MENGAPA BERCERAI?



Mengapa bercerai? Pertanyaan itu menghantuiku sepanjang 25 tahun belakangan. Ya, aku adalah korban sepasang manusia yang menikah lalu bercerai. Karena aku masih berumur 5 tahun waktu itu, rasanya aku lupa pertanyaan apa saja yang berkecamuk di kepalaku tentang perceraian kedua orangtuaku. Semakin lama aku berusaha tak bertanya, terutama langsung kepada ayahku yang selalu menyembunyikan perkara besar ini padaku dan adikku, semakin menjadi hantu yang bergentayangan. Si hantu ini bahkan lebih menakutkan dari mitos kuntilanak, genderuwo, sundel bolong, tuyul, nenek lampir, siluman bahkan drakula.

Mengapa bercerai? Mengapa bercerai? Mengapa bercerai? Begitu terus sampai-sampai pertanyaan itu membuatku sulit tidur atau tiba-tiba terbangun ketika sudah terlelap. Seiring waktu pertanyaan itu bertambah panjang dengan pertanyaan yang selalu kuulang untuk diriku sendiri: mengapa ayahku tak menikah lagi? mengapa ibuku tak menikah lagi? mengapa keduanya tak bersama lagi? apakah perceraian membebaskan? apakah pernikahan kedua begitu menakutkan? lantas mengapa banyak yang baik-baik saja bahkan bahagia? lalu bagaimana denganku nanti? apakah aku akan mewarisi tabiat mereka dan mengalami takdir serupa? apakah perceraian menular? 

Aku merasa gila karena terus dihantui pertanyaan itu sepanjang waktu. Adikku kini sudah menikah meski aku tahu beban psikologi yang dihadapinya akibat perceraian kedua orangtua kami belum sepenuhnya hilang. Aku masih ingat bagaimana hancur hatiku ketika menemukan catatan sedih adikku yang ia tulis dengan darahnya sendiri. Bagaimanapun ia masih bayi saat peristiwa itu terjadi. Ia tak memiliki kenangan tentang psycological bonding dengan ibu kami. Tubuh dan ingatannya tidak bisa merekam ibu kami. Kami berdua sepanjang belasan tahun merindukan ibu kami, dan naasnya ketika ibu yang kami rindukan itu datang kami tak mengenalnya dan merasa asing. Ibu yang kami lihat dalam dunia dewasa kami berbeda dengan ibu dari masa kecil kami. Sayangnya, waktu tak bisa diputar ulang. Kenangan yang kosong tentang ibu tak bisa dipenuhi lagi saat ini. Dunia kami masing-masing sudah berubah. Meski demikian, dalam kotak kenangan kami, ada ruang kosong untuk ibu. Ruang kosong itu tetap kosong, tak bisa dimasuki ibu. Perempuan yang kini beranjak menua itu tak bisa mengambil alih tempat itu. Kotak itu hanya untuk ibu kami dimasa lalu, ibu yang hilang. Dan antara kami bertiga kini hanya ada sikap berusaha memaafkan dan semacam pemakluman. Kami, tiga perempuan dewasa yang memiliki dunianya masing-masing, dan seorang ayah yang sungguh tak pernah kupahami apa isi kepalanya. 


Saat menuliskan kisah ini, selepas membaca sebuah artikel tentang tingginya angka perceraian disebuah Kabupaten di Jawa, aku kembali berfikir apakah aku akan menemukan seseorang yang tidak akan membuat pernikahan kami bubar kelak? Aku selalu ragu. Apakah aku takut menikah? mungkin. Aku tidak takut tidak punya uang karena aku bekerja, aku tidak takut berkorban untuk orang yang kucintai, atau ketakutan lain yang biasanya menyiksa perempuan muda yang ingin menikah. Aku hanya takut pada diriku sendiri, pada tabiat yang mungkin diwariskan ibuku atau ayahku yang kemudian membentur dengan keras tabiat pasanganku kelak (Sungguh lucu. Menikah saja belum aku sudah takut bercerai!) Tapi ini sungguhan. Dari hatiku yang terdalam. Bagaimanapun juga peristiwa perceraian yang diproses di pengadilan agama menunjukkan angka yang mengerikan. Bagaimana jika ditambah dengan yang tidak dilaporkan? Lalu dengan peristiwa KDRT yang dilaporkan dan yang tidak? Sungguh, aku merasa pusing!

Distrust atau ketidakpercayaan adalah hantu bagiku. Hantu yang menghipnotisku dengan racun yang membuatku yakin bahwa perceraian kedua orangtuaku adalah bentuk pengkhianatan kemanusiaan atas keberadaanku dan adikku di dunia ini. Dan ketika aku bertemu manusia lain bernasib sama, aku merasa pertanyaan gila itu terus bertambah: apa maunya Tuhan? apakah Tuhan tidak memiliki kendali atas dua manusia yang penuh emosi menginginkan perceraian setelah berjanji sehidup-semati? apa yang sedang Tuhan lakukan? 

***


Di Indonesia, angka perceraian sangat fantastis. Berdasarkan catatan kementeriian agama, setidaknya terdapat 350.000 kasus perceraian antara tahun 2012-2013, atau setara dengan 959 kasus perhari alias 40 kasus perjam! Sejak 2010 angka perceraian di Indonesia terus meningkat, setiap tahun rata-rata 15-20% dari 2 juta pasangan yang menikah mengajukan perceraian. Dan kasus ini angkanya lumayan tinggi untuk wilayah Aceh, Padang, Cilegon, Indramayu, Pekalongan, Banyuwangi dan Ambon. Rekor tertinggi kasus ini dipegang Jawa Timur dengan angka 47% dari persentase nasional pada 2015. Dari jumlah nasional tersebut, 70% gugatan cerai diajukan istri/perempuan terhadap suaminya. Dalam kasus perceraian di Asia bahkan se Asia-Fasifik, Indonesia menduduki peringkat tertinggi dimana sudah melewati angka 10 persen. 


Ada banyak alasan mengapa gugatan cerai diajukan. Berdasarkan catatan kementerian agama terdapat 78,407 kasus (27%) kasus pada 2010 disebabkan oleh perselingkuhan suami sehingga istri yang merasa dikhianati langsung mengajukan gugatan cerai. Penyebab lain adalah masalah ekonomi, karena ketidakmampun suami menafkahi keluarganya. Yah, hal ini bisa saja disebabkan oleh longgarnya syarat pernikahan dimana kaum pria tidak diwajibkan mapan untuk menikah dan kebanyakan menggunakan dalil bahwa dengan menikah maka seseorang akan kaya, padahal maharnya saja hanya seperangkat alat shalat yang murah meriah. Faktor lain yang disebut-sebut adalah gampangnya pihak pengadilan memberikan putusan cerai kepada penggugat sehingga banyak pasangan yang tidak mau melakukan mediasi karena menganggap bercerai lebih gampang, terutama ketika perempuan mulai melek hukum dan bisa mengajukan gugatan cerai ketika mengalami keadaan buntu dalam rumah tangga mereka. Data ini tentu saja merupakan perceraian yang diajukan ke pengadilan dan dicatat secara hukum. Bagaimana dengan perceraian yang hanya dilakukan secara agama dan secara khusus kasus para pekerja migran? Menyedihkan bukan?

Data dari UN Marriage Divorce data memperlihatkan bahwa angka perceraian di dunia termasuk tinggi, termasuk di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim.  Pada tahun 2013 saja angka perceraian di negara-negara ini tergolong tinggi meski banyak diantaranya yang tidak melaporkan kasus ini ke UN, seperti Indonesia, Pakistan dan Bangladesh yang memiliki populasi penduduk Muslim lebih dari 100 juta orang. Dari data perceraian per 1000 populasi, Kazakstan disebut-sebut memiliki persentase perceraian yang tinggi (2,3%) meski sebenarnya Indonesia jauh lebih parah se Asia-Pasifik yaitu diatas 10%.
BAGAIMANA EFEK PERCERAIAN PADA ANAK?
Dan, hm, sekecil apapun persentasenya, perceraian tetap mengerikan karena ada pihak ketiga yang menjadi korban.  Meskipun misalnya perceraian disebabkan oleh perilaku menyimpang seperti perselingkungan dan untuk menghindari KDRT, tetap saja berpenaruh signifikan pada anak-anak. Sebuah artikel dalam dailytelegraph.com menyebutkan bahwa berdasarkan studi yang dilakukan oleh Australia National University terhadap 2500 informan dari 3 generasi, anak-anak dari keluarga bercerai cenderung dewasa lebih cepat, meninggalkan rumah dalam usia muda dan melakukan hubungan seksual sebelum usia 16 tahun. Mereka juga cenderung memandang pesimis kehidupan sosial dan terjebak dalam depresi, keinginan bunuh diri, mengonsumi ganja dan obat terlarang, merokok dan putus sekolah. Di benua selatan itu, angka perceraian meledak pasca perceraian pertama tahun 1975, yang mengakibatkan 1 dari empat anak tumbuh dalam keluarga bercerai.  Sehingga negara kini sibuk membuat berbagap pendekatan agar para orangtua tidak bercerai, dan kebijakan melindungi anak-anak malang ini dari melakukan penyimpangan yang bisa merusak masa depannya.

Sebuah studi lain di Amerika menyebutkan bahwa sebanyak 1.5 juta anak dari keluarga bercerai merasa hidup mereka hancur. Sebagian besar anak mengalami trauma jangka pendek, marah, shock, bahkan tidak lagi percaya pada kedua orangtuanya. Ya, memang bisa dibilang pendek meski berlangsung beberapa tahun saja. Dan katanya, tanpa pendekatan yang baik dari kedua orangtua dan kerabat terdekat, trauma bisa berlangsung seumur hidup. Anak-anak dengan pengalaman ini sebagian ada yang kemudian mengalami masalah hubungan saat mereka menikah dan bercerai juga, meski sebagian kecilnya bisa memiliki keluarga yang stabil dan bahagia. 



Sebuah studi lain menyebutkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga bercerai sebagian besarnya mengalami hal-hal seperti: kesulitan dalam akademik dan rentan putus sekolah, melakukan tindakan kriminal dan kenakalan remaja, berkemungkinan mengalami kesulitan ekonomi, mengalami masalah seksual dan bahkan menjadi pecandu alkohol dan obat terlarang, sering sakit-sakitan dengan proses lambat menuju kesembuhan, mengalami kekerasan hingga stess berkepanjangan. Bahkan ada anak-anak yang mengalami depresi dan menyalahkan diri mereka sendiri karena mungkin menjadi penyebab perceraian kedua orangtuanya.

Dulu, saat kekesalanku memuncak karena kedua orangtuaku tidak pernah membicarakan hal ini secara khusus, aku sempat berfikir untuk melakukan tindakan konyol semacam tindakan kriminal. Tujuannya ya supaya mereka sadar bahwa perceraian itu harus dibicarakan dengan anak-anak, misal tentang pengasuhan, pembiayaan, pendidikan dan sebagainya. Yang terpenting tentang mengapa mereka bercerai. Tapi, aku menolak merusak diriku sendiri jadi aku berlari sekencang-kencangnya menghindari godaan melakukan perilaku menyimpang apapun bentuknya. Aku memilih untuk menyayangi diriku sendiri. Yah, semoga Tuhan memberiku poin lebih atas kerja kerasku sebagai manusia, hehehe. 


Karena semakin tahun aku semakin malas pulang, beberapa tahun lalu ayahku bercerita tentang apa sih salah satu penyebab perceraian kedua orangtuaku. Yah, aku sedikit percaya. Sebagian besarnya sih tidak kupercaya sebab ayahku bicara berdasarkan sudut pandangnya sendiri, tidak mendudukkan masalah bersama-sama dengan ibuku, adikku dan aku. Termasuk bagaimana ayah dan ibuku bertemu dalam pernikahan yang diatur salah satu keluarga, yang mungkin menjadi pemicu perpisahan mereka. Lama-lama aku berfikir apa mungkin mereka juga korban keadaan yang tidak kupahami? Tapi, ah sudahlah


Begitulah. Dan pertanyaan: mengapa bercerai? masih menghantuiku sampai tulisan ini hampir selesai dibuat. Aku sendiri sedang dalam fase berusaha meredakan amarah karena sejujurnya perceraian orangtua yang tidak dikomunikasikan dengan baik umpama menanam bibit kemarahan, ketidakpercayaan dan kebencian dalam diri anak-anak mereka. Ada kemarahan yang tidak kumengerti bagaimana bisa ia datang, tumbuh dan membesar sampai-sampai membuat latihan sabarku berantakan. Bagaimana aku melepaskan diri, aku juga tidak tahu. Biarlah Tuhan yang mengurus sesuatu yang berada diluar kemampuanku. 


Semoga tulisan ini menjadi pelajaran bagi mereka yang ingin bercerai, atau korban keluarga bercerai, atau mereka yang akan menikah. Pernikahan dan memiliki anak bukan lelucon. Keduanya merupakan janji kepada diri sendiri, manusia lain dan Sang Pencipta. Dan semoga mereka yang tengah mengalami masalah dan kebuntuan dalam pernikahan tidak menjadikan perceraian sebagai pilihan pertama dalam menyelesaikan masalah, toh hidup sendiri memang masalah. Katanya, hidup adalah sekumpulan masalah yang harus dijalani (dan mungkin dinikmati layaknya sepotong brownies cokelat dan secangkir kopi), bukan diselesaikan...

Depok, 11 Maret 2016


Bahan bacaan:

http://www.dailytelegraph.com.au/divorces-toll-borne-by-children/story-fn6e0s1g-1226051650069
http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2015/12/22/354484/angka-perceraian-di-indonesia-sangat-fantastis
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/11/14/nf0ij7-tingkat-perceraian-indonesia-meningkat-setiap-tahun-ini-datanya
http://www.dream.co.id/news/angka-perceraian-meningkat-lima-tahun-terakhir-1601200.html
http://health.kompas.com/read/2015/06/30/151500123/Kasus.Perceraian.Meningkat.70.Persen.Diajukan.Istri
http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=967
http://www.nu.or.id/post/read/63704/tingkat-perceraian-di-jatim-tertinggi-di-indonesia
http://www.thejakartapost.com/news/2011/09/12/why-divorce-indonesia-increasing.html
http://www.thejakartapost.com/news/2015/11/19/east-java-has-indonesia-s-highest-divorce-rate.html
http://divorcescience.org/2013/01/22/divorce-rates-in-islamic-countries/
http://www.scientificamerican.com/article/is-divorce-bad-for-children/
http://www.focusonthefamily.com/marriage/divorce-and-infidelity/should-i-get-a-divorce/how-could-divorce-affect-my-kids
http://www.huffingtonpost.com/2014/08/28/kids-and-divorce-_n_5730980.html

Wijatnika Ika

6 comments:

  1. tulisan ini panjang sekali, dan bukan asal asalan sekedar curhatan. Salut dengan caramu tidak menyimpang melakukan hal aneh aneh seperti yang di lansir oleh beberapa sumber yang di sebutkan diatas.

    Btw salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Mba Laili, makasih udah mampir. Haha iya nih curhatnya panjang lebar ya. Yah, siapa tahu ada yang butuh bahan bacaan soal anak yang bercerai aja mba. Jaga diri ya karena sayang sama diri sendiri aja mba.

      Salam kenal juga mba.

      Delete
  2. yang nikah muda rawan perceraian karena belum mempunyai pondasi yang kokoh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Ala Sehat, makasih udah mampir. Ah nggak juga. Banyak kok yang nikahnya saat usia dewasa tapi cerai juga.

      Delete
  3. tulisannya panjang lebar banget... keren tapi.. beda..
    salam kenal ya kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Haqi, makasih udah mampir. Haha iya panjang lebar banget? Makasih udah dibilang keren dan beda tulisannya.

      Salam kenal juga, Haqi

      Delete

PART OF

# # # # #

Instagram