MERAYAKAN KEMATIAN ALA TERORIS


Assalammu'alaikum

Banyak yang tersenyum bahagia ketika tagar #KamiTidakTakut meramaikan jagat maya tak lama setelah peristiwa bom Jakarta. Hal tersebut dianggap sebagai respon positif atas kegagalan para teroris dalam menyebarkan ketakutan pada rakyat Indonesia. Rakyat merasa aman. Tapi tak sedikit yang skeptis dan pesimis. Benarkah tidak takut menjadi korban teroris? Ataukah ketidaktakutan itu berasal dari keyakinan bahwa teroris di Indonesia tak mungkin menembak warga sipil melainkan aparat penegak hukum dan warga asing sebagaimana kasus-kasus sebelumnya? Atau sebenarnya kita menyembunyikan ketakutan yang lebih mengerikan dibanding menjadi korban serangan teroris?

Ada yang bersorak gembira dengan kematian para teroris, seakan-akan Iblis yang sebenarnya telah mengalami kematian yang sama. Tapi ketika dipikir-pikir, kepalaku menjadi sakit, sebab kita bergembira atas kematian sesama manusia di jalan yang salah. Kita bergembira sebab mereka merayakan kematian dengan cara yang memalukan. Kita bergembira bahwa mungkin mereka akan masuk neraka dan kekal didalamnya. Mengapa harus gembira atas kematian saudara satu jenis karena kematian yang menyedihkan? sebab dengan demikian kedekatan kita dengan Tuhan dalam ibadah yang khidmat dan penuh tangisan bahkan tak mampu menyentuh mereka yang telah memilih memberontak dan menciptakan kekacauan. Sesat pikir mereka tak mampu lagi dikendalikan dengan nasehat-nasehat lembut para pemuka agama yang notebene penerus wasilah para Nabi. Aku merasa gamang, sebab kita menari begitu gembira diatas matinya kemanusiaan.  Sebab kita tak membunuh Iblis yang sebenarnya, makhluk immortal dengan daya bisik mematikan sampai-sampai akal kita dibuat jungkir balik sedemikian rupa. 


Kita membenci terorisme sedemikian rupa dan mereka yang merayakan kematiannya sebagai teroris. Tetapi apakah kita menyeimbangkannya dengan bertanya kedalam diri kita sendiri "mengapa Tuhan membiarkan terorisme lahir dan berkembang sedemikian rupa?" atau "mengapa ada orang yang senang hati mau mati menjadi martir?" atau "mengapa mereka tak menembak orang per orang saja, misalnya presiden atau tokoh politik tertentu?" atau "mengapa semakin dikutuk, semakin banyak saja mereka yang bergabung menjadi martir?" atau "mengapa kita bisa kecolongan dan membuat tetangga kita menjadi martir?" dan beribu pertanyaan lainnya. Sebab seringkali, mereka yang menjadi martir terorisme ditolak dikuburkan di kampung halamannya dan keluarganya diasingkan seakan-akan mereka lebih menjijikan dari para koruptor si pembunuh berdarah dingin atau aparat yang membunuh sipil dengan biaya negara.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang bisa dijawab dengan gamblang berdasarkan analisa yang dilakukan pihak-pihak berwenang dan kompeten. Juga berdasarkan kesaksian mantan anggota kelompok tersebut yang tobat. Terdapat beberapa faktor utama penyebab seseorang bergabung kedalam kelompok ekstremis yang sering melakukan aksi teror. Pertama, karena kelompok itu berani berbicara lantang menentang penguasa yang berlaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Satu dalam idealisme. Misalnya untuk bergabung menjadi anggota ISIS, calon anggota diindoktrinasi mengenai jihad akhir zaman untuk memperjuangkan khilafah yang memang sangat dirindukan umat Islam. Mereka dibuai untuk menjadi tentara Allah menentang penguasa zalim. Mereka masuk melalui pengajian ekslusif, sampai mendatangi langsung mereka yang dianggap cocok untuk bergabung. Karena terbuai dengan doktrin tersebut, kematian sebagai syuhada atau martir menjadi impian mereka. Toh, hadiahnya surga. Bukankah surga adalah hadiah tertinggi sebuah perayaan?

Kedua, faktor ekonomi. Organisasi semacam ISIS selain menjanjikan pengalaman spiritual sebagai mujahid, juga menjanjikan untuk menggaji anggotanya sehingga kebutuhan ekonomi mereka terpenuhi termasuk pendidikan anak-anak jika mereka membawa serta keluarga. Bayaran mereka cukup tinggi bergantung posisi. Artinya, mereka yang tergiur memilih menjadi anggota organisasi penebar teror melihat cahaya harapan di seberang lautan dan sudah kehilangan kepercayaan kepada bangsanya sendiri dan memilih bergabung menjadi martir. Apalagi kalau pemuda pengangguran dan tak punya harapan. ISIS lebih menggoda mereka daripada Indonesia sang surga dunia yang "gemah ripah loh jinawi? Tidakkah kenyataan ini begitu menyedihkan? 

Ketiga, pernikahan ideal antar mujahid. Romantisme yang dirindukan (eaaaaa). Dan cara ini banyak menjebak gadis-gadis melalui komunikasi dunia maya semacam Twitter dengan para pemuda tampan anggota organisasi teroris. Banyak perempuan Muslim Eropa dan Amerika mulai usia 13 tahun tahun terjebak metode ini. Gadis-gadis yang sebagian besar berasal dari keluarga miskin dan berpendidikan rendah itu tergiur tawaran 'idealis' di kamp para mujahid (dalam kehidupan utopis). Mereka juga biasanya yang jenuh dan muak dengan kehidupan ala Barat yang mereka jalani dan rindu kehidupan Islami bersama saudara seiman di lingkungan Islami. Dan percaya bahwa perang akhir zzaman telah dekat dan mereka ingin ambil bagian entah sebagai pengantin jihadis maupun tugas lain, yang dianggap sangat mulia. Metode ini biasanya digunakan khusus menyasar gadis-gadis muda yang dijanjikan kehidupan yang lebih baik, dan kelak mereka dijadikan jihadis perempuan dengan tugas khusus di Brigade Al-Khansa. 


Keempat, kekuatan anak muda. Dalam sejarah kaum muda diceritakan menjadi barisan terdepan dalam berbagai revolusi yang berjasa pada dunia modern kita. Karenanya, dalam melakukan perekrutan calon anggota organsasi radikal secama ISIS juga menyasar kaum muda. Dalam sebuah studi yang dilakukan Oxford University, Inggris misalnya disebutkan bahwa anak-anak muda yang mudah dipengaruhi sebagian besar direkrut oleh teman sepermainan, lalu keluarga dan terakhir lingkungan masjid. Studi tersebut juga menyebutkan bahwa ISIS merupakan gerakan revolusioner lintas budaya yang dinamis dengan jumlah martir yang besar setelah Perang Dunia II. Lagipula, anak-anak muda memang bahan bakar paling panas dalam urusan pemberontakan dan revolusi. 

Mereka yang bergabung kedalam ISIS atau Al-Qaida bisa dipengaruhi oleh satu faktor ideologis atau ekonomi saja. Tetapi Omer Taspinar dalam analisanya di Huffington Post menyebutkan bahwa ada deprivasi (kondisi dimana hidup tak sesuai ekspektasi) relatif yang harus dilihat dalam melakukan kajian mengapa seseorang memilih bergabung dan lainnya tidak. Anak-anak muda yang yang frustasi, berpendidikan rendah, penangangguran, dan berpandangan radikal sangat mudah terbujuk rayuan para ekstremis. Ditambah lagi perkembangan teknologi sangat memudahkan mereka terhubung satu sama lain, bahkan antara bangsa dan budaya. Wajar jika gerakan ini disebut lebih dinamis dibanding PD II karena teknologi di zaman ini jauh lebih canggih. 


ISIS, yang saat ini menjadi momok mengerikan bagi seantero dunia terlebih-lebih dunia Islam memang layak menjadi perhatian. Benar-benar huru-hara akhir zaman! Dalam sebuah tulisan, ISIS diyakini sebagai sekumpulan psikopat yang mengaku sebagai agen akhir zaman. Mereka juga merupakan manusia-manusia sekuler dengan kekhawatiran politis besar terhadap kehidupan zaman ini, namun menggunakan topeng agama (Islam) dan menggunakan gaya Abad Pertengahan dalam melakukan aksinya -silakan kunjungi berbagai rujukan dibawah untuk membaca lebih detail

****
Mereka yang kita sebut teroris, musuh internasional yang kematiannya kita rayakan dengan rasa syukur tak akan pernah bisa bisa kita pungkiri sebagai sesama Homo Sapiens yang berbagi darah Adam dan Hawa. Kejahatan mereka memang dilumpuhkan, tetapi kehidupan mereka tak bisa diundo untuk dibentuk kembali menjadi manusia ideal. Akhir kehidupan semacam itu tak harus disyukuri, sebab tak sama sekali berprestasi jika kita turut bersuka cita mengantarkan seseorang menghadap Tuhan dengan rasa malu. Kita -aku- harusnya tertunduk malu sebab tangan kita begitu pendek sehingga tak bisa merangkul mereka disaat para ekstremis bekerja keras mengikat hati mereka. Apatah lagi, jika mereka adalah tetangga kita atau mereka yang kita kenal sejak kecil, bahkan mungkin sahabat dan anggota keluarga. 

Aku justru cemburu. Benar-benar cemburu pada kuatnya tekad mereka dan ketidaktakutan mereka pada kematian. Seakan-akan mereka benar-benar telah melihat sebuah perayaan kematian dalam perang suci yang diyakini benar. Kerja keras para ekstremis mungkin lebih besar daripada kerja keras kita dalam merangkul keluarga, teman dan tetangga untuk sama-sama kuat menghadapi semua tantangan dalam hidup. Sebab sebagian besar dari kita, tak saja takut pada kematian, bahkan masih takut jika esok tak punya beras atau tak punya kuota internet buat mencari lowongan kerja. Bahkan takut pada Polantas yang berjaga di jalan raya dalam kerumunan berkala.

Jadi, berhentilah merayakan kematian teroris. Sebab pembunuh berdarah dingin bahkan lebih dekat dari yang kita perkirakan, yang merampok isi hati dan akal kita. Tanpa kita sadari, mereka membuat kita berubah wujud menjadi manusia tanpa rasa peduli dan asyik dengan dunia sendiri. 

Depok, 22 Januari 2016

Bahan Bacaan: 
http://geotimes.co.id/setara-institute-intoleransi-adalah-sumber-terorisme/
http://news.metrotvnews.com/read/2015/03/24/376066/tiga-faktor-orang-bergabung-dengan-isis-menurut-pakar-terorisme
http://news.liputan6.com/read/2195077/alasan-wni-tergiur-gabung-isis
https://indonesiana.tempo.co/read/38282/2015/03/17/ratu_kalingga/3-cara-isis-merekrut-anggota
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20150330124435-134-42928/sebanyak-70-perempuan-jerman-bergabung-dengan-isis/
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20150330124435-134-42928/sebanyak-70-perempuan-jerman-bergabung-dengan-isis/
http://www.cnnindonesia.com/internasional/20150330124435-134-42928/sebanyak-70-perempuan-jerman-bergabung-dengan-isis/
http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/what-makes-people-join-isis-expert-says-foreign-fighters-are-almost-never-recruited-at-mosque-a6748251.html
http://edition.cnn.com/2015/02/25/middleeast/isis-kids-propaganda/
http://www.huffingtonpost.com/amer-tapaenar-/isis-relative-deprivation_b_6912460.html
https://www.washingtonpost.com/news/wonk/wp/2015/11/17/why-young-american-women-are-joining-isis/
http://www.theguardian.com/membership/2015/jul/27/guardian-live-why-do-young-women-want-to-join-islamic-state
http://www.theatlantic.com/magazine/archive/2015/03/what-isis-really-wants/384980/
http://www.komnasham.go.id/kabar-latuharhary/penanganan-terorisme-dan-ham
https://lifeschool.wordpress.com/2014/11/30/malaikat-kematian/

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram