedom" yang ditulis jurnalis Peter Popham dirilis. Popham sengaja memasukkan pernyataan Suu Kyi paska wawancara sebagai bukti bahwa perempuan itu memiliki ambiguitas sebagai seorang politisi yang selama ini dikenal kalem, sabar dan teguh memperjuangkan demokrasi. Bahwa Suu Kyi memiliki kelemahan karena tidak memiliki sikap soal etnis paling menderita di negaranya paska kekerasan politik yang sebelumnya dilakukan junta militer.

Aung San Suu Kyi dikenal sebagai "The Lady" karena sikap dalam melawan kediktatoran junta militer Myanmar dalam memperjuangkan demokrasi di negaranya. Karena dia dianggap berbahaya dan pemikirannya bisa mempengaruhi rakyat lebih banyak lagi, maka sebagai tahanan politik ia harus menjalani tahanan rumah selama 15 tahun. Setelah bebas pada 2010, ia memenangkan Nobel Perdamaian tahun 2012, sebuah penghargaan internasional tertinggi terhadap siapapun yang memberikan upaya terbaik dan terbesar menyuarakan perdamaian antar bangsa. Ia bahkan merupakan kandidat kuat Menteri Luar Negeri dalam kabinet. 

Sikap Suu Kyi yang demikian dianggap sebagai ketidakmampuannya dalam bersikap benar sebagai negarawan. Orang-orang menuduhnya lupa bahwa oleh Junta Militer ia pernah diperlakukan sebagai perempuan berbahaya karena selain telah lama hidup dengan nilai-nilai Barat, juga menikah dengan seorang lelaki Inggris. Ia juga mungkin lupa bahwa beberapa orang Muslim adalah pendukungnya yang setia dalam memperjuangkan demokrasi, seperti jurnalis Maung Thaw Ka yang kemudian harus mati dalam penjara. Sebagai peraih Nobel Perdamaian, banyak pihak mengaku kecewa ketika Suu Kyi tidak bereaksi dan membuat pernyataan pada saat etnis minoritas Rohingnya yang Muslim dibantai fundamentalis Buddha dalam upaya pembersihan etnis. 

Di Indonesia, Suu Kyi mendapat tempat terhormat terutama dikalangan para aktivis demokrasi dan kemanusiaan karena upayanya dalam memperjuangkan demokrasi. Sebab selama 32 tahun Indonesia juga mengalami masalah yang sama soal demokrasi dibawah rezim otoriter Orde Baru. Karenanya, ketika pernyataan Suu Kyi mencuat ke publik para aktivis di Indonesia marah karena mereka tahu bagaimana besarnya upaya masyarakat Indonesia dalam membantu Etnis Rohingnya yang melarikan diri saat operasi pembersihan etnis tersebut terjadi. Karenanya, para aktivis ini membuat sebuah petisi yang diajukan kepada The Norwegian Nobel Committee 2016, Chair of the Nobel Committee Kaci Kullman Five, Deputy Chair of the Nobel Committee Berit Reiss-Andersen dan beberapa anggota the Nobel Committee seperti Inger-Marie Ytterhorn, Henrik Syse, dan dua penerima lainnya agar anugerah untuk Suu Kyi dicabut. Petisi tersebut sampai saat ini telah ditandatangani lebih dari 38.000 orang. Lihat petisinya DISINI.

BOOK: The Lady and Generals
Buku berjudul "The Lady and the Generals: Aung San Suu Kyi and Burma’s Struggle for Freedom" karya jurnalis Peter Popham merupakan biografi Suu Kyi sebagai idola dan pahlawan bagi sebagian besar rakyat Myanmar paska runtuhnya kekuasaan junta militer. Beberapa bahasan tentang buku ini menulis bahwa misalnya dalam kondisi yang belum benar-benar dmokratis, Suu Kyi yang dijagokan menjadi kandidat presiden setelah partainya menang pemilu mengalami ganjalan karena memiliki dua anak laki-laki berkebangsaan Inggris dan Amerika. Ia juga dianggap gagal dalam memposisikan dirinya sebagai aktivis demokrasi menyoal kasus etnis Rohingnya. 

Buku ini sendiri ditulis berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman penulis atas situasi di Myanmar saat ia berkeliling negara ini. Ia juga bertemu dengan para politisi, kaum aristokrat, biksu, pemberontak, dan aktivis yang memiliki harapan akan kembali membaiknya kehidupan di negara itu. 



Depok, Maret 2016

Bahan bacaan
https://dunia.tempo.co/read/news/2016/03/28/118757526/beredar-petisi-cabut-nobel-perdamaian-aung-san-suu-kyi
http://www.independent.co.uk/news/people/aung-san-suu-kyi-muslim-interview-bbc-today-programme-burma-nobel-peace-prize-a6952091.html
http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/asia/burmamyanmar/12204113/Aung-San-Suu-Kyi-in-anti-Muslim-spat-with-BBC-presenter.html 
http://www.vox.com/2016/3/28/11306856/aung-san-suu-kyi-muslim-rohingya-bbc
http://jakarta.coconuts.co/2016/03/29/activists-petition-take-back-aung-san-suu-kyis-nobel-prize-due-controversial-anti-islam
https://www.change.org/p/cabut-nobel-perdamaian-aung-san-suu-kyi
http://www.thebookbag.co.uk/reviews/index.php?title=The_Lady_and_the_Generals:_Aung_San_Suu_Kyi_and
_Burma%27s_Struggle_for_Freedom_by_Peter_Popham



Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram