MENJADI PERUPA TAMU PAMERAN LUKISAN ANDREAS ISWINARTO


Asslammu'alaikum, 

Lama nggak nulis karena satu dan lain hal. Hari ini aku kembali. Ada banyak hal yang ingin ditulis dan diceritakan. Oke, akan kumulai dari momen ketika aku menjadi salah satu perupa tamu dalam pameran lukisan bertajuk "Batu Karang Luka: Keteguhan Perjuangan di Jalan Sunyi" yang memamerkan lukisan charcoal karya Andreas Iswinarto di galeri WALHI, Jakarta 8-22 Desember 2015 silam. Aku turut menyumbang 5 karya bertajuk #WeSaveMoroMoro untuk dipamerkan, sekalian sebagai kampanye program serupa yang baru saja selesai dikampanyekan via situs www.kitabisa.com pada tanggal 14 Desember. Selain aku, ada juga karya para perupa otodidak para buruh dan petani di Rembang. Karya-karya itu menjadi saksi bahwa dalam pekatnya perlawanan menumbangkan kedigdayaan rezim yang sepertinya senang menumpahkan airmata rakyatnya, seni mencatat dengan caranya sendiri. Seni melahirkan pamuda-pemuda yang berjuang dalam teriakan yang lain, teriakan yang indah dan memukau.

Pameran tersebut menampilkan karya-karya lawas dan terbaru aktivis-seniman Andreas Iswinarto yang bercerita tentang perlawanan masyarakat kecil di seluruh Indonesia yang sebenarnya satu persatu masuk dalam rekaman advokasi lembaga seperti WALHI. Dalam sambutannya di pembukaan lukisan ini, Direktur Eksekutif WALHI Abetnego Tarigan mengatakan bahwa dalam melakukan advokasi dan kampanye, WALHI mulai melibatkan aktivitas seni dan kebudayaan. Sebab, dalam melawan ketidakadilan para aktivis harus mampu membaca pentingnya media kampanye agar masalah-masalah sosial dan HAM yang terdengar garang menjadi gampang dicerna masyarakat luas. Isu lingkungan dan HAM bukan domain para aktivis, tapi harus menjadi isu bersama dan diperjuangkan bersama-sama.  


Dalam acara pembukaan juga tampil seorang sahabat dari Bandung yang sudah 10 tahun lebih bergelut dalam seni pantomime dalam melakukan perlawanan, Wanggi Hoed. Baginya, diam adalah teriakan paling keras atas ketidakadilan yang merongrong negeri ini dari segenap penjuru. Pada hari yang telah diguyur hujan 8 Desember silam itu, kawan yang sederhana ini tampil memukau kawan-kawan aktivis yang hadir di perhelatan. Ia menyampaikan puisinya dalam gerak tanpa kata-kata. Ia menari tanpa musik, menampilkan wajah putih dengan eskpresi kesedihan dan kekuatan. Ia memukau semua yang menerka apa yang hatinya katakan tentang gambar-gambar hitam penuh perlawanan di dinding. Dalam geraknya, ia turut melibatkan para peserta untuk bersatu melawan ketidakadilan ini. Sebab luka hanya sembuh dengan penghiburan dan keadilan. 

Aku, Andreas Iswinarto dan Wanggi Hoed berpose dekat lukisan "Payung Hitam Kamisan" yang menjadi benang merah pertanyaan-pertanyaan dalam benar Andreas dan puisu-puisi penuh tangisan dalam aksi diam kamisan Wanggi Hoed.  Aktivis ini juga dikenal sebagai pelopor aksi Kamisan Bandung. Program #wesavemoromoro yang mempertemukanku dan seniman sederhana dan penuh dedikasi ini.
Buatku, momen ini sangat penting dan membahagiakan. Bukan saja memberiku ruang untuk diriku sendiri agar lebih banyak berlatih dan meyakinkan diri sendiri bahwa kemampuanku mungkin berguna bagi banyak orang. Juga menjadi satu jalan bertemu dan berkumpul dengan para aktivis dan mungkin para akademisi yang memiliki minat terhadap pelestarian lingkungan dan keadilan melalui jalan lain. Sebagai pribadi yang tumbuh di tanah penuh konflik, rasanya senang bisa menampilkan satu sisi 'teriakan' sebagai dampak konflik agraria terpanjang dan terumit di Lampung. Mungkin kedepan aku bisa melukis lebih banyak lagi mengenai kisah 'teriakan-teriakan' korban beragam konflik agraria di Lampung yang belum selesai hingga saat ini, di tanahnya sendiri.
Koleksi lukisan bertajuk #wesavemoromoro yang ikut dipamerkan.
Karya-karya ini sebenarnya selain untuk dipamerkan, juga untuk dilelang dimana 70% hasil penjualan lukisan akan didonasikan ke project #wesavemoromoro yang pada saat itu memasukia tahap kampanye dan penggalangan dana offline. Sayangnya, tidak satupun karya terjual. Alasan paling kuat karena aku kurang melakukan kampanye, selain lemahnya jaringan. Tapi, setidaknya lukisan-lukisan itu tetap dipamerkan hingga pertengahan Januari dan kelak akan diikutsertakan dalam pameran lain untuk tujuan serupa. Semoga ada rezeki anak Moro-Moro menghampiri melalui lukisan sederhana itu, amin.

BATU KARANG LUKA: KETEGUHAN PERJUANGAN DI JALAN SUNYI


Depok, 12 Januari 2016

Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Saya suka kata-katanya mbak Ika "Luka hanya sembuh dengan penghiburan dan keadilan". Luka itu memang pedih. Luka yang pedih bukan karena diakibatkan oleh irisan pedang atau pisau yang menghunus pada dada dan jantung ini, luka yang pedih adalah luka karena kesewenag-wenangan, ketidakadilan yang merongrong jantung dikehidupan masyarakat bangsa ini.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih banyak atas apresiasinya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi.

    Salam.

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram