Ketika Sang Paus Mencium Kaki Lelaki Muslim

 
Assalammu'alaikum,

Beberapa hari lalu ada berita yang membuat hatiku bergetar dan kedua mataku basah. Pasalnya gambar ketika Paus Fransiskus pemimpin tertinggi gereja Vatikan, Roma membasuh dan mencium kaki imigran Muslim, Hindu dan Kristen setelah misa Kamis Putih menjelang Perayaan Paskah menjadi viral. Sikap rendah hati sang Paus bertolak belakang dengan kekerasan akibat Islamophobia yang terjadi di berbagai belahan dunia dan ia sendiri menyatakan bahwa sikapnya sebagai kebalikan dari kekerasan yang dilakukan pada fundamentalis atas nama Tuhan dan agama. Para imigran pencari suaka yang ia cuci dan cium kakinya itu berasal dari Mali, Eritrea, Syiria dan Pakistan dengan latar belakang Muslim, Hindu, Katolik dan Kristen Koptik. Sang Paus melakukan hal itu di sebuah lokasi penampungan para imigran sebagai kebalikan dari sikap Islamophobia dan anti-immigrant yang akhir-akhir ini meluas. Tak hanya itu, Paus juga memberi waktu kepada mereka untuk berphoto bersama dan menerima surat-surat mereka.

Sungguh, kisah sang Paus mengingatkan diriku sendiri pada kisah ketika 1400 tahun silam Nabi Muhammad SAW setia memberi makan seorang Yahudi miskin lagi pemarah di sebuah pasar, padahal pada saat bersamaan lelaki itu memaki-maki sang Rasul. Karena hatinya sungguh mulia, sang Rasul sama sekali tidak marah dan malah asyik mendengarkan caci maki lelaki itu sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.

Risalah Tuhan memang tidak mungkin disampaikan dengan kekerasan kecuali akan menimbulkan bencana kemanusiaan, dan para kekasih Tuhan diturunkan ke bumi bukan untuk menjadi dewa perang atas nama Tuhan. Sebab agama merupakan jalan menuju tempat pulang kita disisi Tuhan, maka sikap lemah lembut penuh kasih lah yang senantiasa menggetarkan para pencari kebenaran dalam menerima Firman Tuhan. Itullah sifat para Nabi dan Rasul. Karenanya sikap Paus Fransiskus yang demikian menunjukkan bahwa kekerasan, peperangan, bom dan segala macamnya yang dilakukan atas nama Tuhan dan agama tak akan menyelesaikan masalah. Sama sekali tak akan pernah. Sikap saling menerima perbedaan, berdamai dengan situasi dan saling menghormatilah yang menjadi benang merah semua kekacauan yang terjadi di dunia. Menyaksikannya lewat media saja aku sudah menangis, bagaimana jika aku ada di tempat kejadian? Tentulah disana telah banjir airmata sebelum berita ini bersileweran di internet. 

Paus Fransisku berkata, "Kita semua, bersama-sama, Muslim, Hindu, Katolik, Koptik, Evangelis, adalah bersaudara. Anak-anak Tuhan. kami ingin hidup dalam damai," dan memang begitulah seharusnya. Sebagai sesama ciptaan Tuhan, terutama karena kita spesies yang sama, sangat tidak layak kita melakukan tindakan kekerasan hanya demi memaksakan ideologi, apalagi demi alasan politik dan kekuasaan. Sebab jika Tuhan memang berkehendak menyamaratakan semua hal, bukankah mudah bagiNya menyatukan kita dalam agama yang sama bahkan warna kulit yang sama? "Kita bersaudara," kata Paus sebagaimana dikutif oleh www.usatoday.com


Serangkaian bom di Ankara, Turki dan Brussels, Belgia memang menjadi berita sedih bulan ini, ditambah lagi peristiwa yang sama di Lahore yang merenggut nyawa anak-anak tak berdosa dan bom di Madrid, Spanyol. Manusia-manusia yang tak ada hubungannya dengan perang ideologi dan politik menjadi korban, bahkan anak-anak yang belum mampu menuliskan namanya sendiri. Tidak bisa tidak, kita berduka atas peristiwa ini. Bukan! Bukan saja berduka, tapi harus memohon ampun kepada Tuhan karena tangan kita, lidah kita, harta kita, dan pikiran kita belum mampu menjadi jembatan bagi perdamaian yang harganya teramat mahal ditengah kekacauan dunia. 

Jika saja para Nabi yang umatnya bertikai hari ini bangkit dari kubur mereka dan mendatangi kita, tentu kita tak akan sanggup menahan malu sebab mereka pasti banjir air mata. Para kekasih Allah itu pasti sangat bersedih karena risalah dan kerja kerasnya mendidik manusia dan memperbaiki akhlaknya sia-sia belaka. Dan sungguh bijaksana ketika Paus Fransiskus melakukan tindakan yang secara hakikat membasuh kebencian dan amarah dalam jiwa kita, sebab sampai hari ini aku belum menyaksikan pemimpin besar kaum Muslim melakukan hal serupa. Mungkin momen ini bisa menjadi contoh dimana para pemimpin agama memberikan teladan dengan sikap rendah hati bukan semata-mata demi pencitraan diri, melainkan sungguh-sungguh demi kemanusiaan dan kedamaian yang kita rindukan dengan meledak-ledak. Bravo untuk sang Paus!

Dan, apakah kiranya kita harus saling membasuh kaki agar amarah, angkara murka, benci, dendam, dan keinginan saling menghancurkan luruh bersama air mata yang menganak sungai dan air yang mencuci kaki kita semua? Jika memang sesederhana itu, mari kita lakukan saja. Tidak akan jatuh martabat kita dengan membasuh kaki manusia lain, bukan?

Depok, Maret 2016

Bahan bacaan:
http://internasional.kompas.com/read/2016/03/25/11042091/Di.Kamis.Putih.Paus.Fransiskus.Basuh.Kaki.Migran.Muslim
http://www.dailymail.co.uk/wires/ap/article-3507949/Pope-wash-feet-Muslim-Orthodox-Hindu-migrants.html
http://www.usatoday.com/story/news/world/2016/03/24/we-brothers-pope-francis-washes-feet-migrants/82214856/
https://www.washingtonpost.com/news/worldviews/wp/2016/03/25/children-of-the-same-god-pope-francis-washes-the-feet-of-muslim-migrants/


BACA JUGA:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram